Cerita Bersambung ( The Power Of Ambition #2)

 The Power Of Ambition

Zora berjalan di koridor rumah sakit, ia berjalan dengan tergesa-gesa hingga menabrak setiap orang yang berjalan. Ia berjalan terus menyusuri koridor itu, ia menemui resepsionis dan menanyakan kamar mayat pada resepsionis itu.
 
Zora berjalan mengikuti resepsionis itu, menuju kamar mayat yang posisinya hampir di belakang rumah sakit ini. Entah mengapa semakin mendekati kamar mayat, kaki Zora semakin melemah. Air mata Zora terus saja menetes sedari tadi, sungguh bulir bening itu tak terbendung lagi.
 
Ia memasuki kamar mayat itu, menuju sebuah bangkar di tengah-tengah ruangan putih itu, ia membuka kain putih itu. Sungguh ia tak percaya, wajah tampan nan rupawan itu hancur hingga tak dikenali.
 
Zora menatap petugas resepsionis itu dan bertanya, "Kenapa wajahnya begini?." Mendengar pertanyaan itu petugas resepsionis pun menjawab, "Ia ditemukan terkapar tak berdaya dan wajahnya sudah hancur saar dibawa kemari." Zora yang mendengar jawaban itupun tak percaya, baru beberapa jam yang lalu ia bertemu dengan sosok laki-laki itu dalam kondisi masih hidup dan tak terluka sama sekali.
 
"Dari mana kalian tau kalau ini Fajar?" tanya Zora, ia berharap mayat dihadapannya itu bukanlah Fajar.
 
"Dari barang-barang yang ada disaku korban,"  jawab petugas resepsionis itu.
 
"Bisa saja itu bohong," ucap Zora.
 
"Tidak, kami juga sudah melakukan tes DNA dengan orang tua korban dan hasilnya cocok," ucap petugas resepsionis itu.
 
Zora kaget, ia terjatuh dengan isak tangis yang memenuhi ruangan itu. Kenapa lo pergi, pikir Zora waktu itu. Ia memegang tangan Fajar yang penuh dengan luka itu, mengusap-usapnya dengan lembut.
 
"Tinggalkan saya sendiri," ucap Zora pada petugas resepsionis itu, petugas itu segera pergi meninggalkan Zora sendiri di sana.
 
"Kenapa lo harus pergi sih, dulu lo udah pergi dari gue sekarang lo pergi lagi dari gue," ucap Zora sambil menangis.
 
"Lo jahat banget sama gue, ternyata benar kata Juna kalau lo itu jahat sama gue," lanjut Zora.
 
Setelah beberapa menit berlalu, Zora keluar dari ruangan itu. Ia mengusap air matanya tapi air matanya terus saja menetes, seperti air terjun yang terus mengalir setiap waktunya. Zora berjalan menyusuri lorong itu, langkahnya begitu gontai dan seketika pikiran Zora berwisata ke masalalu, masa-masa ia bersama Fajar.  
 
Zora keluar dari rumah sakit itu, ia masih mengenakan seragam SMA tapi saat ini seragam itu terlihat sangat lusuh sekali. Tadi sewaktu pulang sekolah Zora mendapat kabar tentang keberadaan mayat Fajar, tanpa menganti baju ia langsung pergi ke rumah sakit. Zora berharap mayat itu bukan Fajar tapi bukti-bukti mengatakan itu Fajar.
 
Zora rasanya tidak ingin meninggalkan tempat itu, ia ingin masuk lagi ke sana dan menemani Fajar di ruang hening itu tapi ia harus segera pulang karena mamanya terus saja menelpon dirinya sedari tadi. Zora pulang ke rumah menggunakan taksi, saat sampai digerbang rumahnya terlihat ada mobil polisi.
 
"Zora," teriak Wina, mama Zora.
 
"Kamu dari mana ajah nak?" tanya Wina sambil memeluk tubuh putrinya itu, Zora merasa ada yang aneh tapi ia tetap membalas pelukan mamanya.
 
