Cerita Pendek (Pemenang di Hati)
Pemenang di Hati
Sinar matahari terlihat begitu
terang benderang di siang hari ini, seorang gadis sedang berolahraga di
lapangan SMA Pelita Bangsa. Gerakannya begitu lincah memasukkan bola basket ke
ringnya, terciptalah satu point dari gerakannya itu. Disisi lain dari lapangan
itu terlihat segerombolan cowok yang sedang bercanda tawa di setiap langkahnya.
"Tawanya begitu manis," batin gadis itu.
"Sudah lima tahun berlalu dan semuanya masih sama," lanjut gadis itu.
"Senyumnya masih menjadi candu bagi ku," ucap gadis itu dalam
hatinya.
Gadis itu bernama Silvan Adeh Chiara biasa di panggil Chiara. Ia anak kelas
sepuluh, yang baru saja menjadi murid di SMA Pelita Bangsa beberapa bulan lalu.
Alasan ia memasuki sekolah itu bukan hanya karena sekolahnya ternama ataupun
keinginan hatinya, ada keinginan lain yang terpendam dalam lubuk hatinya yaitu
ingin selalu melihat Nael. Nael atau yang bernama panjang Abinael Kurniawan
yaitu cowok yang berada di gerombolan tadi.
Nael adalah cowok yang ia sukai sedari dulu, sudah bertahun-tahun ia memendam
rasa pada cowok itu. Dahulu semasa SMP mereka bersekolah di satu sekolah, pada
masa itu tersebar gosip ia menyukai Nael dan tentu saja gosip itu sampai
ditelinga Nael. Entah kenapa Nael terlihat biasa saja saat mendengar gosip itu
seperti tidak ada yang ia dengar.
Hari semakin siang, suasana semakin terik. Usai olahraga, Chiara menuju ke
kantin bersama Naura dan Winda. Memakan semangkuk bakso dan meminum segelas es
teh manis menjadi pilihan Chiara di siang hari ini. Seseorang muncul dari pintu
kantin, menyita pandangannya. Menatap tiap geraknya, dengan jantung yang
semakin berdebar. Di setiap tatapan Chiara tidak dibalas hingga tatapan mereka
tanpa sengaja saling bertemu.
"Mampus gue," batin Chiara yang baru saja menyadari tatapan mereka
bertemu.
Chiara mengigit bibir bawahnya, berusaha menetralkan detak jantungnya yang
semakin kencang saat ini. Semoga saja kedua temannya itu tidak mendengar detak
jantungnya. Chiara tidak berani menatap kemana pun saat ini, ia terus menatap
bakso dihadapannya itu.
Naura yang melihat keanehan Chiara pun mengeryitkan dahinya lalu bertanya,
"lo kenapa?"
"Ng-ngak gue nggakpapa kok," kata Chiara terbata-bata sambil
menganggukkan kepalanya.
"Yakin?" tanya Winda. Chiara yang mendengar pertanyaan itupun mengangguk.
Hari semakin larut dengan waktunya, saatnya pulang sekolah. Ketika murid-murid
lain sibuk untuk keluar dari sekolah ini, maka itu berbeda dengan Chiara yang
masih santai di kelasnya. Chiara akan pulang lambat hari ini karena ia ada
latihan olimpiade biologi sebentar lagi. Chiara melangkahkan kakinya menuju ke
arah laboratorium, ditengah perjalanannya itu tiba-tiba ia tertabrak dengan
Nael.
"Ma-maaf bang," ucap Chiara terbata-bata.
Jantung Chiara semakin berdebar saat ini, ia hanya berharap detak jantungnya
tidak didengar oleh cowok dambaan di depannya sekarang ini. Tangannya begitu
telaten mengambil buku-buku dan kertas yang terjatuh akibat tabrakan tadi, Nael
membantunya dan hal itu sama sekali tidak membantu Chiara sebab jantungnya
semakin berdetak cepat.
"Ma-makasih bang," kata Chiara sambil pergi meninggalkan Nael
sendirian.
"Dia kenapa coba," ucap Nael heran sambil melihat punggung Chiara
yang pergi semakin jauh.
"Aneh, apa karena kejadian bertahun-tahun lalu," gumam Nael.
"Dia menyukaiku ku? Hm mungkin itu hanya masalalu," batin Nael.
Chiara pergi ke laboratorium biologi, ia memasuki ruangan itu dengan jantung
yang masih berdebar. Jarak ia dan Nael saat ini sudah jauh tapi jantungnya
masih saja berdebar. Ia berusaha menetralkan detak jantungnya, ia memegang
dadanya lalu menarik dan menghembuskan napasnya. Setelah berhasil menetralkan
debaran jantungnya, Chiara pun mengikuti pelatihan olimpiade biologi itu hingga
selesai.
Jam pelajaran sudah berakhir, saat
ini jam pulang sekolah sedang berlangsung. Parkiran sekolah mulai sepi, Nael
terlihat kebingungan di sana ia sedang mencari kunci motornya kesana sini.
