Cerita Pendek (Bertahan)

 Bertahan

Teriknya matahari begitu menyengat di kulit, panasnya begitu bergejolak namun itu tidak menghentikan pertandingan bola basket di lapangan outdoor SMA Harapan Jaya. Pertandingan antara siswa kelas dua belas dan kelas sebelas itu begitu sengit, selisih point kedua tim itu hanya satu sementara waktu tinggal lima menit lagi. Menit demi menit berlalu, tiba-tiba tim kelas dua belas berhasil mencetak satu point yang dilakukan oleh Kiandra atau di sapa Kian si most wanted di sekolahnya itu.

"Yeahhhhhhhh," teriak para siswa siswi SMA Harapan Jaya di sekeliling lapangan itu.

Kedua tim beristirahat, begitu banyak para wanita yang mendatangi para pemain untuk mengelap keringat ataupun memberikan minuman. Sama seperti wanita lainnya, Widianti atau Widi juga mendatangi para pemain sambil membawa sapu tangan dan minuman.

"Kak Kian, ini Widi bawa sapu tangan buat kakak sama ini ada air mineral juga," ujar gadis itu sambil menyodorkan kedua benda itu kehadapan Kian.

"Eh cupu, ngapain sih lo caper sama kak Kian," kata seorang gadis dengan pakaian ketat yang kini berdiri disampingnya.

"Lo bawa ajah semuanya, gue nggak butuh dari lo soalnya gue udah dapat dari yang lain," ucap Kian.

Widi pergi dari situ, sedari dulu perhatiannya selalu ditolak oleh Kian. Widi hanyalah seorang gadis polos dengan kacamata yang bertengger di hidungnya dan juga rambut di kepang dua. Widi berjalan, melewati kerumunan yang cukup ramai tiba-tiba saja minuman dan sapu tangannya di rampas.

"Eh jangan diambil itu buat kak Kian," ujar Widi.

"Kian nggak mau, jadi buat gue ajah," kata Randy yang satu tim basket dengan Kian.

"Hm yaudah deh," ucap Widi pelan.

"Makasih ya Widi yang cantik," kata cowok itu sambil mencubit pipi kiri Widi yang gemoy itu.

"Iiiiiii kak Randy, sakit," teriak Widi yang membuat Randy kaget dan langsung berlari darinya.

Selesai tanding basket di jam kosong satu sekolah karena guru-guru rapat, saat ini waktunya belajar karena masih ada beberapa jam sebelum pulang sekolah. Widi begitu fokus dengan angka-angka di papan putih yang ada dihadapannya itu, tangannya meraba-raba di kolong mejanya mencari tempat pensil tiba-tiba dia terpegang kota bekal warna biru.

"Gue lupa kasih sarapan ini ke kak Kian, nanti pulang sekolah ajah deh gue kasih," batin Widi.

Widi kembali fokus pada pelajarannya, sesekali ia menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh guru mapel. Widi termasuk anak paling pintar di sekolahnya, semester lalu saja Widi berhasil menduduki juara umum dua jadi tidak heran kalau ia begitu pintar.

Widi berlari-larian ke parkiran, mencari Kian. ia terlambat keluar kelas karena mencatat materi matematika, ia melihat ke arah kanan dan kiri. Terus mencari keberadaan Kian, tatapannya pun terfokus pada segerombolan cowok di ujung parkiran. Widi berjalan menuju gerombolan cowok itu, ia tau Kian pasti ada di sana bersama teman-temannya.

"Permisi," ucap Widi sopan.

"Eh ada neng Widi, nyari siapa neng?" tanya seorang cowok dengan badan gendut.

"Cari kak Kian," ucap Widi.

"Ni kak ada roti, sebenarnya roti itu buat sarapan kak Kian cuma Widi lupa kasih tadi pagi jadi Widi kasih sekarang ajah deh," lanjut Widi panjang kali lebar.

"Nggak usah, mending lo bawa pulang. Gue bukan anak TK lagi sampai perlu dibawain bekal kek gitu," ucap Kian menolak.

"Tapi...," ucapan Widi terpotong.

"Nggak ada tapi-tapi, gue nggak suka jadi lo bawa pulang aja ya," ujar Kian sedikit kasar.

Widi memutarkan badannya, berjalan menjauh dengan wajah cemberut sambil menatap kota bekal yang baru saja ditolak Kian. Widi terus berjalan, menuju gerbang sekolah ia akan segera pulang karena supirnya sudah menunggu namun tiba-tiba Widi menabrak seseorang hingga tempat bekal yang ia bawa terjatuh.

