Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2022

Prosa (Nyata Tapi Tidak)

Nyata Tapi Tidak  Teruntuk kamu yang jauh di sana, ini sebuah ungkapan dariku untukmu. Dua kata, terima kasihku lontarkan padamu. Terima kasih untuk apa? Jawabannya sangat sederhana, ya untuk semuanya. Terima kasih telah menghadirkan sumringah dari bibirku ini, terima kasih untuk rasa girang yang dirimu lemparkan padaku, terima kasih untuk kehadiranmu dihadiratku, terima kasih telah menghadirkan rasa disetiap ketikkanmu itu, dan terima kasih untuk segalanya yang entah apapun itu. Tak bisa diriku ini berdusta lagi, aku mengagumimu dari kejauhan ini. Menatap figurmu saja sudah membuatku sumringah dengan sendirinya, sungguh aku seperti orang tak waras. Kita begitu jauh tapi rasanya kita begitu dekat, sangat dekat sekali. Menunggumu bercerita padaku tentang harimu, itulah yang kulakukan beberapa waktu belakangan ini. Bercerita padamu tentang hariku, itulah kegiatanku beberapa kurun waktu ini. Mendengarmu bercerita padaku dan bercerita padamu, itulah kesibukan kita berdua ya kurang lebi...

Prosa (Orang Ketiga)

 Orang Ketiga Begitu banyak hari yang kita lewati, mungkin saja ribuan hari yang telah kita lewati. Begitu banyak cerita yang telah kita tulis di jeluang kosong ini, sebuah coretan yang begitu random dari kita. Gelak tawa kita selalu terdengar setiap kita bersua, sungguh moment bahagia. Segala suka dan duka kita lewati bersama, sangat sempurna. Aku puan ratu mu dan kamu tuan raja ku, begitulah. Di dalam jalinan tautan kita, begitu banyak para puan dan tuan yang berdatangan kepada kita, menawarkan sejumput kebahagiaan yang katanya lebih. Menjaminkan jabata raja dan ratu pada kita, itu yang dilakukan para pendatang itu. Aku menolak semua tuan yang datang dengan jaminan yang mereka berikan, bagi ku tuan ku hanya diri mu. Diri mu menolak setiap puan itu tapi satu puan tidak diri mu tolak, diri mu malah menerimanya dengan sukarela. Diri mu mengatakan bahwa ia hanya teman mu, diri mu menerimanya sebagai teman dan tak lebih dari teman, begitulah kata mu pada ku. Lisan dan perbuatan mu...

Prosa (Long Distance Relationship)

Long Distance Relationship Aku merangkup mu dengan kuat dalam peluk ini, seakan tak akan ku lepaskan namun harus ku lepaskan. Tubuh ku terpaku, terdiam di dermaga itu. Mengibarkan tangan pada mu di iringi isak tangis ini, berharap ini tak terjadi namun inilah yang terjadi. Menatap pergi mu dengan mata sembab ini, aku tau ini hanya sesaat namun ini sungguh mengurut dada ku. Melepaskan dan membiarkan mu pergi jauh dari sisi ku, menuju zona lain di ujung sana itu. Diri ini menanti mu untuk segera pulang, entah kapan itu tiada yang tau. Berharap diri mu menjaga hati mu di sana, hanya untuk ku seorang. Ku di sini menjaga hati ku untuk mu, hanya untuk mu bukan untuk yang lain. Waktu berganti waktu, telah lama kita tak bersua. Menanti kabar mu, itu yang ku lakukan setiap saatnya. Mendengar suara mu, sepertinya itu hobi baru ku. Tak jarang diri mu tak mengabari ku ataupun menelpon ku, aku berusaha mengerti mu mungkin diri mu sedang sibuk di sana. Kita di pisahkan oleh jarak, jarak yang...

