Cerita Pendek (Pemenang di Hati)

 Pemenang di Hati

Sumber gambar :https://pin.it/63zbBNt

Sinar matahari terlihat begitu terang benderang di siang hari ini, seorang gadis sedang berolahraga di lapangan SMA Pelita Bangsa. Gerakannya begitu lincah memasukkan bola basket ke ringnya, terciptalah satu point dari gerakannya itu. Disisi lain dari lapangan itu terlihat segerombolan cowok yang sedang bercanda tawa di setiap langkahnya.

"Tawanya begitu manis," batin gadis itu.

"Sudah lima tahun berlalu dan semuanya masih sama," lanjut gadis itu.

"Senyumnya masih menjadi candu bagi ku," ucap gadis itu dalam hatinya.

Gadis itu bernama Silvan Adeh Chiara biasa di panggil Chiara. Ia anak kelas sepuluh, yang baru saja menjadi murid di SMA Pelita Bangsa beberapa bulan lalu. Alasan ia memasuki sekolah itu bukan hanya karena sekolahnya ternama ataupun keinginan hatinya, ada keinginan lain yang terpendam dalam lubuk hatinya yaitu ingin selalu melihat Nael. Nael atau yang bernama panjang Abinael Kurniawan yaitu cowok yang berada di gerombolan tadi.

Nael adalah cowok yang ia sukai sedari dulu, sudah bertahun-tahun ia memendam rasa pada cowok itu. Dahulu semasa SMP mereka bersekolah di satu sekolah, pada masa itu tersebar gosip ia menyukai Nael dan tentu saja gosip itu sampai ditelinga Nael. Entah kenapa Nael terlihat biasa saja saat mendengar gosip itu seperti tidak ada yang ia dengar.

Hari semakin siang, suasana semakin terik. Usai olahraga, Chiara menuju ke kantin bersama Naura dan Winda. Memakan semangkuk bakso dan meminum segelas es teh manis menjadi pilihan Chiara di siang hari ini. Seseorang muncul dari pintu kantin, menyita pandangannya. Menatap tiap geraknya, dengan jantung yang semakin berdebar. Di setiap tatapan Chiara tidak dibalas hingga tatapan mereka tanpa sengaja saling bertemu.

"Mampus gue," batin Chiara yang baru saja menyadari tatapan mereka bertemu.

Chiara mengigit bibir bawahnya, berusaha menetralkan detak jantungnya yang semakin kencang saat ini. Semoga saja kedua temannya itu tidak mendengar detak jantungnya. Chiara tidak berani menatap kemana pun saat ini, ia terus menatap bakso dihadapannya itu.

Naura yang melihat keanehan Chiara pun mengeryitkan dahinya lalu bertanya, "lo kenapa?"

"Ng-ngak gue nggakpapa kok," kata Chiara terbata-bata sambil menganggukkan kepalanya.

"Yakin?" tanya Winda. Chiara yang mendengar pertanyaan itupun mengangguk.

Hari semakin larut dengan waktunya, saatnya pulang sekolah. Ketika murid-murid lain sibuk untuk keluar dari sekolah ini, maka itu berbeda dengan Chiara yang masih santai di kelasnya. Chiara akan pulang lambat hari ini karena ia ada latihan olimpiade biologi sebentar lagi. Chiara melangkahkan kakinya menuju ke arah laboratorium, ditengah perjalanannya itu tiba-tiba ia tertabrak dengan Nael.

"Ma-maaf bang," ucap Chiara terbata-bata.

Jantung Chiara semakin berdebar saat ini, ia hanya berharap detak jantungnya tidak didengar oleh cowok dambaan di depannya sekarang ini. Tangannya begitu telaten mengambil buku-buku dan kertas yang terjatuh akibat tabrakan tadi, Nael membantunya dan hal itu sama sekali tidak membantu Chiara sebab jantungnya semakin berdetak cepat.

"Ma-makasih bang," kata Chiara sambil pergi meninggalkan Nael sendirian.

