Cerita Pendek (Couple?)

 C o u p l e ?

Sumber gambar : https://pin.it/54NQZZn

Teriknya matahari di siang hari begitu menyengat, seluruh siswa-siswi SMA Jaya Sakti sedang berkerumun di kanti. Berdesak-desakan itulah yang mereka lakukan, hal itu dilakukan demi mendapatkan semangkuk atau sepiring makanan yang bisa mengenyangkan perut mereka.

Saat semua warga dari SMA itu sedang bergelud di kantin, sementara dua warga lainnya sedang berada di perpustakaan. Seakan-akan rasa lapar mereka hilang ketika mereka bergelud dengan rumus-rumus serta tulisan-tulisan di hadapan mereka, sepertinya rumus-rumus dan tulisan-tulisan itu makan siang mereka.

Kedua warga SMA Jaya Sakti yang berada di perpustakaan itu adalah Bulan dan Bintang. Saat para most wanted sekolah lainnya terkenal karena tampan, cantik, kaya, cold, keren dan lainnya sebagainya. Berbeda dengan yang lainnya, Bulan dan Bintang termasuk most wanted di SMA Jaya Sakti. Mereka berdua terkenal bukan hanya karena tampan ataupun cantik tapi juga karena kepintaran mereka.

Bulan seorang adalah gadis cantik dengan tubuh yang modis, rambut panjang, bibir tipis dan mata hitam serta sikapnya yang lembut sekaligus dingin sebagai pelengkap. Bintang seorang adalah cowok tampan yang ketampanannya bagaikan dewa Yunani selain tampan ia juga memiliki postur tubuh yang bagus, senyum manis dan juga sikapnya yang friendly. Bulan dan Bintang hanyalah murid kelas sebelah, namun mereka berhasil menduduki juara umum yaitu posisi satu bulan dan posisi dua Bintang.

Bulan dan Bintang, dua insan yang selalu berebut posisi juara dan mereka hanya akan bekerjasama jika mengikuti olimpiade yang sama. Beberapa bulan yang lalu mereka berdua gagal mengikuti lomba debat antar sekolah, hanya karena perdebatan keduanya yang tidak ingin mengalah sehingga menyebabkan sang pembina memilih orang lain saja daripada mereka.

Kini kedua insan itu sedang berdiskusi di ruang penuh buku itu, bahkan aroma buku-buku di ruangan itu begitu semerbak. Mereka akan mengikuti olimpiade biologi dalam waktu dekat, kini mereka sedang membahas materi-materinya. Tatapan mereka tak terahlikan dari tulisan-tulisan yang ada di hadapan mereka itu, seakan-akan hal itu lebih menarik dari hal lainnya yang ada disekitar mereka.

"Bin, lo paham nggak soal materi kelas dua belas ini?" tanya Bulan sambil menunjukkan materi golongan darah.

"Golongan darah ya, gue juga kurang paham makanya gue skip materi ini," kata Bintang yang diangguki oleh Bulan.

"Lan, lo rasa kita bakal menang nggak ya olimpiade kali ini?" tanya Bintang.

"Gue pribadi sih merasa kita bakal menang cuma nggak tau posisi keberapa," jawab Bulan sambil melihat ke arah Bintang.

"Iya juga sih, secara kita berdua udah menangin banyak lomba," ucap Bintang sambil berpikir entah lomba apa saja yang mereka menangkan.

Bell berbunyi, menandakan pelajaran selanjutnya akan segera di mulai. Dua insan yang tadinya berbincang di perpustakaan itupun langsung berkemas, menuju kelas masing-masing. Mereka keluar dari perpustakaan lalu berjalan beriringan, menuju kelas masing-masing. Sungguh mereka terlihat sangat serasi.

"Gilak mereka cocok banget," ucap gadis berambut keriting.

"Seharusnya mereka pacaran sih," kata gadis yang baru saja mereka berdua lewati.

"Sama-sama pintar, kalau mereka pacaran topik pembahasan mereka pasti pelajaran terus sih," ujar salah satu cowok yang nongkrong di depan kelas Bintang.  

Berisik banget sih, mereka pada kenapa sih pikir Bulan pada saat ini. Bintang melihat ke arah Bintang, memberikan kode kalau dia duluan dan bulan pun mengangguk. Bintang memasuki kelas IPA dua sementara Bulan terus berjalan hingga memasuki kelasnya yaitu IPA satu, mereka memang berbeda kelas namun persaingan tetap berlangsung. Prinsip mereka, beda kelas bukan berarti tidak ada persaingan.

