Cerita Bersambung (Semua Karena Waktu #6)

 Semua Karena Waktu

Bella berada di sebuah ruangan serba hitam sungguh itu sangat hitam, seperti ruang hampa. Bella berputar-putar mencari-cari pintu, tapi sepertinya ruangan itu tidak memiliki pintu.

"Laksanakan tugas mu jika ingin pulang," suara gaib dengan nada tinggi. Suara itu terus bergema di ruangan itu, membuat Bella sangat takut.

Bella yang mendengar suara itu sontak melihat kesana kemarin namun sumber suara itu tidak ditemukan, sungguh badannya berkeringat dingin saat ini.

"Si-siapa lo, ayok keluar lo gue nggak takut sama lo" kata Bella terbata-bata.

"Tugas apa yang lo maksud?" tanya Bella dengan nada tinggi.

Tiba-tiba dada Bella rasa sesak, seperti ada sesuatu yang menariknya namun ia tidak tau itu apa. Bella memegang dadanya, berharap pasokan oksigennya tak berkurang namun naasnya pasokan oksigen semakin berkurang hingga sesaknya semakin terasa.

Mata Bella tiba-tiba terbuka dan ia langsung terbangun dari tidurnya, ternyata ia baru saja bermimpi. Bella melihat jam yang berada di nakas sebelah kasurnya, ternyata masih jam lima subuh.

Bella mengusap keringat tubuhnya, sungguh mimpi itu terasa begitu nyata. Bella bergumam, "Sial banget sih gue,". Bella mengeryitkan dahinya, di meja rias tak jauh dari kasurnya terdapat pakaian sekolah dan juga secarik surat di atas tumpukan baju sekolah itu.

"Hai Bella, jika ingin pulang jalani seleksi sepuluh hari di dimensi ini dan selesaikan tugas kamu. Jika kedua itu tidak selesai maka kamu tidak akan pernah pulang," ucap Bella membaca surat tersebut.

Bella mengambil pakaian sekolah itu, di bawah tumpukan pakaian sekolah itu terdapat sebuah dokumen. Bella bergumam, "Ini dokumen perpindahan sekolah, berarti gue sekolah juga dong di sini. Semalam suruh gue berubah lah hari ini gue di suruh selesain tugas sama sekolah, aneh banget sih." Bella memasuki kamar mandi, ia harus bersiap-siap dan pergi ke sekolah barunya sebelum terlambat.

Bella telah siap, ia terlihat begitu rapi saat ini. Bella bergumam, "Boleh juga seragamnya, gue tambah cantik." Bella berjalan keluar kamarnya, suara orang-orang lagi bercanda tawa menyita perhatiannya ia pun berjalan menuju sumber suara.

"Eh ada nak Bella, sini nak sarapan dulu," ucap Pak Abas yang menyadari kedatangan Bella.

"Nggak usah pak," kata Bella sambil tersenyum.

"Munafik banget sih gue, gue pengen makan soalnya lapar banget," batin Bella.

"Nggak usah malu-malu nak, sini makan ibu masak banyak banget ini," ucap Bu Leni mengajak Bella makan.

"Mending gue nggak usah nolak lagi, nanti kalau gue nolak bisa mati kelaparan gue di sekolah," batin Bella.

"Eh neng, kenapa diam disitu. Sini kita makan bareng," ucap Bu Leni menunjuk kursi di sampingnya.

"I-iya bu," kata Bella sambil berjalan menuju kursi di sebelah Bu Leni.

Bella mengambil nasi sekaligus lauk di sana, sesungguh lauk itu sangat sederhana sekali hanya telur ceplok dan ikan asin. Bella memakan makanan itu dengan lahap, sedari tadi gerak gerik Bella dilihatin oleh seorang cowok yang duduknya tidak jauh dari dirinya kemudian cowok itu membuka mulutnya dan bertanya, "Dia siapa?." Bella yang mendengar itu hanya diam, menatap bapak dan ibu kostnya.

"Dia anak baru yang ngekost di rumah kita," kata Bu Leni.

"Ooo," kata cowok itu.

"Nak Bella kenalin ini anak ibu namanya Kabar," Kata Leni mengenalkan anaknya.

Kedua orang itupun saling berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing.

"Boleh juga ni cowok," batin Bella.

"Lo anak garuda bangsa ya?" tanya Akbar.

"Hah? Maksudnya?" tanya Bella bingung.

"Lo sekolah di SMA Garuda Bangsa juga?" tanya Akbar balik.

"Hmmmm, gue nggak tau," kata Bella bingung.

"Gimana ceritanya nggak tau, jelas-jelas lo pakai seragam garuda bangsa sama kek gue punya," ucap Akbar sedikit sewot.

"Eh iya," kata Bella sambil menunjukkan gigi ratanya itu.

Usai makan, Bella ingin segera berangkat sekolah namun ia bingung harus berangkat pakai apa dan kemana. Seharusnya tadi gue numpang sama si Akbar, kenapa gue bodoh banget sih pikir Bella.03:26

"Sial banget sih gue, nggak bisa nyuruh siapapun di sini coba aja kalau di rumah ada banyak orang yang bisa gue suruh," gumam Bella pada dirinya sambil menyusuri jalan raya itu.

