Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

 Tentang Kehilangan Yang Abadi

Sumber gambar : Sulanti

Hari-hari ku terasa sunyi tanpa hadir mu sungguh aku merindukan hari-hari kemarin, aku merindukan kericuhan-kericuhan di kemarin hari itu. Berangan-angan hal itu akan terjadi lagi, walau hanya sehari namun itu tidak akan pernah terwujud lagi.

Wahai sang pemilik angan-angan di aksara ku ini, aku sangat merindukan hadir mu di sini. Bersua dengan mu, itulah keinginan saat ini sungguh hanya itu tak berimbuh sedikit pun.

Mengapa? Kenapa? Sungguh aku selalu bersoal tentang prihal itu. Berandai-andai ini hanya sebuah bunga tidur, mimpi buruk. Membuka netra, menemukan mu masih beratma di daratan ini sungguh permai namun faktanya realita sesungguh tidak begitu.

Bersemayam di bawah gelapnya halimun, itu yang ku lakukan. Menatap bintang-bintang yang jauh atas sana, berharap salah satu dari mereka adalah diri mu. Apa diri mu melihat ku di sini, gumam ku kala itu.

Tak pernah ku sangka, tak pernah ku bayangkan, tak pernah ku pikirkan, tak pernah ku harapkan dan tak pernah ku inginkan semua ini. Sungguh aku sangat pelik dengan semua ini, aku roboh kala itu juga.

Berbulan-bulan silam bahkan bertahun-tahun silam, diri mu berikrar pada ku dengan lisan mu itu. Diri mu bertutur bahwa kita akan terus bersama, menjalani hidup hingga hari tua namun itu semua sirna hanya karena mu, iya karena diri mu. Penghianat, iya diri mu penghianat. Meninggalkan ku di daratan dengan segala duka lara sementara diri mu di atas sana, berbahagia riang. Rasanya tak guna salah ini di lemparkan pada mu, kini semua hanya tinggal angan-angan saja yang akan hilang dibawa oleh terpaan waktu.


Rasanya lebih baik netra ini mencalang diri mu bersama puan lain, mendustai perasaan ini setidaknya diri ku bisa melihat mu di daratan ini tidak seperti sekarang. Figur-figur mu masih terpajang rapi di sana, tak ingin membuangnya entah sampai kapan itu.

Begitu banyak bahkan begitu sering bulir bening ini mengalir, menangis. Sungguh diri mu begitu keji, diri mu tak lagi datang dan mengusap air mata ku seperti dahulu kala.

Tak bisa berbuat apa pun agar diri mu kembali ke daratan ini, sungguh tak bisa. Mengikhlaskan mu, itulah jalan terbaik. Menerima semuanya, biarkan duka lara ini terlarut dalam waktu.

Sesekali ku datang ke tempat peristirahatan terakhir mu itu, mengusap pusaran mu dan memeluknya. Bergumam di sana bagai orang tak waras, berharap diri mu mendengar celotehan ku ini seperti dahulu kala meski tak sama lagi. Menaburkan kembang dan malafatkan doa, itu yang ku lakukan untuk diri mu di sana.

Semoga diri mu berbahagia di atas sana, berada di posisi yang terbaik diantara yang terbaik. Hendaklah semuanya berlalu hingga kita bertemu, suatu hari nanti. Aku hanya bisa mengirimkan doa, bagi mu di atas sana dalam setiap sujud ku

Komentar

  1. Aaa, perasaan sedang kurang baik-baik saja, nggak sengaja mendarat di prosa Kak Sulanti, sepertinya butuh tisu menemani malam ini.

    BalasHapus
  2. Kak Sulanti. Semoga bertemu dengan dia di waktu yang tepat ya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)