Cerita Pendek (Yogha dan Winda )

 Yogha dan Winda

Sumber gambar : https://pin.it/ejs08NG

Hari semakin terang tiap saatnya, ketika siswa-siswi lainnya sudah berada di dalam sekolah tapi tidak dengan Winda ia baru saja memasuki gerbang SMA Nusa Bangsa tepat disaat bell baru saja berbunyi. Winda memarkirkan motor hitam kesayangannya itu, selesai memakirkan motornya Winda pun turun dari motornya lalu pandangannya tertuju pada sosok cowok yang berada diujung parkiran. Seperti cowok itu baru saja datang seperti dirinya, tanpa banyak berpikir Winda pun melemparkan senyum padanya. Bukannya membalas cowok itu malah berjalan melewati Winda.

"Hm, dia kenapa sih pengen banget gue buang ke laut," Batin Winda.

Cowok itu Yogha, seorang cowok dingin dan cowok itu akan menjadi lebih dingin ketika berurusan dengan Winda. Dahulu Winda dan Yogha sangat dekat sekali bahkan sempat digosipkan pacaran namun keduanya tidak berpacaran. Kedua sejoli itu begitu akrab dahulu bahkan tidak sungkan memamerkan kedekatan mereka di depan umum, mereka juga saling suka dan sama-sama tau namun tidak ingin berpacaran karena sama-sama ingin fokus dengan pendidikan masing-masing.

Beberapa tahun lalu sempat terjadi kesalahan pahaman kecil diantara keduanya, namun Yogha memperbesar kesalahpahaman itu. Masalah itu membuat mereka berakhir menjadi asing seperti sekarang, dimulai dari penjauhan sebenarnya penjauhan itu hanya dilakukan oleh Yogha bukan Winda. Winda tetap berusaha dekat dengan Yogha, ia tidak ingin hanya karena satu kesalahpahaman hubungannya dan Yogha yang sudah bertahun-tahun menjadi hancur. Semenjak itu Winda selalu berusaha untuk tetap dekat pada Yogha hingga saat ini, namun Yogha terus menjauh tapi Winda masih berjuang agar ia dan Yogha kembali seperti dulu.

Winda berjalan menuju kelasnya, langkah kaki begitu kecil namun pasti. Saat Winda melewati kelas Yogha, ia tersenyum lagi pada Yogha namun Yogha tidak membalasnya. Winda langsung berjalan menuju kelasnya yaitu dua belas IPA satu.

Jam pelajaran telah di mulai Winda pun belajar dengan serius, saat sedang serius tiba-tiba pandangan Winda beralih ke arah dua sejoli yang sedang bercanda tawa di lapangan. Mereka terlihat begitu bahagia, Winda yang melihat itu hanya bisa tersenyum tipis.

"Dulu dia seperti itu sama gue, sekarang sama orang lain," batin Winda.

Waktu makan siang sudah tiba, Winda memilih tetap di kelas sambil memakan cemilan yang baru saja mereka beli. Sesekali mereka tertawa akibat lelucon yang di buat, ditengah-tengah tawa mereka tiba-tiba perhatian mereka sama-sama terahlikan pada satu objek yaitu Yogha dan seorang wanita di sampingnya. Wulan yang melihat ekspresi Winda pun menepuk bahu temannya itu seolah-olah mentransfer energi pada Winda agar ia kuat.

"Sabar ya, win," ucap Wulan.

"Iya, lan," kaya Winda.

Sebenarnya Winda masih menyukai Yogha hingga saat ini, ia tidak berharap perasannya terbalaskan. Ia sempat bertanya-tanya apakah Yogha masih menyukainya, namun dari tindakan Yogha padanya sepertinya Yogha tidak menyukainya lagi. Untuk saat Winda hanya menginginkan dirinya dan Yogha kembali seperti dulu namun tanpa melibatkan perasaan, seolah-olah tidak terjadi apapun di antara mereka. Jika Winda bisa bertingkah biasa saja lalu kenapa Yogha tidak?.

Jam pulang sekolah tiba, Winda berjalan menuju parkiran saat sedang berjalan Winda mendengarkan pembicaraan Yogha bersama teman sekelasnya. Sepertinya Yogha bingung soal tugas kimia, seakan-akan waktu mendukung Winda untuk dekat dengan Yogha sebab kebetulan sekali ia sudah siap tugas kimia yang dimaksud Yogha dan sudah diparaf oleh guru mata pelajaran. Tugas kimia itu ada ditangan Winda saat ini, ia melihat Yogha sendirian di depan kelasnya. Winda berjalan menghampiri Yogha, ia menyodorkan tugas kimia itu pada Yogha.

