Prosa (Datang, Pergi dan Kembali)

Datang, Pergi dan Kembali

Mengalir air mata ini kala itu, saat dirimu berjalan jauh meninggalkan daku di sini. Netra ini menatap lurus pada arah kepergian dirimu, bola mata ini memerah. Anala membakar kalbu hingga hangus, menahan sakit di dalam sana. Tergepal tangan ini sungguh cukup kuat gepalan tu, menahan amarah yang membakar dalam diri daku.

Dirimu berucap bahwa tiada orang lain yang menjadi dasar dari kepergianmu nyatanya esoknya dirimu memamerkan perempuan cantik itu, mengatakan dia perempuanmu, ia milikmu sungguh dirimu begitu jahat padaku.

Kepergianmu menghancurkan diriku bagaikan hancurnya kaca, serpihannya hancur berserakan. Dahulu dirimu berucap aku calon ibu dari anak-anak kita dan aku calon halalmu nyatanya tidak, semuanya hanyalah ucapan dan sepertinya akan menjadi ucapan untuk selamanya.

Tanpa hadirmu aku seperti mati, aku kehilanganmu sungguh aku sangat  kehilangan. Menjalani hari tanpa warna semuanya terasa suram, tanpa secercah warna. Air mata selalu mengalir setiap saatnya, menangisi dirimu sungguh aku tak sanggup seperti ini.

Merayap disela-sela hari tanpa hadirmu, berharap hari-hari dahulu segera kembali padaku sungguh aku merindukan hari itu. Berjalan dengan kaki lemah menyusuri kehidupan hancur ini, menatanya kembali dengan harapan semuanya kembali rapi seperti sebelumnya. Bangun dari tenggelamnya kesedihan, berenang menuju permukaan meninggalkan kesedihan dikalbu.

Aku terlarut dalam waktu, tetapi dirimu belum kulupakan hingga kini. Dirimu masih berkeliaran dikepalaku, menghinggapinya seakan-akan ingin menetap di sana padahal ragamu telah pergi jauh dari pandangan netra ini. Nama indahmu masih terus terdengar ditelinga ini walau hanya sesekali, tetapi itu cukup terngiang di sana.

Aku selalu menganggap aku telah melupakan dirimu, beranggapan semuanya telah usai sungguh ku anggap semuanya telah benar-benar selesai. Aku berpikir rasa ini bukan lagi milikmu dan buka milik siapapun, aku tak sedang melemparkan rasa pada sesiapa. Aku beropini inilah akhirnya antara aku dan dirinya. Menjalani hari tanpa hadirmu di sini, sepertinya bukan hal buruk lagi bagiku. Aku mulai terbiasa tanpa dirimu, melakukan semuanya seorang diri.  

Tiba-tiba semuanya berubah, dirimu kembali padaku dengan sosok yang sama seperti dahulu yaitu sebelum dirimu berjalan jauh meninggalkan diriku. Dengan mudahnya dirimu berucap jika rasa pada dirimu masih milikku, tiada pemilik baru dari rasa itu katanya padaku. Perempuan cantik kemarin hanyalah teman katamu, aku tetaplah perempuan cantik dihatinya tiada perempuan cantik lain dihatinya.

Wahai tuan yang tampan nan rupawan, mengapa dirimu begitu padaku? Jawablah pertanyaanku ini tuan, jawablah dengan sejelas-jelas mungkin agar aku paham akan semuanya. Dirimu datang dengan mudahnya setelah hidupku hancur karena anda tuan dan aku sendiri yang merapikan hidupku, tanpa bantuan dirimu. Untuk apa dirimu pergi jika rasa itu masih untukku? Silakan jawab tuan yang terhormat. Ini hati bukan pintu yang bisa masuk dan keluar seenaknya, anda paham? Semoga anda paham, mantan tuanku yang terhormat.

Hadirmu kembali menghancurkan diriku, bukan merapikan yang telah rapi malah memberantakkan yang telah rapi hingga serpihan jatuh di sana sini. Entah mengapa waktu mempermainkan diriku, dirimu kembali kala aku sudah mulai terbiasa akan semuanya. Dahulu aku berharap dirimu kembali sungguh aku menginginkan itu, tetapi dahulu pada masa aku sangat kehilangan dirimu bukan sekarang.

Maaf tuan, aku tak bisa menerima dirimu kembali seperti dahulu. Kita telah selesai, berbulan-bulan yang lalu. Sekalipun perasaan ini masih milik dirimu tetap aku tak ingin kembali padamu, cukuplah sampai disini semuanya.

Komentar

  1. Kupikir akhirnya akan menerima kembali hihi syukulah, seennggaknya h itu enggak terulang kembali. Mungkin dianm akan . menyesal dan snggak mau mengulanginya lagi, tapi namanya hati kalo udah dipatahkan sama orang yang sama itu kayak bakal buka luka lama ga si

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)