Cerita Bersambung (Semua Karena Waktu #7)

 Semua Karena Waktu

Bella berlari menuju ke arah Akbar, sungguh ia sangat panik saat ini. Bella berteriak, "Woi." Semua insan di ujung koridor itu melihat ke arah Bella dengan santainya, berpikir-pikir mengapa gadis itu ikut campur dengan urusan mereka.

"Akbar, lo nggakpapa kan?" tanya Bella pada Akbar.

"Dia nggakpapa kali, cuma gitu doang dia nggak bakalan mati kok," kata cowok yang tadi menghukum Bella.

"Gue nggakpapa kok," ucap Akbar dengan lesu.

Bella berdiri, menghadap ke arah cowok yang tadi menghukumnya. Sungguh ia sangat jengkel dengan cowok dihadapannya itu, bagaimana bisa cowok itu berlaku demikian pada Akbar.

"Plakkk," suara tamparan pada pipi cowok itu.

"Ternyata lo cemen ya, mainnya keroyokan," kata Bella dengan nada meremehkan.

"Kalau dia meninggal gimana," lanjut Bella.

"Nggak bakal meninggal kok, kecuali gue tusuk pakai pisau ini," kata cowok itu sambil menunjukkan pisau itu pada Bella dengan senyum smirk.

"Gue tau dia nggak bakalan meninggalkan dengan beberapa pukulan di perutnya tapi dia terluka bangsat," kata Bella berteriak.

"Udah deh, lo nggak usah ikut campur urusan gue," kata cowok itu.

Segerombolan cowok itu mendekat ke arah Akbar, mereka mengambil duit dari saku di baju Akbar kemudian mereka semua pergi dari tempat itu meninggalkan Akbar yang kesakitan. Bella melihat hal itu hanya mengangga saja, mereka memalak Akbar dan Akbar hanya diam saja.

"Cemen banget ni cowok," batin Bella sambil melihat Akbar yang terkapar tak berdaya di tempat itu.

Bella berusaha mengangkat Akbar dengan sekuat tenaga, ia mencari UKS untuk mengobati Akbar. Bella berhasil menemukan UKS, lokasi UKS hanya berjarak sekitar dua meter dari ruang kepala sekolah.

"Lo kenapa nggak ngelawan mereka tadi?" tanya Bella pada Akbar.

"Bukan urusan lo," jawab Akbar singkat.

"Serah lo deh," ujar Bella bodoh amat.

"Ganteng-ganteng tapi lemah," gumam Bella pelan, namun masih bisa didengar oleh Akbar.

"Gue bisa denger yang lo omongin," kata Akbar.

"Bagus deh, biar lo nyadar kalau lo tuh lemah," ucap Bella santai.

"Gue nggak lemah kali," kata Akbar membela diri.

"Kalau nggak lemah apa namanya? Lo di palak, semua uang lo di ambil terus digebukin sampai babak-belur gini tapi lo nggak ngelawan sama sekali. Itu apa namanya? Ya jelas lemah lah," ucap Bella panjang lebar dengan nada ngegas.

"Itu urusan gue," ucap Akbar singkat.

"Serah," kata Bella pergi meninggalkan Akbar.

Bella berjalan melusuri koridor itu, memasuki ruangan kepala sekolah. Berbincang-bincang dengan kepala sekolah yang ada di ruangan itu hingga Bella berdiri dan bersalaman dengan kepala sekolah itu.

Bella berjalan keluar ruangan kepala sekolah, mencari-cari ruang kelasnya. Bella bergumam, "Mana sih kelas dua belas IPA dua." Bella terus melihat ke atas, melihat plag kelas-kelas tersebut berharap ia menemukan kelasnya.

"Nah ini dia kelas gue," ucap Bella sambil berjalan memasuki kelas itu.

Bella memasuki kelas itu, ia melihat ada seorang wanita dengan hijab cokelat sedang mengajar di sana. Gue harus gimana ni, pikir Bella. Kalau di dimensi gue sih gue langsung nyelonong ajah tapi disini gue disuruh berubah yaudah deh gue sapa ajah tuh ibu, pikir Bella.