Bella berjalan sembaring menendang benda-benda yang ia temui di jalan, tiba-tiba sebuah batu yang ia tendang terkenak seekor anjing di ujung jalan itu sontak Bella kaget ia pun memundurkan dirinya. Anjing itu mengongong, sungguh Bella menjadi ketat ketir.

"Mami papi tolong Bella," teriak Bella sambil lari dari anjing tersebut.

Bella kebingungan ia harus berlari kemana, bahkan sekarang ia tidak tau ia ada dimana. Sebuah gerobak sampah di dekatnya, tanpa berpikir panjang Bella pun langsung masuk ke dalam gerobak sampah tersebut.

Gerobak sampah itu di bawa dorong oleh tukang sampah, berjalan menyusuri jalanan itu hingga anjing yang tadi mengejar Bella tidak terlihat lagi.

Saat gerobak sampah itu berhenti di sebuah cafe, Bella pun turun dengan cepat, wanti-wanti takut bapaknya marah. Usai keluar dari gerobak sampah Bella langsung berlari, ia berhenti di pinggir jalan sungguh ia sangat capek dan haus sekali.

Bella mengelap keringat di dahinya, merapikan bajunya lalu mencium bajunya kemudian ia bersuara, "Huek, gilak bau banget gue mau muntah." Bella melihat ke arah depannya, sebuah gapura besar dengan tulisan SMA Garuda Bangsa di sana.

"Ini kan sekolah gue," gumam Bella.

Bella berjalan menyebrangi jalan raya itu, memasuki gerbang SMA itu namun tiba-tiba ada seseorang yang mencegatnya. Oh Tuhan siksaan apalagi ini, pikir Bella.

"Ikut gue sekarang," kata orang itu sambil menarik tangan Bella.

Mereka berjalan terus, Bella berusaha melepaskan tangannya namun tidak bisa. Semakin kuat Bella berusaha melepaskannya maka semakin kuat cengkraman tangan cowok itu pada tangannya.

Cowok itu menghembas tangan Bella, lalu memberikan sapu kepada Bella. Bella mengeryitkan dahinya lalu bertanya, "Apaan ni?." Cowok itu masih diam, ia menatap Bella.

"Sapu lapangan ini sekarang juga sampai bersih," kata cowok itu.

"Lo nyuruh gue? Lo berani nyuruh Bella, lo mau mampus ditangan gue," kata Bella dengan nada tinggi.

"Emang lo siapa sampai gue bisa mampus ditangan lo," ucap cowok itu dengan nada tinggi.

"Kurang ajar ya lo berani ninggiin suara depan gue," kata Bella sambil mengangkat tangannya ingin menampar cowok itu.

Tangannya langsung ditahan cowok itu, kemudian cowok itu mengenggam tangannya kuat hingga Bella meringis kesakitan. Cowok itu pun berkata, "Lo nggak usah sok berkuasa disini, lo tuh cuma sampah di mata gue." Cowok itu melepaskan tangan Bella dengan kasar.

"Belagu banget lo, lo itu udah telat masuk sekolah jadi pantes dong lo gue hukum," kata cowok itu ngegas.

"Lo siapa berani ngehukum gue?" tanya Bella dengan nada tidak santai.

"Gue ketua PKS disini," jawab cowok itu singkat.

"Asal lo tau ya, gue murid baru disini. Berani banget lo ngehukum gue, gue kasih tau kepala sekolah bisa jabatan lo hilang baru tau rasa lo," kata Bella ngegas.

"Murid baru tapi kelakuan songong banget, udah kayak yang punya sekolah ajah," ucap cowok itu dengan senyum smirk.

"Gue nggak peduli lo murid baru, murid lama ataupun murid abadi di sekolah ini yang penting lo selesaiin hukuman lo dan setelah itu terserah lo," lanjut cowok itu.

"Bangsat banget lo jadi cowok," batin Bella.

"Ngapain lihatin gue, kerjain cepat biar gue awasin lo ntar lo kabur lagi," ucap cowok itu.

Bella mengerjakan hukuman itu, ia menyapu dengan bersungut-sungut sungguh ia membenci situasi ini.

"Kulit gue kebakar, tangan gue kasat terus rambut gue lepek semua gara-gara tuh cowok brengsek," batin Bella.

Selesai dengan hukumannya, Bella berjalan menuju ruang kepala sekolah yang lumayan jauh dari lokasi hukumannya tadi. Bella melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu, perhatian Bella tiba-tiba saja tersita oleh segerombolan cowok di ujung koridor itu.

"Itukan si cowok brengsek tadi, dia sama si Akbar deh. Itu pisau yang dipegang dia dan pisau itu mengarah ke Akbar," kata Bella kaget sambil mengangga.

"Aaaaaaa," teriak Akbar di ujung koridor itu.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)