Prosa (Orang Baru)

 Orang Baru


Di awal tahun dirimu datang padaku, membawa begitu banyak janji manis untuk ku yang katanya mampu menyembuhkan luka dikalbuku ini. Memberiku begitu banyak harapan, mengajakku terbang tinggi diatas nabastala yang indah itu. Membujuk rayuh diriku, sungguh terlihat sangat manis diaksa ini.

Dirimu melihat gerbang dihadapmu ini, gerbang hati yang telah lama tertutup rapat. Mencari kesana-kemari, berputar-putar di area itu. Berlari-larian, mencari dimana kunci gerbang itu, itulah yang dirimu lakukan. Menerobosnya dengan brutal, berusaha masuk ke sana dengan paksa, itu yang dirimu lakukan.

Aku terdiam dan terpaku sambil melihatmu, daksamu penuh dengan peluh keringat sepertinya dirimu sangat lelah. Aku melihat tatapan dari aksamu itu, menyungging bibirku untuk sedikit tersenyum, terlihat cukup tulus. Siapa dirimu sebenarnya tuan? Mengapa dirimu masuk dalam hidupku? Bagaimana bisa dirimu berpikir untuk menyembuhkan lukaku yang menganga sepanjang waktu itu dengan rasa perih dan darah yang terus bercucuran?. Sangat banyak pertanyaan dikepala ku, sungguh aku bingung dengan sosok orang asing ini.

Aku sungguh tak mengenal mu, aku rasa dirimu juga tak mengenalku jadi kita hanyalah dua orang asing. Sungguh terlihat begitu aneh bukan, dirimu orang asing tapi berusaha menelusup masuk kehidup ku. Sebenarnya apa mau mu wahai tuan? Katakan akan kuturuti dan pergilah dari hidupku. Ayok katakan dan pergilah sejauh mungkin.

Semakin hari, dirimu semakin masuk kedalam hidupku. Dirimu tak sedikit pun mengatakan apa maumu, sungguh cukup membuatku penasaran. Namun dirimu terlihat berbeda dari tuan-tuan dimasalaluku, sungguh dirimu berbeda. Oh Tuhan sepertinya kalbuku luluh pada sosok tuan yang dahayu di sana itu, Apa ini akan terjadi lagi setelah sekian purnama?. Tak dapat diri ini berbohong, adorasi darimu mampu meluluhkan diriku.

Apa salahnya berusaha mengenal dirinya, pikirku. Dua orang asing, berusaha saling mengenal, sungguh terlihat begitu elok. Terima kasih, untuk semuanya wahai tuan. Jika ditanya semuanya itu apa ajah? Jawabnya sudah jelas yah semuanya. Maafkan diriku, pernah menolakmu diawal pertemuan. Harap ku padamu tak lebih, cukup tuan jadi tuan terakhir dikalbuku


Komentar

  1. Tidak apa-apa untuk menemui orang baru dan mengenalinya. Pun tidak perlu terburu-buru dalam memantapkan hati untuk diberikan padanya. Tetap harus memiliki lampu merah supaya jalanan menjadi tertib tanpa ada yang celaka, sama seperti hati yang butuh untuk warning supaya tidak patah hati terlalu dalam.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)