Prosa (Nyata Tapi Tidak)
Nyata Tapi Tidak
Teruntuk kamu yang jauh di sana, ini sebuah ungkapan
dariku untukmu. Dua kata, terima kasihku lontarkan padamu. Terima kasih untuk
apa? Jawabannya sangat sederhana, ya untuk semuanya. Terima kasih telah
menghadirkan sumringah dari bibirku ini, terima kasih untuk rasa girang yang
dirimu lemparkan padaku, terima kasih untuk kehadiranmu dihadiratku, terima
kasih telah menghadirkan rasa disetiap ketikkanmu itu, dan terima kasih untuk
segalanya yang entah apapun itu.
Tak bisa diriku ini berdusta lagi, aku mengagumimu
dari kejauhan ini. Menatap figurmu saja sudah membuatku sumringah dengan
sendirinya, sungguh aku seperti orang tak waras. Kita begitu jauh tapi rasanya
kita begitu dekat, sangat dekat sekali.
Menunggumu bercerita padaku tentang harimu, itulah
yang kulakukan beberapa waktu belakangan ini. Bercerita padamu tentang hariku,
itulah kegiatanku beberapa kurun waktu ini. Mendengarmu bercerita padaku dan
bercerita padamu, itulah kesibukan kita berdua ya kurang lebih seperti orang
sok sibuk.
Diri ini tak pernah sekalipun bersua dengan dirimu,
iya tak pernah sekalipun. Diriku tak pernah memandang secara langsung wajahmu
yang rupawan apalagi mengusapnya, tak pernah diriku menatap mata indahmu itu
apalagi bermain mata dengan matamu itu, tak pernah diriku merasakan gelombang
suaramu memasuki gendang telingaku secara nyata apalagi mendengarmu bersyair
dihadapanku, namun entah mengapa dirimu serasa begitu lekat dihati ini. Seperti
ada sebuah sihir yang membuatku merasa dekat denganmu, iya sangat dekat
denganmu tanpa bersua tapi rasanya seperti selalu bersua.
Sesekali hati terketuk, mungkin matra sihirnya
hilang, seolah-olah mengatakan padaku kalau dirimu itu tak nyata tapi dirimu
itu nyata. Bingung bukan? Iya memang membingungkan sekali. Semuanya begitu
sulit dijelaskan dengan lisan ini tapi begitu mudah dipahami oleh benak ini, ya
begitulah, pandai-pandalah memahaminya.
Tak mungkinku berbohong dan tak mampuku berbohong
mengenai perihal ini, ingin sekali rasanya bersua denganmu tapi rasanya seperti
mustahil tapi juga tidak mustahil. Apapun itu, kuharap suatu saat nanti kita
bersua, entah dengan kondisi apapun itu.
Aku tau dirimu nyata tapi diriku juga harus sadar diri, biarlah kagumku padamu hanya sebatas ini, tak usah lebih dari ini. Ku tak ingin ini terlalu berlebihan, biarlah begini. Biarkan takdir memainkan skenarionya, sebagaimana mestinya dan kita cukup mengikutinya saja. Apapun ujung dari kita maka itulah yang terbaik, sekali lagi ku ucapkan terima kasih padamu meskipun dirimu hanya virtual bagai tak kasat mata tapi dirimu tetap nyata bagai kasat mata dihatiku ini.
Baca ini jadi inget biasku.
BalasHapusBerasa hubunganku sama bias dibocorin hahaha.
Bagus tulisannya, semangat berus kak :))
Sungguh pilu membacanya. Hal menyakitkan di bumi ini diantaranya adalah, melihatnya ada namun tidak mampu bersama. Nyata tapi seperti tidak ada.
BalasHapus