Cerita Bersambung (The Power Of Ambition #3)

 

 The Power Of Ambition

Matahari belum menampakkan diri tapi diluar apartemen mereka sepertinya sudah ada keributan, sedari tadi pintu itu terus digedor. Semua insan di dalam sana merasa terusik dari tidurnya, mereka semua pun terbangun.
 
"Jam berapa sekarang?" tanya Aurel dengan suara khas bangun tidur.
 
"Jam empat subuh," jawab Alice.
 
"Jam segini siapa sih yang gedor-gedor pintu," kata Imanuel.
 
"Udah ayok kita buka," kata Zora berjalan menuju pintu tapi tangannya ditahan oleh seseorang.
 
"Jangan, gue ajah," kata Juna.
 
Juna membuka pintu apartemen itu, terlihat sosok pria dan wanita di depan pintu itu. Badan mereka penuh dengan darah, luka disekujur tubuh mereka. Keenam orang itu kaget dengan yang mereka lihat, apa itu manusia?.
 
"Hantu," teriak Iqbal.
 
"Plakk," suara tamparan dipipi Iqbal dari Alice.
 
"Hantu palamu peang," kata Alice.
 
"Itu hantu cok," teriak Iqbal.
 
"Woi bangun, itu bukan hantu tapi setan," ucap Imanuel.
 
"Plakk," suara tamparan dipipi Imanuel.
 
"Lo nggak usah ikut-ikutan sih Iqbal deh," kata Aurel.
 
"Mereka siapa?" tanya Zora, mereka seperti tidak asing bagi Zora tapi Zora tidak bisa mengenali mereka.
 
"Indra dan Alina," jawab Juna.
 
"To-tolong ki-kita," kata Indra dengan terbata-bata.
 
Zora dan Juna membawa kedua orang itu masuk ke dalam apartemen, mendudukkan mereka di sofa yang berada di tengah ruangan itu.
 
"Aurel tolong ambilin kotak P3K," perintah Zora pada Aurel, Aurel pun langsung pergi buat mengambil kotak P3K itu.  
 
"To-tolong Fajar," kata Indra, suaranya terputus-putus.
 
"Fajar, Fajar kenapa?" tanya Zora.
 
"Di-dia," ucapan Indra terputus karena Indra tak sadarkan diri kala itu.
 
"To-tolong di-dia," kata Alina yang juga terputus-putus.
 
"Alina, Fajar kenapa?" tanya Zora sedikit berteriak.
 
"Di-dia be-be...," ucapan Alina terhenti ia juga tidak sadarkan diri.
 
"Alina, Indra bangun, kasih tau gue Fajar kenapa," teriak Zora sambil menggoyangkan kedua tubuh orang itu.
 
"Alina, Indra," teriak Zora dalam tangisnya.
 
Juna mengusap pundak Zora, mendekap cewek itu dalam dekapannya, berharap ia bisa mentransferkan semua kuatnya pada gadis itu. Juna tau Zora saat ini sangat lemah sekali, kematian Fajar benar-benar membuat Zora kaget, hal itu sungguh menguras semua tenaganya.
 
"Kalian berdua, bawa dua orang ini ke rumah sakit sekarang juga," perintah Juna pad Iqbal dan Imanuel.
 
Iqbal dan Imanuel langsung mengikuti perintah dari Juna, mereka berdua membopong badan Indra dan Alina. Dua orang itu sudah keluar dari ruangan itu, mereka segera menuju rumah sakit.
 
Juna masih terus mendekap Zora dalam pelukannya, berharap gadis itu segera kuat kembali, ingin sekali rasanya Juna mentransfer semua kekuatannya pada Zora tapi tidak bisa.
 
”Ini kotak P…,” ucapan Aurel terhentikan saat melhat Zora dalam kondisi yang cukup miris.
 
“Lo ambil kota P3K apa buat kotak P3K lama banget,” kata Alice.

“Ya maaf,” ujar Aurel.

***

Hari sudah terang benderang, Iqbal dan Imanuel sudah pulang dari rumah sakit. Saat ini mereka semua berada di ruang tengah apartemen, Zora terlelap dalam tidurnya karena kecapean menangis tadi subuh.
 
"Zora kenapa begitu ya?" tanya Aurel.
 
"Iya kenapa Zora bisa begitu coba," ucap Alice.
 
"Jun, lo pasti tau kenapa Zora begitu. Coba lo cerita ke kita," kata Imanuel.
 
"Iya cerita dong ke kita," ujar Iqbal.
 
