Cerita Pendek ( Kita Sahabat)

Kita Sahabat

Sumber gambar : https://pin.it/2VQTcwI

Samar-samar terang tanah telah terjadi di Kota Bandung atau Kota Kembang itu, sebuah kota yang terkenal dengan destinasi wisata dan juga keindahan alam yang masih sangat astri sekaligus segar. Kawasan Bandung Utara termasuk salah satu kawasan memiliki beragam wisata alam, sebuah komplek perumahan mewah terdapat di Bandung Utara yaitu Calistha Dago Residence. 

Calistha Dago Residence adalah sebuah komplek perumahan mewah yang di bangun di atas lahan sebesar 11.570 meter dengan 39 unit tempat hunian, 39 unit tempat hunian itu terbagi menjadi tiga tipe utama yaitu cathena, cynara, dan calandra. sebuah komplek perumahan di daerah Dago itu sangat premium. Komplek itu indentik sekali dengan tempat-tempat hits di Bandung, komplek itu juga bisa dengan cepat menjangkau lokasi-lokasi penting di Bandung seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), Rumah Sakit Santo Borromeus, Masjid Salman, Gereja Katedral, Kafe The Parlor, Congo Cafe dan masih banyak lainnya, sungguh sebuah komplek perumahan yang sangat strategis. 

Di salah satu komplek perumahan itu, tepatnya komplek perumahan tipe cynara. Rumah dengan desain minimalis, warna abu-abu dan juga dua lantai. Sebuah rumah yang cukup mewah dengan lima kamar tidur dan empat kamar mandi dengan luas tanah 162,08 meter dan luas bangunan mencapai 211 meter persegi.

Di lantai dua rumah itu, terdapat sebuah kamar yang cukup besar yaitu dengan ukuran 4 x 5 meter. Kamar itu berwarna serba pink, sepertinya pemilik kamar itu sangat menyukai warna pink. Pintu kamar itu terbuat dari kayu yang juga berwarna pink, di lantai  kamar itu tepatnya di lantai tengah kamar itu terdapat sebuah karpet yang berbentuk lingkaran dengan berwana merah maron. Jendela kamar itu berukuran sedang dengan korden berwarna putih lalu tak jauh dari jendela kamar itu terdapat kasur single bed dengan bed cover warna soft pink kemudian di sebelah kanan kasur itu terdapat nakas dengan lampu tidur warna pink selanjutnya di sebelah kanan kasur itu ada meja belajar yang cukup luas dan berwarna pink juga berikutnya disebelah meja belajar ada meja rias dengan berbagai alat rias di sana. Tepat di depan kasur itu terdapat sebuah lemari besar dengan kaca full body, kemudian di samping lemari itu ada tempat untuk meletakkan pakaian kotor. Di sebelah nakas tadi terdapat sebuah pintu kecil menuju kamar mandinya yang juga bernuansa pink. Di kamar itu juga terdapat balkon, di balkon terdapat sebuah tempat jemuran kecil dan juga kursi serta meja dari rotan dengan warna cat pink. 

"Tringggg...," suara alarm berdering, sungguh suaranya cukup keras sekali. 

Seorang gadis yang sedari tadi tertidur di kamar itu pun terbangun, ia meregangkan tubuhnya terlebih dahulu kemudian melamun dengan niat mengumpulkan nyawanya yang masih tersisa di dunia mimpi sana. Mengerakkan tangannya mematikan jam beker itu, melihat jam itu sontak matanya membulat saat itu juga. 

"Hah? Serius ni? Perasaan gue baru tidur lima menit kenapa udah mau jam tujuh ajah sih," gumam gadis itu dengan nada suara tinggi dan kaget. 

gadis itu segera mengambil handuknya yang tergantung di jemuran balkon itu kemudian membuka lemarinya untuk mengambil pakaian putih abu-abunya itu, ia memasuki kamar mandi dengan langkah cepat. Jika sebelum weekend kemarin ia bisa mandi sepuasnya maka hari ini ia hanya bisa mandi seadanya sebab ia sudah terlambat, selesai dengan urusan mandinya ia pun memakai polesan make up simple kemudian berlari keluar kamar. 

