Cerita Pendek (Sebatas Mengaguminya)

 Sebatas Mengaguminya 

Sumber gambar : https://pin.it/1fMNYmB

Hari semakin sore, jalanan kota tampak semakin ramai setiap detiknya. Seluruh siswa siswi di Kota Bandung sudah berada di luar sekolahnya masing-masing tapi Bulan masih berada di sekolahnya yaitu SMA Harapan Bangsa, ia baru saja keluar dari ruang osis bersama Revy si ketua osis. Bulan baru saja selesai membahas hasil rapat bersama Revy, Bulan adalah sekretaris osis tentunya sudah menjadi tugasnya mencatat hasil rapat dan membantu Revy memahaminya jika ada yang tidak dipahami. 

Bulan berjalan beriringan dengan Revy di sampingnya. Mata Bulan melihat ke arah langit, terlihat jingga mulai menampakkan dirinya ditengah-tengah birunya langit. Bulan mengeluarkan handphonenya lalu memotret langit di atas kepalanya itu. Revy yang melihat aktivitas Bulan pun berhenti sesaat dari langkahnya, ia memperhatikan yang dilakukan gadis itu dengan detail. 

"Lo suka sama sunset?" tanya Revy. 

"Iya gue suka banget sama sunset," ucap Bulan. 

"Tapi gue lebih suka sama lo," lanjut Bulan dalam hatinya. 

Bulan memang menyukai Revy, sudah sedari kelas sepuluh dia menyukai cowok tampan blaster Belanda itu. Bahkan Bulan rela masuk osis hanya demi dekat dengan Revy, tidak hanya osis saja tapi juga organisasi pmr. 

Bulan dan Revy melanjutkan langkahnya menuju parkiran, tak begitu lama mereka berjalan beriringan akhirnya mereka pun sampai di parkiran. 

"Lan lo pulang sama siapa?" tanya Revy. 

"Gue dijemput sama supir gue," ucap Bulan.

" Tapi ini udah sore lo pulang sama gue ajah ya," ucap Revy menawarkan Bulan untuk pulang bersamanya.

"Nggak usah, nanti gue ngerepotin lo lagi," ucap Bulan menolak. 

"Nggakpapa, barengan ajah," ucap Revy. 

"Hm boleh deh," ucap Bulan lembut. 

Revy dan Bulan pun meninggalkan perkarangan SMA Harapan Bangsa menggunakan mobil hitam milik Revy, mereka menyusuri jalanan Kota Bandung yang terlihat cukup ramai. Sesaat setelah mereka berada di jalanan tiba-tiba Revy berhenti disebuah pusat perbelanjaan. 

"Lan gue mau beli cemilan dulu buat adek gue sih Jihan, lo bisa bantuin gue milih cemilannya nggak?" tanya Revy. 

"Bisa Rev," ucap Bulan. 

"Yaudah ayok turun, lo nggak mau beli cemilan?" tanya Revy. 

"Mau, soalnya stok cemilan gue udah habis di rumah," ucap Bulan. 

Mereka pun masuk ke pusat perbelanjaan lalu mengambil keranjang kecil dan mengambil cemilan-cemilan yang ada di sana. Bulan begitu tau selera Jihan karena Bulan begitu dekat adik kesayangan Revy itu, jadinya Bulan sangat gampang mencari cemilan yang disukai Jihan. 

Beberapa menit telah berlalu kini kedua insan itu sedang mengantri di kasir. Setelah sekitar lima menit mereka mengantri, mereka pun giliran mereka untuk membayar belanjaan mereka. Selesai berbelanja keduanya berjalan keluar pusat perbelanjaan itu dan langsung meninggalkan tempat itu. Revy mengendarai mobilnya, menyelusup di jalanan kota yang semakin sore. Revy pun telah sampai tepat di depan gerbang rumah Bulan. 

"Makasih ya Rev," ucap Bulan dengan tulus. 

"Sama-sama," kata Revy. 

"Gue pulang duluan ya," lanjut Revy.

"Hati-hati ya Rev," kata Bulan. 

Revy bergegas meninggalkan depan rumah Bulan. Bulan yang melihat kejadian itu hanya bisa tersenyum, dia begitu senang hari ini karena bisa menghabiskan begitu banyak waktu bersama orang yang ia kagumi itu. Bulan memasuki perkarangan rumahnya dan melangkah menuju rumahnya yaitu sekitar dua puluh langkah dari gerbang depan rumahnya itu. 
 
