Cerita Bersambung (The power of ambition #1)

The power of ambition

Sepuluh sosok manusia itu sedang merapati papan pengumuman SMA Anugrah Sakti, mereka mengamati nama-nama siswa terpintar di semester ini. Sebagian dari mereka tersenyum sumrigah, berbahagia sebab masuk dalam sepuluh orang terpintar di kelas sebelas. Beberapa dari mereka juga memasuki posisi siswa terpintar di sekolah ini, sepertinya mereka bahagia sekali.

"Gimana bisa ni orang masuk dalam sepuluh siswa terpintar di SMA," kata Juna sambil menunjukkan satu nama di kertas putih itu.

Seseorang yang tau namanya ditunjuk oleh Juna langsung bersuara dan berkata, "Gue emang dasarnya pintar makanya bisa jadi salah satu siswa terpintar disekolah ini, nggak kayak lo yang bodoh." Arjuna yang mendengar ucapan Fajar pun menjadi emosi, sontak ia ingin memukul Fajar tapi ditahan oleh teman-temannya.

"Udah, Jun," ucap Zora sambil mengelus punggung lelaki itu berharap laki-laki itu sabar menghadapi Fajar.

"Dia duluan yang mulai," ucap Fajar ngegas.

"Tapi Juna ngomongnya santai, nggak kek lo yang langsung ngegas terus ngatain dia bodoh," ujar Alice secara tiba-tiba.

"Ucapan Juna benar kok, gimana bisa lo masuk sepuluh besar siswa terpintar diangkatan kita dan lo jadi salah satu siswa terpintar di sekolah ini. Secara selama ini lo nggak pernah menduduki posisi itu dan kerjaan lo juga cuma bikin onar di sekolah ini," kata Iqbal panjang lebar.

"Kalian ajah yang nggak tau kalau Fajar itu pintar," kata Dinda dengan tidak santai.

"Kita tau dia pintar, tapi sepintar-pintarnya dia tetap ajah dia nggak pernah masuk sepuluh besar besti. Gimana kita nggak curiga coba, ditambah sekarang orang tua Fajar ini sponsor terbesar di sekolah kita," kata Aurel sambil menyungging senyum sinis.

"Bener kata Aurel, setelah orang tua nih bocah songong jadi sponsor terbesar di sekolah ini tiba-tiba nama anaknya masuk sepuluh besar, lagian dia itu kerjaannya bolak balik ruang BK," ujar Imanuel sambil tersenyum sinis seperti Aurel.

"Bacot lo semua, gue tuh pintar lo ajah nggak tau," teriak Fajar.

"Santai dong, nggak harus teriak-teriak," kata Zora sambil menatap binar mata Fajar.

"Lo semua itu nggak ada puas-puasnya apa, posisi Fajar itu dibawah kalian jadi kalian nggak usah ngerasa tersaingi sama Fajar," ucap Indra sambil merangkul pundak Fajar.

"Iya, bener kata Indra. Lagian ini masih nilai bayangan juga," kata Alina.

Juna mengenggam tangan Zora, menarik Zora pergi dari tempat itu dan diikuti oleh teman-temannya di belakang mereka.

"Gue bakal ambil balik milik gue dari lo, Jun," batin Fajar sambil menampilkan senyum smirknya.

Ajuna Jaya Sakti dipanggil Juna, Putra Iqbal dipanggil Iqbal, Imanuel Arbiansyah dipanggil Immanuel, Anastasya Ozora dipanggil Zora, Alice Reygita Putri di panggil Alice dan Kesya Amaurel Syahrir dipanggil Aurel. Mereka berenam anak-anak pintar dan anak-anak ambis di SMA Anugrah Sakti.

Adinda Dhia Nova dipanggil Dinda, Indra Wijaya dipanggil Indra, Fajar Maula Bahkti dipanggil Fajar dan Alina Dwi cantikan dipanggil Alina. Mereka berempat termasuk anak-anak pintar tapi kelas bawah, mereka juga suka membuat onar.

***

Suasana sore hari di SMA Anugrah Sakti cukup sepi, terlihat hanya beberapa siswa saja yang masih berada di SMA. Para siswa ambis baru saja keluar dari perpustakaan, sepertinya mereka baru selesai belajar. Juna, Iqbal, Imanuel, Zora, Alice dan Aurel sedang berjalan menuju lapangan basket. Lapangan basket tersebut berada di dalam ruangan, lapangan yang cukup luas mampu membuat mereka puas karena dapat bergerak dengan leluasa.

Juna, Iqbal dan Imanuel ingin bermain basket sebelum pulang, katanya sih mau cari keringat biar sehat. Mereka bertiga sedang bermain basket ditengah lapangan itu, selain pintar di bidang akademik mereka juga pintar dibidang non akademik. Ketiga sosok laki-laki bermain dengan begitu lincah, para cewek terus saja bersorak memberi semangat sedari tadi.

