Prosa (Ditolak Tuan)

Ditolak Tuan


Aku berdiri dengan kaku di sini, terdiam dan terpaku sambil terus menatap dirimu yang jauh diujung sana. Mengelengkan kepala ini, mengisyaratkan ketidakpercayaan dari diri ini pada sikapmu yang begitu tega terhadap diriku. Sungguh aku sangat lelah dengan semua ini, aku sungguh letih saat ini.

Tanpa sedikit rasa salah dari dirimu kepada diriku ini, sungguh dirimu seperti manusia tak berhati. Dengan teganya dirimu menghempaskan setiap rasa yang ku lemparkan padamu, dengan kejinya dirimu membuang setiap perhatian yang kuberikan padamu, ibarat kata rasa dan perhatianku bagai sampah yang tak berharga di matamu. Sungguh dirimu begitu jahat padaku, tak adakah niatmu untuk sekedar menoleh kearah ku?.Dasar tuan kejam, sungguh sadisnya dirimu.

Begitu lama diri ini tertarik pada sosok tuan tegap di sana itu, beragam cara dilakukan hanya untuk menarik perhatiannya tapi hasilnya selalu gagal. Ribuan taktik yang ku jalankan gagal, jutaan strategi yang ku susun juga gagal. Sepertinya aku menyerahkan, tak tau lagi bagaimana menarik perhatian dirimu.

Niat hati ini sungguh baik, ingin berdekatan dengan mu, mengenal dirimu lebih dekat tapi dirimu malah menolak ku dengan sangat brutal sekali. Barang kali dirimu tak ingin berdekatan denganku lebih baiknya dirimu menolak ku dengan lembut, apa salahnya begitu.Tak seharusnya dirimu menolak ku begitu, apa susahnya menolakku dengan lembut wahai tuan?

Manusia tak berpunya rasa, sebuah ungkapan yang cocok untuk diriku lemparkan padamu wahai tuan tapi aku tau dilubuk hati terdalam mu itu ada sebuah rasa, ah sudahlah pusing kepalaku memikirkan hal itu. Terserah mau rasa itu masih bertempat disana atau tidak, sungguh aku tak peduli.

Aku tau dirimu begitu rupawan, mendekati kata sempurna dirimu itu bahkan begitu banyak para puan mendekati dirimu termasuk diriku yang bodoh ini. Terlepas dari semua itu, tetap saja dirimu begitu salah akan perbuatan jahat mu memperlakukan ku begitu. Tolaklah aku dengan baik, bukan begitu caranya menolak wahai tuan.

Sungguh sepertinya diriku menyerah, usahaku tak begitu cukup untuk membayar dirimu yang begitu mahal bahkan sangat mahal sekali, dasar jual mahal. Aku pamit, pergi jauh meninggalkanmu, itulah yang kulakukan saat ini. Terima kasih buat penolakanmu yang begitu membekas didiriku ini, selamat tinggal tuan tak berpunya perasaan.

Komentar

  1. Selalu terbawa arus kalo baca tulisan mba.. Seolah merasakan bagaimana ditolak.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)