"Apa benar anda saudari Zora?" tanya pria tegap dengan baju polisi itu.
 
"Iya benar," jawab Zora.
 
"Kami kesini membawa surat penangkapan anda," ucap polisi tersebut.
 
"Penangkapan apa ya?" tanya Zora sambil mengerutkan dahinya.
 
"Penangkapan atas kasus kematian saudara Fajar," ucap polisi tersebut.
 
"Tapi saya tidak membunuhnya," ujar Zora.
 
"Anda jelaskan di kantor saja, sekarang anda ikut kami terlebih dahulu," kata polisi itu tegas.
 
Zora pun mengikuti polisi itu, berjalan memasuki mobil polisi itu. Zora terlihat sangat sedih sekali, tatapannya kosong. Ini semua tak mungkin, ia tak akan pernah membunuh Fajar apapun alasannya.
 
Saat tiba di kantor polisi Zora kaget ada begitu banyak wartawan di depan kantor polisi, sepertinya dirinya akan segera viral dalam hitungan detik. Zora diamankan para polisi saat keluar dari mobil polisi, ia pun dapat masuk ke dalam kantor polisi tapi ia lebih kaget lagi karena kelima temannya sudah ada disini dan terduduk dengan rapi dikursi itu.
 
"Darimana ajah?" tanya Juna sambil berdiri dan berjalan memeluk Zora, Juna tau Zora cukup gugup serta kaget saat ini.
 
"Nggak dari mana-mana," jawab Zora bohong.
 
"Kamu bohong sama aku," batin Juna sambil tersenyum sinis.
 
Keenam orang itu dipanggil untuk segera diintrogasi, berbagai pertanyaan disodorkan pada mereka. Mereka benar-benar tidak tau mengapa bisa ada diposisi ini, terlihat mereka menjawab pertanyaan sesuai dengan fakta yang ada.
 
"Tapi kami tidak membunuhnya," jawab Juna sambil berteriak setelah mendengar pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya, terlihat Juna sudah sangat emosi.
 
"Sabar, mohon tenangkan diri," ucap polisi tersebut.
 
"Gimana mau tenang dari tadi bapak pojokin kami terus," ujar Iqbal tidak santai.
 
"Sudah kami bilang kami tidak membunuh dia, saat kami tinggalkan dia di sana dia itu masih dalam kondisi hidup," ucap Imanuel ketus.
 
"Mungkin ajah dia bunuh diri," cetus Alice.
 
"Bisa jadi sih," ujar Aurel.
 
"Maaf sebelumnya pak atas emosi teman-teman saya tapi memang benar kami tidak membunuhnya," ucap Zora dengan tenang.
 
"Tapi bukti-bukti ini mengarah ke kalian," kata pak polisi.
 
"Kalian juga musuh dia bukan?" tanya pak polisi.
 
"Tapi kami tak membunuh dia pak," ucap Aurel dengan lemas, entah sudah berapa kali ia mengucapkan kalimat itu.
 
"Maafkan kami, kami tidak bisa menolong kalian karena semua saksi dan telah mengarah ke kalian status kalian saat ini tersangka," ucap polisi tersebut dengan tegas.
 
"Nggak bisa pak," teriak Juna, Zora langsung mengenggam tangan cowok itu untuk meredam emosinya.
 
"Ini sudah keputusan saya, tidak bisa diganggu gugat," ucap polisi.
 
"Silakan pergi dari sini dan jangan coba buat kabur karena kalian dalam pengawasan kami," ucap bapak berbadan tegap itu.
 
Keenam orang itu menyamperi orangtua mereka, memeluk mereka dengan isak tangis. Terlihat mereka sangat frustasi sekali saat ini, mereka dituduh atas kesalahan yang tidak mereka lakukan. Reputasi mereka sebagai siswa berprestasi seketika hancur begitu saja bahkan nama keluarga mereka pun menjadi buruk.
 