Mengikuti pelajaran terakhir dengan saksama itulah yang dilakukan dua insan itu. Bertanya, menjawab pertanyaan guru, memahami dan mencatat materi itulah yang dilakukan mereka saat ini. Sungguh belajar itu sangat candu bagi mereka, seakan-akan angka, rumus dan tulisan-tulisan itu dunia mereka.

Pelajaran telah berlalu, saat ini jam pulang sekolah sedang berlangsung. Kelas Bulan sudah kosong sedari tadi namun Bulan belum ada niat untuk keluar dari ruangan itu, ia sedang sibuk memahami materi biologi untuk olimpiadenya bersama Bintang nanti.

"Bulan, ayok kita ke laboratorium biologi sekarang," ajak Bintang yang menyender di pintu kelas Bulan.

"Ayok," ucap Bulan sambil beranjak dari posisinya.

Kedua insan itu, berjalan bersama-sama menuju laboratorium biologi. Terlihat suasana sekolah begitu kosong, hanya ada anak-anak yang berlatih untuk olimpiade. Jika Bulan dan Bintang berlatih untuk mengikuti olimpiade biologi maka yang lain berlatih untuk mengikuti olimpiade fisika, kimia, sosiologi, geografi, matematika dan lainnya.

Bulan dan Bintang masuk ke dalam laboratorium, di sana sudah ada Bu Indah dan Pak Indra yaitu pembina mereka. Mereka masuk ke dalam laboratorium itu, lalu duduk di tempat yang telah tersedia.

"Baiklah karena olimpiade karena tinggal seminggu lagi, kalian harus makin sering belajar bersama. Tidak hanya di sekolah, jika perlu di luar sekolah juga ya nak," ucap Pak Indra.

"Sekarang kalian kerjakan soal ini dalam waktu empat puluh lima menit," ucap Bu Indah memberikan lembaran soal yang cukup tebal.

Bulan dan Bintang yang menerima lembaran-lembaran soal itu pun hanya mengangguk, bagi mereka lembaran soal yang tebal bukan hal baru lagi. Mereka membagi tugas satu sama lainnya, Bintang mengerjakan soal nomor satu hingga lima puluh sementara bulan nomor lima puluh satu hingga seratus.

Dua insan itu begitu serius mengerjakan soal-soal itu, begitu lincah tangan mereka menari-nari di atas kertas putih. Tiga puluh menit berlalu, kini mereka berdua telah selesai mengerjakan soal itu. Pembina mereka tidak kaget, karena dua insan dihadapan mereka itu memang terkenal pintar sekali jadi wajar saja seratus soal dibantai dalam waktu tiga puluh menit.

"Setelah saya cek, jawaban kalian benar hanya saja ada beberapa cara yang kalian pakai itu cukup panjang," ucap Bu Indah.

"Jadi gini nak, ada cara pendeknya sehingga mempercepat kalian mendapatkan hasilnya," Jelas Pak Indra.

Dua pembina itu memberikan penjelasan pada Bulan dan Bintang, memberikan jalan ninja agar mereka bisa menyelesaikan soal dengan lebih cepat. Bulan dan Bintang, begitu serius memperhatikan penjelasan yang di berikan.

Bulan dan Bintang keluar dari laboratorium itu, mereka telah selesai berlatih. Bulan bergegas duluan meninggalkan perkarangan SMA Jaya Sakti menggunakan mobil hitam kesayangannya lalu disusul oleh Bintang dengan mobil abu-abu keluaran terbaru.

***

Hari-hari berlalu, entah mengapa dua insan itu semakin hari semakin dekat. Seperti saat ini mereka sedang makan bakso bersama di kantin, sungguh pemandangan yang sangat langkah. Sesekali mereka bercanda tawa dan bercerita random, entah apa yang mereka ceritakan penghuni kantin pun tidak paham. Sepertinya cerita anak pintar, sedikit berbeda dari cerita aak-anak lainnya.  

"Lan, nanti kita jadikan ke gramedia kan?" tanya Bintang.

"Jadi dong," jawab Bulan sambil memasukkan satu biji bakso ke dalam mulutnya.

Mereka melanjutkan makan, begitu serius sehingga hanya dentingan alat makan yang terdengar pada waktu itu dan riuhnya suara penghuni kantin yang membicarakan mereka berdua. Mereka tidak rishi dengan yang dibicarakan penghuni kantin karena sudah terbiasa.