"Tap-Tap...," suara langkah kaki gadis itu menuruni tangga dari lantai dua menuju lantai satu. 

Gadis itu berjalan dengan langkah cepat menuju ke arah dapur, tepatnya ke arah meja makan. Di sana terdapat orang tuannya dan juga satu sahabatnya yang selalu berkunjung ke rumahnya di pagi hari untuk menjemputnya, gadis itu berjalan mendatangi mereka. 

"Pagi mami, pagi papi, dan pagi besti ku," ucap gadis itu sambil duduk dan melahap roti selai cokelat dihadapannya dengan cepat. 

"Siska, pelan-pelan makannya," tegur Rere mamigadis itu. 

Nama gadis itu Putri Siska Adhesari atau yang biasa di panggil Siska dan Sis oleh teman-temannya. Ia anak ketiga dari tiga bersaudara, alias anak bungsu. Ia memiliki satu kakak dan satu abang, kedua saudaranya itu sudah berkuliah di luar negeri hanya dirinya yang masih duduk di bangku sekolah. 

"Siska udah telat, mami," kata Siska sambil berusaha menelan roti itu supaya bisa melewati tenggorokannya yang kecil itu. 

"Iya mami tau tapi pelan-pelan sayang, Wini ajah makannya pelan-pelan tuh," ucap maminya sambil menunjuk ke arah Wini besti Siska, si Wini pun hanya menaik-turunkan alisnya ketika di tunjuk oleh mami Siska. 

Shabilah Cantikan Aliansyah Wini atau yang biasa di panggil Wini ataupunWin oleh teman-temannya. Wini adalah sahabat bahkan yang sudah dianggap keluarga oleh Wini, mereka berteman sudah sedari kecil bahkan rumah mereka sangat dekat sekali, hanya berjarak tiga rumah dari rumah Siska. 

"Mami kayak baru kenal Wini ajah, diakan memang bodoh amat, mi. Mau telat lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, bahkan satu jam pun dia tetap santai,  beda sama Siska telat semenit ajah udah panik kek cacing kepanasan," ucap gadis itu panjang lebar kemudian ia meminum susu di tangannya itu dengan ludes dalam satu tegukan saja. 

"Siska pergi dulu ya, mami, papi," kata Siska sambil beranjak dari tempat duduknya menarik Wini untuk segera pergi ke sekolah. 

"Hati-hati sayang," kata Arga papa Siska, sementara sang mami hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan putri bungsunya kesayangannya itu. 

Wini yang ditarik oleh Siska pun hanya pasrah, sungguh sahabat Wini yang satu ini sangat panikan. Siska mengambil sepatu di dekat pintu utama rumahnya kemudian lanjut menarik Wini menuju mobil hitam milik Wini yang terparkir di depan rumahnya itu. 

"Sis, lo nggak pakai sepatu dulu?" tanya Wini saat mereka berdua di dalam mobil, sambil melihat ke arah Siska di sampingnya yang memegang sepatu di tangan kanannya itu. 

"Udah jalan ajah, entar kita telah urusan sepatu mah gampang," jawab Siska dengan suara panik. 

"Okeh, kita otw sekarang ya," kata Wini sambil menyalakan mobilnya lalu berjalan meninggalkan komplek perumahan mewah itu. 

Sekolah mereka lumayan jauh jadi mereka memakan waktu sekitar dua puluh menit, mobil hitam lamborghini milik Wini memasuki perkarangan sekolah swasta yang elit dan juga terkenal di Bandung Barat itu. Untung saja mereka sampai sekolah sebelum bel berbunyi, jika mereka telat bisa-bisa mereka di hukum jadi pembersih sekolah seperti beberapa minggu lalu. 