"Dia kenapa coba," ucap Nael heran sambil melihat punggung Chiara yang pergi semakin jauh.

"Aneh, apa karena kejadian bertahun-tahun lalu," gumam Nael.

"Dia menyukaiku ku? Hm mungkin itu hanya masalalu," batin Nael.

Chiara pergi ke laboratorium biologi, ia memasuki ruangan itu dengan jantung yang masih berdebar. Jarak ia dan Nael saat ini sudah jauh tapi jantungnya masih saja berdebar. Ia berusaha menetralkan detak jantungnya, ia memegang dadanya lalu menarik dan menghembuskan napasnya. Setelah berhasil menetralkan debaran jantungnya, Chiara pun mengikuti pelatihan olimpiade biologi itu hingga selesai.

***
Kemarin jantungnya dibuat berdebar lebih kencang, apakah hari ini juga harus sama seperti kemarin?. Chiara baru saja menemukan kunci motor Nael, ia menemukannya ketika ia berjalan tidak jauh dari cowok itu dan kunci itu terjatuh dari sakunya tanpa diketahuinya.01:24

Jam pelajaran sudah berakhir, saat ini jam pulang sekolah sedang berlangsung. Parkiran sekolah mulai sepi, Nael terlihat kebingungan di sana ia sedang mencari kunci motornya kesana sini. Chiara yang menggenggam kunci motor Nael pun berjalan mendekati cowok itu, sungguh jantungnya berdebar kencang saat ini.

"I-ini kuncinya bang," ujar Chiara sambil menyerahkan kuncinya.

"Lo ketemu dimana?" tanya Nael.

"I-itu di dekat motor gue," kata Chiara.

Nael melihat ekspresi gadis dihadapannya ini sedikit aneh, ia ingat dihadapannya itu seorang gadis yang tidak sengaja tertabrak dengannya kemarin. Ia mengeryitkan dahinya, ia berpikir apakah ada yang menakutkan darinya hingga membuat gadis dihadapannya itu begitu gugup lalu Nael pun berkata, "Makasih ya udah nemuin kunci gue." Chiara yang mendengar itupun menganggukkan kepalanya.

Chiara pergi dari hadapan Nael, mengeluarkan motor scoppynya dari tempat parkiran dan bergegas keluar dari perkarangan sekolahnya itu. Chiara segera pulang ke rumah karena sebentar lagi ia akan kembali ke sekolahnya untuk mengikuti ekstrakurikuler PMR, ia sangat suka mengikuti kegiatan ekstrakurikuler itu.

Beberapa jam berlalu, saat ini Chiara sudah disekolah memakai pakaian latihan PMR. Ia berjalan menuju tempat ia akan latihan, betapa kagetnya ia ketika melihat anak paskibra juga latihan dihari ini. Chiara memang mendengar kabar dari temannya yang anak paskibra, jika paskibra akan memindahkan jadwalnya karena setiap mereka latihan selalu memperebutkan lapangan dengan anak pramuka. Namun Chiara tidak menyangka jika latihan anak paskibra akan dipindahkan dihari yang sama bersama anak PMR.

"Bang Nael, anak paskibra. Hm bakal sering senam jantung ni gue," batin Chiara.

Chiara baru saja selesai mengerjakan PR, ia baru selesai menyelesaikannya saat jam sepuluh malam. Ia tertidur saat pulang latihan PMR tadi makanya ia baru bisa menyelesaikan tugasnya sekarang, biasanya ia sudah menyelesaikan PR jam delapan malam. Chiara merebahkan tubuhnya di kasur king sizenya, ia membuka sosial medianya. Dahi Chiara mengeryitkan saat melihat story Nael dengan emot love, wanita yang ada di story Nael itu kakak kelasnya yang hitz.

"Apa itu pacarnya?" tanya Chiara pada dirinya.

"Tapi kapan mereka jadian?" tanya Chiara lagi.