"Eh maaf kak nggak sengaja," ucap gadis di hadapannya, mungkin saja itu adik kelasnya karena ia memanggil Widi dengan sebutan kakak.

"Iya nggakpapa dek," kata Widi sambil tersenyum.

Widi menunduk ingin mengambil kotak bekal itu namun baru saja ia mengambilnya tapi sudah keduluan dengan tangan kekar. Randy mengambil kotak bekal itu lalu membukanya dan memakan roti dengan selai stroberi di dalamnya, Randy pun melihat Widi dan berkata, "Buat gue ya rotinya sambil terus memakannya." Widi yang melihat kelakuan Randy hanya diam saja, lalu berjalan keluar gerbang memasuki mobil hitamnya dan meluncur ke rumahnya.

"Gue bakal gini terus ke lo, Wid. Gue bakal terus cari perhatian lo apapun yang terjadi," batin Randy.

"Gue kek gini juga supaya bisa deket sam lo, Wid," gumam Randy pada dirinya sendiri


***

Hari ini Widi bangun lebih pagi, ia memasak nasi goreng buat Kian. Ia begitu gesit memasaknya, memasukkan setiap bumbu yang telah disiapkan sebelumnya ke dalam wajan yang berisi nasi itu. Usai memasaknya ia memasukannya ke sebuah kotak bekal berwarna hijau, sempat menghirup aroma nasi goreng buatannya yang begitu menggugah selera.

Widi berjalan, memasuki gerbang sekolahnya. Melangkah menuju kelas Kian yang berada di lantai dua, kakinya terus melangkah hingga sampai di depan kelasnya. Widi masuk ke kelasnya dan langsung menemui Kian kemudian menyodorkan kota bekal yang ia bawa.

Kian yang melihat kelakuan Widi langsung menepis kotak bekal itu hingga terjatuh, ia pun berkata, " Guekan usaha bilang kalau gue bukan anak TK yang harus dibawain bekal kek begitu, harusnya lo paham dong," Teriak Kian yang dilihatin orang-orang yang berada di kelas itu.

"Eh cupu, mending lo nggak usah ngejar-ngejar Kian lagi," kata seorang cewek dipojok kelas itu.

"Gue risih lo ngejar-ngejar gue mulu," ucap Kian yang menusuk hingga ke jantungnya Widi.

Seseorang memasuki kelas itu, mengambil kotak bekal yang terjatuh di lantai itu. Menggapai tangan Widi lalu menariknya keluar kelas itu, berjalan melewati orang-orang yang terpaku kepada mereka hingga menuju taman sekolah. Cowok itu membuka kotak bekal itu dan memakan nasi gorengnya dengan lahap, lalu menatap cewek itu kemudian berkata, "Kalau sih Kian nggak mau mending lo kasih gue ajah."

"Kak Randy, kok baik banget sih sama aku?" tanya Widi dengan suara pelan. 

"Pengen baik aja," jawab Randy singkat namun terkesan ambigu di telinga Widi. 

"Muka lo kok nunduk terus?" tanya Randy yang baru saja menyadari jika sedari tadi gadis itu terus menunduk. Widi yang mendengar pertanyaan Randy pun hanya menggelengkan kepalanya.

"Lo sedih digituin sama si Kian?" tanya Randy yang diangguki oleh Widi.

"Lo beneran suka sama si Kian?" tanya Randy pada Widi yang lagi-lagi diangguki oleh Widi.

"Sejak kapan lo suka sama si Kian?" tanya Randy.

"Sejak awal masuk sekolah, gue udah suka banget sama dia makanya gue suka bawain dia makanan terus nonton pertandingan dia sama yang lainnya yang berhubungan dengan kak Kian," jawab Widi pelan.

"Dari dulu sikap kak Kian selalu gitu ke gue, gue nggak tau lagi harus gimana supaya bisa dapatin hati kak Kian. Setiap makanan yang gue bawa selalu ditolak sama di buang yang ujung-ujungnya dimakan sama kak Randy," lanjut Widi panjang lebar.

"Lo mau gue bantu nggak supaya Kian suka sama lo?" tanya Randy.

"Emang bisa kak?" tanya Widi sambil menatap manik mata Randy mencari kepastian disana atas perkataan cowok itu barusan.

"Bisa," jawab Randy singkat.

"Gimana caranya kak?" tanya Widi.