***
 
Pagi hari ini cukup cerah sekali, sangat sesuai itu memulai hari yang indah. Keenam remaja itu tidak berangkat sekolah hari ini, mereka memutuskan untuk menyelesaikan kasus yang menjerat mereka saat ini.
 
Mereka berkumpul di sebuah apartemen milik Juna, sengaja memilih tempat yang tertutup karena jika mereka berkumpul di cafe bisa-bisa mereka dihujat oleh orang-orang karena sebagian muka mereka sudah tersebar dimedia.
 
"Bangsat," teriak Juna emosi.
 
"Woi, gue kaget," kata Iqbal.
 
"Tuh orang ya, dia hidup nyusahin kita terus dia mati juga nyusahin kita," ucap Imanuel.
 
"Sumpah gue nggak nyangka kita jadi tersangka," kata Aurel lesu.
 
"Siapa sih pembunuh dia," ucap Alice.
 
Kelima orang itu terus saja berbicara sedari tadi, Zora terdiam sambil menyandarkan badannya disofa empuk itu. Zora memijati kepalanya, mencari solusi dari masalah ini. Kenapa bisa semua bukti mengarah ke gue dan teman-teman gue sih, pikir Zora.
 
Zora memutar kembali ingatannya ke hari kemarin, mengingat kejadian itu. Masih teringat jelas dipikirannya kalau semua rekaman CCTV di SMA Jaya Sakti mengarah pada dirinya dan teman-temannya, ia memikirkan semua itu sambil terus memijatkan kepalanya.
 
"Bukti itu," batin Zora.
 
"Kalian punya rekaman CCTV kemarin nggak?" tanya Zora pada kelima temannya.
 
"Ada tuh dilaptop gue," ucap Iqbal.
 
"Gue pinjam," kata Zora.
 
"Ambil ajah," ucap Iqbal.
 
Zora membuka laptop itu, memutar video-video rekaman CCTV itu. Zora terus meneliti satu persatu dari rekaman CCTV itu, ia tersenyum sinis sepertinya ia menemukan sesuatu. Udah gue duga ada yang nggak bener di sini, pikir Zora. Zora berjalan ke arah teman-temannya yang berada di ruang tengah apartemen itu, ia meletakkan laptop itu di atas meja sambil memutarkan salah satu rekaman CCTV.
 
"Lihat ini," ucap Zora.
 
"Kita udah lihat, itukan bukti yang buat kita jadi tersangka," kata Imanuel.
 
"Coba lihat baik-baik," ucap Zora.
 
"Nggak ada apa-apa, Zor," kata Aurel yang diangguki semua orang di sana.
 
"Gini banget punya teman, lo semua siswa terpintar di sekolah terus kenapa mendadak bodoh gini," kata Zora panjang lebar.
 
"Kemarin kita dinyatakan sebagai tersangka, semua bukti mengarah ke kita. Benerkan?" tanya Zora pada kelima orang itu, mereka semua mengangguk.
 
"Mereka mengatakan kita yang terakhir keluar dari sekolah, kalian ingat bukan?" tanya Zora lagi, lagi-lagi ia diangguki oleh kelima orang itu.
 
"Kalian ingat waktu itu kita pulang berlima bukan berenam, Juna pulang terakhir tapi Juna sama sekali nggak terlihat keluar dari perkarangan sekolah baik rekaman gerbang depan maupun belakang," ucap Zora.
 
"Oh ya gue ingat," kata Alice.
 
Iqbal merampas laptop itu, ia melihat rekaman CCTV itu dan benar saja Juna tidak terlihat keluar dari perkarangan sekolah itu.
 
"Lo punya lewat gerbang mana?" tanya Iqbal pada Juna.
 
"Gue pulang lewat gerbang depan," jawab Juna.
 
"Lo punya jam berapa?" tanya Imanuel.
 
"Gue pulang waktu hari mulai gelap," jawab Juna.
 