Pagi ini Chiara pergi ke sekolah dengan segudang pertanyaan di kepalanya, ini semua gara-gara story Nael tadi malam. Chiara memarkirkan motornya, kedatangan Nael bersama seorang wanita berhasil menyita perhatiannya. Chiara terus melihat mereka, mereka terlihat begitu dekat bahkan seperti orang pacaran.

"Lo ngapain lihat bang Nael sampai segitunya?" tanya Naura teman Chiara yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Chiara.

"Nggakpapa kok," kata Chiara sambil menggelengkan kepalanya.

"Lo heran lihat mereka dekat?" tanya Naura. Chiara yang mendengar pertanyaan itupun menganggukkan kepalanya.

"Mereka baru jadian kemarin, ya wajar ajah mereka pamer kemesraan kek gitu," kata Naura.

"Menurut gue mereka cocok sama-sama most wanted disekolah kita," lanjut Naura.

Chiara kaget mengetahui hal itu namun tidak sepenuhnya karena ia juga sempat berpikir seperti itu, lalu ia berkata, "iya mereka cocok banget."

Chiara dan Naura pun berjalan beriringan bersama-sama menuju kelas mereka. Chiara sesekali melihat ke arah belakang, sungguh ia iri dengan kebersamaan dua sejoli itu namun ia tidak bisa berbuat apapun. Ia marah pada dirinya karena tidak berusaha mendekati Nael namun ia juga trauma karena dulu semasa SMP ia pernah berusaha mendekati Nael namun selalu diabaikan dan tidak pernah dianggap oleh cowok itu. Begitu teringat di memori Chiara, dahulu semua orang mengetahui ia menyukai Nael karena Chiara suka memberikannya bekal, minuman dan selalu menonton pertandingannya walaupun tidak pernah diundang oleh Nael sedikit pun. Bahkan dahulu Chiara rela menjadi mayoret agar menarik perhatian Nael sebab di SMPnya mayoret begitu diidamkan tapi hal yang dilakukan Chiara tetap saja tidak menarik perhatian Nael.01:24

Jam makan siang tiba, semua siswa buru-buru menuju kantin. Chiara pun begitu, ia pergi ke kantin bersama kedua temannya. Sesampainya di kantin Chiara melihat Nael bersama wanita itu lagi, sungguh ia bosan melihat pemandangan itu. Semua meja kosong kecuali meja yang berada di seberang meja Nael itu, mau tidak mau Chiara dan kedua temannya pun makan disitu. Chiara memakan mie ayam didampingi air asam, sungguh perpaduan yang nikmat namun pandangan tak lepas dari dua sejoli di seberang mejanya.

"Bertahun-tahun lamanya aku tidak pernah mundur darinya," batin Chiara.

"Mungkin ini saatnya aku mundur," lanjut Chiara.

"Aku mungkin bisa melawan ribuan cewek yang menyukai dia tapi aku tidak bisa melawan satu wanita yang ia sukai," kata Chiara dalam hatinya.

***
Berbulan-bulan berlalu, Chiara sekarang sudah di kelas sebelas. Kelas Chiara bersebelahan dengan kelas Nael, sungguh dunia memang selebar daun kelor. Mungkin karena tidak ada kenangan bahagia yang Nael ciptakan dalam hidup Chiara jadinya Chiara sungguh cepat move on darinya. Sungguh sekarang Chiara tidak suka lagi pada Nael, namun entah mengapa semuanya terasa canggung. Chiara sudah menyukai orang lain yaitu Ryan salah satu abang kelasnya, bahkan Chiara sudah berpacaran dengan abang kelasnya itu sedari dua bulan lalu.

"Ni makan," ucap cowok dengan suara barito sambil memberikannya sebungkus roti isi.

Chiara melihat uluran roti itupun dan berkata, "Makasih ya bang Ryan."

"Sama-sama, jangan lupa dimakan ya," katanya. Chiara yang mendengar itupun menganggukkan kepalanya.