"Pulang sekolah nanti lo temui gue di parkiran," ujar Randy sambil beranjak dari kursinya meninggalkan Widi sendiran.

Waktu terus berjalan, saatnya pulang sekolah pun tiba. Baru saja sekitar empat jam Widi di lingkungan sekolahnya dan sekarang ia harus pulang karena guru-guru ada acara, Widi berjalan menuju parkiran mencari Randy.

"Widi, sini," teriak Randy di tengah parkiran, Widi berjalan menuju tempat Randy.

"Lo ikut gue ya," ucap Randy.

"Kemana kak?" tanya Widi.

"Udah nggak usah banyak nanya, mending lo ikut gue," ucap Randy sambil membuka pintu mobilnya.

"Yaudah deh," kata Widi sambil memasuki mobil Randy.

Randy menyetir mobilnya, meninggalkan perkarangan sekolah kemudian menelusup di ramainya jalanan kota. Ia berjalan sambil sesekali menatap ke arah Widi yang sedang melihat ke luar jendela, ia sesekali tersenyum tipis melihat Widi.

"Lo kalau mau Kian suka sama lo, lo harus nurutin gue terus nggak usah ngebantah gue ya," kata Randy sambil sesekali melihat ke arah Widi.

"Iya kak," kata Widi sambil mengangguk. 

Randy berjalan terus, menuju tempat yang bisa merubah Widi agar Kian menyukainya. Randy berhenti di sebuah salon, menatap gadis yang dibawanya sepertinya gadis itu ingin mengatakan sesuatu namun sebelum gadis itu mengatakan sesuatu ia berkata lebih dulu, "Gue tau lo mau ngomong, tapi nggak usah mending lo simpan suara lo itu dan lo nurut sama gue." Widi yang mendengar perkataan Randy pun langsung menelan kembali semua pertanyaannya.

Randy memasuki salon itu, lalu berbicara pada pegawai di salon itu kemudian pegawai salon itupun langsung mengerjakan yang dikatakan Randy padanya. Randy menunggu Widi di makeover, meskipun cukup lama namun tidak apa.

Usai dari Salon, Randy membawa Widi menuju ke mall. Randy membeli beberapa pakaian dan juga skincare serta makeup buat Widi, sejujurnya Widi ingin berprotes namun tidak bisa karena setiap kali ia ingin mengeluarkan suara selalu saja Randy melarangnya.

Randy mengantarkan Widi pulang ke rumahnya, lalu ia memberikan semua yang telah ia beli tadi pada Widi meskipun Widi menolaknya namun Randy terus saja memaksa Widi untuk menerimanya jadi mau tidak mau Widi pun menerimanya.

"Lo bawasemua ini dan lo pakai, terus besok lo ke sekolah pakai makeup tipis ya. Gue yakin lo tau makeup tipis," kata Randy.

"Terus besok pagi gue jemput lo, lo jangan membantah gue," lanjut Randy.

"Sekarang lo masuk rumah dan istirahat ya," ujar Randy yang dituruti oleh Widi. 

***

Seperti kata Randy semalam, ia menjemput Widi pagi ini. Sudah sedari lima menit lalu Widi berada disampingnya, ia terus saja memperhatikan gadis itu. Sungguh gadis itu sangat cantik, jantungnya jadi semakin berdebar dari hari-hari biasanya. Ia memperhatikan gadis itu dari ujung kaki hingga ujung rambutnya, tiba-tiba ia terfokus pada kotak bekal yang ia pegang.

"Itu buat Kian?" tanya Randy.

"Iya kak," jawab Widi singkat.

"Buat gue ajah," kata Randy sambil merebut kotak bekal itu dan memakan roti di dalamnya.

"Tapi kak...," belum selesai ucapan Widi sudah di potong oleh Randy.

"Nggak ada tapi-tapi, kalau lo mau Kian suka balik sama lo, lo harus nurutin gue," kata Randy tegas yang diangguki oleh Widi.

Randy melajukan mobilnya menuju sekolahnya, beberapa menit di dalam perjalanan di nikmatnya sambil melihat Widi yang begitu cantik hari ini. Penampilan Widi benar-benar berubah tidak lagi menggunakan kacamata, rambutnya tidak di kepang lagi melainkan diurai dan juga makeup tipis di wajahnya yang menambah kecantikannya. Randy memasuki mobilnya ke perkarangan sekolah, lalu memarkirkan mobilnya diantra mobil-mobil bermerek lainnya. 