Saat malam hari, Bulan baru saja selesai mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Hari belum terlalu larut malam, Bulan berjalan menuju rooftop kamarnya. Melihat ke atas langit malam yang terlihat begitu gelap, dipenuhi oleh bintang-bintang dan tentu saja hal itu semakin menambah keindahan langit malam hari itu. Ditangannya terdapat sebuah benda pipih dengan logo apel dibelakangnya, ia melihat ke arah benda pipih itu dan tersenyum manis karena sosok pria yang berada di layar benda pipih itu. 

"Kenapa hati gue selalu berdebar setiap didekat lon Rev," gumam Bulan pada dirinya. 

"Apakah perasaan yang gue rasain juga ko rasain Rev?" tanya Bulan pada dirinya sendiri. 

"Sudah hampir dua tahun aku mengagumi mu entah apa yang membuat ku bertahan di tengah persaingan yang kuat untuk mendapatkan mu," gumam Bulan pelan pada dirinya. 

Begitu banyak wanita yang menyukai Revy, terutama di sekolahnya. Sosok pria yang ramah, humoris, kaya raya, tampan dan ketua osis tentu saja memikat begitu banyak wanita. Bulan beruntung bisa selalu menghabiskan waktu bersama Revy, berkedok tugas osis. Selama ini Revy tidak digosipkan memiliki pacar karena dirinya yang ramah dan friendly ke semua orang.

*** 

Setiap insan di SMA Harapan Bangsa sedang beraktivitas di kelasnya masing-masing, berbeda dengan insan lainnya Bulan dan Revy malah sedang berada di ruang osis. Mereka sedang menyusun rancangan osis yang akan diadakan dalam beberapa minggu kedepan yaitu tepatnya di hari ulang tahun SMA Harapan Bangsa. 

"Lan, ini udah jam makan siang. Lo lapar nggak?" tanya Revy. 

"Nggak Rev," ucap Bulan sambil melihat huruf-huruf yang ada dihadapannya itu. 

"Kalau gitu gue ke kantin dulu ya," ucap Rev sambil beranjak dari duduknya. 

"Yaudah hati-hati," kata Bulan pelan. 

Sekitar lima belas menit berlalu namun Bulan masih tetap berada di tempatnya, ia belum bergerak sedikit pun sedari tadi kecuali tangan-tangannya yang bermain-main di keyboard laptopnya itu. Tanpa disadari Bulan, Revy telah pulang dari kantin. Revy berjalan menuju tempat duduknya tadi sambil membawa kantong di tangan kanannya. 

"Ini makanan sama minumannya," ucap Revy sambil menyerahkan makanan dan minuman itu. 

"Gue tau lo lapar," lanjut Revy. 

"Makasih ya, bye the way ini harganya berapa biar gue ganti uangnya," ucap Bulan. 

"Nggak usah diganti, ambil ajah," kata Revy santai. 

"Beneran?" tanya Bulan. 

"Iya Bulan, yaudah ayok kita makan bareng," ucap Revy sambil membuka bungkusan nasi yang berada dihadapannya. 

Mereka pun makan bersama di ruangan itu, mereka makan sambil berbicara mengenai hal-hal yang akan diadakan selama beberapa hari ke depan. Selesai makan mereka pun melanjutkan kerja mereka dan setelah itu mereka menuju ke kelas masing-masing, Revy kelas XI IPS 1 sementara Bulan XI IPA 1. 

Disaat mendekati jam pulang sekolah, Revy berlari-larian menuju kelas XI IPA 1, ia mencari Bulan dengan tergesa-gesa. Seperti ada sesuatu yang berbahaya mengejar cowok tampan itu. 

"Lan, lo temenin gue ya lan," ucap Revy sambil terengah-engah. 

"Tarik napas dulu Rev," kata Bulan. 

"Emangnya kemana?" tanya Bulan. 

"Antar undangan ulang tahun sekolah ke tiga sekolah," ucap Revy. 

"Kan ada anak humas Rev," ucap Bulan. 

"Nah itu dia, anak humasnya nggak cukup. Satu sakit trus yang dua orang lagi pada pergi buat anterin undangan juga jadinya kurang," kata Revy panjang lebar. 

"Ooo," ucap Bulan. 

"Kok ooo doang sih, ayok temenin gue," ucap Revy sambil menarik tangan Bulan. 

"Iya Revy, nggak usah buru-buru juga Rev," ucap Bulan. 

"Nggak buru-buru gimana, semua sekolah udah hampir pulang," ucap Revy sambil terus menarik tangan Bulan ke parkiran. 