"Nanti kita makan siang di kantin ya, aku yang jemput kamu ke kelas," kata Ryan sambil menatap wajah Chiara yang begitu cantik dimatanya.

"Ingat jangan kemana-mana sebelum aku datang ya," ujar Ryan yang kembali diangguki Chiara.01:24

Ryan pergi dari kelas Chiara karena jam pelajaran akan segera dimulai dalam beberapa menit kedepan, Chiara melihat punggung pacarnya itu sambil tersenyum hingga hilang saat pacarnya semakin jauh dari pandangan matanya. Chiara pun mengikuti pelajaran seperti biasanya hingga jam istirahat pun tiba, seperti kata Ryan tadi Chiara tidak pergi kemana pun sebelum Ryan menjemputnya.

"Chiara," teriak dari arah pintu berhasil menyita perhatian Chiara dari novel yang ia baca.

"Ayok kita ke kantin," ajak orang itu. Chiara pun pergi bersama orang itu ke kantin.

"Kok bang Ryan lama banget jemput aku?" tanya Chiara.

"Sorry, tadi abang dipanggil sama Pak Bagas," kata Ryan.

"Kenapa" tanya Chiara.

"Pak Bagas minta aku buat bantu ngelatih anak basket yang akan tanding bentar lagi," jelas Ryan.

"Ooo," balas Chiara singkat.

Kedua sejoli itu berjalan beriringan menuju kantin, sesekali Ryan mengusili Chiara dengan memainkan rambutnya. Gadis itu sungguh lucu ketika sedang sebal pada dirinya. Saat mereka sampai di kantin mereka pun mencari tempat untuk makan, namun semua meja penuh hanya ada satu meja yang tersisa yaitu meja diseberang Nael. Dunia sungguh sepi, terkadang Chiara juga bingung mengapa takdir selalu menemukan ia dan Nael padahal sekolahnya itu sangat besar sekali.

Ryan meninggalkan Chiara sendirian, cowok itu pergi memesan makanan dahulu. Saat Ryan meninggalkan Chiara, tanpa sengaja Chiara melihat kemesraan Nael bersama pacarnya. Chiara yang melihat itupun hanya tersenyum, sungguh beruntung pacarnya itu karena ditengah kesibukannya dalam membuka usaha ia tetap saja perhatian pada wanitanya. Meskipun Chiara tidak menyukai Nael lagi, namun Chiara tetap tau hal-hal yang berhubungan dengan Nael meskipun tidak semuanya.

"Aku memang bisa tidak menyukai mu lagi tapi untuk melupakanmu itu tidak bisa, aku punya memori untuk mengingat setiap hal termasuk diri mu Nael," batin Chiara.

"Ryan memang pacar ku, aku hampir mengetahui segala hal tentang dia tapi aku juga mengetahui tentang diri mu meskipun hanya sebagian," lanjut batin Chiara.

"Memang benar diri mu tidak pernah berkontribusi dalam diri baik membuat ku bahagia, membantu ku, bermain bersama ku atau hal lainnya. Tapi kamu tetap pemenang di hati ku Nael," kata Chiara dalam hatinya.

"Aku tidak tau kenapa kamu menjadi pemenang di hati ku, mungkin karena kamu paling lama di hati ku," pikir Chiara.

Di tengah lamunan Chiara tiba-tiba Ryan datang membawa dua mangkuk bakso dan dua gelas air asam. Mereka menikmati makanan mereka sambil bercanda tawa sama seperti penghuni meja seberang, mereka menikmati somay dan es tes manis sambil bercanda tawa. Semuanya berjalan semestinya, berjalan lancar sesuai dengan takdirnya masing-masing.01:25

-TAMAT-

Komentar

  1. Keren, Chlara! Mengambil sikap bijak untuk enggak enggak egois dalam mempertahankan perasaan yang pada akhirnya cuma buang-buang waktu. Chlara di sini sudah cukup dewasa dalam berpikir. ^^

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)