Siska telah selesai memakai sepatunya lima belas menit yang lalu, ia keluar dari mobil itu bersama Wini. Berjalan secara beriringan, sesekali Siska melihat ke arah parkiran motor mengecek apakah seseorang itu telah datang. 

"Udah nggak usah dilihati terus tuh pakiran nanti juga dia datang," kata Wini. 

"Hmm," ucap Siska berdeham. 

Kedua sahabat itu berjalan menuju kelas mereka, yaitu dua belas IPS satu. Dimana ada Siska disitu ada Wini dan dimana ada Wini disitu ada Siska, ya kurang lebih begitu sebab mereka selalu saja ditakdirkan bersama. Mereka berdua memasuki kelas lalu berjalan menuju tempat duduk mereka, menunggu bell berbunyi itulah yang mereka lakukan. 

Hari ini tidak ada upacara karena guru ada rapat otomatis jam kosong hari ini, sungguh para pelajar sangat senang hari ini. Siska dan Wini berjalan menuju kantin karena mereka bosan jadi mereka ingin membeli cemilan, setidaknya ada yang mereka kerjakan walaupun hanya mengunyah saja. 

Siska masuk duluan ke dalam kantin menuju ke arah penjual pentol dan membeli pentol itu sepuluh ribu lalu Wini berjalan ke arah penjual sosis dan membeli sosis sepuluh ribu, mereka berdua makan di kantin sambil bercerita random seperti biasanya. 

"Bagi dong sosisnya," ucap si Iqbal cowok berbadan tinggi itu, cowok yang motornya tadi pagi Siska cari. 

Iqbal Briansyah Sakti atau yang biasa dipanggil Iqbal oleh teman-temannya. Iqbal adalah cowok tampan sekaligus most wanted di SMA itu, ketampanannya itu sungguh mempesona ditambah ia seorang kapten tim basket. Begitu banyak kaum hawa yang menyukainya bahkan tidak segan-segan kaum hawa itu menunjukkan rasa suka mereka pada Iqbal. 

"Beli sendiri dong," kata Wini sewot. 

"Satu doang pelit banget," ucap Iqbal. 

"Eh bagi dong pentolnya," ucap Iqbal meminta pentol milik Siska. Siska menyodorkan pentolnya pada Iqbal dan Iqbal pun mengambilnya serta menamakannya dengan lahap. 

"Kayak Siska dong baik, bukannya kek lo pelit," ucap Iqbal sambil berjalan meninggalkan dua sahabat itu. 

"Iya jelas dia baik, orang ada sesuatu dihatinya buat lo," batin Wini. 

Kedua sahabat itu melanjutkan kegiatan mereka hingga beberapa menit, usai makan keduanya balik ke kelas namun tiba-tiba diperjalanan menuju kelas Siska yang notabenenya mantan ketua eskul musik ia di panggil ke ruang musik untuk memberikan arahan pada adik-adik kelasnya. 

Usai memberikan arahan pada adik-adik kelasnya Siska pun pergi dari ruang musik itu menuju ke kelasnya, samar-samar dari jendela kelas itu terlihat Wini dan Iqbal sedang bercanda tawa sungguh itu pemandangan buruk bagi Siska. Siska tau Wini dan Iqbal tidak ada hubungan apapun keduanya hanya sekedar dekat namun tetap saja Siska tidak suka tapi ia hanya bisa diam saja. 

Siska memasuki kelasnya, Iqbal sudah keluar dari kelas Siska selama beberapa menit lalu. Wini yang melihat Siska pun berkata, "Sis, tadi dia kesini." Siska yang mendengar itupun berucap, "Gue tau, soalnya nampak tadi dari jendela kelas." Usai mengatakan itu Wini pun bermonolog ooo, ya tanpa suara sedikit pun.

Jam pulang sekolah sudah tiba, semua siswa berhamburan mengantri di depan gerbang sekolah untuk segera keluar dari sekolah itu. Siska dan Wini sedang berada di dalam mobil, dua gadis itu keluar dari perkarangan sekolah menyusuri jalanan Bandung. 

