Cerita Bersambung (The Power Of Ambition #4)
The Power Of Ambition
Zora, Juna, Alice, Aurel, Iqbal, Imanuel, Indra dan Alina sedang berada di apartemen Juna. Terlihat mereka semua mengenakan pakaian bagus dan ada tas ransel dipunggung mereka, sepertinya mereka akan segera pergi.
"Kalian yakin mau ikut?" tanya Imanuel pada Indra dan Alina.
"Iya," jawab keduanya serentak.
"Kalian tinggal ajah deh, kalian masih sakit," ucap Aurel.
"Iya mending kalian tinggal ajah," kata Alice.
"Nggak, kita mau ikut," ujar Alina.
"Iya, kita pengen ikut," ucap Indra.
"Terserah kalian deh," kata Zora.
Mereka memasukkan barang-barang yang akan mereka bawa ke dalam bagasi mobil. Mereka semua pun pergi ketempat yang mereka yakini ada Fajar di sana, mereka menggunakan dua buah mobil lamborghini.
Juna, Zora, Iqbal dan Alice satu mobil. Indra, Alina, Aurel dan Imanuel satu mobil. Mobil-mobil itu berjalan meninggalkan perkarangan kota Bandung, cukup beresiko bagi mereka untuk keluar daerah karena status mereka sebagai tersangka tapi tidak ada cara lain untuk membuktikan kalau mereka tidak bersalah kecuali mereka harus keluar kota dan menemukan Fajar.
Berjalan menyusuri jalanan kota, menuju ketempat yang begitu jauh. Mereka tak tau apa yang akan mereka hadapi, intinya mereka ingin ke sana dan mereka yakin ada Fajar di sana, sebenarnya bukan mereka tapi hanya Zora yang sangat yakin ada Fajar di sana.
"Gue lapar," kata Imanuel.
"Iya gue juga lapar ni," ucap Aurel.
"Gimana kalau kita makan dulu," kata Indra.
"Boleh juga tuh, lagian udah jam makan siang," ucap Alina.
"Kalau gitu gue telpon Juna deh, biar makan siang bareng," kata Imanuel.
Mereka pun makan siang bersama, disebuah rumah makan yang mereka temui waktu di perjalanan. Mereka semua makan dengan sangat lahap, sepertinya mereka sangat lapar sekali.
"Kalian jangan lupa minum obat," ucap Iqbal pada Indra dan Alina.
"Iya, makasih udah ingetin," kata Alina.
"Zora, lo yakin Fajar ada di sana?" tanya Imanuel pada Zora.
"Gue yakin banget," jawab Zora.
"Kenapa lo seyakin itu?" tanya Alice.
Zora menghela napas panjang, ia pun berkata, "Dulu waktu gue sama Fajar masih pacaran kita tuh sering banget ke sana sama bang Alex, itu tempat paling sering kita kunjungi waktu liburan dan tempat itu tempat persembunyian kita bertiga. Jadi nggak ada yang tau tempat itu selain kita bertiga, makanya gue yakin banget bang Alex sembunyiin Fajar di sana." Usai Zora mengucapkan hal yang panjang lebar itu, mereka semua pun menganggukkan kepala.
Kedua mobil mewah itu melanjutkan perjalanan, menyusuri setiap jalanan dengan kecepatan yang cukup lagi, berharap segera tiba di tempat itu.
Berjam-jam berlalu, mereka belum juga sampai. Terlihat wajah-wajah merek sangat lesu, terpampang kelelahan disetiap wajah mereka.
Mobil yang dikendarai Juna berada di depan dan mobil yang dikendarai Imanuel berada di belakang, mengekori mobil Juna. Mobil yang dikendarai Juna tiba-tiba berhenti di sebuah penginapan sederhana, diikuti dengan mobil yang ada dibelakangnya juga ikut berhenti.
"Kenapa berhenti?" tanya Zora pada Juna.
"Ini udah malam, kita nginap di sini ajah malam ini," kata Juna.
