Cerita Pendek (Alvino)
ALVINO
Jalanan kota Bandung pagi hari ini
begitu padat, namun hal itu tidak masalah bagi pengendara sepeda yang bisa
menelusup di antara kemacetan kendaraan-kendaraan di jalanan itu.
Pengendara sepeda itu menggunakan seragam putih abu-abu lengkap dengan lambang
SMA Harapan Bangsa, ia begitu lincah melewatkan kemacetan kota seperti sudah
sangat terbiasa melewatinya.
Pengendara sepeda itu bernama Putra Alvino atau yang biasa dipanggil Vino, ia
seorang pemuda dengan usia delapan belas tahun. Vino memiliki tubuh yang tinggi
dengan berat badan yang ideal, alis tebal, hidung mancung, rambut pendek yang
lebat, dan senyum manis dari bibirnya yang tebal.
Setelah beberapa belas menit Vino melewati kemacetan kota akhirnya ia sampai
juga di sekolahnya, walaupun sedikit telat namun tidak masalah baginya. Vino
pun langsung masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran pertama yaitu biologi salah
satu pelajaran kesukaannya.
Saat jam istirahat Vino hanya berada di kelas sambil membaca buku catatan
biologinya, sebenarnya ia ingin sekali pergi ke kantin dan membeli makanan
untuk mengisi perutnya yang sangat kelaparan sekarang namun hal itu
dilakukannya karena uang yang ia punya hanya sedikit dan itu untuk membeli obat
kedua adiknya yang sedang sakit sekarang ini.
Berjam-jam berlalu kini jam pulang kerjanya pun tiba, Vino pun mengambil upah hariannya lalu ia pun pergi membeli obat untuk kedua adiknya dan ia pun membeli makanan. Hari akan segera menuju gelap dan Vino pun semakin cepat mengayuh sepedanya menuju ke rumah bibinya untuk menjemput adiknya yang diantar pagi tadi oleh dirinya, ya itu penyebab Vino telat ke sekolahnya.
Beberapa menit berlalu kini Vino sudah sampai di depan rumah bibinya, Vino pun memarkirkan sepedanya lalu ia masuk ke dalam rumah bibinya.
"Assalamualaikum bi," ucap Vino sambil masuk ke dalam rumah kecil itu.
"Walaikumssalam," jawab bibi Vino.
"Citra sama Vany mana bi?," tanya Vino.
"Mereka ada di kamar sedang tidur," jawab bibi.
"Kalau gitu Vino bangunin ya bi supaya bisa langsung pulang," kata Vino.
"Jangan, biarkan saja mereka tidur di sini malam ini sama kamu juga tidur disini saja," ucap bibi lembut.
"Tapi..," kata vino.
"Nggak ada tapi-tapi, kasihan kedua adik mu harus ke sana sini lagian kamu juga disuruh tinggal disini tidak mau malah pilih tinggal di rumah peninggalan orang tua mu," potong bibi.
"Orang tua mu sudah tiga tahun lebih meninggal Vin dan selama itu juga kamu egois, kamu malah milih tinggal sendiri bukannya menemani bibi disini," lanjut bibi.
Vino yang mendengar penuturan dari bibinya itupun hanya bisa diam, ia bukan tidak mau menemani bibinya hanya saja ia takut merepotkan bibinya dan ia juga merasa mampu mengurus adik-adik serta dirinya sendiri.
Malam pun telah tiba kedua adik Vino telah bangun dan saat ini mereka sedang makan bersama-sama di ruang tengah rumah bibi Vino, Vino yang melihat kedua adiknya lahap makan pun menjadi tersenyum dan senang karena beberapa hari yang lalu adik-adiknya ini tidak ingin makan sama sekali.
Hari ini Vino pulang sekolah cepat karena guru-guru di sekolahnya sedang ada rapat, hal ini pun dimanfaatkan Vino untuk mencari uang. Kini Vino sudah berada di bengkel dan bersiap-siap untuk memperbaiki mobil yang berada di hadapannya saat ini.