Mereka berdua pun menuju parkiran lalu bergegas keluar sekolah dengan mobil hitam Revy, mereka menyusuri jalanan Kota Bandung di siang hari yang terik itu. Mereka mendatangi satu persatu dari ketiga sekolah yang akan mereka berikan undangan. 

Selesai dengan tiga undangan itu mereka pun kembali ke sekolah. Saat memasuki perkarangan sekolah, sekolahnya tampak begitu sepi karena jam pulang sekolah sudah lewat sejak lima belas menit lalu. Mereka berjalan beriringan menuju kelas masing-masing. 

"Lan lo ambil tas terus lo pulang bareng gue ya," ucap Revy sambil jalan duluan meninggalkan Bulan.

"Kenapa sih kita selalu dekat, jantung gue semakin berdebar tiap harinya Rev," batin Bulan sambil memegang dadanya. 

"Gue harap lo rasain juga yang gue rasain Rev," ucap Bulan pelan. 

Selesai mengambil tas, keduanya pun pulang. Revy mengantar sama ditempat kemarin yaitu di depan gerbang rumah Bulan. Seusai mengantar Bulan, Revy langsung bergegas menuju rumahnya. Bulan masih tetap berada di depan gerbang rumahnya, melihat kepergian Revy dengan senyum tulus di bibir tipisnya itu. 

*** 

Malam ini Bulan pergi ke mall bersama adiknya yaitu Bintang, adik laki-laki kesayangan Bulan. Mereka ke mall untuk berbelanja, setelah cukup lama mereka tidak bisa berbelanja akibat sibuk dengan urusan masing-masing. Bulan dan bintang pergi ke pusat perbelanjaan, mereka membeli beberapa baju setelah itu mereka membeli sepatu dan juga skincare. 

Cukup lama mereka berada di mall, perut mereka pun lapar. Bintang dan Bulan memutuskan untuk makan di salah satu restoran Jepang, mereka memesan sushi dengan ikan tuna. Keduanya makan sambil bercerita mengenai kejadian-kejadian yang terjadi pada diri mereka, begitu banyak gelak tawa yang keluar dari lisan mereka.

Di ujung restoran itu terdapat dua insan yang sedang bersuap-suapan, dua insan itu juga saling bercanda tawa. Selesai dengan makanan mereka masing-masing, kedua insan itu keluar dari restoran itu dengan bergandengan tangga sambil bercerita dengan senyum manis dibibir. Kejadian itu tak luput dari pandangan Bulan sedari tadi, semenjak masuk restoran itu Bulan terus saja memperhatikan dua insan itu. 

Bulan dan Bintang selesai dengan makanan masing-masing, Bintang membayar terlebih dahulu makanan yang mereka makan setelah itu mereka keluar dari restoran itu. Bulan dan Bintang berjalan menuju parkiran mall dan segera pulang ke rumah mereka sambil menikmati jalanan kota. 

"Siapa wanita tadi itu?" pikir Bulan sambil melihat kearah jalanan malam hari yang dipenuhi dengan kendaraan.

"Kakak mikirin apa?" tanya Bintang. 

"Nggak ada kok dek," jawab Bulan bohong. 

"Mikirin dua orang yang di restoran tadikan?" tanya Bintang. Bulan yang mendengar itu sontak kaget. 

"Aku tau kak, udah nggak usah dipikirin," ucap Bulan. 

"Mungkin itu cuma teman dia, lagian dia juga ramai kesemua orang. Ya bisa dikatakan dia friendly kak," ucap Bintang yang diangguki Bulan. 

"Iya dia friendly kesemua orang, mungkin ajah itu cuma teman dia," batin Bulan. 

Setelah semalam Bulan menghabiskan waktunya bersama adiknya, kini Bulan menghabiskan waktunya bersama tugas-tugas osisnya. Jari jemari Bulan terus menari di atas keyboardnya itu, ditengah kesibukan Bulan tiba-tiba Revy datang lalu duduk di samping Bulan. 

"Gimana proposalnya lan?" tanya Revy. 

"Udah siap Rev, coba lo lihat ini," ucap Bulan sambil memperlihatkan proposal di laptopnya itu. 

"Menurut gue sih udah oke Lan, cuma masih ada typo jadi tolong lo perbaiki terus lo print ya," ucap Revy. 

"Okeh Rev," ucap Bulan sambil mengangguk. 

"Bye the way gue kemarin ketemu lo di mall sama cewek," kata Bulan to the point. 

