Prosa (Mati Rasa)

 Mati Rasa

Sumber gambar : Sulanti

Bersemayam di bawah gelapnya halimun di tengah-tengah gelapnya malam, mengangan-angankan fantasi dahulu yang tak terwujud kala itu. Membulir air bening di pipi ku, mengingat duka lara di balik fantasi dahulu itu.

Prahara di aksara ini sungguh telah berlalu, meyisahkan serpihan-serpihan luka yang membekas, entah kapan bekas itu akan memudar sekaligus menghilang sungguh tiada yang tahu. Semuanya tampak tak lagi sama, tampak sangat berbeda dari semula.

Dalam sekilas masa semuanya berubah, begitu berubah bahkan sangat berubah hingga tak terdeteksi. Mengikiskan perasa di aksara ini, membuangnya entah kemana, tiada yang tahu.

Semuanya seakan-akan mati, mati rasa, iya mati rasa. Semua tak semudah dahulu, dahulu hati ini taklah mati dan sunyi. Kala ini hati ini rasanya tertikam mati dan begitu sunyi bagaikan sunyi di gelapnya malam.

Riangya bahagia dahulu kala telah terkikiskan, entah kapan riang bahagia itu kembali, tiada yang tahu satu pun.

Rasa lara yang diri mu ciptakan kala itu, sungguh perih hingga meninggalkan tekanan jiwa pada diri ku. Menciptakan sebuah ketakutan dalam diri ini, tak lagi berani memulai sebuah tautan apalagi membangun sebuah tautan.

Netra ini tak mampu lagi berdusta, mengalirkan bulir bening di pipi mulus ini. Terlintas bayang-bayang kala lara itu terjadi sungguh ini begitu menyiksa, ingin rasanya melumpuhkan memori di kepala ini.

Tak lagi berani membuka lembaran baru dalam sebuah tautan, terjebak dalam tautan lama. Bukan prihal gagal move on tapi perihal rasa lelah, sungguh diri ini tak mampu lagi.

Terjebak dalam tautan di masa silam, sungguh mengerikan. Sepertinya tafsir ini telah habis di orang lama, tak ada lagi orang baru saat ini. Sungguh diri ini mendambakan rasa yang dahulu, sebelum mati dan sunyi seperti kala ini namun tak bisa, entah sampai kapan tiada yang tahu.

Beristirahat, memulihkan serta membangun spirit vitalitas dalam diri, itulah yang diri ku lakukan. Membuang serta mengubur dalam-dalam tekanan jiwa itu agar tak lagi menjadi bumerang. Mati rasa, sebuah julukan bagi ku. Perasa di aksara ini tak lagi sama seperti dahulu namun ini sedikit lebih baik .

Komentar

  1. Keren ih kata-katanyaa. Menyentuh hatii

    BalasHapus
  2. Mati rasa. Rasanya hanya hilang sebentar, sedang lukanya menganga lebar

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)