Prosa (Sebuah Ungkapan Dari Rasa Yang Tak Mampu Disuarakan)

Gambar
 Sebuah Ungkapan Dari Rasa Yang Tak Mampu Disuarakan Sumber gambar : sulanti Kala pertama kali netra ini memandang mu, diri ku langsung terpesona pada mu. Netra ku berbinar kala itu juga, terus memandangi mu tanpa ingin mengalihkan pandangan ini ke haluan lain. Jantung ku langsung berdetak tak karuan, memberi sebuah isyarat entah apa itu aku pun tak tau. Diri ini terpaku, terpana di sana tak mampu bergerak kala itu juga. Semakin diri ini bersua dengan mu semakin jantung ini berdetak kencang, sungguh debaran sangat luar biasa, debaran itu tak mampu ku kuasai. Entah kapan fatwa ini menghampiri ku sungguh aku tidak tau, merayap dan meninggalkan rasa di aksara ini. Fatwa ini semakin hari semakin kuat, tak mampu ku lemahkan. Beraneka hal ku lakukan untuk menarik antensi mu di setiap kali kita bersua. Netra ini tak mampu berdusta, ia terus memandangi setiap kali kita bersua. Terkadang tanpa sadar bibir ranum ini tersimpul setiap netral ini memandang mu, sungguh diri mu mahakarya teri...

Prosa (Mati Rasa)

Gambar
 Mati Rasa Sumber gambar : Sulanti Bersemayam di bawah gelapnya halimun di tengah-tengah gelapnya malam, mengangan-angankan fantasi dahulu yang tak terwujud kala itu. Membulir air bening di pipi ku, mengingat duka lara di balik fantasi dahulu itu. Prahara di aksara ini sungguh telah berlalu, meyisahkan serpihan-serpihan luka yang membekas, entah kapan bekas itu akan memudar sekaligus menghilang sungguh tiada yang tahu. Semuanya tampak tak lagi sama, tampak sangat berbeda dari semula. Dalam sekilas masa semuanya berubah, begitu berubah bahkan sangat berubah hingga tak terdeteksi. Mengikiskan perasa di aksara ini, membuangnya entah kemana, tiada yang tahu. Semuanya seakan-akan mati, mati rasa, iya mati rasa. Semua tak semudah dahulu, dahulu hati ini taklah mati dan sunyi. Kala ini hati ini rasanya tertikam mati dan begitu sunyi bagaikan sunyi di gelapnya malam. Riangya bahagia dahulu kala telah terkikiskan, entah kapan riang bahagia itu kembali, tiada yang tahu satu pun. Ra...

Cerita Pendek ( Kita Sahabat)

Gambar
Kita Sahabat Sumber gambar :  https://pin.it/2VQTcwI Samar-samar terang tanah telah terjadi di Kota Bandung atau Kota Kembang itu, sebuah kota yang terkenal dengan destinasi wisata dan juga keindahan alam yang masih sangat astri sekaligus segar. Kawasan Bandung Utara termasuk salah satu kawasan memiliki beragam wisata alam, sebuah komplek perumahan mewah terdapat di Bandung Utara yaitu Calistha Dago Residence.  Calistha Dago Residence adalah sebuah komplek perumahan mewah yang di bangun di atas lahan sebesar 11.570 meter dengan 39 unit tempat hunian, 39 unit tempat hunian itu terbagi menjadi tiga tipe utama yaitu cathena, cynara, dan calandra. sebuah komplek perumahan di daerah Dago itu sangat premium. Komplek itu indentik sekali dengan tempat-tempat hits di Bandung, komplek itu juga bisa dengan cepat menjangkau lokasi-lokasi penting di Bandung seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), Rumah Sakit Santo Borromeus, Masjid Salman, Gereja Katedral, Kafe The Parlor, Congo Cafe dan...

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Gambar
 Tentang Kehilangan Yang Abadi Sumber gambar : Sulanti Hari-hari ku terasa sunyi tanpa hadir mu sungguh aku merindukan hari-hari kemarin, aku merindukan kericuhan-kericuhan di kemarin hari itu. Berangan-angan hal itu akan terjadi lagi, walau hanya sehari namun itu tidak akan pernah terwujud lagi. Wahai sang pemilik angan-angan di aksara ku ini, aku sangat merindukan hadir mu di sini. Bersua dengan mu, itulah keinginan saat ini sungguh hanya itu tak berimbuh sedikit pun. Mengapa? Kenapa? Sungguh aku selalu bersoal tentang prihal itu. Berandai-andai ini hanya sebuah bunga tidur, mimpi buruk. Membuka netra, menemukan mu masih beratma di daratan ini sungguh permai namun faktanya realita sesungguh tidak begitu. Bersemayam di bawah gelapnya halimun, itu yang ku lakukan. Menatap bintang-bintang yang jauh atas sana, berharap salah satu dari mereka adalah diri mu. Apa diri mu melihat ku di sini, gumam ku kala itu. Tak pernah ku sangka, tak pernah ku bayangkan, tak pernah ku pikirkan...

