Prosa (Wisata Masalalu)

 

Wisata Masalalu

Aku berjalan menyusuri pantai pasir putih nan indah itu, langkah-langkah kecilku tertapak jelas di pantai itu. Dahulu ada empat tapak kaki dibelakangku sekarang hanya dua, dua lagi telah tiada sepertinya tapak itu hilang dihapus oleh gulungan ombak. Pijakan pasir putih yang begitu lembut membuai kaki ini untuk terus berjalan, tiada kata lelah di sana. Pada masa silam aku berjalan-jalan di sini dari ujung hingga ujung bersamanya sekarang hanya aku, aku tak tahu dia dimana mungkin saja ia telah ditelan oleh penghuni lautan pantai ini yang katanya angker. Deruan suara ombak terdengar seperti nyanyian ditelingaku sungguh itu terdengar hening, tetapi tak sunyi.  Tempo hari tak pernah terdengar deruan ombak itu ditelingaku karena hanya riuhnya suaranya yang kudengar dan untuk sekarang riuh suara barito itu telah tiada, suaranya telah hilang dilahap habis oleh ributnya angin pantai.

Aku duduk di tengah pasir putih itu, memandang keatas langit yang begitu biru sungguh ini sangat indah. Menatap ke kanan dan ke kiri, melihat perempuan cantik bersama si dia milik mereka. Aku pernah menjadi perempuan cantik itu dan aku juga pernah bersama si dia ku di pantai ini, tetapi itu dahulu dan sudah begitu lama bahkan aku sudah melupakannya. Menari-narikan jari jemari ini diatas pasir, berangan-angan seolah-olah itu kertas. Aku mengukir namaku diatasnkertas pasir putih itu, hanya namaku seorang tiada namanya seperti dahulu kala.

Bermain-main air laut, begitu jernih hingga bisa kulihat ikan-ikan itu berjalan-jalan di dalam air sana. Memainkan air dengan tangan dan menimbulkan percikan kecil seperti saat itu, tetapi ini saat itu telah berlalu. Mengangkat gaun panjangku dan melangkah memasuki air yang dingin itu berharap gaun ini tetap terus kering. Aku mencipta suara air dengan kakiku seperti kemarin saat aku bersamanya, tetapi kali ini aku hanya bersama diriku seorang.

Berjalan menuju berbatuan hitam diujung sana, memanjatnya dengan hati-hati dengan harapan tidak terjatuh. Duduk diatas batu hitam nan tinggi itu, melihat kearah jauh sana sembari bergumam kagum atas keindahan ini. Netra melihat ke arah samping sembari tersenyum tipis mengingat dahulu waktu itu, ada dua insan di atas batu ini sekarang hanya satu. Berteriak dengan suara lantang dengan harapan segala beban terkeluarkan melalui suara itu, ujung pantai ini cukup tiada yang bisa mendengar suara teriakanku. Suara itu menelusup ke dalam lautan, memberikan sebuah getaran kecil. Teringat kala itu ada dua suara ditempat ini yang saling bertautan, tetapi itu sudah lama.

Melempar kerikil-kerikil kecil itu ke dalam laut itu, menarik perhatian para penghuni kecil di situ. Kemarin diriku tak dapat melempar batu ini karena tak diizinkan oleh dirinya katanya tangan seindah ini tak boleh kotor, tetapi hari ini aku melempar batu itu sungguh tanganku memang kotor seperti yang ia katakan padaku. Tangan indahku memang telah kotor, tetapi ia bisa kembali indah kala kubersihkan tidak sepertinya tak bisa kembali padaku di sini kala aku berwisata ke sini.

Berlari-larian kecil, duduk di bawah pohon tua sembari meminum secangkir air dingin yang kudapati dari penjual di sana. Penjual itu bertanya mengapa aku sendiri dan kemana si dia, aku hanya diam dan tersenyum sepertinya penjual itu paham maksud diriku. Netra ini menatap lurus ke depan tanpa sebuah kedipan, tak ingin melewatkan sebuah hal yang kunantikan ini. Indahnya warna jingga itu membuatku terpana, gradasi warna-warna dilangit itu begitu menakjubkan hingga tak mampu kud efinisikan dengan kata-kata. Tenggelamnya sang cahaya bumi menghilangkan terang menghadirkan gelap gulita, insan-insan meninggalkan pantai termasuk diriku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)