Prosa (Sebuah Ungkapan Dari Rasa Yang Tak Mampu Disuarakan)

 Sebuah Ungkapan Dari Rasa Yang Tak Mampu Disuarakan

Sumber gambar : sulanti

Kala pertama kali netra ini memandang mu, diri ku langsung terpesona pada mu. Netra ku berbinar kala itu juga, terus memandangi mu tanpa ingin mengalihkan pandangan ini ke haluan lain. Jantung ku langsung berdetak tak karuan, memberi sebuah isyarat entah apa itu aku pun tak tau. Diri ini terpaku, terpana di sana tak mampu bergerak kala itu juga.

Semakin diri ini bersua dengan mu semakin jantung ini berdetak kencang, sungguh debaran sangat luar biasa, debaran itu tak mampu ku kuasai. Entah kapan fatwa ini menghampiri ku sungguh aku tidak tau, merayap dan meninggalkan rasa di aksara ini. Fatwa ini semakin hari semakin kuat, tak mampu ku lemahkan.

Beraneka hal ku lakukan untuk menarik antensi mu di setiap kali kita bersua. Netra ini tak mampu berdusta, ia terus memandangi setiap kali kita bersua. Terkadang tanpa sadar bibir ranum ini tersimpul setiap netral ini memandang mu, sungguh diri mu mahakarya terindah yang pernah ku temui.

Rupa mu yang elok begitu menawan, sungguh itu semua terlihat sangat sempurna. Tak hanya rupa mu yang elok, akhlak mu juga begitu elok, oh Tuhan hati ku ini melebur dengan ciptaan mu yang satu ini.

Tak jarang diri ini menaruh rindu pada mu, kala beberapa kali kita tak bersua. Begitu sering nalar ini memberi isyarat pada bibir ranum ku untuk tersimpul bagai orang edan, itu selalu terjadi setiap memfantasikan mu. Mengangan-angankan diri ini bersama mu dan berbahagia namun itu masih sebatas angan ku.

Diri mu sangat muluk, mampu menjerat ku dalam aksara mu. tanpa sadar oleh mu, bahwa diri mu telah menjadi pemenang dan penguasaan di aksara ku. Sungguh selama bertahun-tahun silam tak ada seorang insan pun yang mampu membuka kunci aksara ku tapi sekarang telah terbuka, oleh diri mu.

Ingin rasanya lisan ini mengungkapkan rasa pada mu namun tidak, aku tak berani. Cukup menatap mu secara diam-diam kala kita bersua, menyimpan rasa ini di dalam lubuk hati ku. Sesekali hati ini was-was memasangkan mu bersama para dara di sana namun tak apa, aku terima.

Maaf tanpa izin, kuselipkan nama mu dalam doa-doa ku, menuangkan semua rasa ke dalam doa-doa ku. Meminta dan mengharapkan hadir mu dalam hidup ku kepada yang menciptakan mu, itu yang ku lakukan. Entah apa hasilnya, ku tak tau, hal terpentingnya aku sudah berjuang walau melalui jalur langit.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)