Musikalisasi Puisi (Dia Datang, Dia Pergi dan Aku Menunggunya)

 

Dia Datang, Dia Pergi dan Aku Menunggunya

Sosok tak terduga itu hadir dalam duniaku
Ia datang tanpa diminta olehku
Dia begitu sempurna
Parasnya begitu tampan nan rupawan, keelokannya begitu memikat diriku
Manik matanya begitu indah
Senyum dari bibirnya begitu manis
Tubuhnya begitu tegap dan gagah
Hati dan pikirannya begitu mulia
Dia sosok yang tak pernah kupikirkan bahkan tak pernah terlintas dalam benakku
Ia menelusup dalam hidupku
Menghancurkan tembok-tembok yang telah kubangun untuk melindungi hati ini
Ia merayap memasuki hatiku yang telah lama ku kunci, ia membukanya dengan lembut
Dalam sekejap mata ia merubah semuanya
Menciptakan warna dalam duniaku, warna-warna yang begitu indah
Menerangiku dari kelamnya masalalu
Memberi tawa yang begitu riang
Membawa kehangatan demi mengusir dinginnya luka lama
Menjauhkanku dari luka dan deras air mata
Dia mengobatiku, dia menyembuhkanku, dan dia menyelamatkanku dari jurang masalalu
Duka lara ku hilang berganti sukacita
Aku begitu bahagia, tawaku terdengar disetiap sudut malam
Paras riangku terus terpancar setiap waktu, indah berseri menghiasi wajahku
Dengan mudahnya kita membangun dunia bersama, hanya berdua
Dunia yang penuh dengan cinta dan kasih sayang
Namun saat dunia itu belum terbangun seutuhnya dia malah merobohkan dunia itu
Duniaku dan dia hancur lebur
Dalam sekejab dia berubah
Seketika dia seperti batu yang tak bisa kupecahkan
Seketika dia seperti ombak kencang yang tak bisa kutenangkan
Seketika dia seperti es yang tak bisa kucairkan
Seketika pintu hatinya tak bisa kugedor, apalagi kudobrak
Semuanya berubah dalam seketika
Ia meninggalku tanpa arah di sini, aku tak tau harus kemana
Aku kehilangan arah
Entah dimana letak barat, timur, selatan dan Utara

Aku tak tau
Warna yang ia berikan telah memudar bahkan menghilang
Dia membawa kembali kelam masalaluku, menghilangkan terang itu
Dia Menciptakan luka sedingin luka waktu dahulu
Dia pergi bersama tawa riangku, meninggalkan isak tangis bersamaku di sini
Dia telah pergi, membawa segalanya dariku
Mendampar diriku di sini, dipesisir kesedihan hati
Entah kemana ia pergi, tiada yang tau
Aku tak tau mengapa ia pergi, entah apa yang membuat ia pergi
Ia meninggalkan sejuta tanya dikepalaku
Apa salah ku?
Mengapa dia pergi?
Apa aku tidak cukup baginya?
Apakah dia akan kembali?
Dimana ia berada sekarang?
Dia memang sosok yang tak terduga
Ia mampu membuatku bahagia dan ia juga mampu membuatku sedih diwaktu yang sama
Dia pergi tanpa kuinginkan
Tak kudengar lagi tentang dirinya
Hilang seperti ditelan bumi, dilahap habis oleh waktu
Hembusan angin pun tak pernah memberikan kabar tentangmu padaku
Lenyap, dia benar-benar lenyap
Di sini aku kehilanganmu
Aku tak sempurna tanpa dirimu
Kucari dirimu disetiap sudut kota tetapi tak kutemukan hadirmu di sana
Berkelana dari ujung hingga ujung, mencari dirimu tetapi bukan dirimu yang kutemukan
Aku menunggu kembalinya dirimu di sini, dibawah cahaya temaram ini
Netra ini terus menatap kesetiap arah, mencari sosok dirimu
Berharap dirimu segera kembali
Wahai pria idamanku kembalilah, segeralah kembali padaku
Aku merindukan mu
Lupakan semua, kita mulai kembali
Aku tak marah padamu
Aku sudah memaafkan dirimu
Kemarilah, duduk disampingku
Bersanding bersama diriku
Menyusuri lembah kehidupan bersama, melangkah beriringan menuju ke depan sana
Aku akan terus menunggu dirimu di sini
Entah kapan penantian ini akan terjawab, aku tak tau dan mungkin tiada yang tau
Segeralah kembali tuanku

Komentar

  1. Jadi orang enak bener ya datang dan pergi sesuka hati, kitanya yang menderita. Btw bagus banget puisinya, ditunggu ya video musikalisasinya(?) 🀣🀣

    BalasHapus
  2. Enggak apa-apa untuk menjeda hati, enggak apa-apa huga untuk membuka hati. Akan tetapi, kita harus tahu bahwa yang dia yang berhasil mendobrak hati, kapan pun dia juga bisa meruntuhkan dunia yang udah kita bikin bersama dia. Solusinya adalah, biarkan dia singgah, tetapi kita tidak boleh membiarkan dia menbangun dunia di hati kita, apalagi membantunya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)