Melihat Zora terdiam, Juna pun menghela napasnya lalu berkata, "Kita istirahat dulu ya, mungkin lo nggak rasain capek karena terlalu semangat buat temui si Fajar tapi yang lain capek. Jangan egois, pikiran orang lain juga." Zora menganggukkan kepalanya, ia setuju untuk istirahat dahulu.
"Tok-tok," suara ketokkan jendela kaca
mobil milik Juna.
"Gue bakal jemput lo, Jar," lanjut gumam Zora.
***
Kicauan burung terdengar di pagi hari ini, cahaya matahari memasuki jendela kamar-kamar yang ada di penginapan itu. Zora dan teman-temannya telah bangun dari tidurnya, mereka sedang sarapan saat ini.
Selesai sarapan mereka pun melanjutkan perjalanan, berjalan menyusuri perjalanan itu. Mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata-rata, mengancam nyawa tapi itu harus dilakukan demi sampai ditempat itu dengan cepat. Gue harus sampai kesana hari ini juga, pikir Zora.
Berjam-jam berlalu, akhirnya mereka telah memasuki kota Bogor. Kota Bogor, diyakini oleh Zora bahwa di kota itulah Fajar berada.
Begitu banyak drama yang terjadi selama di perjalanan menuju kota ini, mulai dari drama ban bocor hingga hampir saja menabrak pejalan kaki.
"Jun, kita langsung ke sana ajah," ujar Zora pada Juna.
"Iya," jawab Juna pelan.
Dua mobil itu menelusup di jalanan Bogor itu, memasuki sebuah perkampungan yang cukup indah di sana. Menuju sebuah rumah besar yang ada di sana, tepatnya berada di ujung kampung itu.
Mereka sampai di sana saat suasana mulai gelap, redupnya cahaya di sore hari menghiasi perjalanan mereka. Zora menepuk pundak Juna dan berkata, "Berhenti disini ajah, jangan langsung ke rumah itu nanti mereka tau kalau kita datang dan mereka kabur." Juna memberhentikan mobilnya di lapangan hijau itu, lapangan itu berada tak jauh dari rumah yang mereka tuju, sekitar lima puluh langkah.
"Kenapa berhenti?" tanya Imanuel.
"Nggak usah banyak nanya, mending lo ikut kita ajah," kata Iqbal.
Mereka berjalan menuju rumah itu, sunset menghiasi langkah kaki mereka. Sebuah rumah besar dengan pagar besi dan Padang rumput hijau di sana, terlihat sangat indah sekali. Mata Zora berkaca, mengingat kenangan di masalalu. Entah udah berapa lama gue nggak ke sini, pikir Zora.
"Ada mobil di rumah itu," kata Alina.
"Iya ada mobil hitam tuh," ucap Imanuel.
"Kita juga nampak itu mobil hitam bukan hijau," kata Iqbal.
"Berarti ada orang di rumah itu," ucap Juna.
"Iya," kata Zora.
Mereka semua memasuki rumah itu, gerbang rumah itu di kunci mereka pun memanjat gerbang rumah itu. Mereka berpencar, berniat mengintip rumah itu dari segala sisi sebelum masuk ke dalam rumah itu.
"Kalian terlalu bodoh," ucap seseorang yang berada di dalam rumah itu, melihat gerak-gerik mereka melalui sebuah monitor yang ada dihadapannya.
"Kalian semua," panggil orang itu kepada semua anak buahnya yang ada di ruangan itu.
"Lumpuhkan mereka semua," perintah orang itu, para anak buahnya pun langsung melaksanakan perintah orang itu.
"Kamu memang pintar sayang tapi tidak sepintar diriku," gumam orang itu sambil tersenyum sinis.
Di luar rumah itu terlihat mereka mulai berpencar,
berpergian ke mana saja menuju setiap sisi dari rumah itu. Beberapa menit
kemudian semua pandangan mereka gelap gulita, hanya satu warna yang mereka
lihat yaitu hitam.
Bersambung...
Ini beneran Juna ga si pelakunya? Kalau memang Fajar masih hidup, terus yang kemarin mayat siapa, ya?
BalasHapus