Musikalisasi Puisi (Aku Kira Aku Istimewa Tetapi Nyatanya Tidak)

 

Aku Kira Aku Istimewa Tetapi Nyatanya Tidak

Malam ini terasa cukup dingin

Hembusan anila menusuk tubuhku

Aku butuh anala untuk menghangati tubuhku

Aku di sini, dibawah gelapnya nabastala

Terduduk diam, menatap kosong kearah depan sembari meratapi kebodohan diri

Bersandingkan derasnya air mata

Beberapa kali suara desir menyapaku, memberitahukan tentang dia yang bersama orang lain di sana

Aku cemburu, aku iri, dan aku marah

Aku tak tahu harus bagaimana selain berdiam diri di sini

Kenapa kau memilihnya?

Kenapa kau tidak memilihku?

Pertanyaan yang selalu kuulangi setiap saatnya

Jawabannya pun tak kunjung kudapatkan

Ingatkah kau akan diriku, cobalah mengingat diriku sebentar saja

Aku yang selalu mendengar keluh kesahmu

Aku yang selalu mendengar aduanmu

Aku yang selalu mengelus kepalamu, memberi ketenangan kala dirimu terancam dalam kecemasan

Aku yang memasang bahu setiap dirimu butuh sandaran

Aku yang selalu hadir kala dirimu kesusahan

Aku yang selalu menemanimu

Aku selalu mengusap air matamu

Apakah kau ingat semua itu? Jawablah pertanyaanku

Aku kira aku Istimewa untukmu sebab kau selalu menumpahkan segalanya padaku, kau menjadikan

 diriku rumah bagimu

Aku terasa begitu istimewa

Aku tak tahu kalau ada orang lain dihidupmu

Sungguh aku tak tahu

Siapakah orang itu?

Kapan orang itu datang?

Darimana ia datang?

Aku tak orang itu siapa

Aku tak tahu kapan dirinya datang

Aku tak pernah melihat ia datang

Tiba-tiba ia sudah ada di sana, disamping dirimu

Mengantikan posisi diriku di sana

Banyak insan yang mengatakan sosok orang lain itu telah lama ada di sana

Hanya diriku saja yang tak tahu

Begitu bodohnya diriku

Dan kau tuan, kemarilah tatap manik mataku dan jawablah pertanyaanku

Mengapa kau tak beritahu kalau ada dia di sana?

Kenapa kau sembunyikan dia?

Kenapa kau tak ceritakan tentang dia?

Katakan jawabannya padaku, aku ingin mendengarnya

Oh ya seharusnya aku memberikanmu sebuah tepuk tangan, tepukan yang begitu meriah

Sebuah apresiasi untuk dirimu atas prestasi hebat itu

Begitu rapi dirimu menyembunyikannya, sangat rapi sekali tanpa sedikit celah

Begitu rapat dirimu menyimpannya di dalam selimut itu hingga aku tak mengetahuinya

Apa kau tahu dia musuhku

Siapapun yang ingin memiliki dirimu maka dialah musuhku

Tanpa terkecuali satupun

Coba kau pikirkan apakah ini adil atau tidak?

Aku yang menenangkan dirimu tetapi dia yang memenangkanmu

Aku yang merangkulmu tetapi dia yang kau rangkul

Apa ini adil? Tidak ini sungguh tidak adil

Ingin rasanya aku menuntut dirimu kejalur hukum tetapi tak bisa

Mungkin saja saat aku berharap padamu maka saat itu juga kau sedang bersamanya

Mungkin saat aku memikirkan dirimu dipojok kamar itu maka saat itu juga kau sedang

 menggenggam tangannya

Mungkin saja saat aku meratapi dirimu disetiap malam minggu maka saat itu juga kau sedang

 bermalam minggu dengannya

Sungguh nikmatnya permainan dirimu, aku begitu terbuai dalam permainan itu

Saat ini juga aku undur diri

Mengibarkan bendera putih, tanda kekalahanku

Lihatlah aku sudah kalah dan kau sudah menang

Selamat kuucapkan padamu

Aku kembali pada diriku yang dahulu

Memakai topeng senyum itu

Memendam rasa ini dalam-dalam, menguburnya sedalam mungkin

Bertingkah seolah-olah semua baik-baik saja

Walau nyatanya tak begitu

Menahan bara yang membakar hati, menyiram air demi mencegah kehangusan

Mengutuk diri sendiri atas kesalahan diriku

Aku yang salah akan hal ini, bukan dirimu

Sudahlah lupakan ini

Mulailah hal baru

Berjalan disisi masing-masing

Jika dirimu memang untukku maka sejauh apapun kakimu membawa lari dirimu maka jalan yang

 kau tempuh akan membawa dirimu kembali padaku

Komentar

  1. Patah hati itu emang dibutuhkan buat mengembangkan ide dan dijadikan tulisan wkwkwk buktinya Sulanti berhasil membuat prosa dan puisi yang isinya nyesekk semua wkwkwk jujur yak aku pengin banget Sulanti bikin sesuatu yang bahagia, cinta yang berhasil, u need happiness, siss!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku sukannya yang galau-galau kak, nanti deh aku bikin yang bahagia sesekali nyoba yang berbeda

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)