Cerita Bersambung (The Power of Ambition #5)

 The Power Of Ambition 

Samar-samar cahaya memasuki mata yang tertutup itu, kelopak mata itu mulai terbuka secara perlahan-lahan. Satu persatu dari mereka terbangun dari pingsannya, entah sudah berapa lama mereka menutup mata, tak ada yang tau. 

Terbangun di sebuah ruangan yang baru, asing yang mereka rasakan saat itu. Sebuah ruangan berbentuk kubur dengan ukuran 4×4 meter, ruangan ini dominan dengan warna putih dan terdapat barang-barang bekas, sepertinya ini gudang. 

"Kita di mana nih?" tanya Imanuel. 

"Dihati ku," jawab Alice ngasal. 

"Idih, jijik gue dengernya," kata Imanuel. 

"Udah-udah, lagi disituasi kek gini masih sempat-sempatnya kalian bercanda," kata Aurel. 

Menyadari kondisi mereka dalam keadaan diikat, mereka berusaha lepas dari ikatan tali itu tapi selalu gagal, ikatan itu sungguh kuat. 

"Brakkk," suara gebrakan pintu terbuka. 

Seorang sosok laki-laki berbaju hitam memasuki ruangan itu, diikuti oleh para anak buah yang berada di belakangnya. 

"Bang Alex," gumam Zora. 

Laki-laki itu tersenyum sinis lalu ia menyamperi Zora, menatap wajah gadis itu dengan mata elangnya. Alex berkata, "Halo Zora sayang, lama nggak ketemu lo tambah cantik." Alex mengusap pipi Zora dengan tangan kekarnya tapi Zora langsung menghindari elusan dari tangan Alex itu. 

"Dimana Fajar?" tanya Zora langsung. 

"Fajar? Dia sudah bersama yang maha kuasa di atas sana," kata Alex sambil menunjuk ke atas dan tersenyum sinis. 

"Nggak mungkin, Fajar masih hidup dan lo sekap dia di sini," kata Zora ketus. 

"Fajar? Maksud kamu Fajar yang satunya lagi?" tanya Alex, Zora kaget membulatkan matanya. 

"Fajar itu udah meninggal," kata Zora dengan bibir bergetar. 

"Dia belum meninggal, dia masih hidup," kata Alex sambil mencengkram dagu Zora. 

"Nggak, nggak mungkin," kata Zora. 

"Tidak ada yang tidak mungkin bagi Alex," ucap Alex. 

Alex keluar dari ruangan itu, meninggalkan Zora dengan ketidakpercayaannya dan teman-teman Zora yang kebingungan. 

"Fajar ada dua?" tanya Iqbal pada Zora, Zora hanya terdiam sambil sibuk bergulat dengan pikirannya. 

"Fajar yang mana yang orang itu maksud?" tanya Imanuel pada Zora, Zora masih terdiam. 

"Fajar itu kembar ya?" tanya Indra pada Zora, lagi-lagi Zora masih terdiam. 

"Nggak, nggak mungkin Fajar itu masih hidup," batin Zora. 

"Gue sendiri yang lihat dia ditembak mati," lanjut batin Zora. 

Zora mengambil pisau kecil yang berada disaku belakang celananya, ia memotong tali yang mengikat tangannya. 

"Akkhh, sakit," kata Zora saat pisau itu mengenai tangannya tapi Zora tetap lanjut memotong tali itu. 

Tangan Zora berhasil lepas dari ikatan tali itu tapi tangannya berlumuran darah, ia langsung membuka setiap ikatan tali pada temannya tanpa memperdulikan rasa sakit di tangannya. 

"Zora tangan lo berdarah," kata Aurel. 

"Zora darahnya banyak banget," ucap Alice. 

"Krakk," suara sobekan kemeja Zora, ternyata ada untungnya Zora memakai baju dua lapis, ia bisa merobek bajunya lapisan terluarnya tanpa takut bagian tubuhnya terlihat.

Zora berjalan kearah pintu, berusaha membuka pintu itu tapi gagal. Alex brengsek, pikir Zora. Tak berputus asa, Zora memecahkan kaca jendela di ruangan itu dan ia keluar dari ruangan itu. 