"Selamat pagi bu," ucap Bella sambil tersenyum menunjukkan gigi ratanya.

"Pagi, Kamu siapa?" tanya guru tersebut.

"Murid baru bu," ucap Bella santai.

"Ooo," ujar ibu tersebut.

"Seluruhnya mohon diam sebentar, ini ada teman baru kalian. Buat kamu anak baru silakan perkenalkan diri kamu," ucap ibu tersebut tegas dengan suara lantang lalu mempersilakan Bella untuk memperkenalkan dirinya.

"Halo semuanya, nama gue Christal Abella Dhiansyah dan gue biasa di panggil Bella," kata Bella memperkenalkan dirinya.

"Pindahan dari sekolah mana kamu?" tanya Ibu guru disebelah Bella.

"Dari SMA Nusantara Jakarta bu," ucap Bella.

"Kalau nggak salah gue di formulir itu tulisnya gue pindahan sekolah itu sih," batin Bella.

"Kenapa pindah nak?" tanya Ibu guru tersebut.

"Ni guru banyak bacot banget sih," batin Bella.

"Mau tinggal di kota kelahiran ajah sih bu," ucap Bella sambil tersenyum canggung.

"Tapi bohong," ucap Bella dalam hatinya.

"Oh begitu, silakan kamu duduk di kursi kosong sekarang," ucap Ibu guru.

Bella berjalan menuju kursi kosong di tengah ruangan kelas itu, tepatnya disebelah gadis kacamata bulat itu. Bella pun duduk di sana dan melemparkan senyum pada gadis itu, sungguh ia merasa sangat canggung saat ini.

"Ternya gue sekelas sama sih lemah," batin Bella yang baru saja menyadari kalau Akbar sekelas dengan dirinya.

***

"Sumpah ibu tadi ngajarnya bosan banget," batin Bella sambil menguap ngantuk.

Bella keluar kelasnya, berjalan sendirian menuju kantin sekolah. Bella melirik kesana-sini, makanan di kantin begitu lezat. Gue pengen banget beli semua tapi gue harus berhemat, pikir Bella.

Bella pun hanya membeli satu kantong batagor dan dua roti, ia berjala kembali menuju kelasnya. Kalau lama-lama di kantin bisa kalap nanti gue makannya, pikir Bella. Bella berjalan memasuki kelasnya, sosok Akbar di pojok kelas menarik perhatiannya.

"Dia nggak lapar apa," batin Bella.

"Woi, ni roti buat lo," teriak Bella dari tempat duduknya sambil melemparkan rotinya pada  Akbar.

"Apa-apaan sih lo main ngelempar ajah, kalau nggak ikhlas nggak usah ngasih lagian gue nggak minta juga sama lo," kata Akbar ketus.

"Sorry, udah jangan baper. Gue tau lo kelaparan," kata Bella sambil memasukkan batagor kuah kacang itu ke mulutnya.

"Sok tau lo," kata Akbar.

Segerombolan anak laki-laki memasuki kelas, sontak hal itu menyita perhatian Bella yang lagi makan. Itukan yang malak sih lemah tadi, pikir Bella dengan dahi mengeryit. Bella memperhatikan gerak-gerik orang-orang itu, mereka sepertinya ingin mencari masalah lagi dengan Akbar.

"Bagi duit dong, gue mau makan," kata cowok yang tadi pagi menghukum Bella.

"Uang gue habis, kan udah lo ambil semua tadi," kata Akbar ketus.

"Emang lo nggak bawa uang lebih?" tanya cowok itu dengan nada marah.

"Nggak," jawab Akbar ketus.

"Bohong dia bos," kata cowok berbadan kurus itu.

"Gue nggak bohong," kata Akbar.

"Alah bacot lo, kasih nggak uangnya kalau nggak ni pisau nancap di perut lo," kata cowok itu sambil memegang kerah baju Akbar dan mengeluarkan pisaunya.

"Pisau-pisau, perut lo juga yang gue tancep pakai tuh pisau," kata Bella yang tak tahan lagi dengan mereka.

"Eh cewek belagu jangan ikut campur lo," kata cowok itu.