Di saat mereka terdiam, menikmati jalan pulang tiba-tiba Wini bertanya pada Siska, "Sis, lo masih suka sama Iqbal?," Mendengar pertanyaan itu, Siska pun mengangguk menandakan iya. 

"Kenapa lo nggak deketin dia ajah sih?" tanya Wini. 

"Gue udah sering deketin dia tapi dianya yang nggak peka sama gue," jawab Siska. 

"Gimana mau peka kalau dia terus dekat sama lo, Win," batin Siska. 

Siska memang menyukai Iqbal sedari kelas sepuluh, setiap kali ia berusaha mendekati Iqbal tapi Iqbal terus saja tidak peka. Iqbal terlalu dekat dengan Wini, meskipun keduanya tidak ada hubungan apa-apa dan sering bersama tetap saja Siska cemburu melihatnya.  

***

Saat ini weekend, setelah berhari-hari lamanya pusing dengan berbagai kegiatan. Suasana di komplek perumahan Siska masih sepi karena belum terlalu siang Siska pun berniat untuk jogging sebentar, melepas segala pusing di pikirannya. Beberapa hari yang lalu Siska melihat Wini dan Iqbal berjalan bersama dan makan bersama sungguh ia cemburu tapi ia hanya diam, ia tak bisa marah sebab tidak ada yang salah. 

Jogging memutari komplek perumahan Dago, itulah yang dilakukan oleh Siska. Suasananya semakin terang benderang akhirnya ia pun memutuskan untuk beristirahat di taman komplek itu, saat di taman mata Siska memandang dua insan yang sedang bercanda tawa di sana. 

Wini dan Iqbal sedang berada di taman itu, Iqbal memegang tangan Wini sungguh itu semua tidak lepas dari pengelihatan Siska. Siska berjalan meninggalkan taman itu, memasuki rumahnya dan langsung menuju kamar tanpa berbicara sedikit pun pada orang tuanya. 

Siang hari Wini datang ke rumah Siska, memasuki rumah itu lalu langsung menuju kamar Siska. Sudah bukan hal baru, rumah Siska juga rumah Wini dan begitulah sebaliknya. 

"Sis, tadi gue ketemu dia di taman komplek," ucap Wani saat memasuki kamar dengan nuansa pink itu. 

"Gue tau, gue lihat," kata Siska singkat. 

"Lo ada di taman juga?" tanya Wani. 

"Iya," jawab Siska singkat. 

"Kenapa lo nggak nyamperin kita?" tanya Wini. 

"Males," jawab Siska singkat. 

"Ooo," ucap Wini. 

"Keknya ada yang nggak beres sama ni anak," batin Wini. 

"Apa jangan-jangan dia marah gara-gara lihat gue di taman sama si Iqbal," lanjut batin Wini. 

Malam hari ini Bandung terasa cukup dingin, hari sebentar lagi berganti namun Siska belum juga tertidur ia masih setia duduk di balkon kamarnya. Memandang ke arah langit yang begitu gelap tanpa bintang. Pada malam hari ini ia merasa gelisah, pikirannya terus berkecamuk sedari tadi pagi. 

"Kenapa gue gini sih," gumam Siska kesal pada dirinya. 

"Gue tau Wini nggak ada maksud apa-apa dekat sama Iqbal tapi gue cemburu, gue marah sama Wini," lanjut gumam Siska. 

"Akhh udahlah, strees gue," kata Siska seperti orang frustasi. 

Siska masuk ke kamarnya lalu ia berusaha untuk tidur, ia menyetel alarmnya di jam lima subuh sepertinya ia akan bangun lebih cepat setengah jam di besok hari. Siska tidak bisa tertidur tetapi ia berusaha keras memejamkan matanya, ia ingin segera tidur sekarang agar esok hari ia bisa bangun cepat. 