Beberapa jam berlalu kini waktu Vino untuk pulang kerja, ia pun mengambil gajinya hari ini.
"Nak Vino," panggil pak Bara bos Vino.
"Iya pak," jawab Vino.
"Tumben nak Vino belum meliburkan diri," kata pak Bara.
"Maksudnya pak?," tanya Vino karena tidak paham.
"Biasanya kalau akhir semester seperti sekarang nak Vino selalu minta izin untuk libur kerja karena mau belajar buat ujian tapi sekarang kenapa tidak? Padahal sudah akhir semester dan nak Vino juga sudah kelas dua belas pasti nak Vino perlu banyak belajar karena sebentar lagi mau kuliah," jelas pak Bara.
panjang lebar.
"Nanti ajah liburnya pak soalnya lagi butuh uang, kalau soal kuliah
sepertinya saya tidak kuliah pak," ucap Vino sambil tersenyum dengan
paksa.
"Loh kenapa?," tanya pak Bara.
"Tidak ada biaya pak," jawab Vino singkat.
"Terus masalahnya apa? Kamu tidak punya uang tapi kamu punya kepintaran,
nah pakai kepintaran kamu itu buat cari beasiswa ke sana sini," ucap pak
Bara.
"Iya pak," kata Vino singkat.
Waktu terus berlalu kini Vino sudah meliburkan diri dari kerjanya dan fokus untuk mengikuti ujian akhir di sekolahnya namun ujian kali ini sedikit membuat Vino tidak bersemangat karena ia bingung ke mana ia akan pergi setelah lulus dari sekolahnya sekarang ini, Vino ingin sekali kuliah namun ia tidak punya biaya dan untuk mendapatkan beasiswa itu sangat sulit bagi dirinya.
Har- hari ujian Vino pun berlalu dengan cepat kini Vino sudah selesai ujian, ia pun kembali berkerja di bengkel. Saat ini sedang istirahat,, Vino pun membuka sosial medianya dengan niat menghibur diri dari kepenatannya. Tangan Vino terus menscrool foto-foto di pencarian instragramnya, ia melihat foto-foto orang-orang menggunakan almamater dan hal itu membuat Vino tersenyum sedih.
"Vino," teriak Satria teman kerja Vino.
"Iya bang kenapa?," tanya Vino.
"Ini abang punya info bagus buat kamu," ucap satria.
"Apa tuh bang?," tanya Vino.
"Ini coba kamu lihat dulu poster ini," ucap Satria sambil menunjukan poster digital yang ada di handphonenya.
"Jadi dulukan abang juga seperti kau ini, mau kuliah tapi tak ada biaya jadi Abang ikutlah beasiswa yang ada di poster ini," lanjut Satria.
"Oooo," ucap Vino sambil mengangguk.
"Kok ooo ajah kau ini, jadi maksud abang kasih tengok kau ini supaya kau ikut juga," ucap Satria.
"Kau tak lupakan kalau minggu lalu kau cerita ke abang kalau kau mau kuliah tapi tak ada biaya," lanjut Satria.
"Nggak kok bang," kata Vino.
"Ya sudah ko ikut saja beasiswa ini, abang yakin kalau kau jebol ini," ucap Satria sambil memukul pundak Vino.
"Iya bang aku pasti ikut, doain supaya aku jebol ya bang," ucap Vino sambil tersenyum senang.
"Pastilah itu," kata Satria.
"Oh ya kau siapkan ajah berkasnya terus buat tes beasiswa ini nantikan online terus bagusnya pakai laptop, kau kan tak punya laptop jadi pakai laptop ajah ya," lanjut Satria.
"Iya bang makasih ya," ucap Vino sambil memeluk satria.
Beberapa minggu lalu Vino telah menyiapkan berkas untuk beasiswa dan Vino pun telah lulus seleksi tahap berkas itu, kini Vino harus mengikuti tes beasiswa itu. Vino sudah berada di kos Satria sedari satu jam lalu, ia sudah siap dengan laptop Satria di hadapannya.