"Tap tap tap," suara tepuk tangan yang cukup keras saat seseorang berbadan kekar memasuki lapangan itu.

"Boleh juga permainan lo pada, okehlah buat pemula," ucap Fajar meremehkan.

"Bangsat," kata Juna yang terpancing emosi sambil membuang bola basket itu kesembarang arah.

"Wow, santai dong bang, kagak usah marah-marah napa," ucap Fajar dengan santai.

"Apaan sih ribut-ribut," kata Indra memasuki ruangan itu dan mengambil tasnya disalah satu kursi penonton. Semua orang di sana pun terdiam, mereka melihat gerak-gerik Indra.

"Udah pulang sana, nggak usah ribut-ribut udah sore juga," ujar Indra sambil berjalan mendekat Fajar.

"Pulang bareng yuk," ajak Indra pada Fajar.

"Duluan ajah, gue masih ada urusan habis ini," kata Fajar menolak.

"Yaudah gue duluan ya, soalnya mau bimble," kata Indra berjalan meninggalkan lapangan itu.

"Buat lo semua jangan apa-apain Fajar, awas ajah kalau dia kenapa-napa," lanjut Indra tegas sambil menatap semua orang di ruangan itu lalu berjalan keluar ruangan itu.

"Bacot lo," ucap Juna pada Indra tapi tidak didengar Indra karena Indra sudah pergi jauh dari ruangan itu.

"Buat lo, jangan ikut campur urusan kita atau lo bakal habis," kata Juna pada Fajar dengan emosi.

"Gue nggak bakal ikut campur urusan kalian, gue cuma mau ambil milik gue," ucap Fajar santai.

"Maksud lo?" tanya Iqbal heran sambil mengerutkan dahinya.

"Udah nggak usah lo layan orang macam dia, mending kita pulang," kata Juna sambil berjalan menuju tempat Zora dan menarik Zora keluar dari lapangan basket itu.

Fajar melihat genggaman tangan Juna pada Zora menjadi panas, genggaman tangan itu sangat kuat bahkan seperti tidak akan pernah dilepaskan oleh Juna. Matanya terus menatap dua insan itu hingga keluar dari lapangan itu.

"Awas lo, Jun," batin Fajar.

***

"Kalian pulang duluan ya, gue ada urusan bentar," ujar Juna.

"Urusan apa?" tanya Zora.

"Aku mau cari soal olimpiade biologi tahun lalu di perpustakaan," ucap Juna.

"Kalau gitu kita tunggu ajah," kata Alice.

"Nggak usah, lo semua pulang duluan ajah," ucap Juna.

"Beneran?" tanya Zora sambil melihat raut wajah Juna, sepertinya ada yang mencurigakan.

"Iya, udah sana pulang," ucap Juna lembut pada Zora.

"Gue titip Zora ya, awas jangan sampai dia lecet," lanjut Juna sambil meninggalkan teman-temannya itu.

Juna berjalan dengan cepat, cukup tergesa-gesa dengan senyum smirk diwajahnya. Ia memasuki sebuah ruangan yang sepi itu, bibirnya masih tetap menampilkan senyum smirk.

Zora dan ketiga temannya sudah keluar dari pekarangan sekolah, menyusuri jalanan raya di sore hari. Suasana yang semakin redup menyambar kota Bandung.

"Zora, lo punya hubungan ya sama Juna?" tanya Aurel pada Zora.

"Nggak kok," jawab Zora santai.

"Beneran?" tanya Alice tidak percaya.

"Bener," jawab Zora santai.

"Gue kira kira kalian berdua punya hubungan spesial," kata Imanuel.

"Nggak kok, kita cuma teman ajah," ujar Zora.

"Halah palingan bentar lagi kalian punya hubugan spesial," cetus Iqbal tiba-tiba.

"Maksud lo?" tanya Zora.

"Lo itu beneran nggak peka apa betulan nggak peka sih?" tanya Imanuel.

"Hah?" tanya Zora balik.

"Dari kelakuan Juna tuh kelihatan banget kalau dia suka sama lo, ya palingan bentar lagi dia nembak lo," ujar Imanuel.

"Nggak mungkin deh," kata Zora sambil menggelengkan kepalanya.

"Terserah lo deh, Zor," ujar Imanuel.

"Udah deh nggak usah bahas ini, bahas yang lain ajah," kata Zora mulai mengalihkan topik pembicaraan.

Mereka pun membicarakan hal lain, menyusuri jalanan Bandung di sore hari dan disuguhkan pemandangan sunset di tengah kota begitu nikmat rasanya. Beberapa menit berlalu, mereka pun sampai di rumah masing-masing.