Hari telah berganti, Siska pergi ke sekolah lebih awal saat ini. Ia berjalan dari parkiran sekolahnya menuju kelasnya, tadi pagi ia sudah mengirimkan pesan pada Wini untuk tidak menjemputnya karena ia akan membawa mobil sendiri dan pergi lebih awal dengan alasan ada urusan. 

"Gue nggak tau yang gue lakuin ini bener atau salah, intinya gue marah sama Wini dan gue mau menjauh dari tuh anak bahkan kalau bisa gue nggak usah ngelihat dia buat sementara waktu ini deh," batin Siska.

Siska memasuki kelasnya, ia meletakkan tasnya di kursinya lalu keluar dari kelas itu. Siska mengelilingi sekolah itu, sungguh ia bingung bahkan ia tidak tau dirinya itu kenapa. Siska melihat taman di ujung koridor sana, ia berbelok ke arah taman itu dengan niat menghirup udara segar dari tumbuhan-tumbuhan hijau di taman itu agar dirinya bisa tenang. 

"Itu, Iqbal," batin Siska sambil mengernyitkan dahinya namun dalam seketika ia tersenyum karena menemukan sang pujaan hati di taman itu. 

"Ini kesempatan gue deketin Iqbal," lanjut batin Siska. 

Siska melangkah kakinya mendekati kursi kayu putih di tengah taman itu, namun seketika ia berhenti karena cowok itu tiba-tiba saja bergumam sendiri. Gue tau nguping omongan orang dosa tapi kali ini gue kepo mampus jadi gue nguping deh, pikir Siska. 

"Wini-wini, lo cantik banget sih," gumam Iqbal sambil tersenyum membayangkan wajah Wini sementara Siska yang mendengar itu membulatkan matanya karena kaget. 

"Gue suka sama lo, lo suka juga nggak sama gue?" tanya Iqbal entah pada makhluk apa ia bertanya mungkin pada daun-daun di taman itu. 

"Gue nggak peduli lo suka sama gue atau nggak, yang jelas besok gue bakal ungkapin perasaan gue ke lo," gumam Iqbal pelan namun masih bisa di dengar oleh Siska. 

Saat ini jam pelajaran telah di mulai, sedari tadi semua murid di kelas Siska begitu serius memperhatikan penjelasan matematika itu. Wini yang sedari tadi mengajak Siska berbicaralah namun diabaikan oleh Siska, Wini bingung ada apa dengan sahabatnya itu. 

"Sis, lo kenapa sih?" tanya Wini dengan dahi yang mengeryit. 

"Gue nggakpapa," jawab Siska cuek. 

"Kalau gue ada salah sama lo, gue minta maaf," ucap Wini. 

"Lo nggak ada salah kok, udah jangan ganggu gue, gue mau belajar," kata Siska ketus. 

"Nggak bisanya dia gitu ke gue, sebenarnya gue ada salah apa sih sama dia," batin Wini. 

Sedari tadi Siska mencueki Wini, Siska merasa cukup bersalah karena mencueki sahabatnya itu namun saat ini emosinya sudah membludak. Saat jam pulang sekolah Wini mengejar Siska namun Siska langsung menghindar, ia keluar dari perkarangan sekolah membawa mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. 

Siska memberhentikan mobilnya di sebuah pantai, sebuah pantai dengan air biru dan juga hamparan pasir putih itu mampu menenangkan dirinya. Siska berjalan duduk di atas batu itu, ia memandang ke arah ombak itu sungguh suara ombak itu cukup menenangkannya. 

"Lo kok jahat banget sama gue, Win," gumam Siska dengan air mata yang mengalir dipipinya. 

"Kasihan banget sih kisah asmara gue, nggak beruntung," lanjut gumam Siska. 

"Gue benci semua ini, gue benci," teriak Siska, untung saja pantai itu sepi jadi tidak ada yang bisa mendengarnya. 