"Serius mereka makan bareng," ucap seseorang di pojok kantin seperti tidak percaya karena itu merupakan moment langka.

"Wah, pertanda apa ni," kata cowok yang baru saja melewati meja mereka berdua.

Seorang gadis memasuki kantin itu, tanpa rasa malu gadis itu langsung duduk di sebelah bintang. Seisi kantin yang melihat itu sontak merasa geli, sungguh rasanya mereka ingin sekali menyeret gadis itu keluar kantin sebab ia sungguh menganggu kemesraan dua sejoli itu.

"Bintang, nanti kamu temenin aku ke salon ya," ucap gadis itu manja.

Bintang yang mendengar itu mendadak geli, sungguh ia ingin menampol gadis disampingnya itu. Bintang membuka mulutnya lalu berkata, "Nggak bisa, gua ada latihan olimpiade sama Bulan." Usai mengatakan itu tiba-tiba pandangan Bintang jatuh pada sosok cowok yang langsung duduk di samping Bulan.

"Bulan, pulang nanti sama aa ya," kata cowok itu sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Bulan.

Sungguh Bulan sangat membenci situasi ini, ia merasa geli dengan cowok di sebelahnya itu. Sumpah ya ni cowok gue buang juga ke laut, pikir Bulan. Bulan melihat ke arah cowok itu lalu tersenyum dengan paksaan sekuat-kuatnya agar terlihat manis dan berkata, "Sorry gue pulang nanti ada latihan olimpiade,"

"Kalau gitu aa tungguin, Neng Bulan," kata cowok itu.

"Nggak usah lo tungguin, latihan olimpiadenya lama sampai subuh," kata Bintang ngegas.

Merasa cukup terganggu, akhirnya Bintang memegang tangan Bulan dan menariknya keluar dari tempat yang semulanya baik lau tiba-tiba menjadi buruk itu. Tak perduli dengan kata orang, yang ada di isi kepala Bintang saat ini pergi dari dua makhluk yang meresahkan itu.

Gadis yang menyamperi Bintang itu Sesil, salah satu most wanted di sekolah itu yang terkenal karena kecantikannya. Sesil menyukai Bintang sedari dulu namun Bintang tidak menyukainya, akhirnya Sesil selalu mengejar-ngejar Bintang seperti sekarang. Cowok yang duduk di samping Bulan tadi, itu Darwin. Cowok kaya raya, seorang abang kelas yang selalu mengejar-ngejar Bulan sedari Bulan kelas sepuluh. Buan selalu menolak Darwin tetapi semakin Bulan menolak Darwin maka semakin gencar juga Darwin mengejar Bulan.

"Kenapa dua makhluk itu nggak jadian ajah sih, biar nggak ganggu gue sama bulan," Batin Bintang emosi.

"Sumpah gue kesel banget sama sih Darwin itu, sok ganteng banget terus berani banget ngajak Bulan pulang bareng," lanjut batin Bintang.

Berjam-jam berlalu, sekitar empat puluh menit lalu SMA Jaya Sakti telah bubar. Saat ini Bulan dan Bintang sedang berada di gramedia, karena hari ini tidak ada latihan olimpiade juga jadi mereka manfaatkan untuk refreshing sejenak.

Bintang menemani Bulan mencari novel, sedari tadi gadis itu begitu asik dengan buku-buku fiksi dihadapannya itu. Bintang kira Bulan hanya menyukai buku yang isinya rumus saja ternyata Bulan juga menyukai buku-buku yang isinya begitu banyak dialog itu. Usai menemani Bulan kini saatnya Bulan menemani Bintang, Bulan sedari tadi menatap Bintang dengan serius. Cowok itu begitu asik dengan komik detektif conan dihadapannya, lo kalau dilihat-lihat ganteng juga ya pikir Bulan.

Usai dengan urusan buku, kedua sejoli itupun pergi membayar buku itu. Bulan mengeluarkan kartu kreditnya, ia menyodorkannya ke arah kasir tapi tiba-tiba kartu kreditnya diambil oleh Bintang dan Bulan yang melihat kejadian itupun mengeryitkan dahinya yaitu menandakan dirinya kebingungan. Apa maksud ni anak ambil kartu kredit gue, pikir Bulan.

"Biar gue yang bayar," kata Bintang sambil tersenyum ke arah Bulan.

