Prosa (Orang Ketiga)

 Orang Ketiga

Begitu banyak hari yang kita lewati, mungkin saja ribuan hari yang telah kita lewati. Begitu banyak cerita yang telah kita tulis di jeluang kosong ini, sebuah coretan yang begitu random dari kita. Gelak tawa kita selalu terdengar setiap kita bersua, sungguh moment bahagia. Segala suka dan duka kita lewati bersama, sangat sempurna. Aku puan ratu mu dan kamu tuan raja ku, begitulah.

Di dalam jalinan tautan kita, begitu banyak para puan dan tuan yang berdatangan kepada kita, menawarkan sejumput kebahagiaan yang katanya lebih. Menjaminkan jabata raja dan ratu pada kita, itu yang dilakukan para pendatang itu. Aku menolak semua tuan yang datang dengan jaminan yang mereka berikan, bagi ku tuan ku hanya diri mu. Diri mu menolak setiap puan itu tapi satu puan tidak diri mu tolak, diri mu malah menerimanya dengan sukarela.

Diri mu mengatakan bahwa ia hanya teman mu, diri mu menerimanya sebagai teman dan tak lebih dari teman, begitulah kata mu pada ku. Lisan dan perbuatan mu berbeda tuan bahkan sangat berbeda, diri mu berbohong pada ku, aku tahu bahkan aku sangat tahu. Lisan mu bisa berbohong, mengatakan bahwa ia hanya teman mu tapi perangai mu tidak bisa berbohong sebab perangai mu menunjukkan kalau ia puan mu, saingan ku.

Tak bisa ku pungkiri, ia orang ketiga dalam jalinan tautan kita. Semula jalinan tautan kita begitu jernih namun sekarang menjadi keruh semenjak kehadirannya, semua cara ku lakukan untuk mengenyahkan dirinya dari jalinan tautan kita namun diri mu selalu membawanya kembali. Mempertahankan jalinan tautan ini, itu yang ku lakukan namun diri mu sepertinya tidak ingin mempertahankan jalinan tautan kita ini.

Waktu berganti waktu, diri mu semakin berubah pada ku, kamu bukan tuan ku lagi atau raja ku lagi, kamu orang lain yang entah siapa aku pun tak tau. Aku menjalin sebuah tautan bersama orang asing, itu yang aku rasakan wahai tuan raja ku. Aku dinomor duakan oleh mu, dia dinomor satukan oleh mu. Kebahagiaan apa yang ia berikan pada mu hingga diri mu mampu berpaling dari ku? tanya ku pada mu namun kamu hanya diam.

Aku menyatakan mundur, aku menyerahkan, aku kalah, aku tak mampu bertahan. Semoga sang mantan tuan raja ku bisa berbahagia bersama mu wahai puan, dampingi dia seperti aku mendampinginya dari fase nol hingga fase kejayaannya sekarang kemudian diri mu rebut ia dari ku, ah sudah lupakan intinya ku titipkan dia pada mu. Selamat berbahagia teruntuk kalian, aku pamit undur diri dahulu dan sampai bertemu lagi nanti. Pesan ku, jangan lupa resmikan jalinan tautan kalian itu, bukannya diri ku tak tau jika sebelumnya kalian menjalin sebuah tautan terlarang di belakang ku maka sekarang kalian tidak perlu lagi bermain di belakang ku silakan bermain di depan ku dengan sesenang hati kalian.

Komentar

  1. Hai, Puan Ratu! Tidak ada yang kalah dalam mengakhiri cinta selama demi menyelamatkan hati dari lembah yang berisi pasukan-pasukan untuk menyakiti kita. Keluar dari sana lebih baik daripada harus bertahan. Itu adalah tindakan mulia, Puan Ratu. Selamat bahagia!

    BalasHapus
  2. Menyerah tak selalu kalah, Puan!

    BalasHapus
  3. Ingat Ratu. Seorang Ratu tidak bersaing dengan benalu, yang hanya mampu bergantung dan mengambil sari pati orang lain.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)