Cerita Pendek (Mudik ke Masalalu)

 Mudik ke Masalalu

Cuaca cerah di siang hari, di dukung dengan angin sepoi-sepoi membuatnya jadi lebih nikmat. seorang gadis di sedang berada di dalam kapal sedari lima belas menit lalu, sesekali angin mengembus di wajahnya melalui jendela-jendela di kapal itu.

Gadis itu Laura Alexia Shari atau yang biasa disapa Laura, ia seorang gadis dengan rambut sebahu, biji mata hitam lekat, kulit seputih susu, hidung mancung dan juga badan modis serta senyum manis sebagai pelengkap kecantikannya.

Laura telah tinggal di Jakarta selama dua tahun setengah untuk melanjutkan pendidikannya di jenjang perguruan tinggi, selama dua tahun setengah juga ia tak pernah pulang kampung sama sekali bukan tak merindukan orang tuanya tapi orang tuanya selalu mengunjunginya ke Jakarta jadi rasa rindunya selalu terlepaskan bukan hanya orang tuanya yang sering mengunjunginya tapi juga keluarganya yang lain seperti abang, paman, tante dan lain-lainnya. Setelah semalam ia berada di pesawat cukup lama, hari ini ia harus melanjut perjalanan menggunakan kapal laut.

Perjalanan menuju ke kampung halamannya cukup lama, sekitar dua jam lebih. Selama di perjalanan Laura merasa sedikit mabuk, akibat lupa minum antimo saat berangkat tadi. Setelah sekian lama di dalam kapal, akhirnya Laura sampai di kampung halamannya.

Kampung halaman Laura hanyalah sebuah kampung kecil namun cukup ramai, orang-orang selalu menyebut kampung halamannya itu kota kecil. Laura keluar dari kapal dengan kepala pusing, ia melihat-lihat ke kanan dan kiri mencari-cari keberadaan sang ayah yang menjemputnya.

"Laura," teriakan barito dari ujung jalan keluar pelabuhan itu, ternyata itu ayah Laura.

Laura berjalan ke arah ayahnya sambil menyeret koper hitamnya dan juga sebuah tas yang lumayan besar di atasnya, Laura berjalan mendekati ayahnya lalu ia mencium tangan sang ayah serta memeluk sang ayah padahal baru bulan lalu sang Ayah ke Jakarta untuk memberikan semangat kepada sang anak di hari pertama ujian semesternya di semester lima.

Laura berjalan beriringan dengan ayahnya, sang ayah membawa koper dan tasnya sungguh perlakuannya biasa namun terasa istimewa. Laura memasuki mobil avanza hitam lalu melaju menuju rumahnya yang lumayan jauh, di dalam mobil Laura hanya diam sambil melihat pemandangan di kampungnya itu. Sungguh sudah lama ia tidak melihat pemandangan seperti itu.

"Bertahun-tahun gue nggak pulang ke tempat ini cuma buat lupain dia tapi nyatanya sampai sekarang gue nggak lupain dia," batin Laura.

"Nggak banyak yang berubah dari tempat ini," lanjut batin Laura.

Perjalanan yang lumayan panjang pun telah di tempuh oleh Laura, ia keluar dari mobil hitam itu. Matanya tertuju pada sebuah rumah minimalis dengan dua lantai dihadapannya, bibirnya terangkat ke atas saat melihat rumah itu sungguh ia merindukan rumah ini.

 

"Warna cat rumah kita cantik, Yah," ucap Laura pada sang ayah di sampingnya.

"Iya cantik, itu ibu yang memilihnya," kata Akbar ayah Laura.

"Selera ibu bagus banget ya," kata Laura yang diangguki oleh ayahnya.

Laura berjalan di belakang ayahnya, mereka memasuki rumah itu. Laura melepas sepatunya lalu berjalan masuk rumahnya, mencium dan memeluk sang ibu lalu melepas rindu pada adik serta abang kesayangannya itu.

Melihat sang putri baru saja datang, ibu pun langsung menyiapkan aneka kue kering untuk putrinya. Laura yang melihat itu pun langsung berbinar  matanya, baru saja ia ingin mengambil satu kue itu langsung saja tangannya ditepis oleh abangnya.

