Cerita Pendek (Evan)

 Evan

Teriknya panas sore hari begitu menyengat kulit, di lapangan Gasibu terlihat seorang laki-laki dengan tinggi sekitar 170 cm berlari mengelilingi lapangan Gasibu itu. Laki-laki itu memiliki postur tubuh yang cukup atletis dengan warna kulit sawo matang, mata sipit, hidung pesek, dan senyum manis dari bibir tipisnya. Laki-laki itu bernama Putra Evan dan biasa di panggil Evan, bukan tanpa alasan sore hari ini Evan berada di lapangan Gasibu melainkan ada alasan yang sangat kuat yaitu ia sedang mempersiapkan fisiknya untuk masuk sekolah kepolisian.

Saat Evan merasa lelah ia pun beristirahat di bawah pohon yang tidak jauh dari lapangan Gasibo, Evan beristirahat sambil meluruskan kedua kakinya dan memijat-mijat kakinya.

"Capek juga ya," gumam Evan pada dirinya.

"Tapi gue harus semangat, tesnya tinggal beberapa bulan lagi," lanjut Evan menyemangati dirinya.

Selesai istirahat Evan langsung lanjut berlari namun karena hari sudah semakin sore dan remang-remang malam mulai menampakkan dirinya, Evan pun berlari pulang ke rumahnya uang yang tak jauh dari lapangan Gasibo.

***

Hari ini Evan berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali, ia berangkat ke sekolah menggunakan sepeda. Sesampainya di sekolah Evan langsung menuju kelasnya dan saat sampai di kelas ia langsung duduk di kursinya di dekat jendela bagian kanan.

Jam pelajaran pertama pun mulai, Evan mengikuti pelajaran pertama dengan serius meskipun Evan seorang anak cowok tapi Evan tidak bandel seperti anak cowok pada umumnya justru Evan ini juara kelas.

Jam istirahat tiba namun Evan tidak ke kantin melainkan ia makan bekal yang dimasakkan oleh bundanya karena Evan harus menjaga berat badannya jadinya tidak boleh makan sembarangan, Evan makan dengan lahap hingga makanan ditempat bekal putih itu habis.

Jam pulang sekolah tiba Evan pun langsung keluar dari gerbang SMA Harapan Bangsa dengan sepeda kebanggaannya, ia menyusuri jalanan kota dengan begitu lincah hingga sampai di rumahnya.

Berjam-jam lamanya Evan di rumah, kini Evan keluar dari rumahnya membawa tas di punggungnya yang berisi baju berenang karena sore ini jadwal berenang Evan. Evan meninggalkan perkarangan rumahnya menggunakan mobil berwarna hitam dan bergegas menuju kolam renang.

Sesampainya di kolam renang Evan langsung ganti baju renang dan selesai ganti baju ia pun menghampiri temanya yang sudah latihan terlebih dahulu, ia pun ikut latihan renang dengan temannya bersama-sama.

"Lo udah siap berapa persen bro buat tes nanti?," tanya Indra teman Evan.

"Nggak tau deh, jujur gue pusing," jawab Evan.

"Sama gue juga, seketika gue kek nggak mau masuk polisi soalnya saingannya berat," kata Indra sambil menunduk ke bawa.

"Bener sih cuma kita udah usaha selama ini masak iya nyerah gitu ajah," kata Evan.

"Iya juga sih," ucap Indra pelan.

***

Setelah kemarin Evan latihan berenang bersama Indra maka hari ini giliran mereka latihan otak, saat ini Evan dan Indra sudah berada di dalam mobil dan mereka akan pergi ke rumah Nando untuk belajar bersama.

Sesampainya mereka di rumah Nando, mereka pun belajar bersama-sama. Mulai dari latihan soal psikotes hingga soal-soal lainnya mereka pun pelajari.

"Kemarin gimana latihan berenang kalian?,"

tanya Nando.

"Nggak gimana-gimana sih," jawab Indra.

"Iya kek biasa aja," lanjut Evan.

