Prosa (Suara Bisikan Anak Rantau)
Suara Bisikan Anak Rantau
Aku di sini, dibawah nabastala
malam. Terduduk disudut kota dengan cahaya temaram, menatap kearah depan
sembari melihat lampu-lampu kota yang menyala-nyala di sana. Menangis dengan
isakan yang begitu kecil, berharap tiada yang tahu sakitnya diriku. Aku hanya
butuh ketenangan sesaat di sini.
Bayang-bayang kejadian
bertahun-tahun lalu terus menghantuiku, tak bisa kulupakan. Aku meninggalkan
tanah kelahiranku menuju tanah rantauan demi menggapai mimpi di sana. Aku
meninggalkan ayah, ibu, adik, dan abangku di dermaga itu. Lambaian tangan mereka
masih terkenang dimataku, melepas diriku jauh dari mereka dengan harap diriku
bisa menggapai harapan diriku di sini.
Kesepian, kesendirian dan
kerinduan temanku selama diperantauan. Riuhnya suara-suara kota mengiang
ditelingaku, nyanyian kota mengema ditelingaku. Gemerlapnya kehidupan kota
menghiasi duniaku, aku bahagia di sini tetapi selalu ada yang kurang.
Ayah, ibu aku rindu pelukan
kalian. Adik, Abang aku rindu kerusuhan yang kalian ciptakan padaku. Ingin
rasanya aku pulang tetapi tak bisa, mimpiku belum tercapai lagi. Tunggu aku
pulang, kita berkumpul lagi seperti dahulu kala.
Dimasa silam kukira hidup
diperantauan itu indah, nyatanya tidak begitu. Membayangkan kesenangan di sini
nyatanya kesedihan yang menghampiriku, sangat miris. Proses pendewasaan
terberat itu kala aku menjadi seorang anak rantau. Memandirikan diri kala aku
ingin dimanja, mendewasakan diri kala aku ingin menjadi anak kecil dan
menyembuhkan sakit kala aku tak ingin sakit. Harap-harap diri kuat bertahan di
sini, meyelesaikan misi dan segera pulang.
Berjalan-jalan di jalanan kota,
berfoto-foto mengabadikan moment dengan senyuman merekah dibibir. Pergi ke
sana-sini, menjepret setiap kesempatan yang ada. Semua terlihat baik-baik saja
tanpa beban berat dipunggung, menikmati alur kehidupan yang diberikan sang
kuasa.
Beban dipunggung ini begitu
banyak, bertumpuk hingga menggunung bahkan aku tak mampu lagi berdiri tegap.
Masalah silih berganti, sepertinya masalah-masalah itu mengantri dibelakang
sana untuk memasuki kehidupanku.
Mengeluarkan lantunan kata yang
begitu baik kepada keluarga kala mereka menghubungi diriku, meminta serta
menagih kabarku. Mengungkap kata-kata seolah-olah aku sangat baik di sini,
tiada satupun masalah padaku dan menyembunyikan segala yang buruk dari mereka.
Bercurhat pada diri sendiri,
bergumam sendiri digelapnya malam hari. Tak ingin bercerita pada keluarga,
beranggapan mereka tak ingin mendengarkan ceritaku padahal mereka selalu
menanti ceritaku. Maafkan diriku, aku hanya tak ingin menambah beban kalian dan ini hanyalah hal
kecil saja maka aku mampu melewatinya sendiri, iya sendiri tanpa kalian.
Memegang perut yang mendadak
bernyanyi kala melihat kudapan enak diangkringan didekat tengah kota itu,
menahan nafsu untuk tidak mengeluarkan selembar rupiah agar mendapatkannya.
Menutup binar mata yang mendadak bulat melotot kala melihat indahnya gemerlap
jutaan barang-barang di sana, menahan hasrat diri agar tak mengeluarkan lebih
banyak fulus lagi. Berdiam diri menatap semua itu, andai aku dikampung hanya
mengeluarkan kata mau itu semua pasti langsung kudapatkan
Memeluk guling kala membutuhkan
sebuah pelukan dari lembutnya kasih sayang keluarga, andai guling itu mereka. Menyenderkan
diri pada dinginnya tembok di sudut kota kala membutuhkan sebuah sandaran di tengah
lelahnya kehidupan kota, andai tembok itu ibuku. Mencium figur mereka, berharap
bisa segera mencium mereka.
Melangkah-langkah dengan kecil,
menyusuri dermaga di sana. Melihat-lihat kedatangan para insan yang disambut
haru sang keluarga, terselip rasa sedih dihati ingin seperti itu. Mendengarkan
tenangnya suara ombak, menatap pintu kota ini berharap segera keluar dari kota
ini.
Komentar
Posting Komentar