"Ni tugasnya kimianya, gue udah siap ambil ajah," kata Winda.

"Tau dari mana kalau gue bingung sama tugas kimia?" tanya Yogha.

"Gue nggak sengaja dengar tadi," kata Winda yang diangguki oleh Yogha.

"Makasih ya," ucap Yogha sambil mengambil tugas kimia itu dari tangan Winda.

"Sama-sama," ucap Winda sambil tersenyum.

Winda pun pergi meninggalkan Yogha sendirian di depan kelasnya, Winda melanjutkan jalannya menuju parkiran setelah itu Winda pergi meninggalkan perkarangan sekolah, berjalan menyusuri jalanan kota yang ramai untuk menuju kerumahnya.

***

 Kemarin Yogha mengambil tugas kimia Winda dan hari ini ia mengembalikan, Winda mendapati tugas kimia itu di atas mejanya. Winda yang melihat tugas kimia itu pun langsung memasukkannya kedalam tas, padahal ia berharap Yogha sendiri yang menemuinya untuk mengembalikan tugas kimia itu agar ia bisa berkomunikasi lagi dengan Yogha namun kenyataannya tidak seperti itu.

Hari semakin siang, suasana pun semakin panas. Membeli es krim merupakan pilihan yang tepat untuk menghilangkan dahaga di siang hari ini, Winda pun berjalan menuju tukang es krim di kantin. Winda berjalan bersama dengan Wulan, dua sejoli itu berjalan sambil terus bercerita.

"Yoghaaaa," sapa Winda pada sosok laki-laki yang baru saja melewati dirinya dan juga Wulan.

Winda yakin sekali Yogha mendengar panggilannya namun tetap saja cowok itu tidak ingin menjawabnya, jujur ia sedih padahal dia sudah berbaik hati untuk menyapanya. Wulan memperhatikan raut wajah Winda yang tanpa sedih lalu ia pun berkata, "Udah nggak usah sedih lagi."

Sehabis membeli es krim, Winda dan Wulan pun berjalan menuju ke kelas. Di tengah perjalanan mereka berdua melihat Yogha dan Sherin sedang bercanda tawa di depan kelas, dua orang itu terlihat bahagia sekali. Winda yang melihat itupun tidak kaget lagi karena Yogha sempat digosipkan dekat dengan Sherin, bahkan gosip itu mengatakan Yoghamenyukai Sherin.

Kini jam pulang sekolah sedang berlangsung, Winda harus segera pulang karena ia harus mengantar bundanya ke pelabuhan. Winda berjalan menyusuri koridor kelas dua belas lalu ia tanpa sengaja melihat Yogha, tak lupa melemparkan senyum dan juga menyapa cowok itu namun hasil yang di dapatin Winda pun sama.

***

Hari-hari terus berlalu Winda pun masih terus berusaha untuk mengembalikan hubungannya dengan Yogha seperti dulu, walaupun terlihat sangat susah sekali. Semakin hari Yogha semakin dingin terhadap Winda namun Winda belum menyerah.

Beberapa hari lalu Winda memberikan tugas portofolionya pada Yogha, karena tanpa sengaja ia melihat cowok itu dimarahi Bu Wati guru biologi karena tugasnya salah. Saat ini Yogha sendiri yang datang padanya untuk mengembalikan tugas biologinya, jujur Winda senang karena Yogha mau menemuinya walaupun hanya untuk mengembalikan tugasnya saja.

"Makasih ya," kata Yogha.

"Sama-sama," ucap Winda.

"Win, pulang sekolah nanti kita ketemuan di cafe yang di dekat sekolah ya. Gue mau ngomongin sesuatu sama lo," kata Yogha.

Winda mematung sesaat, yang cowok itu ucapkan begitu panjang dan itu kata terpanjang yang ia ucapkan pada Winda setelah beberapa tahun ini. Winda segera menyadarkan dirinya lalu berkata, "Iya." Winda bingung dan penasaran soal apa yang akan dikatakan cowok itu, namun ia harus bersabar hingga jam pulang sekolah nanti.

Hari semakin siang, waktu pulang sekolah pun tiba. Sepertinya Winda akan terlambat menemui Yogha, ia harus mengoreksi tugas Bahasa Indonesia anak kelasnya. Setelah sekitar Satu jam bergelut dengan pulpen merah dan juga buku teman-temannya, akhirnya Winda bisa menyusul Yogha.

Ia menuju cafe di dekat sekolahnya menggunakan motor hitamnya, di dekat sekolahnya hanya ada satu cafe yaitu cafe christal jadi sudah pasti cafe itu yang dimaksud oleh Yogha. Winda memakirkan motornya, lalu berjalan menuju ke dalam cafe. Pandangan Winda langsung tertuju pada sosok laki-laki yang duduk sendiri di pojok cafe itu, Winda berjalan melangkahkan kakinya menuju tempat Yogha duduk.

