Prosa (Dia, Orang Lama)
Dia, Orang Lama
Aku duduk di lapangan hijau ini, diselimuti nabastala biru. Netra ku menatap kosong jauh ke arah depan sana, mencari sosok yang telah lama pergi. Netra beralih ke kanan, kiri dan belakang, sosok itu tak ada. Pandangan ini hanya mampu melihat padang rumput hijau, rerumputan itu terus bergoyang mungkin menyapa netra ini. Indah, namun tak seindah kisah ku. Kisah ku bagai di padang gurun, penuh panas dan hewan liar. Ini sangat menyedihkan, begitu kasihannya diriku.
Air mata ini jatuh, mengalir dan menyapa pipi lembut ku ini. Bibir ranum ini bersumrigah, tersenyum menahan pahitnya rindu. Sosok itu telah lama hilang, ia hilang dari pandangan ini bukan dari hati ini. Dia berada jauh di sana, sangat jauh dari diriku. Aku tak tau ini apa tapi aku hampir gila karena ini, seperti orang tak waras.
Sesekali diri ini bertanya pada hati ini, apa rasa di dalam sana itu masih milik dirinya tapi aku tak mampu menemukan jawaban dari soal itu. Entahlah, apa rasa ini masih ada untuk dirinya atau tidak, aku tak tau. Aku hanya tau ia masih ada di hati ini, namun jauh terkubur di dalam sana.
Sosok itu, orang lama. Begitu lama raganya pergi jauh meninggalkan diriku, namun namanya yang begitu elok masih ku sebut hingga saat ini. Ia memang telah menghilang dari pandangan ku, namun ia masih ada di lubuk hati ini walau tak diposisi yang sama sebelum ia pergi.
Begitu banyak insan baru yang berdatangan, membawa jutaan kenangan dan ribuan cerita dalam diri ini. Mereka menciptakan tawa untuk diriku, memberi kenangan padaku. Entah mengapa dirinya tak tenggelam dilahap insan-insan baru itu, begitu aneh namun nyata.
Beribu hari telah berlalu, aku tak pernah melihat dia lagi. Aku tak lagi berdialog dengan dirinya, wajahnya yang begitu rupawan pun tak pernah ku pandang lagi. Bayangnya pun tak pernah kutemukan lagi, ia hilang seperti di lahap oleh rakusnya bumi.
Begitu banyak hal terlewati, namun dia tak pernah terlewatkan. Benakku selalu mengingat dirinya, aku merindukannya. Aku bingung, entahlah apa yang terjadi. Tak jarang diri ini merasa bahwa diriku tak lagi menyimpan rasa padanya tapi anehnya ia tak hilang dari diriku, ia masih ada di sini.
Dia, sosok yang telah lama tinggal di hati ini. Mungkin rasa ini tak lagi miliknya, namun ia tetap ada di sini. Entah apa gunanya dia di sini, hingga tak ada satupun insan baru yang mampu mengantikannya di sini.
Berbaring di lembut
rerumputan hijau, di tengah lapangan hijau itu. Menatap indahnya nabastala,
bernoda biru dan putih. Sesekali berbicara pada angin-angin yang
berlalu-lalang, menceritakan tentang dia. Aku tak tau sampai kapan dia di sini,
mungkin dia akan pergi suatu saat nanti, entah kapan aku pun tak tau.
Komentar
Posting Komentar