Cerita Pendek (Evan)

 Evan Teriknya panas sore hari begitu menyengat kulit, di lapangan Gasibu terlihat seorang laki-laki dengan tinggi sekitar 170 cm berlari mengelilingi lapangan Gasibu itu. Laki-laki itu memiliki postur tubuh yang cukup atletis dengan warna kulit sawo matang, mata sipit, hidung pesek, dan senyum manis dari bibir tipisnya. Laki-laki itu bernama Putra Evan dan biasa di panggil Evan, bukan tanpa alasan sore hari ini Evan berada di lapangan Gasibu melainkan ada alasan yang sangat kuat yaitu ia sedang mempersiapkan fisiknya untuk masuk sekolah kepolisian. Saat Evan merasa lelah ia pun beristirahat di bawah pohon yang tidak jauh dari lapangan Gasibo, Evan beristirahat sambil meluruskan kedua kakinya dan memijat-mijat kakinya. "Capek juga ya," gumam Evan pada dirinya. "Tapi gue harus semangat, tesnya tinggal beberapa bulan lagi," lanjut Evan menyemangati dirinya. Selesai istirahat Evan langsung lanjut berlari namun karena hari sudah semakin sore dan remang-remang ma...

Cerita Bersambung (Semua Karena Waktu #7)

 Semua Karena Waktu Bella berlari menuju ke arah Akbar, sungguh ia sangat panik saat ini. Bella berteriak, "Woi." Semua insan di ujung koridor itu melihat ke arah Bella dengan santainya, berpikir-pikir mengapa gadis itu ikut campur dengan urusan mereka. "Akbar, lo nggakpapa kan?" tanya Bella pada Akbar. "Dia nggakpapa kali, cuma gitu doang dia nggak bakalan mati kok," kata cowok yang tadi menghukum Bella. "Gue nggakpapa kok," ucap Akbar dengan lesu. Bella berdiri, menghadap ke arah cowok yang tadi menghukumnya. Sungguh ia sangat jengkel dengan cowok dihadapannya itu, bagaimana bisa cowok itu berlaku demikian pada Akbar. "Plakkk," suara tamparan pada pipi cowok itu. "Ternyata lo cemen ya, mainnya keroyokan," kata Bella dengan nada meremehkan. "Kalau dia meninggal gimana," lanjut Bella. "Nggak bakal meninggal kok, kecuali gue tusuk pakai pisau ini," kata cowok itu sambil menunjukkan pisau itu ...

Cerita Bersambung (Semua Karena Waktu #6)

 Semua Karena Waktu Bella berada di sebuah ruangan serba hitam sungguh itu sangat hitam, seperti ruang hampa. Bella berputar-putar mencari-cari pintu, tapi sepertinya ruangan itu tidak memiliki pintu. "Laksanakan tugas mu jika ingin pulang," suara gaib dengan nada tinggi. Suara itu terus bergema di ruangan itu, membuat Bella sangat takut. Bella yang mendengar suara itu sontak melihat kesana kemarin namun sumber suara itu tidak ditemukan, sungguh badannya berkeringat dingin saat ini. "Si-siapa lo, ayok keluar lo gue nggak takut sama lo" kata Bella terbata-bata. "Tugas apa yang lo maksud?" tanya Bella dengan nada tinggi. Tiba-tiba dada Bella rasa sesak, seperti ada sesuatu yang menariknya namun ia tidak tau itu apa. Bella memegang dadanya, berharap pasokan oksigennya tak berkurang namun naasnya pasokan oksigen semakin berkurang hingga sesaknya semakin terasa. Mata Bella tiba-tiba terbuka dan ia langsung terbangun dari tidurnya, ternyata ia baru s...