Ketika para siswa-siswi yang lain telah sampai di rumah sebelum hari gelap tapi tidak dengan Juna, ia baru saja sampai rumah disaat hari sudah gelap. Juna terluka, baju putih abu-abunya penuh dengan warna merah. Juna berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamarnya, membersihkan dan mengobati luka-luka ditubuhnya.

"Untung udah gue beresin tuh orang," ujar Juna sambil mengobati luka dipipinya.

Merasa cukup lelah, Juna pun segera membaringkan tubuhnya dikasur king size itu. Juna segera menutup matanya, memasuki dunia mimpi dan segera terlelap diatas kasurnya itu.


***

Pagi hari ini suasana SMA Jaya Sakti sedikit riuh, penemuan seorang mayat di lapangan basket outdoor menghebohkan sekolah. Zora dan teman-temannya yang baru saja memasuki perkarangan sekolah pun bingung, mereka tidak tau apa-apa tapi mereka mendengar obrolan orang-orang yang membahas mengenai penemuan mayat di lapangan basket.

"Eh itu beneran mayat?" tanya Alice tak percaya.

"Palingan mayat tikus," ucap Iqbal asal.

"Nggak mungkinlah mayat tikus, kalau mayat tikus nggak mungkin seheboh ini," ujar Aurel sambil menampol Iqbal.

"Semalam yang terakhir di lapangan basket itu Fajar," batin Zora.

"Nggak, nggak mungkin itu Fajar," lanjut batin Zora.

"Gilak sih, sekolah kita udah nggak aman ni," ucap Alice bergidik ngeri.

"Iya, gue ajah takut nih," sambung Imanuel.

"Cowok kok takut," ucap Iqbal.

"Emang lo nggak takut?"' tanya Imanuel ngegas.

"Jelas nggak dong," ucap Iqbal bangga.

"Sok kali lo, baru juga dikasih rambutan udah lari keliling lapangan," kata Aurel.

"Itu lain, gue phobia sama tuh buah," ucap Iqbal.

"Juna, Zora kalian kok diam aja?" tanya Alice.

"Kalian sakit?" tanya Aurel.

"Nggak," jawab keduanya serentak.

"Cie kompak bener," ucap Imanuel.

"Ehem ehem, buruan tembak kali bang," ucap Iqbal keras memberi kode pada Juna.

Mereka pun berpisah, masuk kelas masing-masing. Mereka berenam berbeda kelas, mereka menjadi dekat hanya karena sering bertemu setiap kali mengikuti lomba. Iqbal dan Alice satu kelas di IPA 3, Aurel dan Zora satu kelas IPA 1, Juna dan Imanuel satu kelas di IPA 2. Jika ditanya mengapa mereka tidak akrab dengan anak IPA lainnya, bukan tidak akrab tapi IPA lainnya juga punya circle sendiri.

Jam pelajaran telah tiba, semua siswa telah berada di kelas masing tapi sepertinya hari ini jam kosong karena guru-guru sedang sibuk dengan penemuan mayat di lapangan basket tadi pagi.

"Rel, kira-kira siapa ya mayat yang ditemui di lapangan basket itu? tanya Zora.

"Gue nggak tau sih tapi gue mikir itu sih Fajar sih," ucap Aurel.

"Gue juga mikir itu Fajar sih," kata Zora dengan perlahan-lahan karena ragu.

"Semoga itu buka lo, Jar," batin Zora.

"Tes-tes," suara dari pengeras suara sekolah.

Semua siswa di SMA Jaya Sakti tiba-tiba terdiam mendengar suara itu, sepertinya akan ada pengumuman penting. Mungkin mengenai penemuan mayat yang menghebohkan sekolah pagi ini, apalagi coba yang penting saat ini selain itu.

"Kepada ananda yang dipanggil diharapkan segera keruang BK sekarang juga, Ajuna Jaya Sakti, Putra Iqbal, Imanuel Arbiansyah, Anastasya Ozora, Alice Reygita Putri, dan Kesya Amaurel Syahrir," ucap suara tersebut secara tegas.

"Dalam lima menit siswa-siswi yang dipanggil harus sudah berada di ruang BK, jika tidak ruang BK yang akan mendatangi kalian," lanjut pengumuman itu dengan tetap tegas.

"Apaan sih, gimana cerita ruang BK datengin kita," ucap Alice sambil keluar kelas.

Keenam orang-orang itu sudah berjalan menuju ruang BK, di dalam kepala mereka penuh dengan banyak pertanyaan. Selama mereka bersekolah di SMA Jaya Sakti, ini pertama kalinya mereka dipanggil ke ruang BK.

"Kita kenapa dipanggil ke ruang BK ya?" tanya Aurel.

"Nggak tau," jawab Zora santai.