"Lo lihat gue, kenapa nggak nyapa gue sih lan?" tanya Revy. 

"Nggak deh, soalnya lo sama cewek nanti gue ganggu lagi," ucap Bulan sambil melihat ke Revy. 

"Nggak kok Lan, lagian pacar gue juga pengen kenalan sama lo," ucap Revy. 

"Pacar?" tanya Bulan, Bulan berusaha menetralkan ekspresinya supaya Revy tidak mengetahui kalau dirinya begitu kaget dan juga sedih saat itu. 

"Iya, dia itu pacar gue," ucap Revy sambil mengangguk. 

"Gue sebenarnya udah punya pacar, namanya Santi. Gue pacaran sama Santi udah tiga bulan lebih, sebenarnya udah dari lama gue pengen kenalin dia ke lo tapi belum sempat. Santi juga tau lo dari gue, gue selalu cerita tentang lo ke dia. Gue bilang lo itu teman terbaik gue dan gue udah anggap lo sahabat gue," jelas Revy. 

"Oh, wah kurang ajar lo punya pacar tapi nggak mau kenalin ke gue," ucap Bulan dengan ekspresi yang berusaha dinetralkan oleh dirinya. 

"Lain kali kenali dia ke gue dong," lanjut Bulan sambil menatap manik mata Revy, berharap lelaki itu berbohong namun dari manik matanya tidak terpancarkan sedikit pun kebohongan. 

"Tenaga ajah Lan, gue pasti kenalin lo sama dia," ucap Revy sambil tersenyum. 

"Pacar lo anak mana?" tanya Bulan, sebenarnya info itu tidak penting bagi Bulan cuma ditanyakan Bulan sebagai formalitas saja. 

"Anak SMA Jaya Sakti," jawab Revy singkat. 

"Ooo," ucap Bulan. 

"Kalau gitu gue keluar dulu ya, mau bantu anak osis yang lain," ucap Revy meninggalkan Bulan sendirian di ruang osis. 

Kepergian dari Revy dilihat oleh Bulan, dalam sekejab bulir bening mengalir di pipi Bulan. Bulan menghapus bulir bening itu, diiringi dengan isak tangisnya yang begitu pelan volumenya. Bulan terus menatap punggung Revy, hingga sosok itu menghilang dari tatapan matanya. 

"Gue pikir selama ini lo punya perasaan yang sama kek yang gue rasain," batin Bulan.

"Ternyata gue salah," ucap Bulan pada dirinya. 

Usai semalam Bulan mengetahui kebenaran yang begitu menyiksa dirinya. Hari ini Bulan memutuskan untuk tidak sekolah, dia memberikan alasan sakit padahal dirinya baik-baik saja. Sebenarnya alasannya tidak sepenuhnya bohong karena dirinya sedang sakit juga saat ini yaitu hatinya yang sakit. 

Bintang yang mengetahui kakaknya yang tidak sekolah, ia pun ikut tidak sekolah. Bintang tau kalau kakaknya tidak sakit tapi ada hal lain yang membuat kakaknya tidak ingin ke sekolah. Untung saja orang tua mereka sedang diluar kota, jika sampai kedua orang tuannya tau kalau kedua anaknya bolos sekolah pasti uang jajan mereka akan dipotong. 

"Kak siap-siap, temenin gue bentar ya," ucap Bintang. 

Tanpa tau adiknya itu akan membawanya ke mana, ia hanya segera bersiap-siap lalu masuk ke mobil menunggu adiknya yang belum keluar. Ketika adiknya keluar, mereka pun langsung bergegas meninggalkan rumah menuju ke tempat yang hanya diketahui oleh Bintang. Perjalanan yang cukup jauh membuat Bulan tertidur di dalam mobil, melihat kakaknya yang tertidur ia pun melepaskan jaketnya lalu memakaikannya kepada kakaknya supaya tidak kedinginan. Sekitar empat puluh lima menit berlalu akhirnya mereka pun sampai ke tempat tujuan. 

"Kak bangun kak, kita udah sampai," ucap Bintang sambil menggoyangkan badan kakaknya. 

Bulan membuka matanya, menetralkan pengelihatannya dengan cahaya yang masuk ke dalam matanya kemudian mengumpulkan semua nyawanya yang masih tersisa di dalam dunia tidurnya itu. 

"Pantai," kata Bulan datar sambil melihat adiknya. 