"Di CCTV ini sama sekali nggak ada Juna keluar dari gerbang depan cok," kata Iqbal.
 
"Pasti ada yang nggak beres nih," ucap Alice.
 
"CCTV SMA kita direntas," ucap Zora.
 
"Direntas?" tanya kelima orang itu.
 
"Iya, itu prediksi gue," jawab Zora.
 
"Kita harus dapati semua rekaman CCTV sekolah dihari itu," kata Zora.
 
"Gimana caranya?" tanya Iqbal.
 
"Gue tau," jawab Juna.
 
"Gimana?" tanya mereka berlima pada Juna.
 
"Tinggal minta doang," jawab Juna dengan santai.
 
"Menurut lo rekaman itu bakal dikasih dengan semudah itu sama penjaga CCTV, ya jelas nggaklah," kata Aurel.
 
"Gue nggak bakal minta sama penjaga CCTV tapi gue bakal minta sama siswa SMA kita," kata Juna.
 
"Siapa?" tanya Iqbal.
 
"Siapa lagi kalau bukan orang yang bebas keluar masuk ruang CCTV," kata Juna sambil tersenyum sinis.
 
"Satria," kata Zora.
 
"Seketika gue jadi bodoh, kenapa gue lupa kalau Satria itu ketua osis dan dia gampang banget buat keluar masuk ruang CCTV karena dia selalu memantau kinerja anggota OSIS setiap kali ada event lewat CCTV," kata Alice.
 
"Buruan lo minta rekaman CCTV itu sama Satria," perintah Imanuel pada Juna, Juna pun mengangguk.
 
"Ting-ting," suara deringan handphone Juna.
 
Berjam-jam berlalu, akhirnya rekaman CCTV di dapatkan oleh mereka. Beberapa saat yang lalu rekaman CCTV Itu telah dikirim Satria ke handphone Juna, mereka membuka rekaman CCTV itu.
 
Mengamati video rekaman itu satu persatu, melihat setiap video rekaman itu dengan detail. Mencari-cari kejanggalan dari rekaman CCTV itu.
 
"Ini fiks ada hacker yang rentas CCTV sekolah kita," ucap Zora.
 
"Di rekaman ini sama sekali nggak ada Juna, padahal kita tau Juna itu pulang paling terakhir," jelas Zora.
 
"Malah rekaman CCTV parkiran rusak pas jam kita pulang, kanapa coba bisa pas banget, mencurigakan banget sih ini," lanjut Zora.
 
"Kalau gitu kita kasih tau ajah sama pihak polisi," kata Iqbal.
 
"Bodoh banget lo," kata Alice ketus.
 
"Emangnya kenapa?" tanya Iqbal.
 
"Pihak polisi itu sama sekali nggak percaya sama perkataan kita yang kemarin apalagi sama perkataan kita yang ini, lagian kita nggak ada bukti," jelas Alice, yang lainya pun mengangguk.
 
Semua orang di sana terdiam sesaat, mereka berpikir hal apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Sedari tadi Zora terus memijit kepalanya, sepertinya kepalanya sangat sakit. Juna mengambil segelas air putih, ia berikan pada Zora dengan harapan rasa sakit kepala Zora bisa mereda.
 
"Jadi gimana sekarang?" tanya Imanuel.
 
"Nggak tau, kepala gue pusing," jawab Zora.
 
"Kita harus temuin hacker itu," kata Zora.
 
"Ya nggak mungkinlah, pasti susah banget," kata Aurel.
 
"Gue tau, kalau nggak susah udah gue datangin tuh hacker," ujar Zora.
 
***
 
Hari semakin sore, terlihat jalanan kota mulai ramai. Keenam orang itu masih tetap berada di dalam apartemen, terus berpikir sedari tadi siang.
 
Zora berjalan menuju rooftop apartemen itu, duduk di sana sambil memandangi langit jingga diatas langit sana. Zora berpikir keras, ia harus menemukan cara agar ia bisa keluar dari masalah ini.
 