Sudah berjam-jam lamanya Siska tidak bertemu dengan Wini, ia sengaja tidak menemui gadis itu karena ia masih marah. Ini hari kedua Siska berangkat sekolah sendirian, ia menyusuri parkiran itu memasuki kelasnya dan meletakkan kepalanya di atas meja. Sumpah gue pusing banget, pikir gadis itu. Siska pusing bukan karena sakit tapi karena hal yang dia alami. 

Dari balik jendela kelasnya, ia melihat Wini yang baru saja datang lalu Iqbal menyamperinya dan menariknya entah akan kemana mereka. Mungkin tuh orang mau ngungkapin perasaannya ke Wini, pikir Siska. Merasa cukup emosi, ia langsung mengambil tasnya lalu menuju parkiran dan menyetir mobilnya keluar sekolah. Siska memilih bolos sekolah saja daripada ia sekolah namun dengan hati yang kacau balau seperti ini. 

Ia menyusuri jalanan Kota Bandung di pagi hari itu, bergitu lama Siska berada di jalan raya hingga akhirnya ia berhenti di sebuah bukit. Ia duduk di batu yang ada di bukit itu, ia meneteskan air matanya dan meluapkan segala emosinya itu. Siska berteriak tidak jelas di bukit itu sambil terus menangis. 

Di ruang kelas dua belas IPS satu Wini memasuki kelas itu, mencari Siska ingin memberitahukan gadis itu apa saja yang baru ia alami namun ia tidak menemukan gadis itu. Mobil Siska tadi ada diparkiran tapi kenapa Siska nggak ada di kelas, pikir Wini. Wini berjalan memutari sekolah itu mencari Siska kesana-sini tapi ia tidak menemukan Siska bahkan jejak gadis itu pun tidak ada sama sekali, ia melewati parkiran dan baru saja ia menyadari kalau mobil Siska tidak ada di parkiran. 

"Tuh anak bolos ya," batin Wini. 

Wini berjalan ke arah parkiran itu, memasuki mobilnya kemudian berjalan keluar parkiran sekolah. Ia menyusuri jalanan Kota Bandung itu, persetan dengan sekolahnya saat ini ia sangat ingin menemui Siska. Wini bertanya pada dirinya, "Lo dimana sih, Sis?." Ia melihat ke kanan dan kiri jalanan itu, berharap menemukan gadis itu namun hasilnya kosong alias tidak ada. 

Wini memutuskan ke rumah Siska namun rumah Siska kosong, orang tua Siska pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan dan rumah itu masih terkunci. Sedari tadi Wini berteriak di depan pintu utama rumah itu tapi tidak ada jawaban sedikit pun, ia memutuskan untuk duduk di depan rumah itu untuk menunggu Siska pulang. 

Hampir tiga jam lebih Wini menunggu Siska, ia terus menelpon Siska namun sungguh tidak ada jawaban sedikit pun. Pesan pun terus dikirimkan Wini kepada Siska namun tidak ada balasan juga, Wini frustasi ia hanya bisa menunggu Siska di depan rumahnya. 

Sementara itu di sisi lain Siska baru saja memasuki mobilnya berniat pulang ke rumah dan segera tidur, ia menyusuri jalanan kota hingga sampai di rumahnya. Saat ia sampai kerumahnya tiba-tiba saja Wini langsung menyamperi mobilnya, sungguh Siska merasa emosi saat melihat wajah Wini. Siska membuka pintu mobilnya dan berjalan memasuki rumanya dengan mengabaikan Wini. 

"Siska lo dari mana?" tanya Wini namun di abaikan oleh Siska. 

"Sis, lo nggakpapakan?" tanya Wini lagi namun masih di abaikan oleh Siska. 

"Siska, lo tau nggak tadi dia...," ucap Wini yang terpotong oleh Siska. 

"Kalau Iqbal ngungkapin perasaannya ke lo," kata Siska ketus. 

"Lo tau?" tanya Siska kaget. 

"Jelas gue tau dan pasti lo juga punya perasaan sama diakan, secara kalian dekat," ucap Siska dengan suara yang meninggi. 