Para anak buah Alex menghampiri mereka, tak punya pilihan lain selain melawan, itulah yang mereka lakukan. Anak buah Alex yang menghampiri mereka itu jumlahnya lebih sedikit dari mereka jadi mereka bisa menang, Zora langsung berjalan untuk mencari pintu utama rumah ini.

"Zora," teriak Juna tapi diabaikan oleh Zora, Juna pun mengejar Zora. 

"Brakk," suara tendangan pintu, Zora yang menendang pintu itu. 

Alex sudah ada di balik pintu itu dengan Dinda disampingnya, Zora berjalan menghampiri dua orang itu. Dua orang itu terlihat begitu santai, terlihat tidak takut sama sekali. 

"Kasih tau gue kebenarannya," bentak Zora pada Alex. 

"Santai sayang," kata Alex lembut. 

"Gue nggak bisa santai bangsat," bentak Zora untuk kedua kalinya pada Alex. 

"Sabar dong cantik," kata Alex masih dengan nada lembut. 

"Kasih tau gue kebenarannya atau gue cari tau kebenarannya dengan cara gue sendiri," teriak Zora sambil melemparkan pisau ke sebelah Alex, nyaris pisau itu mengenai Alex.

Teman-teman Zora kaget melihat kelakuan Zora seperti itu, mereka bergidik ngeri. Bagaimana tidak ngeri, selama ini mereka tau jika Zora tidak pernah bermain dengan benda tajam, semarah apapun Zora. 

"Gilak si Zora, keren cuy," kata Imanuel pwlan. 

"Plakk," suara tamparan dipipi Imanuel dari Alice. 

"Keren pala lu, itu bahaya cok," kata Alice. 

"Kenapa Zora semarah itu?" tanya Alex dengan nada pelan, mereka semua mengelengkan kepalanya, menandakan tidak tau. 

Zora berjalan mendekati Alex, mengambil pisau yang tertancap di sofa tempat Alex duduk. Zora tersenyum sinis pada Alex. 

"Gue kasih lo kesempatan sekali lagi, kasih tau gue kebenarannya atau gue sendiri yang cari tau," gumam Zora pelan pada Alex tapi terdengar begitu mengerikan. 

Alex tidak merasa takut sama sekali, ia merasa tertantang oleh gadis cantik dihadapannya. Ia tersenyum sini dan bergumam, "Silakan cari tau sendiri cantik." Zora merasa jijik dengan ucapan cantik yang keluar dari mulut Alex, ia pun memukul mulut itu. 

"Okeh, gue cari tau sendiri," kata Zora. 

"Lo pikir gue nggak tau kalau lo sembunyikan kebenaran itu di rumah ini," lanjut Zora. 

Zora tau dimana ia akan temukan hal yang ia cari, Zora berjalan menuju kamar terbesar di rumah itu. Ia memasuki kamar itu, menyingkirkan lukisan terbesar di kamar itu dan memencet tombol dibalik lukisan itu. Terbukalah sebuah ruang rahasia, menampilkan sosok laki-laki muda yang tertarik lemah di sana. Zora menghampiri sosok laki-laki itu, air matanya menetas kala itu juga. 

"Fajar," kata Zora sambil memeluk sosok pria itu. 

"Fajar?" tanya Imanuel. 

"Dia mirip Fajar tapi kek bukan Fajar, Fajar nggak punya tompel dipipi tapi dia punya," kata Alina. 

"Iya," ujar Aurel. 

"Dia kembaran Fajar," kata Juna. 

"Kembaran?" tanya Iqbal, Indra, Imanuel, Aurel, Alina dan Alice serentak. 

"Lo semua banyak bacot banget, mending bantu gue bawa keluar Fajar," kata Zora sedikit berteriak. 

Juna mengangkat Fajar menduduki kursi roda yang ada di sana, mereka akan pergi dari ruangan itu tapi tiba-tiba Alex muncul. 

"Waw, lo hebat banget," ucap Alex pada Zora. 

"Jun, hubungin polisi sekarang juga," gumam Zora pada Juna pelan, sangat pelan hingga hanya mereka berdua yang bisa dengar. 

"Lo jahat," satu kata yang keluar dari mulut Zora, terdengar begitu menyakitkan bagi Alex. 

"Gue jahat? Lo yang jahat," bentak Alex pada Zora. 