"Siapa yang udah bunuh lo, Jar," gumam Zora.
 
"Entahlah apa ini tapi perasaan gue bilangnya lo belum meninggal," batin Zora.
 
Zora memejamkan matanya sejenak, berharap ada pemecahan masalah yang segera datang pada dirinya.
 
"Apa musuh dia yang bunuh dia ya tapi setau gue dia nggak punya musuh selain Jun...," ucapan Zora yang pelan itu segera ia hentikan sambil menggelengkan kepalanya, rasanya tidak mungkin hal itu terjadi.
 
"Nggak mungkin Juna, Juna ajah kelihatan nggak tau apa-apa," gumam Zora.
 
"Dinda, Indra dan Alina. Mereka pasti tau sesuatu tentang ini," kata Zora sambil mengangguk dan beranjak pergi dari posisinya itu.
 
Zora meninggalkan rooftop itu, ia kaget saat mendapati Juna tidak jauh dibelakangnya. Ia meneguk salivarnya, ia takut Juna mendengar ucapannya tadi.
 
"Mau kemana?" tanya Juna.
 
"Nggak kemana-mana," Jawa Zora.
 
"Bohong," kata Juna datar.
 
"Mau ketemu Dinda, Indra dan Alina ya?" tanya Juna, Zora pun hanya mengangguk.
 
"Ayok, gue temenin," ucap Juna.
 
Mereka berdua keluar apartemen tanpa memberitahu yang lain, kelima teman mereka sedang tidur jadinya mereka tidak ingin menganggunya. Mereka mengenakkan masker dan juga kacamata agar tidak ada yang mengenali mereka, berjalan menyusuri jalanan Bandung di sore hari, mereka pergi ke tempat Fajar dan teman-temannya sering ngumpul yaitu sebuah rumah kecil yang jaraknya sekitar tiga puluh menit dari apartemen mereka.
 
Saat mereka sampai di sana, suasana rumah itu terlihat sepi dari luar. Zora dan Juna turun dari mobil, berjalan menuju rumah itu. Saat mereka ingin masuk rumah itu tiba-tiba saja mereka berhenti karena mendengar pembicaraan dua orang di dalam sana, mereka memutuskan untuk mendengarkan pembicaraan itu karena pembicaraan itu cukup menarik.
 
"Lo udah beresin semuanyakan?" ucap suara cewek itu.
 
"Udah gue beresin semuanya," kata suara cowok di dalam sana.
 
"Udah bagus deh," ucap sang cewek.
 
"Lo udah dapatin yang lo mau sekarang waktunya lo bantu gue dapatin yang gue mau," kata cowok itu.
 
"Gampang itu, lo tinggal bebasin tuh co]ewok pakai uang jaminan waktu dia masuk penjara atau lo manipulasi semuanya itu ya lo buat seolah-olah sih Zora kesayangan lo itu nggak bersalah," ucap suara cewek di dalam sana.
 
Zora merasa namanya disebut pun kaget, apalagi ini. Merasa ada orang lain mulai mendekati rumah itu, Zora dan Juna segera pergi dari rumah itu.
 
"Kita pulang ajah," kata Zora, Juna pun mengangguk karena kalau lama-lama mereka disini sepertinya tidak baik sebab terlihat ada yang tidak beres.
 
"Suara cowok tadi nggak asing, tapi siapa ya?" gumam Zora bertanya pada dirinya sendiri.
 
"Kita pulang ke tempat mami ajah ya," kata Juna pada Zora.
 
"Mami suruh ke rumah," lanjut Juna, Zora pun menganggukkan kepalanya.
 
Mami adalah mama Juna, Zora dan orangtua Juna memang sudah cukup dekat sekali. Sedari kecil keduanya sudah sangat dekat sekali, orangtua mereka juga bersahabat jadi itu sebabnya mereka sangat dekat sekali.
 