Chiara yang menggenggam kunci motor Nael pun berjalan mendekati cowok itu,
sungguh jantungnya berdebar kencang saat ini.
"I-ini kuncinya bang," ujar Chiara sambil menyerahkan kuncinya.
"Lo ketemu dimana?" tanya Nael.
"I-itu di dekat motor gue," kata Chiara.
Nael melihat ekspresi gadis dihadapannya ini sedikit aneh, ia ingat
dihadapannya itu seorang gadis yang tidak sengaja tertabrak dengannya kemarin.
Ia mengeryitkan dahinya, ia berpikir apakah ada yang menakutkan darinya hingga
membuat gadis dihadapannya itu begitu gugup lalu Nael pun berkata,
"Makasih ya udah nemuin kunci gue." Chiara yang mendengar itupun
menganggukkan kepalanya.
Chiara pergi dari hadapan Nael, mengeluarkan motor scoppynya dari tempat
parkiran dan bergegas keluar dari perkarangan sekolahnya itu. Chiara segera
pulang ke rumah karena sebentar lagi ia akan kembali ke sekolahnya untuk
mengikuti ekstrakurikuler PMR, ia sangat suka mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler itu.
Beberapa jam berlalu, saat ini Chiara sudah disekolah memakai pakaian latihan
PMR. Ia berjalan menuju tempat ia akan latihan, betapa kagetnya ia ketika
melihat anak paskibra juga latihan dihari ini. Chiara memang mendengar kabar
dari temannya yang anak paskibra, jika paskibra akan memindahkan jadwalnya
karena setiap mereka latihan selalu memperebutkan lapangan dengan anak pramuka.
Namun Chiara tidak menyangka jika latihan anak paskibra akan dipindahkan dihari
yang sama bersama anak PMR.
"Bang Nael, anak paskibra. Hm bakal sering senam jantung ni gue,"
batin Chiara.
Chiara baru saja selesai mengerjakan PR, ia baru selesai menyelesaikannya saat
jam sepuluh malam. Ia tertidur saat pulang latihan PMR tadi makanya ia baru
bisa menyelesaikan tugasnya sekarang, biasanya ia sudah menyelesaikan PR jam
delapan malam. Chiara merebahkan tubuhnya di kasur king sizenya, ia membuka
sosial medianya. Dahi Chiara mengeryitkan saat melihat story Nael dengan emot
love, wanita yang ada di story Nael itu kakak kelasnya yang hitz.
"Apa itu pacarnya?" tanya Chiara pada dirinya.
"Tapi kapan mereka jadian?" tanya Chiara lagi.
Pagi ini Chiara pergi ke sekolah dengan segudang pertanyaan di kepalanya, ini
semua gara-gara story Nael tadi malam. Chiara memarkirkan motornya, kedatangan
Nael bersama seorang wanita berhasil menyita perhatiannya. Chiara terus melihat
mereka, mereka terlihat begitu dekat bahkan seperti orang pacaran.
"Lo ngapain lihat bang Nael sampai segitunya?" tanya Naura teman
Chiara yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Chiara.
"Nggakpapa kok," kata Chiara sambil menggelengkan kepalanya.
"Lo heran lihat mereka dekat?" tanya Naura. Chiara yang mendengar
pertanyaan itupun menganggukkan kepalanya.
"Mereka baru jadian kemarin, ya wajar ajah mereka pamer kemesraan kek
gitu," kata Naura.
"Menurut gue mereka cocok sama-sama most wanted disekolah kita,"
lanjut Naura.
Chiara kaget mengetahui hal itu namun tidak sepenuhnya karena ia juga sempat
berpikir seperti itu, lalu ia berkata, "iya mereka cocok banget."
Chiara dan Naura pun berjalan beriringan bersama-sama menuju kelas mereka.
Chiara sesekali melihat ke arah belakang, sungguh ia iri dengan kebersamaan dua
sejoli itu namun ia tidak bisa berbuat apapun. Ia marah pada dirinya karena
tidak berusaha mendekati Nael namun ia juga trauma karena dulu semasa SMP ia
pernah berusaha mendekati Nael namun selalu diabaikan dan tidak pernah dianggap
oleh cowok itu. Begitu teringat di memori Chiara, dahulu semua orang mengetahui
ia menyukai Nael karena Chiara suka memberikannya bekal, minuman dan selalu
menonton pertandingannya walaupun tidak pernah diundang oleh Nael sedikit pun.
Bahkan dahulu Chiara rela menjadi mayoret agar menarik perhatian Nael sebab di
SMPnya mayoret begitu diidamkan tapi hal yang dilakukan Chiara tetap saja tidak
menarik perhatian Nael.01:24
Jam makan siang tiba, semua siswa
buru-buru menuju kantin. Chiara pun begitu, ia pergi ke kantin bersama kedua
temannya. Sesampainya di kantin Chiara melihat Nael bersama wanita itu lagi,
sungguh ia bosan melihat pemandangan itu. Semua meja kosong kecuali meja yang
berada di seberang meja Nael itu, mau tidak mau Chiara dan kedua temannya pun
makan disitu. Chiara memakan mie ayam didampingi air asam, sungguh perpaduan
yang nikmat namun pandangan tak lepas dari dua sejoli di seberang mejanya.