"Iya pantai, gue tau lo nggak sakit tapi lo punya masalah makanya lo nggak mau sekolah," kata Bintang. 

"Udah keluar yuk," lanjut Bintang. 

Bintang dan Bulan pun keluar dari mobil, mereka berjalan menyusuri pantai itu. Pantai itu terlihat sepi di hari-hari biasa seperti sekarang ini tapi akan terlihat ramai sekali di hari-hari libur. Mereka berjalan sambil bermain kejar-kejaran, foto-foto dan bercanda tawa. Saat ini mereka sedang berada di depan mobil mereka duduk di tikar yang dibawa oleh Bintang dan makan cemilan yang disiapkan oleh Bintang, Bulan sama sekali tidak tau kalau adiknya meletakan tikar dan cemilan di kursi belakang mobilnya dan Bulan baru saja tau tadi. 

"Sekarang kakak cerita," ucap Bintang datar. 

"Cerita apa?" tanya Bulan seolah-olah tidak tau. 

"Nggak usah pura-pura nggak tau, cepetan cerita daripada dipendam mulu," ucap Bintang dalam satu tarikan nafas. 

"Cewek yang sama dia di mall kemarin itu pacar dia," kata Bulan pelan. Bintang yang mendengar hal itu pun kaget dan langsung melihat ke arah Bulan. 

"Gue marah dek, cuma gue nggak tau mau marah sama siapa," lanjut Bulan sambil menatap kosong ke air dihadapannya. 

"Gue juga kecewa dek, kesel, capek, sedih. Semuanya deh campur aduk jadi satu," tutur Bulan masih dengan tatapan kosong. 

"Gini ya kak, nggak semua hal yang kita suka bakal jadi milik kita dan nggak semua hal yang kita harapkan bakal terjadi sesuai ekspektasi kita," jelas Bintang yang diangguki Bulan. 

"Kakak nggak perlu marah sama siapapun, karena ini semua terjadi sesuai sama takdir dan jalannya kak," lanjut Bulan sambil mengusap bahu kakaknya itu. 

Bintang dan Bulan berada di pantai itu hingga sunset tiba, mereka berfoto-foto disana. Bulan begitu menikmati sunset itu, seakan-akan beban dihatinya terangkat semua seperti tidak tersisa sedikit pun untuk menciptakan kesedihan dalam dirinya. 

*** 

Hari ini Bulan sekolah, ia masih sibuk dengan tugas osisnya. Saat ini Bulan bersama Revy sedang membahas proposal kemarin, mereka sangat serius membahas proposal itu. Dibalik itu semua ada Bulan yang menahan debaran jantungnya agar tidak semakin berdetak dan berusaha mengurangi kekaguman dirinya pada Revy supaya tidak berlanjut menjadi masalah baru nantinya. 

"Lan gue beli makan dulu ya buat kita ke kantin," kata Revy. 

"Nggak usah gue bawa bekal kok," kata Bulan sambil menunjuk kotak bekalnya. 

"Yaudah, oh ya nanti lo pulang bareng gue ya," ucap Bintang. 

"Tapi gue bawa mobil jadi nggak usah ya," ujar Bulan sambil menatap mata Revy. 

"Tumben lo bawa mobil?" tanya Revy. 

"Soalnya supir gue sakit," jawab Bulan bohong padahal dirinya sendiri yang ingin membawa mobil.

"Ooo yaudh, kalau gitu gue pergi dulu ya," ucap Revy sambil beranjak meninggalkan Bulan. 

"Maafin gue, gue harus menjauh dari lo supaya perasaan ini nggak bertambah biar nggak jadi kesalahan dan masalah besar nantinya," batin Bulan. 

"Gue tau, gue cuma bisa mengagumi lo doang," lanjut Bulan. 

Bulan harus bersikap profesional sebagai sekretaris osis dan Bulan juga harus tetap menjadi sahabat sekaligus teman bagi Revy yang diiringi penghindaran dirinya. Sebenarnya itu berat bagi Bulan namun Bulan tidak punya pilihan lain selain menerima semua hal itu dengan lapang dada. Begitulah hal-hal yang terjadi setiap harinya, Bulan menghindar dari Revy namun Revy tidak menyadari Bulan menghindari dirinya karena Bulan tetap ada buat Revy namun perasaan Bulan yang terus diusir pergi oleh Bulan setiap harinya

-TAMAT- 

Komentar

  1. Kadang-kadang cowok itu ga kasih harapan cuma emang dia baik aja ke semua orang sampe bikin kita kebawa perasaan. :"

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)