"Lo tau gue cinta sama lo tapi lo malah milih Fajar Mulana yang lumpuh ini dan ketika gue berhasil  nyingkirin orang nggak guna ini lo malah suka sama sih kembarannya si Fajar Maulana, waktu lo putus sama dia tiba-tiba lo dekat sama teman kecil lo si Juna nggak bajingan itu," teriak Alex pada Zora. 

"Lo nggak pantes dapat cinta gue," kata Zora. 

"Gue nggak pantes?" tanya Alex dengan nada tinggi. 

"Mereka yang nggak pantes, perjuangan mereka itu terlalu kecil tapi mereka bisa dapetin lo," teriak Alex. 

"Kenapa gue nggak bisa dapetin perasaan lo, Zar," tanya Alex. 

"Jawab Zora," kata Alex sambil memegang pundak Zora. 

"Lo udah dapetin perasaan gue tapi perasaan gue ke lo cuma sebatas adek ke abang ajah," kata Zora sambil menangis. 

"Halah, basi. Bilang ajah lo nggak punya perasaan sama gue sedikit pun," teriak Fajar. 

Emosi Alex memuncak, ia begitu marah. Alex menarik Zora lalu menyodorkan sebuah pistol dikepala Zora, satu kali saja peluru pistol itu keluar maka langsung dijamin nyawa Zora langsung melayang. 

"Woi bangsat," teriak Juna. 

"Diam lo," teriak Alex. 

"Kalau gue nggak bisa milikin lo maka orang lain juga nggak bisa milikin lo," teriak Alex. 

"Bukk," sebuah pukulan dari Imanuel melayang kekepala Alex. 

Zora segera menjauh dari Alex, semua teman Zora pun sontak segera menjauh dari Alex. 

"Lo buka  manusia tapi monster," kata Zora. 

"Gue jadi monster karena lo, Zor," teriak Alex. 

"Gue rela ngelakuin apa ajah demi dapetin lo termasuk nyingkirin orang-orang yang berusaha deketin lo," ucap Alex masih dengan berteriak. 

"Gue yang dorong Fajar Mulana yang lumpuh ini dari jurang tapi dia masih hidup dan gue pengen bunuh dia tapi terpaksa gue rawat dia karena gue kasihan sama dia terus gue yang bunuh Fajar Maulana di lapangan basket itu dan gue juga yang rentas CCTV sekolah lo. Itu semua gue lakuin supaya lo dipenjara terus gue datang buat nyelamatin lo sama teman-teman lo yang nggak berguna ini tapi semua itu gagal gara-gara dua orang sialan itu si Indra dan Alina," teriak Alex sambil menunjuk ke arah Indra dan Alina. 

"Dan asal lo tau gue juga berusaha nyingkirin teman masa kecil lo ini, si Juna yang lembek itu. Gue pengen bunuh dia di hari yang sama waktu gue bunuh Fajar tapi dia bisa selamat," kata Alex masih berteriak dan emosi yang menggebu-gebu. 

Zora mengelengkan kepalanya tak percaya dengan yang ia dengar, orang yang dahulunya ia anggap sebagai abang dan sangat ia sayangi tapi sekarang orang itu telah menjadi monster. 

"Akhh," teriak Zora saat sebuah melayak dan tertancap dikakinya, pelakunya orang di belakang Alex yaitu Juna. 

"Plakk," suara tamparan dipipi Zora, tamparan itu dari Alex. 

"Kurang ajar," bentak Alex pada Dinda. 

"Berani-beraninya lo lukain Zora," kata Alex dengan emosi. 

"Tadi lo mau bunuh diakan jadi gue bantu," kata Dinda sambil tersenyum sinis. 

"Plakk," suara tamparan dipipi Dinda, sebuah tamparan kembali dilayangkan Alex pada Dinda. 

"Bohong, gue tau lo pengen bunuh Zora karena lo sakit hati sama Fajar Maulana itu," kata Fajar pada Dinda, Dinda kaget entah darimana laki-laki mengetahui niat buruknya. 

"Lo sakit hati karena selalu ditolak sama Fajar Maulana itu, makanya lo mau bantu gue bunuh dia dan setelah itu lo mau bunuh Zora juga," ucap Fajar sambil tersenyum sinis, Dinda hanya terplongo karena kaget. 

