Prosa (Aku Bingung dan Aku Tak Tau)

 Aku Bingung dan Aku Tak Tau


Aku bingung, hal apa yang baru saja terjadi dengan diriku. Aku tak tau, perihal apa yang menimpaku. Bagaimana bisa semua jadi seperti ini? Ayolah siapapun berikan jawaban itu padaku. Aku berkelana kesana kemarin kesitu kesini, mencari jawaban tapi tak kutemukan jawaban itu.

Semuanya begitu cepat, begitu tiba-tiba, begitu berubah dan begitu mengagetkanku. Entah sejak kapan ini terjadi, sungguh aku tak tau. Berjalan sembari beriringan dengan waktu, mengikuti alunan sandiwara dunia. Mungkin ini takdirku tapi aku tak terbiasa, ini baru bagi ku.

Hati yang semulanya kosong ini telah terisi, seorang insan menetap di dalam sana. Ruang hitam putih itu kini berwarna, berjuta warna hadir di ruang itu. Rasa ini awalnya tiada kini rasa itu hadir di sini, sebuah rasa yang sangat berbeda dari sebelumnya. Ini sangat lain tapi aku menyukai ini, entahlah, ini begitu sulit  untuk kujelaskan dengn lisan ini.

Waktu semakin larut setiap saatnya, merubah setiap hal diwaktunya. Hal berbeda ini, sepertinya semakin mengontrol diriku. Aku semakin tenggelam didalamnya, mengikuti alunan permainannya. Ini semakin meresapi diriku, sungguh aku heran dengan ini. 

Hati ini semakin mengunci insan itu di dalam sana, tak ingin ia keluar dan kabur. Ruang dengan jutaan warna itu, menciptakan warna baru setiap harinya. Rasa ini semakin beragam, bermacam-macam rasa muncul setiap harinya. Aku semakin bingung, tak tau harus bagaimana.

Semula diri ini mengagumi sosok laki-laki rupawan di tepi pantai itu, sekarang tak lagi, aku tak ingin menjadi pengagum rahasia terus menerus tapi aku Ingin memilikinya. Rasa ini semakin bertambah setiap harinya, tiada berkurang. Hati ini semakin terpesona padanya, begitu mempesona dirinya.

Dalam diam hati ini menginginkan lebih, lebih dari ini semua. Aku menginginkan sebuah hubungan lebih dengan dirinya, merangkai sebuah kisah bersama-sama. Menjalin kasih bersamanya, melewati hebatnya derasnya ombak kehidupan bersama-sama. 

Bermacam hal kulakukan, beragam tindakan kuperbuat. Menunjukan rasa kagum ini padanya, sepertinya aku bukan lagi pengagum rahasia saat ini. Melemparkan setiap perhatian kepadanya, menciptakan kedekatan dengan dirinya. Aku tak tau, ada apa dengan diriku. Aku ingin sebuah hal yang lebih, sepertinya hanya itu keinginan ku saat ini.

Aku meletakan semua harapanku kepada dirimu, melemparkan semua harap itu padamu. Kini semua itu kuserahkan padamu, sungguh diri ini ingin harapku padamu terwujud. Indah, hal yang muncul dibenakku setiap aku mengingat harapku padamu. Aku berharap lebih padamu, sungguh.

Suatu hari, kala aku berjalan menyusuri pantai itu. Mencari hadir mu di sana, berharap menemukan mu. Benar, aku menemukanmu tapi aku juga menemukan kecewa ku kala itu. Melihatmu diantara berbatuan itu, bersama seorang wanita. Bercanda tawa dengan wanita itu, membelainya dengan perhatian lebih, mengucapkan kalimat-kalimat manis ditelinganya. Aku kecewa padamu, aku sangat kecewa.

Berlari sekuat tenaga, sekencang mungkin, berharap ini semua sirna diterpa angin. Meneteskan air mata, berisak tangis sesedu mungkin. Diri ini merasa paling tersakiti, seolah-olah takdir membenci ku. Entahlah, aku bingung saat ini, sepertinya ini salahku bukan salahnya. Maaf aku terlalu berharap padamu, hingga harap itu mengecewakan ku.

Entah apa yang terjadi, aku tak tau. Aku merasa ini salah ku, penyebab semua ini diriku. Entahlah, aku tak tau. Biarlah ini berlalu bersama waktu, hilang diterpa hembusan angin-angin itu. Ku tak peduli lagi, ini sungguh memusingkanku. 


Komentar

  1. Semangat berusaha untuk menutupi perasaan-perasaan itu ya Kak Sulanti

    BalasHapus
  2. Wahhh relate sekali dengan yang kurasakan saat ini ketika banyak yang harus dikerjakan jadinya bingung deh :( Tenangkan diri dulu saja kak. Semoga perasaan bingung yang dialami bisa cepat sirna.

    BalasHapus
  3. aku bingung aku tak tahu ketika semua deadline dan minta BW. hehehee..sedang merasakan ini makaasih mba

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)