"Nggak ada yang bisa diceritain, nggak ada apa-apa kok," kata Juna datar.
 
"Nggak mungkin nggak ada apa-apa," ucap Aurel.
 
"Iya nggak mungkin, pasti ada apa-apa," kata Alice.
 
"Bener tuh, pasti ada hubungannya sama Fajar nih," ucap Iqbal.
 
"Iya gue cerita," ucap Juna pelan.
 
"Jadi dulu waktu Zora masih SMP dia sama Fajar itu ada hubungan, mereka sempat pacaran tapi mereka putus karena kesalahan Fajar," lanjut Juna.
 
"Fajar itu manfaatin otak Zora yang pintar supaya jadi juara selain itu Fajar juga selingkuhin Zora," jelas Juna.
 
"Hah? Serius?" tanya keempat orang itu dengan nada kaget.
 
"Iya," jawab Juna pelan.
 
"Fajar itu menyesal sama perbuatan dia dan dia berusaha buat balikan sama Zora tapi gue nggak mau mereka balikan, gue nggak mau Zora disakitin lagi sama Fajar," kata Juna panjang lebar.
 
"Bukan karena lo suka sama Zora?" tanya Imanuel.
 
"Iya gue emang suka sama Zora tapi gue pengen Zora bahagia dan Zora sama Fajar itu nggak bahagia, dulu selama mereka pacaran Zora itu selalu nangis," jelas Juna.
 
"Ooo," ujar Aurel dan Alice serentak.
 
Mereka semua terdiam beberapa saat, sungguh mereka kaget dengan apa yang mereka ketahui sekarang ini. Begitu lama mereka berteman dan mereka baru mengetahui hal ini sekarang, pantas saja Juna tidak suka pada Fajar dan pantas saja Zora bersikap cuek pada Fajar.
 
"Fajar," teriak Zora saat bangun dari tidurnya.
 
"Ayang," teriak Iqbal yang kaget akibat teriakan Zora.
 
"Plakk," suara tamparan di pipi Iqbal dari Alice.
 
"Ayang mulu otak lo pantes olimpiade selalu juara tiga," kata Alice.
 
"Jun, Fajar," kata Zora pada Juna.
 
"Kenapa?" tanya Juna pada Zora.
 
"Fajar masih hidup, Jun," kata Zora.
 
"Nggak mungkin, dia udah tenang di sana," ucap Juna lembut.
 
"Nggak Fajar itu masih hidup tadi gue mimpi dia dan dia bilang dia masih hidup," kata Zora.
 
"Mimpi itu bunga tidur, Zor," ucap Juna sambil memeluk Zora.
 
Mereka yang melihat interaksi Juna dan Zora pun hanya terdiam, mereka tidak tau harus berbuat apa. Imanuel menyenggol Iqbal, sepertinya ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan.
 
"Ta-tadi sebelum kita pulang Indra dan Alina udah sadar. Mereka bilang Fajar masih hidup tapi mereka nggak tau Fajar dimana," jelas Iqbal, sedikit terbata-bata.
 
"Kan bener kata gue, Jun. Fajar masih hidup, Jun," Kata Zora tergesa-gesa.
 
"Iya Zora, sabar ya Zora," ucap Fajar lembut sambil terus memeluk Zora.
 
"Kita ke rumah sakit ya temuin Indra sama Alina," kata Zora mengajak Juna.
 
"Iya," ucap Fajar sambil mengangguk.

***

Zora keluar dari rumah sakit dengan tergesa-gesa, ia ingin segera mencari Dinda. Bagaimana pun caranya ia harus bisa menemui Dinda.
 
Beberapa menit yang lalu ia dan kelima temanya baru saja menemui Indra dan Alina, kata mereka berdua Fajar masih hidup. Fajar berada sama Dinda dan satu orang cowok asing yang mereka tidak tau siapa, mereka berdua mendengarkan pembicaraan Dinda dan cowok asing tersebut tapi naasnya mereka ketahuan hingga mereka dihajar sampai babak belur oleh mereka untung saja mereka berdua berhasil kabur.
 
"Kurang ajah lo Dinda," ucap Zora.
 
Juna menghampiri Zora, ia mengusap bahu Zora. Tersenyum lembut pada gadis itu, berharap amarah gadis itu segera mereda.
 
"Sabar ya, Zor," ucap Aurel pada Zora.
 
"Bye the way si Dinda tuh ada dimana ya," kata Alice sambil berpikir.
 
"Kalian punya nomor Dinda nggak?" tanya Imanuel.
 