"Oh ya gimana kalian udah siap buat tes?," tanya Nando.

"Jujur gue nggak," jawab Evan.

"Saingan kita anak sultan bro, mainannya uang," lanjut Evan.

"Iya sih, orang tua gue mana punya uang yang banyak buat nyogok mereka supaya gue masuk sana," kata Indra.

"Apalagi gue, semenjak bokap gue meninggal keuangan keluarga gue jadi menipis," ucap Evan.

"Sama kek gue, keuangan keluarga krisis karena biayain kuliah kk gue di Aussie," ujar Nando.

"Lagian kalau kita punya uang, nggak akan dikasih main curang juga sama keluarga kita," kata Indra.

"Bener banget," ujar Evan dan Nando bersamaan.

***

Waktu tes semakin dekat namun latihan Evan selalu terhambat oleh tugas-tugas akhir sekolahnya yang terus menerus berdatangan, mulai dari tugas praktek, biasa dan sebagainya.

Saat ini Evan sedang di sekolah, ia sedang praktek fisika di lab bersama teman-temannya. Selesai praktek fisika Evan dan teman-temannya langsung balik ke kelas.

Saat pulang sekolah Evan langsung keluar dari SMA Harapan Bangsa dengan menggunakan sepedanya, Evan begitu gesit melewati padatnya kita Bandung. Sampai di rumah Evan langsung makan siang dan selesai makan siang Evan pergi lagi, untuk belajar biologi supaya ujian praktek besoknya berjalan dengan lancar.

"Bunda Van pergi ya," teriak Evan keluar dari pintu rumahnya.

"Iya, hati-hati ya sayang," jawab Bunda.

Setelah selesai latihan untuk ujian praktek biologi Evan pun langsung pulang ke rumah dan tertidur karena kecapean, sekitar jam tujuh malam Evan terbangun dan langsung mandi kemudian Evan makan malam bersama bundannya.

Sekarang ini Evan sedang berada di kamarnya ia sedang belajar namun kepala cukup pusing dengan materi-materi yang ada di depannya, mulai dari soal psikotes, soal untuk ujian semester, soal untuk ujian nasional dan soal-soal lainnya.

"Ya Allah Van capek," gumam Van pelan pada dirinya.

Evan mengambil foto laki-laki muda yang berada tidak jauh dari meja belajarnya itu, Evan mengambil foto itu lalu mengusap lembut foto itu lalu ia mencium dan memeluk foto itu seakan-akan ia mentransferkan rasa rindunya dengan sosok di foto itu.

"Ayah Van butuh ayah," ucap Van dengan mata berkaca-kaca.

"Van kangen sama ayah, ayah kenapa sih ninggalin Van," lanjut Van.

"Van kangen jonging sama ayah, makan-makan sama ayah, jalan-jalan sama ayah, cerita sama ayah trus Van juga kaget marahan ayah ke Van," ujar Van sambil mengusap foto itu.

"Udah dua tahun ayah pergi, ayah nggak kangen ya sama Van, ayah udah nggak pernah mampir ke mimpi Van lagi," ucap Van.

***

Sore hari ini Evan ada waktu luang jadinya Evan langsung saja latihan fisiknya sebab tes hanya tinggal satu bulan lagi, terlihat Evan berpeluh keringat saat berlari di lapangan Gasibu. Cucuran keringat yang memenuhi badan Evan tak menghalanginya untuk terus berjuang, wajahnya terlihat begitu penuh dengan air keringat.

Serasa cukup lelah badannya Evan pun beristirahat sebentar sambil meminum air mineral yang ia beli tadi, ia meluruskan kakinya lalu ia pun memijit-mijit kakinya itu. Sore ini Evan hanya latihan sendiri karena Nando dan Indra harus latihan untuk ujian praktek susulan karena mereka kemarin ada acara keluarga sehingga tidak dapat mengikuti ujian praktek.

"Jujur gue ngerasa nggak kuat," gumam Van pada dirinya.

"Tapi gue nggak boleh nyerah," ucap Van sambil menggelengkan kepalanya.

