Musikalisasi Puisi (Tentang Aku, Dia dan Perempuan Cantik Itu)

 

Tentang Aku, Dia dan Perempuan Cantik Itu

Kaki ini terus melangkah jauh, pergi meninggalkanmu dibelakangku

Menyusuri jalan setapak ini tanpa disandingi oleh siapa pun, aku hanya seorang diri

Melangkah tanpa ragu, menuju ke depan sana

Di depan sana gelap gulita, aku takut tetapi aku harus ke sana

Meninggalkan semua yang di sini menyambut segala hal yang di sana

Langkah demi langkah kuraih, demi kepergianku

Aku tak ingin tertinggal di sini, sungguh aku tak ingin

Aku ingin pergi jauh ke depan sana

Meninggalkan setiap kenangan yang pernah indah pada masanya

Menghempaskan mimpi yang telah hancur lebur, kini mimpi itu telah tiada

Menghentikan harap yang terus kulemparkan padamu

Walau diri ini telah berusaha pergi darimu, jauh ke ujung sana tetapi dirimu tak sepenuhnya hilang dariku

Tak jarang desiran angin itu datang menyapaku

Aku tak ingin disapa tetapi dia selalu menyapaku meski telah kuusir ribuan kali

Ia berbisik ditelingaku, bisikan lirih akan dirimu dan perempuan cantik itu

Sering aku berpura-pura tuli, menutup telinga ini serapat-rapat mungkin

Aku tak ingin mendengarkan itu

Semakin telinga ini tak ingin mendengarkannya, semakin aku mendengarkannya

Tak bisa kupungkiri rasaku padamu masih ada, rasa itu masih melekat dikalbu ini

Hanya ragaku yang pergi bukan rasaku

Telinga ini memanas setiap mendengar itu, seperti ada ancala yang membakarnya

Hatiku pun berguncang hebat merasakan sakit, dada ini pun sesak menahan cemburu

Ingin rasanya membiarkan perasaan ini dilahap habis oleh waktu tetapi waktu tak pernah melahapnya

Waktu membiarkannya, bertambah setiap saatnya

Entah mengapa benak ini selalu saja mengatakan aku dan dia pantas seperti ini

Aku pantas pergi meninggalkan dia dan dia pantas tidak mengejar diriku

Pikiran ini terus saja menyatakan hal-hal yang menyakiti hatiku sendiri

Perempuan cantik itu yang ia inginkan, perempuan cantik itu yang ia dambakan dan perempuan cantik itu yang ia butuhkan

Begitulah pernyataan ku

Sementara aku yang di sini hanyalah perempuan biasa

Bukan aku yang dirinya cari, aku tidaklah sempurna

Sedangkan yang ia cari yang sempurna

Tetapi hatiku tak mampu berdamai dengan isi kepalaku

Namun bibir ini terus tersenyum lebar, merekah setiap saatnya

Seolah-olah dunia berpihak padaku, hal buruk tak pernah menimpa diriku

Sebuah sandiwara yang luar biasa, tampil diatas panggung penderitaanku

Terlihat mampu menutupi segala amarah di dalam diri ini, kuat tetapi juga lemah

Tak bisa aku berbohong pada diriku lebih lama

Sesungguhnya aku tak sanggup seperti ini

Melihat ia bersama perempuan cantik itu

Aku ingi merebutnya, membawanya pergi bersamaku, meninggalkan perempuan cantik itu

Mengenggam tangganya dengan erat, mendekapnya dalam peluk sekuat mungkin

Tak akan pernah kulepaskan tetapi nyatanya ia sudah kulepaskan

Membiarkan ia pergi tetapi sebenarnya aku juga pergi darinya

Ada begitu pertanyaan dalam diri ini, tentang kau dan aku

Selalu kunantikan jawabannya tetapi tak pernah kudapatkan jawabannya

Apakah kita sengaja dipermukaan? Apakah dengan sengaja kita dibiarkan tidak saling memiliki?

Adakah jawaban dari pertanyaan ku ini? Jika ada mengapa aku tak pernah mendapatkannya?

Kalau memang benar kita tak bisa bersatu lalu mengapa kau selalu saja menghampiri ku di jalan setapak itu?

Wahai tuan

Pernahkah kau berpikir tentang diriku, berada diposisi ku ini

Ini sungguh berat, sangat berat

Maafkan aku tuanku

Aku mundur, aku nyerah dan aku kalah

Aku tak sanggup

Seluruh duniamu untuknya bukanlah untukku,  seperinya aku tak perna hadir dalam duniamu

Hampirilah perempuan cantik di sana itu, sahabat mu itu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)