Sesampainya di rumah Juna, mereka turun dari mobil itu dan terlihat ada wanita paruh baya yang menyambut mereka.
 
"Zora," ucap mami Juna sambil memeluk Zora erat, Zora membalas pelukan itu.
 
"Mami," balas Zora.
 
"Yang sabar ya sayang, semuanya pasti bisa dilewati," kata wanita paruh baya itu sambil meneteskan air matanya, seolah-olah tau apa yang sedang dirasakan oleh Zora.
 
"Iya mami," kata Zora sambil tersenyum tipis.
 
"Sudahlah, ayok kita makan mami sudah masak buat kita makan malam," ucap wanita paruh baya itu sambil mengelap air matanya.
 
"Zora sayang, sekarang Zora mandi dulu ya terus mami siapin makanannya," lanjut mami Juna.
 
"Iya mami," kata Zora.
 
Zora pun mandi, selesai mandi Zora memakai baju mami Juna. Zora berjalan menaiki tangga di rumah Juna, menuju kamar Juna karena maminya menyuruh Zora untuk memanggil Juna agar ia segera turun untuk makan.
 
"Tok-tok," suara ketukan pintu dari Zora.
 
Tidak ada yang membuka kamar Juna, Zora memutuskan untuk memasuki kamar itu, sepertinya Juna sedang manis karena terdengar suara percikan air dari kamar mandi. Zora berjalan ingin segera keluar tapi seragam dengan bercak merah yang digantung disebelah pintu kamar Juna menyita perhatian Zora, Zora mengambil baju itu dan melihatnya dengan saksama.
 
"Inikan baju sekolah kemarin, sehari sebelum Fajar meninggal," gumam Zora.
 
"Nggak mungkin dia pelakunya tapi gue harus perhatiin dia mulai sekarang," batin Zora.
 
Zora segera keluar dari kamar itu, berjalan menuruni tangga menuju dapur rumah besar itu. Ia melihat wanita paruh baya di sana sedang menyiapkan makanan, ia pun menghampiri wanita paruh baya itu
 
"Mami, Junanya lagi mandi," kata Zora pada mami Juna.
 
"Oh yaudah, sini bantu mami siapin makan malamnya," kata mami Juna, Zora pun mengangguk.
 
***
 
Zora dan Juna sedang berjalan menuju apartemen, mereka sudah selesai makan malam. Perjalanan menuju apartemen tidak terlalu jauh dari rumah Juna, lima belas menit berlalu dan mereka pun sampai di apartemen.
 
Zora dan Juna berjalan memasuki apartemen mereka, di dalam sana terlihat teman-teman mereka sepertinya sedang panik, entah apa yang baru saja terjadi.
 
"Kalian dari mana?" tanya Aurel.
 
"Kita ta...," ucap Juna terpotong oleh perkataan Zora.
 
"Kita dari rumah Juna," kata Zora.
 
"Ooo," ujar Alice.
 
"Nih makanan buat kalian," kata Zora sambil menyodorkan kantong plastik merah yang berisi makanan dari mama Juna tadi.
 
"Wih mantap nih, makasih ya," kata Iqbal yang menerima kantong plastik merah itu.
 
"Ayok kita makan, mumpung gue lapar," kata Imanuel.
 
"Jun, Malam ini gue nginap disini ajah ya. Gue capek jadi malas buat balik ke rumah lagian rumah gue jauh," kata Zora.
 
"Kita semua juga nginap disini," kata Aurel.
 
Mereka semua makan bersama kecuali Zora dan Juna karena mereka sudah kenyang, sesekali mereka membahas tentang hal yang harus mereka lakukan agar mereka bisa bebas dari kasus ini.

Bersambung...

Komentar

  1. Keren ihhh ceritanyaaaa alurnya seru banget buat diikutinnnn. Mulai nebak-nebak sih ini. So far aku masih suspect si juna pelakunyaw.

    BalasHapus
  2. Semuanya berpotensi euy, tapi aku tetep curiga sama Juna.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)