"Gue punya," jawab Iqbal.
 
"Okeh, gue lacak ajah lokasi Dinda lewat nomor handphonenya," kata Imanuel.
 
Imanuel segera melacak lokasi Dinda, ia terus berutak-atik dengan benda pipi ditangannya. Seketika Imanuel tersenyum sumringah, senyum sumringah Imanuel membuat kelima orang itu senang.
 
"Gue dapat nih lokasi Dinda," kata Imanuel.
 
"Ayok kita pergi," lanjut Imanuel.
 
"Ayok," kata mereka berlima serentak.
 
Mereka memasuki mobil, bergegas meninggalkan rumah sakit. Berjalan dengan kebut-kebutan menyusuri jalanan kota Bandung, menyusuri jalan-jalan yang ada di kota Bandung itu.
 
Mereka tiba di sebuah perkampungan, kampung Indah Pesona. Lokasi kampung ini cukup jauh dari Kota, mereka terus berjalan menuju lokasi Dinda. Tak lama, mereka sampai di depan sebuah rumah sederhana tapi cukup mewah.
 
Keenam orang itu turun dari mobil, menggedor-gedor pintu itu tapi tidak ada satupun yang membukanya. Terus saja pintu itu digedor tapi tetap saja tak ada yang membukanya.
 
"Nak cari siapa ya?" ucap seorang nenek yang mungkin saja warga di kampung itu.
 
"Kita cari orang yang tinggal di rumah ini nek,'" kata Zora.
 
"Mereka sudah pindah nak, baru saja pergi," kata nenek tersebut.
 
Mereka semua terdiam, nasib baik tidak berpihak pada mereka. Sungguh ini sangat tidak adil bagi mereka.
 
"Makasih ya nek," kata Iqbal.
 
"Sama-sama nak," ucap nenek tersebut.
 
Mereka semua mematung di tempat itu, duduk di depan rumah itu, tidak tau harus bagaimana sekarang.
 
"Dobrak, iya dobrak pintunya," kata Zora.
 
"Mungkin ajah ada petunjuk tentang keberadaan Dinda di dalam sana," lanjut Zora.
 
"Iya benar tuh kata Zora," ucap Alice.
 
Para cowok pun mendobrak pintu rumah itu, pintu rumah terbuka dan mereka masuk lalu mengobrak-abrik seisi kamar itu, berharap menemukan barang bukti tapi mereka tidak menemukan apapun kecuali handphone Dinda.
 
Mereka pun putus asa, terlihat mereka sangat frustasi sekali. Tadinya mereka berharap akan menemukan petunjuk di handphone Dinda tapi handphone itu kosong, sama sekali tidak ada isi.
 
"Ni handphone nggak guna banget," teriak Iqbal sambil membanting handphone Dinda.
 
"Gimana bisa tuh handphone nggak ada isinya, kosong cok," ucap Imanuel.
 
"Gue rasa mereka tau kita bakal kesini makanya mereka kabur dari sini terus ninggalin handphone Dinda di sini dan handphone Dinda ini nih sengaja dikosongkan," ucap Aurel.
 
"Bener tuh kata Aurel," ucap Alice.
 
Juna dan Zora hanya terdiam sedari tadi, mereka berpikir harus bagaimana setelah ini. Tak tau harus bagaimana akhirnya mereka pergi dari kampung itu, mereka memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Mereka membeli makanan untuk Indra, Alina dan mereka makan bersama di rumah sakit nanti.
 
Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung memasuki tempat Indra dan Alina dirawat, kebetulan sekali Indra dan Alina ini satu kamar ya mungkin karena rumah sakit ini penuh akibat wabah demam berdarah yang begitu marak akhir-akhir ini. Mereka semua makan bersama di sana, suasana hening mengiringi makan mereka.
 
"Indra, lo beneran nggak kenal sosok laki-laki yang sama Dinda itu?" tanya Juna.
 
"Gue nggak kenal sama sekali tapi gue ingat ciri-cirinya," ucap Indra.
 
"Gimana ciri-cirinya?" tanya Iqbal.
 
"Orangnya itu tinggi, badannya itu atletis, punya gigi ginsul, kulitnya sawo matang, dia punya tato ditangannya bentuknya bintang kecil gitu dan dia pakai gelang hitam magnet tapi bentuk fazzle gitu" ucap Indra.
 
"Tatonya ditangan mana dan dibagian mana?" tanya Zora.
 
"Tatotanya di tangan kiri dan dibagian dalam pergelangan tangan," kata Alina.
 