Mereka berteman memasuki ruang BK, terlihat para guru sedang menunggu mereka. Sepertinya ada yang tidak beres, terlihat dari raut wajah para guru yang sedang pusing.

"Kalian semua duduk," ucap Bu Ambar selaku guru BK.

Mereka berenam segera duduk di kursi yang telah disediakan, mereka menatap satu sama lain. Mereka sangat penasaran mengapa mereka dipanggil, mereka merasa kalau mereka tidak buat kesalahan sama sekali.

"Kalian lihat ini," ucap Bu Ambar sambil memperlihatkan video dilaptop berlogo apel itu.

Mereka berenam melihat video itu, Iqbal pun bertanya, "Kenapa Bu?". Bu Ambar pun hanya terdiam saat mendengar pertanyaan Iqbal, sepertinya ada sesuatu yang sangkut ditenggorokannya karena terlihat sekali Bu Ambar susah mengeluarkan sesuatu yang ingin ia ucapkan.

"Apa yang kalian lakukan di lapangan basket?" tanya Pak Bagas sambil mendekat ke arah enam siswa-siswi kebanggaan sekolah itu.

"Main basket," jawab Imanuel.

"Itu saja yang kalian lakukan?" tanya Bu Ambar.

"Iya, itu ajah," jawab Alice.

"Kalian tidak tau soal mayat di lapangan basket itu?" tanya Pak Bagas.

"Tidak pak, kita baru tau tadi pagi," jawab Juna datar.

"Benar?" tanya Bu Ambar.

"Iya," jawab keenam siswa-siswi itu secara serentak.

"Hmm, sebelumnya maaf. Sebenarnya ada apa ya?" tanya Zora.

"Jadi begini, rekaman CCTV menunjukan kalau kalianlah orang terakhir yang keluar dari lapangan basket itu," jelas Bu Ambar.

"Kemungkinan kalian yang akan menjadi tersangka pembunuhnya," lanjut Pak Bagas.

"Hah? Pembunuh?"' tanya Aurel seakan-akan tidak percaya.

"Iya, maafkan kami tapi semua bukti mengarah ke kalian berenam," ucap Pak Bagas.

Keenam siswa-siswi itu kaget, bagaimana mungkin mereka jadi pembunuh. Ini sangat tidak mungkin sekali.

"Rekaman CCTV itu salah pak," ujar Imanuel dan semua orang melihat kearahnya.

"Maksudnya?" tanya Pak Bagas.

"Semalam masih ada Fajar disana, seharusnya Fajar yang menjadi tersangkanya pak bukan kami," jelas Imanuel.

"Nah iya, bener tuh pak," ucap Iqbal.

"Tapi mayat itu Fajar," ucap Bu Ambar dengan tegas.

"Nggak mungkin itu Fajar," batin Zora dengan mata berkaca-kaca.

"Mana mungkin, semalam kita tinggalin dia masih dalam kondisi hidup," ucap Alice kaget.

"Bener tuh kata Alice," ujar Aurel.

"Iya, semalam saat kami keluar dari sana Fajar masih hidup," ucap Juna tegas.

"Tapi CCTV ini menunjukkan kalian orang terakhir yang keluar dari lapangan basket dan tadi pagi Fajar ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa," jelas Bu Ambar.

"Rekaman di dalam lapangan basket," kata Imanuel.

"Iya rekaman CCTV dalam lapangan basket," ujar Juna.

"Maaf CCTV di dalam lapangan basket itu sudah lama rusak dan belum diperbaiki," ucap Pak Bagas.

Keenam siswa-siswi itu langsung terdiam, mereka pun diperintahkan keluar dari ruang BK. Suasana sekolah tampak mulai sepi, hari ini sekolah bubar lebih cepat ya sudah pasti karena penemuan mayat tersebut. Keenam orang itu segera menuju kelas masing-masing untuk mengambil barang-barang mereka dan bergegas meninggalkan perkarangan SMA Jaya Sakti.

 Bersambung...

Komentar

  1. Nama-nama tokohnya unik dan bagus kak Sulan, terinspirasi dari mana,Kak?

    BalasHapus
  2. Ini menarik nih, teenlit dengan konflik antarkelas juga ada kisah romantis yang cukup pelik. Ini lumayan relate aama sekolah pada ununyaa.

    BalasHapus
  3. Fajar oh Fajar, baru juga masuk top 10. Sedih benerr kamu Jar :(

    BalasHapus
  4. Menarik ceritanya, flashback jaman remaja dengan seragam sekolah, dan emosi jadi pemicu akan ketenaran seseorang.

    BalasHapus
  5. Wahh menarik ceritanya. Memang masa remaja tuh masa masa yang ekhem2 serba serba. Apalagi ini topiknya pembunuhan, udah bawa vibe misterius yang bikin penasaran. Good job kak 😍

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)