"Nggak usah nolak," lanjut Bintang tegas. Seakan-akan tau kalau Bulan akan berusaha menolaknya, Bulan yang mendengar itu hanya pasrah saja sungguh ia sangat tidak enak hati tapi ia tidak mampu menolak karena ia takut cowok itu marah. Bintang berbicara tegas seperti sekarang saja ia takut, apalagi saat Bintang marah.

Usai berurusan sama buku, mereka mampir ke sebuah pusat makan yang tidak jauh dari gramedia itu. Sebuah tempat makan, yang menyediakan menu makanan Nusantara. Bintang melihat Bulan, menyakinkan dirinya apakah benar gadis itu akan makan disini biasanya cewek-cewek jaman sekarang sukanya makan-makan ala-ala luar negeri.

"Lo yakin mau makan disini?" tanya Bintang.

"Yakin dong," jawab Bulan.

"Yaudah gue cari tempat, terus lo pesan makanannya. Oh ya gue mau gado-gado satu ya sama minumnya es teh manis," perintah Bulan yang langsung dituruti Bulan.

Bulan dan Bintang makan dengan begitu nikmat, sesekali mereka bercanda tawa. Sungguh dunia serasa milik berdua. Sedari tadi secara diam-diam Bulan memperhatikan Bintang, entah mengapa memperhatikan cowok itu sepertinya menjadi hobi baru untuk Bulan.

Selesai dengan makan, hari belum terlalu sore mereka pun pergi ke taman kota. Saat ini mereka sedang berada di taman kota, dengan cemilan di tangan mereka. Mereka bercerita lalu bercanda tawa.

"Lan, lo pernah suka sama orang nggak?" tanya Bintang.

"Pernah, bias gue," jawab Bulan santai.

"Bukan itu maksud gue, maksud gue lo pernah nggak sih suka sama cowok gitu misalnya teman lo atau siapa gitu," jelas Bintang.

"Pernah," jawab Bulan sambil menatap ke arah Bintang.

"Siapa? Si Darwin ya?" tanya Bintang.

"Enak ajah, gue nggak suka sama dia," kata Bulan sedikit ketus.

"Kirain gue lo suka sama dia, secara dia ngejar-ngejar lo," ujar Bintang.

"Ya nggaklah, si Sesil juga ngejar-ngejar lo tuh," ucap Bulan.

"Gue iffel, dia bukan tipe gue," kata Bintang datar.

"Terus tipe lo kek gimana?" tanya Bulan.

"Yang lagi gue suka sekarang," kata Bintang sambil tersenyum ke arah Bulan.

"Gue harap orangnya gue, Bin," batin Bulan.

***

Hari ini hari olimpiade, sudah sekitar empat jam yang lalu olimpiade berlangsung. Saat ini tahap final sedang berlangsung, Bulan dan Bintang memasuki tahap final tiga besar. Mereka duduk di kursi peserta, dengan lembaran kertas di hadapan mereka. Menunggu sebuah bell berbunyi agar mereka bisa segera menyesalkan soal-soal itu.

"Tingg...," bunyi bell.

Bulan dan Bintang langsung mengerjakan soal dihadapan mereka, membagi tugas satu sama lain. Waktu mereka hanya satu jam, bagi mereka berdua waktu segitu sudah lebih dari cukup buktinya tidak sampai empat puluh menit mereka telah menyelesaikan soal-soal itu.

"Gue pencet ya bellnya?" tanya Bintang pada Bulan.

"Iya," jawab Bulan singkat.

Bintang memencet bell itu, sontak satu ruangan kaget. Bagaimana bisa ratusan soal dituntaskan dalam waktu kurang dari satu jam. Mereka berjalan menuju meja panitia, memberikan lembar jawaban sekaligus soal. Bulan dan Bintang menunggu di ruang tunggu khusus SMA Jaya Sakti, ketika peserta lain deg-degkan mereka malah asik berselfie.

"Kenapa kalian santai sekali nak?" tanya Pak Indra pembina mereka.

"Simple sih pak, kita udah masuk tiga besar ya otomatis kita bakal menang cuma nggak tau posisi keberapa," kata Bintang.

"Bener tuh pak, lagian urusan menang atau kalah itu biasa. Kalau menang anggap ajah bonus terus kalau kalah ya artinya disuruh belajar lagi," kata Bulan.

"Prinsip pikiran kalian bagus," kata Pak Indra.