"Kenapa sih bang?" tanya Laura ketus.

"Cuci tangan sana," perintah Bagas abang Laura.

"Nggak kotor kok,"  ujar Laura santai sambil menjulurkan tangannya untuk mengambil kue kering itu, lagi-lagi tangannya di tepis oleh abangnya.

"Kotor itu, udah sana cuci tangan dulu," kata sang abang kesal, Laura pun menurut dengan muka masam.

Laura berjalan menuju wastafel di dapurnya, lalu ia mencuci tangan dengan sabun cuci tangan yang ada di sana. Sungguh seperti anak kecil, Laura berlama-lama selama cuci tangan karena ia bermain dengan busa sabun yang ada di tangannya itu.

"Kalau di kost gue nggak berani main busa sabun, cuci tangan ajah busanya dikit soalnya sabun mahal," batin Laura.

Usai dengan cuci tangan, Laura mengelap tangannya hingga kering dan berjalan menuju tempat tadi. Laura mengambil kue kering itu, memasukkannya ke dalam mulut lalu mengunyahnya dengan nikah.

"Bu, rasa kue keringnya beda tapi enak banget," ucap Laura pada sang ibu.

"Iya nak, emang beda rasanya soalnya itu terbuat dari tepung ararut," kata sang ibu.

"Tepung Ararut? Apaan tuh?" tanya Laura.

 

"Tepung yang abang pesan dari luar daerah, katanya bagus dan menyehatka jadinya itu sering bikin kue pakai tepung itu," jelas sang ibu panjang lebar dan hanya diangguki oleh Laura.

Usai makan kue kering, Laura berjalan menuju kamarnya melepas lelah setelah perjalanan cukup jauh. Laura melirik ke seisi kamarnya, sungguh tempat itu tidak ada yang berubah masih sama seperti pada waktu ia meninggalkan tempat itu.

"Kamar ini jadi saksi kejadian itu," batin Laura dengan mata yang berkaca-kaca

***

Berhari-hari berlalu, selama behari-hari itu Laura hanya di rumahnya saja katanya sih melepas rindu pada rumahnya. Ia hanya keluar untuk membeli makanan ringan lalu pulang, bukan untuk jalan-jalan. Bagas yang melihat adiknya tumben tidak jalan-jalan pun merasa heran, biasanya gadis itu sangat hobi sekali jalan sana sini.

"Dek, nggak mau jalan kemana gitu?" tanya Bagas.

"Hmm, ada sih bang tapi tulat," kata Laura.

"Tulat? Apa itu?" tanya Bagas heran.

"Maksudnya sehari setelah lusa bang," jelas Laura pada Bagas.

“Kelamaan tinggal di tempat orang bahasanya jadi berubah,” kata Bagas.

"Kemana?" tanya Bagas.

"Reuni SMA," jawab Laura singkat.

"Ooo, jangan di rumah terus sesekali keluar udah lama juga nggak pulang kampung," kata Bagas sambil berjalan meninggalkan adiknya di ruang keluarga itu.

"Iya," kata Laura ketus.

"Lo nggak tau ajah, gue sengaja nggak mau keluar karena nggak mau ketemu sama dia. Jujur gue nggak sanggup lihat dia, rasanya masih sakit," kata Laura dalam hatinya.

“Gue juga belum siap wisata masalalu di sini bang,” batin Laura.

Hari-hari pun berlalu, hingga sampai hari ini Laura akan reunian dengan teman-teman SMA-nya dahulu. Bukannya bersiap-siap, Laura malah sibuk dengan laptopnya. Bagas yang sedari tadi melihat itupun heran.

"Nggak jadi reuni, dek?" tanya Bagas.

"Jadi bang," jawab Laura yang masih sibuk dengan laptopnya.

"Terus kenapa masih sibuk dengan laptop itu? Bukannya siap-siap," kata Bagas mengomeli adiknya.

"Bentar bang, adek itu lagi post cerita di blog," kata Laura.

