Prosa (Suara Si Korban)

Suara Si Korban 

Aku tak buta, sungguh aku bukan seorang tunanetra tapi aku tak mampu melihat apapun, semuanya begitu gelap dan hitam. Siapapun tak bisa memvonis diriku buta sebab aku tak buta, aku hanya tak mampu melihat. Buana ini begitu gelap, hidupku begitu hitam. 

Aku tak tuli, aku bukanlah tunarungu tapi aku tak mampu mendengar suara-suara di luar sana, rasanya begitu sunyi. Sesiapapun tak bisa mengatakanku tuli, aku tidaklah tuli. Diri ini hanya tak mampu mendengar. Buana ini begitu hening, hidupku begitu diam. 

Sungguh aku tak mampu melihat orang baik, aku hanya melihat mereka yang jahat. Aku tak pernah mendengar tuturan baik keluar dari lisan mereka, aku hanya mendengar tuturan buruk. Kemanapun kaki ini melangkah, aku selalu mendengar dan melihat dua hal itu. Sungguh bosan, aku sangat jelak dengan semua itu. 

Aku hanya mampu melihat dan mendengar hal menjijikkan saja, sungguh jejap. Mereka mencemoohku, memaki diriku, mengatai aku binatang, menghina diri ini dan lainnya. Apa aku tak pantas menerima hal baik? 

Mereka terus menghujam fisik ini, menghantam mental ku. Aku lemah, sungguh aku tak kuat lagi. Aku berteriak histeris setiap harinya, memohon pada mereka menghentikan itu tapi tak pernah mereka hentikan itu, seperti tak mempunyai keinginan untuk menyudahinya. 

Sudut di pojokan sana itu, tempat diriku bersemayam. Entah mengapa, tempat temaram nan sunyi itu begitu nyaman. Aku begitu menyukai sangkar itu, rasanya tak ingin pergi dari sana. Bermukim di tempat itu sambil menundukkan kepala, mengeluarkan air mata. Itulah tumpahan diri ini, menumpaskan semuanya di sudut pojokan itu. 

Netra ini setiap harinya sembab, kantung mata selalu setia bergelantungan di sana. Isak tangis telah menjadi teman diriku, mengiringi kaki ini setiap melangkah. Ia berada dimanapun diriku berada, sungguh teman setia. 

Tak jarang diri ini melawan, namun selalu kalah. Selalu menyorakan keadilan tapi tak pernah menemukan adil, entah kapan aku akan menemukan adil sungguh aku tak tau. Aku hanya bisa melihat dan mendengar itu semua, membiarkan hal itu. Semakin larutnya waktu, semua hal itu sudah biasa bagi ku. 

Komentar

  1. Indah sekali kata-katanya kak sulastri, seolah sedang membaca sisi diriku sendiri yang tak mampu diucapkan oleh pribadi.
    Bukan tak ingin melihat lebih luas, tp bagian diri yg masih trauma menutupi kemampuan utk melihat dunia lebih luas lagi, setelah diperlakukan dgn buruk sayapun berpokir bahwa dunia dipenuhi dgn org2 jahat.

    BalasHapus
  2. Bentar aku mau peluk Sukan duluuuuy! Heuheu. Kadang-kadang gapapa untuk menjadi buta untuk tuli daripada harus menasukkan ujaran benci itu ke dalam diri kita. Jujur dari sekian banyak prosa kamu, ini PALING YANG AKU SUKAKKK.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)