Prosa (Long Distance Relationship)

Long Distance Relationship

Aku merangkup mu dengan kuat dalam peluk ini, seakan tak akan ku lepaskan namun harus ku lepaskan. Tubuh ku terpaku, terdiam di dermaga itu. Mengibarkan tangan pada mu di iringi isak tangis ini, berharap ini tak terjadi namun inilah yang terjadi.

Menatap pergi mu dengan mata sembab ini, aku tau ini hanya sesaat namun ini sungguh mengurut dada ku. Melepaskan dan membiarkan mu pergi jauh dari sisi ku, menuju zona lain di ujung sana itu.

Diri ini menanti mu untuk segera pulang, entah kapan itu tiada yang tau. Berharap diri mu menjaga hati mu di sana, hanya untuk ku seorang. Ku di sini menjaga hati ku untuk mu, hanya untuk mu bukan untuk yang lain.

Waktu berganti waktu, telah lama kita tak bersua. Menanti kabar mu, itu yang ku lakukan setiap saatnya. Mendengar suara mu, sepertinya itu hobi baru ku. Tak jarang diri mu tak mengabari ku ataupun menelpon ku, aku berusaha mengerti mu mungkin diri mu sedang sibuk di sana.

Kita di pisahkan oleh jarak, jarak yang jauh, iya sangat jauh sekali. Kita dibahagiakan oleh sebuah kabar, kita di sakiti oleh sebuah kerinduan. Hanya sebuah kepastian dan percaya yang menjadi pegangan kita saat ini,  iya hanya itu saja.

Tak jarang rindu ini menikam diri ku, seakan ingin membunuh ku namun ku tahan itu semua. Berharap luka rindu itu terobati suatu saat nanti, entah kapan suatu saat itu tapi akan ku tunggu terus suatu saat itu. Sungguh dada ku sesak menahan rindu ini, seakan-akan ingin menebas segalanya untuk bertemu mu namun tidak.

Begitu banyak hal yang ingin ku lakukan bersama mu, begitu banyak hal yang belum kita lakukan bersama namun semua terhalang oleh sebuah jarak. Namun jarak hanya mampu memisahkan raga kita bukan rasa kita, hanya pijakkan kita yang berbeda bukan perasaan kita.

Sesekali ku mendatangi dermaga, tempat terakhir ku bersua dengan mu. Menatap birunya air laut, melihat setiap bahtera yang singgah di dermaga itu berharap salah satu insan yang keluar dari bahtera itu diri mu namun tak ada, diri mu belum berpulang.

Selalu ku sebut nama mu dalam doa ku, berharap kemudahan bagi mu di sana, berharap diri mu segera berpulang ke zona ini. Menyemogakan diri mu masih terus setia pada ku, seperti diri ku di sini, agar kelak kita bisa bersama lagi tanpa terhalang jarak.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)