Randy menahan tangan Widi yang ingin keluar dari mobil kemudian ia berkata, "Oh ya lo pokoknya harus cuek sama Kian, lakuin ajah perintah gue kalau lo mau Kian suka balik sama lo." Widi mendengar perkataan Randy hanya mengangguk dengan setengah hatinya yang mengiyakan perkataan Randy dan setengah lagi tidak mengiyakan perkataan Randy.

Widi berjalan menuju kelasnya, ia merasa sedikit aneh entah mengapa anak-anak sekolah melihatnya hari ini. Widi merasa tidak ada yang salah dengan yang ia pakai, semuanya terlihat okeh saja. Widi sampai ke kelasnya, memasuki kelasnya lalu mendudukkan bokongnya di kursinya dan langsung saja bell berbunyi sungguh semuanya terasa pas. Widi mengikuti pelajaran dengan fokus, menatap setiap tulisan dipapan tulis putih itu. Jam istirahat tiba, Widi keluar dari kelasnya, berniat menuju kantin mengisi perutnya yang lapar namun ia kaget karena ada Kian di depan kelasnya.

"Widi, kantin yuk," ajak Kian.

Widi mempertajam pendengarannya, bagaimana mungkin ini bisa terjadi sungguh ia berharap ia tidak salah dengar atau hanya prank saja. Widi terdiam sesaat kemudian berkata, " a-a-ayok kak."

Widi berjalan ke kantin bersama Kian, ia sungguh senang sebab ini pertama kalinya ia berjalan beriringan dengan cowok itu setelah dua tahun ia menyukai cowok itu. Widi memasuki kantin, lalu ia duduk di kursi yang ada di kantin, Kian menarik kursi itu membiarkan Widi duduk di situ.

"Mau bakso nggak?" tanya Kian lembut.

"Boleh kak," jawab Widi.

Kian memesankan bakso untuk Widi, lalu ia makan berduaan dengan Widi di kantin. Semua kejadian itu tidak lepas dari pandangan Randy, sungguh hatinya tersayat namun tidak apa-apa asalkan Widi bahagia. Widi terlihat begitu bahagia bersama Kian, tertawa bersama dengannya. Randy merasa misinya berhasil, ia tidak perlu lagi khawatir Widi akan sakit hati karena sikap Kian pada gadis itu. 

***

Widi sedang menonton pertandingan saudara antara tim basket SMA Harapa Jaya dengan SMA tentangga yaitu SMA Indah Bangsa, Widi berada di lapangan itu sambil memegang barang-barang Kian. Kian meminta Widi untuk datang ke pertandingannya, bahkan Kian tidak segan-segan menjemput Widi.

Usai pertandingan, Widi langsung nyamperin Kian memberikan sapu tangan dan minuman pada cowok itu. Saat ini mereka sudah sangat akrab, sungguh seperti sepasang kekasih. Tanpa disadari itu semua terlihat oleh Randy di ujung lapangan, sambil meminum sebotol air mineral dan juga mengelap keringatnya sendiri tanpa bantuan siapapun.

"Wi, pulang nanti ikut gue ke suatu tempat yuk," ajak Kian.

"Iya," jawab Widi lembut.

Pertandingan telah selesai, permainan di menangkan oleh tim Kian. Kian membawa mobilnya, menuju ke suatu tempat yang hanya diketahui olehnya tidak dengan Widi. Setengah jam perjalanan berlalu, akhirnya mereka sampai ke sebuah taman buatan. Taman itu begitu indah, seperti sengaja dihiasi. Kian mengajak Widi ke tengah-tengah taman itu, mendudukkan Widi ke kursi yang telah ia siapkan.

Kian menunduk dihadapan Widi, memegang tangan gadis itu lalu ber,kata "Wid, selama beberapa bulan ini kita dekat dan aku ngerasa aku nyaman sama kamu sampai tanpa disadari rasa cinta itu muncul sendiri. kamu pengen nggak jalanin hubungan yang lebih sama aku? Kamu mau jadi pacar akukan ,Wid?."

"Kak Kian nembak aku?" tanya Widi dalam hatinya seakan-akan tidak percaya.

Selama beberapa bulan ini, semenjak penampilan Widi berubah mereka menjadi sangat dekat. Seakan-akan kedua sejoli itu satu rangkap, dimana ada Kian disitu juga ada Widi dan sebaliknya. 

"Seharusnya gue seneng karena ini yang gue mau dari dulu, tapi kenapa gue malah nggak senang. Terus kenapa dari kemarin gue selalu mikirin kak Randy," batin Widi.