"Mending gue belagu, daripada lo tukang palak modal pisau doang," sindir Bella dengan senyum smirk.

"Lo siapa sih? Kenapa lo ganggu dia terus?" tanya Bella.

"Gue Yudha, lo mau apa? Suka-suka gue dong mau ganggu dia atau siapa pun," kata Yudha ketus.

"Oh Yudha, mending lo pergi sekarang deh. Enek gue lihat muka lo," ucap Bella mengusir Yudha.

"Gue nggak mau," kata Yudha.

"Okeh, kalau gitu gue sama Akbar yang pergi dari sini," ucap Bella sambil menarik tangan Akbar pergi dari kelas itu.

"Woi," teriakan Yudha namun diabaikan oleh Bella.

Bella terus menarik tangan Akbar, entah ingin kemana ia pun tidak tau intinya menjauh dari segerombolan orang-orang itu. Kalau lama-lama gue di sana bisa-bisa gue ikut-ikutan mati sama ni cowok lemah, pikir Bella. Di ujung jalan sana terdapat sebuah taman kecil, Bella pun berjalan ke sana dan duduk di kursi putih yang berada di tengah-tengah taman itu.

"Lo kenapa nggak ngelawan mereka?" tanya Bella.

"Bukan urusan lo," jawab Akbar ketus.

"Dasar lemah lo," ucap Bella.

"Suka-suka guelah," ucap Akbar dengan nada tinggi.

"Terserah lo tapi asal lo tau, lo itu bisa mati ditangan mereka tau suatu saat nanti kalau lo nggak ngelawan mereka," kata Bella sambil menatap ke arah Akbar.

"Biarin," ucap Akbar singkat.

"Lo goblok apa bodoh sih, pasrah banget," kata Bella emosi.

"Seharusnya orang kek dia ni disuruh pindah dimensi biar berubah bukan gue," batin Bella.

"Udah lemah, lembek, pasrah pulak," gumam Bella pelan, namun masih bisa didengar oleh Akbar.

"Gue nggak kek gitu," ucap Akbar lembut.

"Terus kenapa lo nggak ngelawan?" tanya Bella.

"Kalau gue lawan, gue kalah juga," jawab Akbar dengan suara pelan.

"Belum coba belum tau," kata Bella..

"Huk-huk-huk," suara batuk dari Akbar, hidungnya mengeluarkan darah.

"Eh lo kenapa?" tanya Bella panik.

"Nggak, gue nggakpapa," ucap Akbar sambil terbatuk-batuk.

"Kita ke UKS ajah yuk," ucap Bella mengajak Akbar, diangguki Akbar.

Bella membopong badan Akbar, berjalan menuju UKS secara perlahan-lahan. Di saat sedang berada di depan UKS, tiba-tiba Akbar pingsan. Untung udah di depan UKS kalau dia pingsan pas di taman tadi bisa mampus gue angkat badan dia yang berat itu, pikir Bella. Bella segera mencari minyak untuk menyadarkan Akbar.

"Gu-gue dimana?" tanya Akbar yang baru saja tersadar dari pingsannya.

"Di UKS tadi lo mimisan terus pingsan," ucap Bella.

"Ooo," kata Akbar sambil memegang kepalanya yang pusing.

"Lo pusing ya?" tanya Bella.

"Iya," jawab Akbar singkat.

"Pulang ajah ya," ucap Bella.

"Nggak," ucap Akbar yang masih berusaha menahan rasa pusingnya yang semakin kuat.

"Alah nggak usah sok kuat lo, kita pulang ajah sekarang," kata Bella tegas sambil berjalan keluar UKS.

"Tapi...," ucap Akbar namun terhenti karena Bella langsung keluar dari UKS.

Bella segera ke kelas, mengambil tasnya dan juga tas Akbar. Selesai dengan urusan tas, Bella pun mengurus surat izin dirinya dan juga Akbar di meja piket. Bella dan Akbar pun pulang, berjalan menyusuri jalanan kota Bandung di siang hari menggunakan taksi. Akbar masih setia di dalam tidurnya di paha Bella, sepertinya ia begitu pusing.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)