"Iya bener kata Alina," ucap Indra membenarkan perkataan Alina.

Otak Zora seketika berputar kemasalalu, mengingat kejadian bertahun-tahun lalu. Ia mengenal sosok cowok itu, iya dia sangat mengenal sosok cowok itu.
 
"Bang Alex, iya itu bang Alex," kata Zora.
 
"Alex?" tanya Juna pada Zora.
 
"Nggak mungkinlah, Zor," ucap Juna.
 
"Mungkin ajah, Jun," Kat Zora.
 
"Siapa Alex itu?" tanya Aurel.
 
"Iya siapa dia?" tanya Alice.
 
"Dia bukan siapa-siapa kok," jawab Zora cepat.
 
"Bohong," kata Iqbal.
 
"Udah cerita aja kali," ujar Imanuel.
 
"Alex itu...," ucap Juna terpotong oleh Zora.
 
"Juna," teriak Zora.
 
"Udah nggakpapa, mereka harus tau juga apalagi ini menyangkut kita semua," ucap Juna.
 
"Lagian mereka udah tau soal lo dan Fajar dimasalalu," lanjut Juna.
 
Mata Zora membulat sungguh ia sangat kaget, gila sih ini, rahasia yang sudah dia pendam selama ini malah dibongkar oleh Juna begitu saja. Kampret banget sih Juna, pikir Zora.
 
"Kok kalian berdua nggak nanya apa gitu soal masalalu Zora dan Fajar?" tanya Iqbal pada Indra dan Alina, sepertinya keduanya tidak terlihat penasaran sama sekali .
 
"Kita berdua udah tau, Fajar yang kasih tau kita," ucap Indra.
 
"Ooo," ucap Iqbal, Imanuel, Aurel dan Alice serentak.
 
"Jadi Alex itu siapa?" tanya Imanuel.

"Alex itu abang angkat dari Fajar, dulu Alex ini akrab banget sama Fajar dan Alex ini juga akrab banget sama Zora. Sampai akhirnya Alex dan Zora ini buat tato ditangan mereka tapi tato yang dibuat Zora itu bisa hilang sementara Alex nggak bisa hilang, tato mereka itu bintang dan bulan yang kecil di pergelangan tangan kiri bagian dalam. Alex, Fajar dan Zora itu punya gelang magnet puzzle ya semacam gelang persahabatan gitu," jelas Juna.

 
"Alex dan Fajar ini dulu akrab banget, walaupun mereka bukan saudara kandung gitu tapi semuanya berubah ketika Alex merasa orangtua angkatnya lebih sayang sama Fajar daripada dirinya. Suatu hari Fajar ini buat kesalahan yaitu gitu ya dia nabrak orang sampai koma berbulan-bulan karena Fajar pakai motor Alex dan tanpa tau apapun orangtua angkat Alex langsung menuduh Alex sebagai pelakunya, akhirnya Alex dikirim ke Amerika ya semacam diasingkan gitu," lanjut Juna.
 
"Ooo," ucap semua orang diruangan itu, kecuali Zora.
 
"Kok lo bisa tau semua ini?" tanya Imanuel.
 
"Lo nggak lupakan kalau gue sama Zora ini temanan dari kecil, setiap hal itu sering Zora ceritakan kegue dan begitu juga gue," jelas Juna yang diangguki oleh semua orang diruangan itu.
 
"Gue tau Fajar ada di mana," ucap Zora tiba dengan sedikit berteriak.

"Bebeb," teriak Iqbal yang kaget akibat teriakan Zora.
 
"Bebep otak mu," kata Alice sambil menyipratkan air mineral ke muka Iqbal.
 
"Tempat itu, Jun," kata Zora.
 
"Lo ingatkan Jun?" tanya Zora.
 
"Iya gue ingat," kata Juna.

"Gue yakin Fajar ada disitu," ucap Zora.

"Kita kesana," lanjut Zora.

"Iya, habis makan kita langsung ke sana ya," ucap Juna lembut dan Zora pun mengangguk.

Mereka semua makan dengan lahap Zora terlihat sangat terburu-buru sekali, hal itu tidak lepas dari tatapan setiap insan yang ada di ruangan itu.

"Makanya pelan-pelan," kata Juna memperingati Zora.

"Hmm," deham Zora.

Bersambung...

Komentar

  1. Wah ada tokoh baru, makin menarik nih konfliknya. Jadi bingung, semua orang berpotensi jadi pelaku utamanya nih.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)