"Nggak gitu," kata Wini dengan mengelengkan kepalanya. 

"Nggak apanya, nggak mungkin kalau lo nolak dia," bentak Siska. 

"Siska," bentak Wini dengan suara yang meninggi. 

"Lo kenapa egois sih dan lo kenapa bisa gini? bahkan lo nggak mau dengar penjelasan gue sedikit pun," ucap Wini dengan nada yang meninggi. 

"Gue marah sama lo, lo selalu dekat sama Iqbal bahkan sampai Iqbal suka sama lo," ucap Siska sambil menangis. 

"Okeh gue salah gue minta maaf, asal lo tau gue nggak terima Iqbal sama sekali karena gue tau lo suka sama dia," kata Wini lembut. 

"Serius?" tanya Siska. 

"Iya," jawab Wini lembut. 

"Gue minta maaf karena sifat gue yang terlalu friendly jadinya Iqbal mudah dekat sama gue bahkan sampai dia menaruh perasaan ke gue," ucap Wini. 

"Gue sama sekali nggak suka sama Iqbal, sama sekali nggak. Lo jangan gini sama gue ya, gue nggak mau persahabatan kita hancur hanya karena cowok," lanjut Wini. 

"Ingat ya, lo itu yang terpenting buat gue. Bahkan kalau gue suka sama Iqbal terus lo suka sama Iqbal juga habis itu dia nembak gue, gue bahkan tetap nolak dia. Lo itu yang terpenting buat gue bahkan lebih penting dari seorang cowok yang gue suka," jelas Wini. 

"Persahabatan kita nggak akan hancur hanya karena satu cowok," kata Wini sambil menangis. 

"Ma-maafin gue, Win," ujar Siska pada Wini sambil menangis dan memeluk Wini dengan sangat erat. 

Dua gadis berambut sebahu itu pun saling berpelukan sambil menangis, Siska menyesal memperlakukan sahabatnya seperti kemarin seharusnya ia meminta penjelasan pada Wini. Gue salah iya gue salah, pikir Siska. Gue tau lo orangnya friendly banget bahkan banyak orang yang suka sama lo karena sifat friendly lo dan seharusny dari awal gue kasih tau lo untuk menjauh dari Iqbal, pikir Siska dengan air mata yang terus mengalir di pipinya serta memeluk tubuh Wini dengan erat. 

*** 

Hari ini semua kembali normal setelah drama kemarin, Siska pergi ke sekolah bersama Wini lagi. Mereka kembali akur dan akrab lagi seperti semula, seolah tidak ada masalah yang terjadi diantara mereka berdua. Kedua sahabat itu berjalan ke kelas dari parkiran sambil bercerita dan tertawa-tawa. 

Semenjak kejadian kemarin Wini terus menjauh ketika Iqbal berusaha mendekatinya, ia tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi dan ia juga tidak ingin persahabatannya hancur hanya karena satu cowok yang tidak ia sukai itu. Siska masih menyukai Iqbal namun ia berusaha membuang perasaan suka itu sejauh-jauh mungkin, sama seperti Wini ia tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi. Menurut Siska lebih baik ia melepaskan perasaannya pada Iqbal daripada tetap mempertahankannya karena ancamannya persahabatannya dengan Wini, ia tidak ingin kehilangan Wini sahabatnya dari kecil itu hanya karena satu cowok yang ia sukai. Lagian aku masih sekolah jadi lebih baik fokus pendidikan dulu baru urusan hati nanti, pikir Siska. 

-TAMAT- 

Komentar

  1. Emang sih enggak mudah kalau tau orang yang kita suka, suka sama sahabat kita. Pernah ada di posisi ini, tapi untumgnya ga se-childish Siska yang langsung nyalahin Wini. Padahal kan yang suka sama Wini itu si Iqbal. Btw, pun kalo temenku jugaa ga suka sama orang yang kusuka, ya udah aku harus terima kenyataan wkwk tapi itu dulu si pas masih bocill n

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)