"Bertahun-tahun lamanya aku tidak pernah mundur darinya," batin
Chiara.
"Mungkin ini saatnya aku mundur," lanjut Chiara.
"Aku mungkin bisa melawan ribuan cewek yang menyukai dia tapi aku tidak
bisa melawan satu wanita yang ia sukai," kata Chiara dalam hatinya.
"Ni makan," ucap cowok dengan suara barito sambil memberikannya sebungkus roti isi.
Chiara melihat uluran roti itupun dan berkata, "Makasih ya bang Ryan."
"Sama-sama, jangan lupa dimakan ya," katanya. Chiara yang mendengar itupun menganggukkan kepalanya.
"Nanti kita makan siang di kantin ya, aku yang jemput kamu ke kelas," kata Ryan sambil menatap wajah Chiara yang begitu cantik dimatanya.
"Ingat jangan kemana-mana sebelum aku datang ya," ujar Ryan yang kembali diangguki Chiara.01:24
Ryan pergi dari kelas Chiara karena
jam pelajaran akan segera dimulai dalam beberapa menit kedepan, Chiara melihat
punggung pacarnya itu sambil tersenyum hingga hilang saat pacarnya semakin jauh
dari pandangan matanya. Chiara pun mengikuti pelajaran seperti biasanya hingga
jam istirahat pun tiba, seperti kata Ryan tadi Chiara tidak pergi kemana pun
sebelum Ryan menjemputnya.
"Chiara," teriak dari arah pintu berhasil menyita perhatian Chiara
dari novel yang ia baca.
"Ayok kita ke kantin," ajak orang itu. Chiara pun pergi bersama orang
itu ke kantin.
"Kok bang Ryan lama banget jemput aku?" tanya Chiara.
"Sorry, tadi abang dipanggil sama Pak Bagas," kata Ryan.
"Kenapa" tanya Chiara.
"Pak Bagas minta aku buat bantu ngelatih anak basket yang akan tanding
bentar lagi," jelas Ryan.
"Ooo," balas Chiara singkat.
Kedua sejoli itu berjalan beriringan menuju kantin, sesekali Ryan mengusili
Chiara dengan memainkan rambutnya. Gadis itu sungguh lucu ketika sedang sebal
pada dirinya. Saat mereka sampai di kantin mereka pun mencari tempat untuk
makan, namun semua meja penuh hanya ada satu meja yang tersisa yaitu meja
diseberang Nael. Dunia sungguh sepi, terkadang Chiara juga bingung mengapa
takdir selalu menemukan ia dan Nael padahal sekolahnya itu sangat besar sekali.
Ryan meninggalkan Chiara sendirian, cowok itu pergi memesan makanan dahulu.
Saat Ryan meninggalkan Chiara, tanpa sengaja Chiara melihat kemesraan Nael
bersama pacarnya. Chiara yang melihat itupun hanya tersenyum, sungguh beruntung
pacarnya itu karena ditengah kesibukannya dalam membuka usaha ia tetap saja
perhatian pada wanitanya. Meskipun Chiara tidak menyukai Nael lagi, namun
Chiara tetap tau hal-hal yang berhubungan dengan Nael meskipun tidak semuanya.
"Aku memang bisa tidak menyukai mu lagi tapi untuk melupakanmu itu tidak
bisa, aku punya memori untuk mengingat setiap hal termasuk diri mu Nael,"
batin Chiara.
"Ryan memang pacar ku, aku hampir mengetahui segala hal tentang dia tapi
aku juga mengetahui tentang diri mu meskipun hanya sebagian," lanjut batin
Chiara.
"Memang benar diri mu tidak pernah berkontribusi dalam diri baik membuat
ku bahagia, membantu ku, bermain bersama ku atau hal lainnya. Tapi kamu tetap
pemenang di hati ku Nael," kata Chiara dalam hatinya.
"Aku tidak tau kenapa kamu menjadi pemenang di hati ku, mungkin karena
kamu paling lama di hati ku," pikir Chiara.
Di tengah lamunan Chiara tiba-tiba Ryan datang membawa dua mangkuk bakso dan
dua gelas air asam. Mereka menikmati makanan mereka sambil bercanda tawa sama
seperti penghuni meja seberang, mereka menikmati somay dan es tes manis sambil
bercanda tawa. Semuanya berjalan semestinya, berjalan lancar sesuai dengan
takdirnya masing-masing.01:25
-TAMAT-

Keren, Chlara! Mengambil sikap bijak untuk enggak enggak egois dalam mempertahankan perasaan yang pada akhirnya cuma buang-buang waktu. Chlara di sini sudah cukup dewasa dalam berpikir. ^^
BalasHapus