Semua orang yang ada di sana kaget, shock dengan apa yang mereka dengar. Alex mengambil sebuah pisau yang tersimpan di kakinya, ia berniat ingin menusuk pisau itu ke kaki Dinda, membalaskan rasa sakit yang dirasakan oleh Zora. 

"Berhenti," teriak seorang polisi yang baru saja memasuki ruangan itu, diikuti oleh polisi lainnya. 

Alex berhenti dengan kegiatannya, ia melihat ke arah Zora dan teman-temannya. Mata elangnya menatap sinis ke arah mereka, sungguh mata itu begitu tajam seakan-akan ingin menusuk mereka semua. 

"Tangkap mereka pak, mereka orang jahat," kata Aurel. 

Polisi itu pun menangkap Alex dan Dinda, untung saja polisi itu cepat datang. Zora dan teman-temannya keluar dari rumah itu, Zora di bawah ke rumah sakit. Luka di kaki Zora tidak begitu parah, Zora pun bisa segera pulang. 

***

Hari berganti hari, mereka kembali menjalani hari, dengan harapan bisa melupakan kejadian kemarin. Zora dan teman-temannya kembali ke Bandung, membawa seorang anggota baru yaitu Fajar Mulana. 

"Gue nggak tau haru sedih atau senang," batin Zora. 

"Gue memang temuin Fajar tapi Fajar ini beda," lanjut batin Zora. 

"Jar, berarti bener lo udah nggak ada di dunia ini. Semoga lo tenang di sana ya dan gue bakal berusaha ikhlaskn lo," gumam Zora pelan. 

Dua hari perjalanan mereka tempuh, mereka sampai di Bandung, mereka tidak langsung pulang ke rumah tapi mereka ke makam Fajar Maulana dahulu. 

Menaburkan bunga diatas makam itu, melantunkan doa di sana. Tanah makam itu belumlah kering, sedih akibat kehilangan pun masih di rasakan. 

"Gue mau nanya," kata Imanuel. 

"Jadi Fajar itu aslinya punya kembaran?" tanya Imanuel. 

"Iya Fajar itu punya kembaran tapi waktu SMP kembarannya dikabarkan hilang dan meninggal tapi ternyata nggak, ya seperti yang kalian ketahui kemarin," kata Zora, mereka semua mengangguk. 

Mereka berjalan meninggalkan makam itu, beriringan. Terlihat Zora dan Juna berada paling belakang, Zora sengaja meminta Juna memperlambat jalannya karena dia ingin menanyakan sesuatu. 

"Jun, gue mau nanya sesuatu," kata Zora. 

"Apa?" tanya Juna. 

"Kenapa baju sekolah lo bisa berlumuran darah gitu?" tanya Zora. 

"Lo ingatkan waktu itu gue nggak pulang sama lo dan yang lain karena gue ada urusan di sekolah, waktu gue pulang sekolah itu situasinya udah mulai malam dan pas gue di jalan gue di hadang sama preman jadi terpaksa gue lawan mereka dan ya gitu deh," jelas Juna yang diangguki oleh Zora. 

Hari demi hari berlalu, kasus yang menjerat Zora dan teman-teman Zora pun telah hilang. Mereka kembali menjalankan aktivitas seperti semula, sebagai anak-anak berprestasi di SMA Jaya Sakti. Tidak lupa dengan persaingan merebut posisi siswa terpintar di sekolah, semuanya berakhir dengan baik walaupun tidak begitu baik, setidaknya ini lebih baik dari sebelumnya. 

-TAMAT-



Komentar

  1. Endingnya masih dengan perdebatan ya mba.. Masih penasaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh maaf nih kak, itu masih ngedit tadi kak dan nggak sengaja aku tekan tombol publish tadi. Ceritanya udah tamat kok kak, mungkin bisa baca ulang lagi

      Hapus
  2. semakin ke bawah konfliknya bikin tegang yang mbak, akankah ada lanjutannya ini meski di part yg seharusnya terakhir

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak kak, ini udah tamat. Tadi itu lagi edit kak

      Hapus
  3. Hmmm ternyata Alexxx, ga ketebak sih, kukira malah si Juna pelakunya kan wkwkw tapi kupikir baju Juna yang ada darah itu ada kaitannya sama Fajar, wkwk, kalau ada kaitannya mungkin bisa lebih wow lagi

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)