"Gue ngerasa hidup gue kosong tanpa kak Randy dan gue pengen kak Randy yang jadi pacar gue bukan kak kian," ucap Widi dalam hatinya.

"Iya gue harus cari kak Randy sekarang," lanjut widi di dalam hatinya. 

Widi menatap Kian, lalu ia membuka mulutnya dan berkata, "Maaf kak nggak bisa." Kian yang mendengar itupun sangat kaget, bukankah dahulu gadis dihadapannya itu begitu menyukainy lalu mengapa sekarang ketika ia sudah menyukai gadis itu dan ingin menjadikan gadis itu pacarnya tapi gadis itu malah tidak mau.

"Kenapa?" tanya Kian.

"Aku nggak suka sama kakak, aku harus pergi sekarang. Aku haruscari kak Randy," ucap Widi langsung meninggalkan Kian.

"Widi tunggu," teriak Kian yang diabaikan Widi.

Widi terus berjalan cepat, mencari taksi namun naasnya tidak ada satupun taksi yang lewat. Ia segera ingin bertemu Randy dan ingin mengatakan yang semua ia rasakan, ia tidak perduli bagaimanapun ekspresi Randy nantinya sebab ia akan menerima semuanya. Ditengah kehebohan Widi tangannya ditarik oleh pemilik sebuah mobil yang baru saja berhenti di hadapannya.


"Aaaaaa, tolong jangan culik Widi," teriak Widi sambil memejamkan matanya.

"Woi, siapa juga yang mau nyulik gadis heboh kwn lo," ucap orang itu. Widi diam, ia sangat pemilik suara itu.

Widi membuka matanya, lalu langsung memeluk pemilik suara itu. Randy merasa ada yang aneh dengan gadis itu, ia pun langsung membalas pelukan gadis itu. Tanpa diketahui oleh Widi dan juga Kian, sedari tadi Randy mengikuti dua orang itu karena Randy sempat mendengar Kian ingin membawa Widi ke suatu tempat lalu karena penasaran Randy pun mengikutinya. Randy kehilangan jejak selama mengikuti kedua sejoli itu, lalu menemukan Widi yang sedang celingak-celinguk seperti mencari sesuatu di pinggir jalan dan tanpa berpikir panjang Randy pun menarik tangan gadis itu ke dalam mobilnya.

"Kak, aku suka sama kakak. Aku ngerasa kehilangan kakak selama ini, kakak udah nggak pernah makan bekal yang aku bawa lagi. Aku sepi kak dan kakak tau nggak aku suka sama kakak," ucap gadis itu panjang lembar sambil menangis.

Randy shock mendengarnya, jadi selama ini gadis itu menyukainya dan cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Randy mengusap air mata gadis itu lalu berkata, " aku juga suka sama kamu." Widi yang mendengar itu mematung, menatap manik Randy mencari kepastian disana dan benar saja yang diucapkan oleh Randy itu tidak bohong. Sama sekali tidak terlihat kbohongan di manik Randy. 

"Kok bengong? Jadi kamu mau nggak jadi pacar aku?" tanya Randy. Widi mendengar itu pun menganggu dengan rona pink dipipinya.

"Nggak sia-sia selama ini gue bertahan buat suk sama lo, Wid. Gue bahagia banget hari ini karena usaha gue buat bertahan tetap suka sama lo ternyata membuah hasil juga," Batin Randy sambil menatap senyum manis nan cantik dari gadis dihadapannya itu. 


***

Widi dan Randy, menjadi couple goal di sekolah mereka. Setiap insan yang melihat kedekatan mereka pasti iri, di sisi lain Kian sudah menerima semuanya. Ia ditolak oleh Widi karena perbuatannya yang sebelumnya selalu mengabaikan Widi dan juga menyakiti hatinya tanpa disadari olehnya, oleh sebab itu Kian pun merubah sikapnya sekarang. Kian mulai menghargai fans-fansnya yang seperti Widi ataupun orang yang menyukainya seperti Widi, jika Kian tidak suka ia akan menolaknya secara baik-baik. Meskipun ada rasa kecewa dihatinya karena di tolak Widi, namun tidak apa baginya asalkan Widi bahagia.

-TAMAT-

Komentar

  1. Sweet ya Randy, akhirnya perjuangan kamu berbuah manis

    BalasHapus
  2. Cuteee... cerita yang sangat dekat dengan kehidupan kita kalau dituliskan tuh jadi senyum-senyum sendiri ya bacanya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)