Prosa (Aku Orang Ketiga)

Aku Orang Ketiga

Aku berjalan, langkah demi langkah, perlahan-lahan aku mendekati dirimu di tengah-tengah lapangan bunga itu. Lapangan bunganya sungguh indah, sangat sesuai sekali untuk kita yang hatinya sedang berbunga-bunga. Dirimu sendirian di kursi putih tengah lapangan itu, aku duduk disebelahmu. Menggenggam tanganmu, mendekapmu dalam peluk ini dengan sangat erat. Aku ingin terus memeluk dirimu, tak ingin kulepaskan tapi harus kulepaskan. Air mataku terjatuh, segera kuusap. 

Ini hampir saja terlambat tapi tidak terlambat, akan kuperbaiki semuanya, aku berjanji. Maaf, aku baru menyadari semua ini. Aku terlena akan kenikmatan yang kudapati, aku terbuai akan kebahagiaan sesaat ini. Sungguh aku sangat egois, aku sangat jahat sekali. Maafkanku, maafkan insan bodoh satu ini. 

Teruntuk tuan, parasmu begitu menawan, sungguh tampan sekali. Aku begitu mencintaimu dan sangat menyayangimu, hingga rasa ini membutakanku. Wahai tuan, terima kasih untuk kesempatan yang dirimu berikan padaku tapi ini salah, sangat salah. Kita akhiri semuanya, iya semuanya. Selesaikan hubungan terlarang ini, habiskan semua ini tanpa sisa. Sudahi semuanya, cukup sampai disini. 

Pergilah dariku, pergi sejauh mungkin, kembalilah pada dia wanitamu yang sesungguhnya. Rangkailah cerita bersama dia, setialah padanya dan bahagiakanlah ia. Lupakan tentang kita, anggap saja ini mimpi buruk. 

Teruntuk kamu puan, maafkan diriku, sungguh aku meminta maaf padamu. Aku salah, aku begitu menyakitimu. Kukembalikan tuanmu, kuserahkan ia padamu , hanya dirimu yang pantas untuknya bukan diriku. Dirimu begitu setia padanya bahkan ketika ia menduakanmu bersamaku, dirimu masih tetap setia dan menunggunya kembali. Lanjutkan hubunganmu bersamanya, tanpa hadirku diantara kalian. 

Aku melepaskan genggaman tanganku darimu, merenggangkan dekapan ini. Aku berjalan pergi, meninggalkanmu sendirian di lapangan bunga itu, tunggu dirimu tak sendiri tapi ada wanitamu yang sedang berjalan menghampirimu dari sudut sana. Menyusuri kumpulan-kumpulan bunga itu, menuju jalan setapak di sana. 

Netra ini mengeluarkan lagi air itu, air mata. Aku terus mengusapnya, sembari meninggalkan dua sejoli di lapangan bunga itu. Sesungguhnya aku tak ingin mengakhiri ini, namun ini salah. Biarlah rasa ini kusimpan, hingga menghilang bersama waktu. Cukup sesaat diri ini menjadi orang ketiga, tak lagi, sungguh tak lagi. 

Komentar

  1. Huhu, baru kali ini baca prosa dgn "aku" sbg org ketiga.
    Meski perih, yuk bisa yuk. Move on😭

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)