Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)

 

Rasa Ini Habis Bukan Mati

Gelapnya malam membuatku semakin dingin, hembusan anila menusuk tubuhku. Aku berjalan dijalanan kota yang suram itu, langkah kecil terus kuraih demi mencapai ujung jalan itu. Netra ini melirik ke kiri dan ke kanan, begitu banyak pasangan sejoli yang sedang mabuk cinta. Mereka terlihat bahagia bersama dayita kesayangan mereka, tersimpan rasa iri dalam kalbu ini ingin seperti mereka tetapi segera kuhempas rasa itu hingga hancur. Aku melaju dijalanan kota dengan cahaya temaram itu, melewati lorong yang penuh dengan bisikan-bisikan cinta itu.

Aku duduk diujung jalan kota, menatap kearah sepinya jalanan di sini sungguh di sini cukup tenang. Menyenderkan diri pada kesunyian malam, melepas segala resah sepanjang hari. Menatap binar bintang malam yang begitu indah sembari ditemani heningnya malam, itu sungguh nyaman. Mengenggam erat dinginnya malam, memeluk diri demi menciptakan kehangatan.

Senyum tipis melintasi bibirku, teringat kenangan masa silam. Diriku termakan afsu sang lelaki rupawan di tengah taman itu. Terlintas bayang-bayang kala aku terbang bersama sayap maya meninggal pijak di bumi, terbang tinggi dengan abap yang terus bermekaran dalam kalbu ini. Berlari-larian di tengah hijaunya taman, gelak tawa mengema di ruang terbuka itu sungguh sangat bahagia. Membuat cerita dikertas kosong, mewarnainya dengan berbagai warna cinta. Mengenggam erat tangan itu, membawanya berjalan sembari berlari-lari kecil untuk menikmati indahnya senja diujung pantai sana.

Tak kusadari bulir bening melewati senyuman dibibir tipisku kala mengingat kenangan indah itu, sudah sangat lama sekali. Netra ini menatap figur yang sedari tadi menempel ditangan ini, terlihat lusuh, sudah lama seperti kenangannya. Aku merindukan saat-saat seperti itu bahkan aku lupa bagaimana senangnya perasaanku disaat itu sungguh aku merindukannya tetapi aku tak ingin mengulangnya, entah dengan orang lama atau dengan orang baru sekali pun. Aku terlalu lemah untuk setiap beban itu, beban itu cukup kuat hingga belum mampu untuk kuangkat, apalagi untuk kupikul dipunggung ini.

Netra ini melihat kearah ujung sana, para sejoli itu masih berada diujung sana terlihat mereka masih sangat bahagia. Semoga kalian selalu bahagia, terhindar dari segala kesedihan. Memgepal tangan, membangun kekuatan sekuat mungkin kala kenangan buruk masa silam memaksa memasuki bayang-bayangku. Diriku ditinggalkan olehnya, ia berjalan menuju ujung lorong gelap itu demi menghampiri seorang perempuan asing di ujung sana. Ditinggalnya diriku di tengah gelapnya lorong itu bertemankan isak tangis, gemanya tangisku menusuk telingaku kala itu.

Kenangan buruk dimasa silam itulah masalahku, dia membuatku tak ingin mengulangi kenangan indah yang hadir sebelumnya. Aku membenci ini, sangat membencinya. Kenangan indah itu ingin kuulangi tetapi aku tak mampu, berharap hadir sebuah kekuatan yang hebat.

Aku tidaklah mati rasa, rasaku masih hidup hingga kini. Aku masih memiliki rasa pada sosok baru yang kutemui tempo hari tetapi aku tak tau apa nama rasa itu, ingin kuberi nama tetapi tak bisa. Mungkin namanya suka, cinta, sayang, atau apapun itu.

Rasa ini telah habis, benar-benar habis tanpa sisa. Perasaan ini telah habis pada sosok lama itu, pria dengan rupa yang begitu rupawan dimasa silam diriku. Tak kusangka dirinya menghabiskan rasa ini, tanpa menyisakan sedikit pun untuk diriku. Ia sungguh rakus, melahap rasa ini dengan semangat.  Bukan prihal aku belum melupakannya, aku sudah lama melupakannya. Bukan tentang aku masih mencintainya, cinta itu telah hilang saat ia meninggalkan aku ditengah lorong gelap itu. Bukan mengenai rasa ini masih untuknya, rasa ini telah milik sosok baru itu.

Beranjak dari ujung jalanan kota itu, meninggalkan tempat itu. Menyusuri jalanan dengan hati-hati, semakin ke depan semakin gelap di depan sana. Meninggalkan para sejoli itu, tanpa ingin menganggu mereka sedikit pun sembari telingaku mendengar suara-suara lirih tentang cinta mereka. Aku memasuki jalan gelap diujung jalan itu, meraba-raba berharap kehati-hatian diriku begitu waspada. Aku terus berjalan di sana hingga sampai di titik yang ingin kudatangi ini.

Komentar

  1. Masih ada bentuk traumatis yg menempel, hayuk konsultasi wkwk. Bagaimana pun ditinggalkan apalagi soal perselingkuhan itu dampaknya nyerang banyak aspek.
    Aku jadi sedih bacanyan, kata2 yang digunakan anggun dan mudah dibayangkan jadi kayak nonton drama.
    Jadi inget pengalamanku waktu ke alfamart, lagi nyari2 minuman eh samping kanan kiri dipenuh sejoli lagi pegangan tangan.
    Gak papa sih, tapi mereka kayak "ih kasihan". Padahal kan gak papa ya. *curhat

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)