Saat tes di mulai Vino pun terlihat begitu serius mengisi soal-soal yang berada di hadapannya itu, Satria yang melihat itu pun hanya diam dan tak menganggu teman sekali orang yang ia anggap sebagai adiknya itu.
Sekitar satu jam berlalu, kini Vino sudah selesai mengisi soal-soal itu dan sudah di kirim juga. Vino hanya perlu menunggu hasilnya saja.
"Semoga kali lulus ya," kata Satria pada Vino.
"Amin bang," ucap Vino.
Beberapa minggu berlalu semenjak kejadian Vino mengikuti tes beasiswa itu, kini Vino kembali lagi ke kost Satria untuk membuka hasil tesnya itu. Sedari tadi jantung Vino berdebar menunggu hasil pengumumannya yang akan keluar sekitar tiga puluh menit lagi, menit terus kian berlalu dan kini Vino sedang mencari namanya di beda laptop yang ada dihadapannya itu. Vino terus membaca dengan teliti nama-nama orang yang ada di hadapannya itu dan ia pun kaget menemukan namanya di urutan ketiga puluh, Vino begitu senang begitu juga dengan Satria.
Berbulan-bulan telah berlalu, kini Vino sudah masuk kuliah tepatnya di Universitas Maranatha Bandung. Vino tidak lagi bekerja di bengkel tapi ia telah pindah kerja di Cafe Lain Hati yang lokasinya tidak jauh dari kampusnya, disitu Vino bekerja sebagai seorang barista.
Saat ini cafe sedang kosong jadinya Vino pun memilih mengerjakan tugas kuliahnya, satu persatu kata telah di tulis Vino di dalam buku kuliahnya itu.
"Assalamualaikum,"
ucap Vino saat mengangkat teleponnya itu.
"Walaikumssalam bang," ucap Citra adik Vino di seberang sana.
"Citra, ada apa?," Tanya Vino.
"Citra cuma mau ngomong kalau transferan abang udah masuk," ucap
Citra.
"Oh itu, pakai uangnya baik-baik ya terus jangan nakal biar bibi nggak
kesusahan ngurus kalian," ucap Vino.
"Siap bang," kata Citra.
"Kalau gitu Citra matiin telponnya ya bang, soalnya Citra mau pergi
bentar," lanjut Citra.
"Yaudah hati-hati," ucap Vino.
"Bye Abang," ucap Citra sambil langsung mematikan telponnya.
Vino hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adiknya yang mematikan
telpon sebelah pihak saja. Beberapa bulan yang lalu Vino menitipkan kedua
adiknya untuk tinggal di rumah bibinya karena Vino harus pindah sesaat dari
tempatnya untuk pergi kuliah, meskipun masih di Bandung namun jarak antara
kampus dan rumah Vino sangat jauh.
Bertahun-tahun berlalu, kini Vino sedang memakai baju toga di depan kampusnya dan berfoto-foto bersama kedua orang adik kesayangannya serta bibinya.
"Alhamdulillah ya Vin kamu udah lulus," ucap bibi sambil tersenyum ke arah Vino.
"Iya bi," ucap Vino sambil tersenyum.
"Abang ganteng deh," ucap Vany adik Vino.
"Iya ganteng banget," Lanjut Citra.
"Makasih sayang," kata Vino sambil memeluk kedua adiknya itu.
Setelah beberapa minggu Vino lulus kuliah, ia pun langsung bekerja di perusahaan dahulu ia magang. Dahulu Vino magang di perusahaan itu hanya sebagai seorang staf biasa tapi kini Vino bekerja di sana sebagai Manager Marketing, Vino terlihat begitu tanpa dengan setelan jas hitam dan Kemeja putih di tubuhnya.
Kehidupan Vino kini telah berubah menjadi lebih baik, ia pun bisa membahagiakan bibinya dan kedua adiknya dengan gaji dari kerjaannya yang sekarang serta memberikan kehidupan yang layak
masyaallah ending sesuai harapan..semoga vino lebih baik lagi
BalasHapusCeritanya sederhana, tapi sangat menginspirasi.
BalasHapus