"Buat apa?" tanya Bagas sambil mengernyitkan dahinya.

"Jadi waktu di Jakarta itu adek daftar untuk ikut Komunitas one day one post, syukurnya adek lolos nah sekarang adek lagi seleksi. Selama seleksi itu adek harus post satu hari satu di blog, terserah apa ajah yang mau di post," jelas Laura yang diangguki oleh abangnya.

"Serah deh, dari dulu sampai sekarang nggak berubah. Selalu ajah nyari kegiatan meskipun libur, heran lihatnya," kata abangnya sambil menggelengkan kepalanya.

"Hmm, nggak papa dong biar liburannya bermanfaat," kata Laura sambil menunjukan gigi ratanya pada abangnya.

"Serah," kata abangnya singkat.

Setelah beberapa jam bergelut di depan laptop, akhirnya Laura lepas dari laptop itu. Laura segera bersiap-siap untuk pergi ke reuni, ia segera mandi selanjutnya bersiap-siap pergi. Laura sudah cukup cantik saat ini, outfit celana cream dan baju putih serta tas selempang hitam ditambah high heels hitam sekaligus makeup tipis diwajahnya itu membuat ia semakin cantik.

Laura sedang menunggu temannya di teras rumahnya, ia menunggu sambil bermain handphone. Sudah hampir lima belas menit ia menunggu, akhirnya mobil avanza putih milik temannya pun terparkir di depan rumahnya. Laura pamit pada orang rumah, lalu ia berjalan memasuki mobil itu dengan paperbag batik di tangan kirinya.

"Halo guys," sapa Laura pada lima orang temannya yang ada di dalam mobilnya.

"Oh ya ni ada ole-ole buat kalian dari aku," ucap Laura menyerahkan paperbag batik yang berisi lima tumbler dan juga beberapa makanan ringan.

"Makasih, Lau," kata Naura si gadis paling kalem sekaligus paling alim itu sambil senyum manis.

"Makasih, bro," kata Ira gadis bar-bar.

"Makasih ya, tau ajah aku lagi butuh tumbler," kata Wilona sambil memakan es krim di tangannya itu.

"Makasih," kata Nora lemah lembut.

"Makasih, cantik banget tumblernya," Thira si gadis paling cantik itu.

Mereka berjalan bergegas menuju ke pantai, sengaja mereka berkumpul lebih cepat karena mereka ingin menghabiskan waktu bersama-sama terlebih dahulu.

Karena perjalanan ke pantai cukup lama, mereka membeli cemilan terlebih dahulu dan makan bersama-sama di dalam mobil. Sungguh mereka begitu asik setelah cukup lama tidak berkumpul, ada yang kuliah di Pekanbaru, Bandung, Jakarta, dan Surabaya jadinya mereka susah berkumpul.

"Lau, ko dah move on dari dia?" tanya Wilona.

"Aku dah move on tapi belum lupakan," jawab Laura pelan.

Di kampung Laura tidak ada orang yang ngomong pakai lo gue atau aku kamu adanya aku ko, jika ada yang ngomong pakai lo gue maka akan di hujat karena di bilang sok kota dan jika ada yang ngomong aku kamu maka di bilang terlalu formal. Maklum mereka tinggal di kampung atau bisa dibilang kota kecil jadinya saat pulang kampung mereka akan menyesuaikan bahasa.

"Die masih ganggu ko tak?" tanya Naura.

"Masih, Nau," jawab Laura.

"Tak tau malu nah pulak, dah sakiti ko terus ganggu ko pulak tuh sampai sekarang," kata Ira ngegas.

"Hahahahaha, Ngape ko yang ngegas Ra," kata Laura sambil ngakak.

"Macam mane tak ngegas, habisnya die macam gitu kalau aku jadi ko dah aku permalukan die tuh," lanjut Ira ngegas.

"Lagian yang Ira bilang betul kok, seharusnya die tau diri sih menurut aku," kata Wilona sambil memasukkan chiki ke mulutnya.

"Nah bener tuh," kata Nora.