***

Waktu tes pun telah tiba, kini Evan sudah berada di lokasi tes bersama bunda yang menemaninya sedari tadi. Hari ini hanya pemeriksaan tahap administrasi dahulu, Evan sudah siap dengan setelah kemeja dan celana hitam serta berkas-berkas yang ada di tangannya.

Pada saat selesai adminitrasi, Evan pun dinyatakan lulus dan harus mengikuti tahap berikutnya yang terbilang cukup banyak.

Hari-hari begitu cepat berlalu akhirnya banyak tahap yang telah dilewati Evan mulai dari tahap tes kesehatan, psikologi, renang, akademik, sidang kelulusan dan lain-lain sebagainya. Evan dinyatakan lulus di semua tes itu, hal itu sungguh membuah Evan dan bundanya merasa senang meskipun Evan ingin menyerah saat tes renang namun ia berhasil melewati tahap itu dengan cukup mulus.

Nando dan Indra pun lulus, mereka semua dikirim untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Polisi Negara. Meskipun ada rasa capek yang sangat lelah di hati Evan namun ia senang karena telah bisa melewati tahap awal itu dan sedikit lagi ia akan sampai di tujuannya.

***

Tujuh bulan lamanya Evan menjalankan pendidikan di Sekolah Polisi Negara mulai dari belajar menembak, latihan fisik, kedisiplinan, kecepatan makan, dan sebagainya. Kini Evan sudah selesai pendidikan di Sekolah Polisi Negara itu dan sebentar lagi Evan akan di tugaskan setelah dua hari dari hari kelulusannya ini.

Dua belas hari telah berlalu dari hari kelulusan Evan, saat ini Evan sedang bertugas menjaga keamanan Pilkada si kota Bandung dan pangkat Evan saat ini adalah Bripda. Evan bersama rekan-rekannya menjalankan tugas dengan baik dan bertanggung jawab, meskipun ada rasa yang lelah di hati mereka masing-masing namun tugas harus tetap dilaksanakan.

Hari berganti hari yang diikuti dengan pergantian bulan berserta dengan iringan tahun, kini Evan sudah menjadi seorang polisi terpandang di Kota Bandung meskipun begitu Evan tidak sombong namun ia harus berpisah dengan Nando dan Indra karena kedua sahabatnya itu mendapatkan tugas di tempat yang berbeda. Indra bertugas di Papua sementara Nando bertugas di Jakarta, meskipun mereka berpisah namun mereka masih selalu berkomunikasi.

Saat ini Evan sedang libur, ia pun pergi ke makam ayahnya karena makan ayahnya sudah terlihat cukup kotor ia pun membersihkan dedaunan yang ada di atas makam ayahnya lalu ia menaburkan bunga kembang di atas makam ayahnya itu.

"Ayah ini Van yah," ucap Van sambil mengelus batu nisan yang bertuliskan nama ayahnya.

"Ayah Van udah jadi polisi yah," ucap Van dengan mata berkaca-kaca.

"Ayah banggakan sama Van? Ayah harus bangga ya sama Van," lanjut Van.

Setelah cukup lama berada di makam ayahnya Evan pun pergi dari makam ayahnya, Evan melaju menggunakan mobilnya menuju rumahnya. Sesampainya di rumah Evan disambut oleh bundannya dengan berbagai hidangannya makan siang yang menggugah selera dan membuat perut Evan menjadi lebih lapar.

Evan pun makan siang bersama bundanya sambil bercerita mengenai kehidupan mereka, mulai dari kehidupan semasa ayah Evan masih hidup hingga kehidupan sekarang saat ayah Evan telah berpergi terlebih dahulu ke rahmatullah.


Komentar

  1. Ini ceritanya sederhana tapi banyak makna di sini, apalagi sindiran soal sogok-menyogok yang jadi fenomena memiriskan di pendidikan zaman sekarang. Satu hal yang aku pelajari juga adalah, berusaha keras boleh, tapi jangan berlebihan apalagi sampe capek begituu.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)