Prosa (Tentang Sebuah Kepergian)
Tentang Sebuah Kepergian
Dahulu, bertahun-tahun silam kau menciptakan dunia bersama ku, isinya hanya ada kau dan aku di sana. Kalimat-kalimat manis yang kau sampaikan waktu itu begitu menyentuh sukma ini, sungguh itu masih terbayang di benak ini. Seakan-akan aku napas kehidupan, tanpa ku kau tak akan mampu.
Tiba-tiba dalam sekilas mata, semuanya sirna bagai ditelan bumi. Kau pergi meninggalkan daku bersama puan pilihan mu itu. Melabuhkan luka bersama tekanan jiwa dalam lubuk ini, sungguh itu begitu perih rasanya.
Tiada kau ketahui, aksara ini masih mengemban rasa untuk mu kala kau pergi bersama puan mu itu. Sekali-kali berahi itu datang, menyiksa ku dalam estimasi kita waktu bersama-sama dahulu.
Ketika netra ini melihat kau bersama puan mu tertawa lepas, tanpa beban ditiap gelak kalian. Sungguh tersemat sebuah fatwa iri di lubuk ini, mulut ku tersimpul saat memperhatikan hal itu namun lubuk ku perih kala itu juga.
Mengapa? Mengapa? Mengapa langkah mu begitu ringan kala kau pergi dari ku tanpa menoleh sedikit pun ke arah ku, wahai tuan yang pernah menjeru di lubuk ku ini. Sungguh diri ini tiada tau tumpuan dari kepergian mu, sungguh diri ini sangat racau kala itu.
Sempat berhajat agar diri mu kembali pada ku namun semua terasa mustahil, kau begitu girang saat bersama puan mu itu dibanding kala kau bersama ku di tempo hari.
Sungguh diri ini ingin sekali meluapkan rasa gusar dari ku namun tak bisa ku lakukan. Entah mengapa lidah ku rasanya beku, tak mampu mengeluarkan lisan. Diam sembari membisu dalam pahitnya fakta, itu yang ku lakukan.
Aku hanya bisa menjarah walau sawab tak menginginkannya tapi itu harus dilangsungkan. Sungguh ini sangat mendesak, ingin rasanya menunduk namun tidak akan ku lakukan.
Aku tak ingin tengelam dalam kepergian mu, naik kepermukaan itulah harap ku. Mengijabkan dan mengijabkan, itulah tindakan ku walau hasil tak terpandang tapi barangkali itu lebih baik daripada membumi atas hayat mu.

Mba.. Jangan galau.
BalasHapusLife must go on, biar lah ia bahagia bersama yang baru
iya kak
HapusPuitis sekaki, mba, kata2nya, barusan baca dri Mba Thia ttg kepergian seorang ayah, sekarang jg baca tentang kepergian seseorang. Semoga kita tetap dikuatkan, ya...peluk jauuh...
BalasHapusamin kak
HapusWadidaw, ketjeh badai gini bahasa kawan aku
BalasHapuseh ada amel, makasih mel. kata-kata amel juga bagus banget
Hapus