"Aku nak ajeh buang die ke laut, bise-bisenye die dulu selingkuhin ko. Bukan ganteng sangat pun die tuh," kata Thira sambil fokus dengan jalanan di depannya.

"Hmm dah lah, semua dah terjadi pun nak macam mane lagi," kata Laura sambil menghela napas panjang.

Mereka sampai ke pantai, pantai lubuk saat ini cukup sepi. Suasana pantai dengan angin sepoi-sepoi di sore hari yang panas ini cukup tenang ditambah deru ombak pantai yang begitu menenangkan, mereka semua bermain-main di sana dan berfoto-foto.

Mereka semua duduk di bawah pohon rindang di pantai itu, sungguh angin sepoi-sepoi menambah kenikmatan tiada tara. Laura sesekali melihat suasana pantai itu, ia seperti berwisata dengan masalalu.

"Dulu, gue ke sini sama lo sekarang nggak lagi dan mungkin nggak akan pernah," batin Laura.

Waktu semakin berjalan, kini mereka beranjak dari pantai itu menuju Memorial Cafe tempat reuni. Mereka berjalan, sesekali melihat keluar jendela mobil menikmati suasana sore hari.

"Ternyata tempat ini tak banyak berubah," batin Laura.

"Jujur tempat-tempat di setiap sudut kota kecil ini selalu ngingetin gue sama dia," lanjut batin Laura.

Cukup lama perjalanan, akhirnya mereka sampai ke Memorial Cafe. Keenam gadis itu berjalan beriringan ke meja yang penuh di tengah-tengah cafe itu, mereka duduk bersebelahan.

Mata Laura tertuju pada sosok pria yang duduk di ujung meja itu, itu mantan dia dan entah mengapa rasa sakit itu terasa lagi saat ini. Laura mengalihkan pandangan dari pria itu, ia tidak ingin terus melihatnya.

Ketika semuanya telah kumpul, mereka pun makan bersama-sama sambil bercanda tawa dan bercerita hal-hal yang telah mereka alami.

"Lau, tumben ko ikut reuni biasanya tak pernah ikut," kata fajar cowok yang duduknya tidak jauh dari Laura.

"Kemarin-kemarin aku tak balek sini," kata Laura.

"Serius?" tanya Mela teman SMA Laura.

"Iya," jawab Laura singkat.

"Ko tak bosan di Jakarta terus?" tanya Mela lagi.

"Siape bilang die dekat Jakarta terus, tiap libur semester die liburan terus macam mane coba nak bosan," jawab Wilona.

"Bise-bisenye ko pegi liburan tapi tak balek kampung," kata Ghia yang duduk di depan Laura.

"Hm, takpape sih," kata Laura sambil menunjukan gigi ratanya itu.

Sementara di ujung meja itu ada seorang cowok yang sedari tadi memperhatikan Laura, cowok itu ingin sekali mengeluarkan suara walau hanya sekedar menanyakan kabar Laura namun ia merasa segan apalagi kesalahannya di masalalu sangat fatal.

"lebih baik diam dulu," batin cowok itu.

Usai reuni mereka semua foto bersama, Laura dan kelima temannya ingin pergi ke balai pemuda untuk sekedar duduk dan bercerita. Saat Laura ingin memasuki mobil tiba-tiba sebuah tangan kekar menahannya, saat Laura menoleh ternyata cowok itu yang menahannya yaitu masalalunya.

"Laura, aku mau ngomong sebentar," kata cowok itu.

"Apa?" tanya Laura langsung.

"Ikut aku bentar ya," kata cowok itu sambil menarik tangan Laura namun Laura menolaknya.

"Di sini ajah," kata Laura.

"Bentar ajah, nggak lama kok. Aku janji, ikut aku ya," kata cowok itu sambil menarik tangan Laura, Laura pun terpaksa mengikutinya.

"Udah mau apa?" tanya Laura Langsung.

"Aku mau minta maaf soal kejadian bertahun-tahun lalu," kata cowok itu sambil menatap mata Laura.

"Dua setengah tahun lalu ko dah minta maaf same aku, aku dah maafkan," kata Laura.