"Maaf gue telat," kata Wulan.

"Hm," dehaman Yogha.

"Gue udah pesankan jus jeruk buat lo, lo minum dulu," ujar Yogha.

"Makasih," kata Wulan lalu ia meminum jus jeruk itu sedikit.

"Lo ngapain ngajak gue ke sini?" tanya Wulan.

"Jujur ajah, gue mau nanya lo masih suka sama gue?" tanya Yogha.

Winda yang mendengar pertanyaan itupun syok, habis makan apa cowok didepannya itu. Winda pun menetralkan ekspresinya lalu berkata, "enggak gue nggak suka lagi sama lo."

"Gue nggak tau lo ngomong fakta atau buka, gue cuma mau kasih tau lo kalau gue masih ada sedikit suka sama lo," kata Yogha.

Winda yang mendengar itu hanya bisa diam, ia bingung harus berbuat apa. Winda pikir cowok itu tidak menyukainya lagi karena tindakannya begitu bodoh amat pada dirinya, menyadari cowok itu menunggu balasannya dan Winda  begitu kemudian Winda pun berkata, "Ooo."

Winda yang mendengar itu hanya bisa diam, ia bingung harus berbuat apa. Winda pikir cowok itu tidak menyukainya lagi karena tindakannya begitu bodoh amat pada dirinya, menyadari cowok itu menunggu balasannya dan Winda  pun berkata, "Ooo."

"Gue pengen minta satu hal sama lo" kata Yogha.

"Apa?" tanya Winda.

"Gue pengen kita kek orang nggak kenal," ucap cowok itu.

"Kenapa?" tanya Winda

"Jujur gue pengen move on dari lo, gue nggak pengen perasaan ini makin bertambah. Gue nggak mau suka sama lo lagi terus gue nyakitin lo kek dulu," kata Yogha.

"Gue tau, gue pecundang karena menjauh dari lo tapi itu yang terbaik. Gue nggak mau lo sakit lagi karna gue," lanjut cowok itu.

"Mulai sekarang gue mau hidup gue ya hidup gue dan hidup lo ya hidup lo. Gue tau selama ini gue banyak nyakitin lo makanya gue nggak mau nyakitin lo lagi," ucap Yogha.

"Ta...," Ucapan Winda terpotong oleh Yogha.

"Nggak ada tapi-tapian, ini demi kebaikan kita. Gue mohon sama lo," kata cowok itu sambil menatap manik cowok itu.

"Oh ya gue ada urusan jadi gue duluan, minuman lo udah gue bayar jadi lo nggak perlu bayar lagi," Kata Yogha sambil pergi meninggalkan Winda.

Winda melihat gerak-gerik cowok itu, dari ia meninggalkan tempat duduknya hingga meninggalkan cafe itu. Jujur Winda sedih, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Selama ini ia hanya ingin hubungannya dan cowok itu membaik namun sepertinya keinginannya itu hanya sebatas keinginan saja.

 "apa susahnya sih kita balik lagi kek dulu, tanpa melibatkan perasaan," batin Winda

***

Beberapa minggu berlalu, setelah kejadian di cafe itu Winda pun menuruti perkataan cowok itu. Semuanya tanpa terkecuali, sebenarnya permintaan cowok itu membawa sedikit keuntungan bagi Winda karena ia juga bisa move on dari Yogha. Tanpa Yogha sadari secara diam-diam Winda masih terus memperhatikan Yogha dari jauh.

"Mungkin ini yang terbaik buat kita, Gha," batin Winda.

 jujur gue masih penasaran soal hubungan lo sama Sherin, Gha. Tapi gue nggak mau ganggu lo lagi, Gha," ucap Winda dalam hatinya.

“apa bener lo ada hubungan sama Sherin? Dan apa bener lo suka sama Sherin?” tanya Winda dalam benaknya.

“Tapi yasudahlah,” gumam Winda.

Waktu terus berjalan, tidak mempedulikan umat manusia yang menginginkannya untuk berhenti. Winda semakin terbiasa dengan dirinya yang baru ini, tanpa Yogha. Bahkan nama Yogha hampir tidak terucap dari mulutnya, sesungguhnya ini memang berat buat Winda tapi itu hanya diawalnya saja

-TAMAT-


Komentar

  1. Karena sebab inilah memendam perasaan dari awal menjadi pilihan yang baik.:(

    BalasHapus
  2. Urusan cinta anak sekolah memanglah selalu begini...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)