Sekitar satu jam lebih mereka menunggu di ruang tunggu itu, entah apa hasilnya mereka pun tak tau yang terpenting mereka sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik. Bu Indah memasuki ruangan itu, lalu ia melihat ke arah Bulan dan Bintang kemudian ia berkata, " Kalian menang, juara satu." Setelah mendengar itu sontak Bulan dan Bintang langsung berpelukan karena kesenangan.

Bulan dan Bintang berjalan beriringan, mereka di panggil untuk mengambil penghargaan yang mereka dapatin. Terlihat dua insan itu, berdiri di podium nomor satu di sana dengan mendali di leher merek a dan juga piala di tangan mereka. Mereka terlihat begitu senang, senyum manis pun selalu terpancar dari bibir mereka sepertinya senyum tidak akan pudar untuk beberapa jam ke depan.

Usai dengan urusan olimpiade, kedua insan itu tidak langsung pulang mereka pergi ke pantai. Entah mengapa, rasanya mereka selalu ingin menghabiskan waktu berdua. Bulan sedang bermain pasir, mengukir namanya dan Bintang di pasir itu dan ukiran nama itu hilang saat diterjang ombak kecil.

Mereka duduk di pinggir pantai, berteduh di bawah pohon rindang itu. Menatap indahnya panorama alam, semua hal dihadapan mereka terasa begitu indah. Bintang menatap ke arah Bulan, sungguh gadis itu sangat cantik sekali lalu Bintang berkata, " Bulan kamu itu kalsium, nitrogen, titanium dan kalium." Bulan yang mendengar itu langsung merona, sungguh dirinya salting. Bulan sangat mengerti yang dikatakan Bintang, secara ia anak olimpiade kimia di tahun lalu.

"Aku udah cantik dari lahir kali," ucap Bulan percaya diri.

"Gue suka sama lo," ucap Bintang tiba-tiba dengan lantang dalam satu tarikan nafas.

Bulan yang mendengar itu langsung kaget, ternyata perasaan tidak bertepuk sebelah tangan. Sungguh selama ini Bulan memang sudah ada perasaan sama Bintang entah dari kapan perasaan itu muncul ia pun tidak tau, Bulan menatap ke arah Bintang lalu berkata, "Gue juga suka sama lo." Bintang sontak langsung melihat ke arah Bulan, sungguh dunianya begitu indah.

Kedua insan itu terdiam, seperti ada satu kalimat lagi yang ingin mereka ungkapkan namun rasanya ragu. Semua rasa ragu berusaha di tepis oleh mereka, kedua insan itu pun berkata secara serentak, "Tapi gue nggak bisa pacaran." Bulan melihat ke arah Bintang, bagaimana mungkin semua ini bisa begitu kebetulan.

"Kita sebatas ini ajah ya, nggak usah lebih," kata Bulan sambil menatap bola mata Bintang.

"Iya," jawab Bintang sambil tersenyum.

"Belum waktunya kita pacaran, kita masih SMA. Masih terlalu kecil dan masih harus mengejar cita-cita," lanjut Bintang.

"Lebih tepatnya, karena pacaran semua karir kita di bidang akademik akan hancur," ucap Bulan.

"Bener banget, kita udah susah membangun itu semua," kata Bintang mengangguk.

"Kita seperti simbiosis mutualisme ajah ya," kata Bulan sambil tersenyum.

"Pasti, aku untung kamu juga untung," kata Bintang.

"Oh ya, kita seperti biasa ajah ya dekat terus. Lagian ada keuntungan juga kalau kita dekat, Sesil sama Darwin nggak akan ganggu kita juga," lanjut Bintang yang diangguki oleh Bulan.

Kedua insan itu kembali bermain di pantai itu sambil bercanda tawa, tak jarang sesekali mereka mengabadi moment itu karena bisa saja moment itu tidak akan datang untuk kedua kalinya. Sungguh suka itu tidak harus memiliki bahkan hanya dekat saja sudah lebih dari cukup, terkadang ada perasaan yang harus dikontrol demi keadaan masa depan yang lebih baik.

-TAMAT-

Komentar

  1. Sakit gak sih, Kak. Suka namun akhirnya tak bisa memiliki?

    BalasHapus
  2. Akhirnya walaupun enggak jadian, tapi Bulan enggak jadi sad girl, lagi, wkwkwkwkkw.

    BalasHapus
  3. Dududu, telah melewati masa ini dan baca ceritanya berasa flash back beberapa tahun silam

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)