"Aku tau," ucap cowok itu.

"Ko nak ngomong itu ajah? Dahlah aku nak pegi," ucap Laura sambil ingin meninggalkan tempat itu namun ia di tahan cowok itu.

"Apalagi?" tanya Laura.

"Aku nak ngomong lagi," ucap cowok itu.

"Apa?" tanya Laura ketus.

"Aku masih suka same ko, aku juga masih sayang same cinta," ucap cowok itu dalam satu tarikan napas.

Laura kaget, bagaimana mungkin semua ini. Laura menetralkan rasa kagetnya lalu bertanya, "Terus ko nak ape?" Sambil menatap cowok di depannya itu.

"Aku mau kita balikan," ucap cowok itu.

"Tak bise," ucap Laura.

"Kenapa?" Tanya cowok itu.

"Karena dulu ko selingkuhin aku, ko manfaatkan aku, ko tak pernah mengakui aku dan hubungan kita yang terlalu backstreet," ucap Laura.

"Satu lagi dulu ko selalu bandingkan aku dengan mantan ko, kalaulah mantan ko tuh lebih baik dari aku lebih baik ko balikan sama diekan daripade same aku," lanjut Laura.

"Aku tau dulu aku salah, tapi aku bakal berubah," ucap cowok itu.

"Maafkan aku, tak bise," kata Laura lalu meninggalkan cowok itu sendirian di parkiran cafe itu.

“Gue emang nggak bisa lupain lo tapi bukan berarti gue mau balikn sama lo,” batin Laura sambil berjalan menuju mobil.

Laura memasuki mobil, ia terlihat begitu pusing saat ini. Kelima temannya yang paham ada yang tidak beres dengan Laura, Wilona pun membuka mulut dan bertanya, "Die bilang apa sama ko?" Laura yang mendengar pertanyaan Wilona pun menghela napas panjang kemudian menjawab, "Die bilang masih sayang, suka dan cinta same aku terus die ngajak aku balikan tapi aku tak mau.

"Bagus, aku pun tak mau ko balikan same die," kata Naura yang diangguki yang lainnya.

Mereka semua pergi ke balai pemuda, membeli makanan yang ada di jual di sana lalu bercerita dan bercanda tawa hingga gelapnya malam semakin larut yang membuat mereka segera pulang dan berpisah 

***

Tiga minggu telah berlalu, Laura sungguh seperti berwisata ke masalalu di kampungnya ini. Sungguh banyak kenangan ia bersama cowok itu yaitu Bara.

Laura dan Bara dahulu menjalin hubungan selama tiga tahun, hubungan yang backstreet mulanya baik-baik saja namun semuannya berubah waktu Bara selingkuh sama teman kelasnya. Laura yang mengetahui Bara selingkuh pun lanngsung minta penjelasan pada Bara, Bara hanya meminta maaf saja tanpa memebri penjelasan lalu beberpa minggu kemudian tiba-tiba ia menganggu Laura namun Laura selalu membiarkannya.

Saat ini Laura akan pulang ke Jakarta sebenarnya kepulangannya seminggu lagi namun karena ada satu urusan di kampus jadi ia mempercepat keberangkatannya. Laura berpamit pada keluargannya lalu memasuki kapal.

Saat kapal berjalan meninggalkan kampunya ia hanya bisa melihat tempat itu yang semakin jauh  sambil tersenyum tipis, lalu bergumam, “Makasih buat wisata masalalu selama tiga minggunya,” Laura pun balik ke Jakarta melanjukan kuliahnya.

 -TAMAT-

Komentar

  1. Ada benarnya juga perkataan abang Laura, kita ini selalu saja mencari kesibukan padahal sudah tau sedang libur..hahah

    BalasHapus
  2. Asliu aku juga paling males kalo reuni, pas suka ungkit-ungkit masa lalu yang berusaha buat ga dipikirin.

    BalasHapus
  3. Cerita yang relate dengan banyak orang, ya, reuni bukannya menjadi suatu yang indah, tapi menjadi suatu disrupsi kehidupan yang sudah berusaha ditata.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)