Prosa (Aku Tidak Sendiri)

 

Aku Tidak Sendiri

Tak jemu-jemunya aku menampangkan diriku dipublik, memperlihatkan paras wajah ini kepada mereka semua. Berjalan diantara kerumunan padat di sana, itu sangat menyenangkan. Melakukan ini dan melakukan itu serta melakukan ini itu, semua itu begitu seru sekali.

Aku sangat suka berjalan dari satu puncak ke puncak yang lainnya, sembari bergandengan tangan. Aku begitu menikmati saat-saat aku berteriak-teriak dengan lantang di depan para insan-insan ini, bersuara dengan bunyi yang unik dari tenggorokan ini.

Aku begitu bahagia hingga tak mampu meluapkan rasa riang ini setiap mereka mengajak ku untuk tertawa dengan tingkah mereka, entah mengapa itu sungguh membuat ku puas.

Aku membenci kesendirian, aku tak menyukai kesepian dan aku gusar terhadap sebuah ketenangan tanpa riuhnya suara. Aku heran mengapa dunia seperti itu ada dan bagaimana mereka hidup di dunia seperti itu, dasar aneh.

Tak pernah terlintas di dalam benak ini untuk menjalani hari dan mengukir sebuah cerita di atas kayu jati itu, itu sungguh keras sekali. Entahlah bagaimana mereka bisa mengukir sebuah cerita di atas sebuah kayu jati itu, aku akui mereka luas biasa tapi mereka terdengar abnormal.

Jika ada yang mudah kenapa harus memilih yang sulit? Mungkin inilah hidup jika bisa yang sulit mengapa harus yang mudah. Mereka bisa saja mengukir cerita di atas kertas kosong dengan sangat mudah seperti ku tapi mereka malah mengukir cerita di atas kayu jati yang keras itu.

Tak jarang aku menggenggam tangan mereka, mendekap mereka dengan erat dalam peluk. Berharap sebuah keajaiban terjadi, tercipta warna-warna indah dalam hidupku mereka. Aku kira aku mampu ternyata aku mampu untuk membuat mereka pergi dari ku, mereka melepaskan genggaman tangan ini dengan sebuah hempasan yang kuat lalu melepaskan dekapan ini dengan dorongan yang dashyat dan menghapus setiap warna yang berusaha kuberikan pada mereka.

Terkadang diri ini berjalan bolak-balik, sembari berpikir keras dan terus mencari alasan tentang kepergian mereka dari ku. Apakah niat baik ini tersembunyi dibalik sebuah selimut kejahatan? Oh ayolah aku hanya berniat baik, buka jahat.

Aku sadar dunia kita berbeda, beda itu sangat jauh sekali. Aku berada di dunia yang penuh dengan keramaian, berjuta interaksi dan riuhnya suara. Dirinya berada di di dunia yang penuh dengan ketenangan tanpa suara, penuh hening dan kesepian.

Aku sosok yang begitu suka hal baru, berinteraksi dengan berbagai jenis manusia. Berputar-putar dipadatnya dunia, berpergian menghampiri insan-insan di sana. Aku mencintai diri ku seperti ini, walau sedikit lelah tetapi aku puas dengan setiap kenikmatan yang disajikan pada netra ini.

Mendengar berbagai jenis suara dari satu sudut ke sudut lainya, itu begitu menyenangkan. Menampung setiap suara mereka, menceritakannya pada insan lain. Aku suka berbagi cerita, membuat cerita dan mendapatkan cerita.

Aku tak ingin dunia ku hilang, aku tak ingin hidup di dunia seperti dia di sana. Ketika mereka yang lama pergi dari hidupku, aku selalu mencari mereka yang baru untuk hadir dalam hidupku.

Berdiri di tengah-tengah lingkaran interaksi, bukan hal baru bagi ku. Depan, belakang, kanan dan kiri ku berisi warna-warna yang siap memasuki hidup ku. Terkadang aku heran mengapa aku seperti ini tetapi inilah takdir diriku, menikmati hidup dengan cara ku sendiri.

Komentar

  1. Menikmati sendiri ataupun tidak adalah sebuah pilihan, kadang kita butuh sendiri kadang juga tidak.

    BalasHapus
  2. Wag ternyata Sulan bikin sudut pandang yang berbeda dengan prosa sebelumnya, yaaa. Menarik karena memaparkan dua sisi antara dua karakter manusia terhadap kesukaan mereka akan keheningan dan keramaian.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)