Cerita Bersambung (Semua Karena Waktu #5)

Bella membuka matanya, melihat ke sekelilingnya ia masih berada di sebuah ruangan namun ruangan ini sedikit berbeda dari ruangan yang ia masuki tadi. Ruangan ini menjadi lebih kecil dari ruangan yang semula Bella masuki dan tembok ruangan ini bukan terbuat dari batu bata seperti ruangan yang ia masuki tadi melainkan dari kayu tua yang sudah lapuk. Barang-barang yang ada di ruangan ini pun terlihat sangat tua sekali, keluarga Bella pun tidak pernah menyimpan barang-barang itu.

"Gu-gue dimana?" tanya Bella dengan gugup pada dirinya.

Kepanikan menyerang Bella, sungguh saat ini keringat dingin sangat dominan di tubuhnya. Badannya terasa sakit, entah apa yang baru saja terjadi ia pun tidak tau mungkin saja ia baru di culik. Bella melihat-lihat ke sekelilingnya, mencari pintu agar dirinya segera keluar dari ruangan jahanam itu.

Bella melangkah secara perlahan menuju sebuah pintu yang jaraknya sekitar dua puluh langkah dari posisinya yang sekarang, Bella berjalan menuju pintu itu dengan tertatih-tatih. Bella membuka pintu itu dengan tangan bergetar mungkin efek rasa takut makanya tangannya bergetar. 

Bella membuka pintunya, matanya membulat sungguh ia sangat kaget. Bella menggelengkan kepalanya, ia sungguh tidak menduga kemudian ia pun berucap, "Gimana ceritanya gue bisa di gubuk tua yang berada di tengah hutan ini, gue harus keluar dari sini sekarang juga." Bella mengangguk tanda mengiyakan ucapannya, Bella melangkah dengan langkah yang cukup besar untuk segera meninggalkan hutan itu.

Bella berjalan terus, langkah demi langkah berlalu namun ia belum juga keluar dari hutan itu dan Bella baru menyadari ternyata sedari tadi ia hanya berputar-putar di tempat itu. Saat ini, gubuk tua itu ada dihadapannya sungguh dirinya sangat lelah. Bella merasa tak ada pilihan lain lagi selain masuk ke dalam gubuk tua itu dan beristirahat sejenak, Bella duduk di depan gubuk tua itu lalu menatap kosong ke arah depan. Rerumputan hijau nan segar menjadi pusat tatapan Bella pada waktu itu, sungguh ia sangat takut saat ini. Gimana kalau ada harimu yang makan gue atau ada hantu yang mau bunuh gue ataupun ada mafia musuh keluarga gue terus mafia itu buang gue kesini dan bentar dia bakal datang kesini buat bunuh gue dengn pistol andalannya, begitulah isi pikiran Bella pada waktu itu

"Gimana caranya gue keluar dari sini," Gumam Bella pelan pada dirinya sendiri.

"Capek ya?" tanya seseorang yang baru saja keluar dari rumah itu.

Bella mendengar seseorang berbicara di belakangnya sontak langsung kaget, ia bangun dari posisinya dan segera menjauh. Bella ingin pergi dari gubuk tua itu, namun tangannya di tahan oleh orang itu. Sungguh Bella menjadi semakin takut saat ini. Sosok pria dengan kulit putih, baju hitam, kacamata hitam, sepatu, hitam, topi hitam dan juga sebuah tongkat hitam ditangannya. Sepertinya orang ini pencinta warna hitam pikir Bella.

"Lepasin gue," teriak Bella.

"Tidak," kata orang itu singkat.

Bella sungguh panik saat ini, ia terus berusaha lepas dari cengkraman orang asing itu namun semakin ia berusaha semakin kuat juga cengkeramannya. Tak kehabisan akal, akhirnya Bella mencoba melawan pria asing itu namun ia kalah seperti takdir tidak berpihak padanya untuk kali ini.

"Tolong," teriak Bella.

"Percuma karena tidak ada yang akan mendengarkan mu," kata orang asing itu sambil tersenyum smirk pada Bella.

Merasa lelah dengan tingkah Bella, akhirnya orang asing itu melemahkan Bella ia melawan Bella hingga gadis itu merasa kesakitan dan tak berdaya. Merasa cukup dengan tindakannya, ia membawa Bella yang sedang menahan rasa sakit ditubuhnya untuk segera duduk di depan gubuk tua itu sebab ada sesuatu yang harus ia jelaskan.

"Diam," ucap pria asing itu datar namun terdengar menyeramkan.

"Banyak bacot lo," ucap Bella dengan nyali menantang pria asing itu.

"Sekali lagi kamu melawan saya, maka saya pastikan kamu tidak akan keluar dari tempat ini untuk selamanya," ucap pria itu tegas, Bella yang mendengar itupun langsung terdiam sungguh nyalinya tiba-tiba lenyap begitu saja seperti ditelan bumi.

"Kamu mau keluar dari sini?" tanya pria asing itu.

Bella yang mendengar pertanyaan itu pun segera menganggukkan kepalanya, sungguh ia ingin segera keluar dari hutan dan gubuk terkutuk itu. Pria asing itu menatap Bella lalu berkata, "Jika anda ingin keluar dari sini anda harus berubah." Bella yang mendengar perkataan pria asing itu langsung mengeryitkan dahinya, berubah jadi apa coba apakah jadi ironman pikir Bella.

"Saya tau kamu bingung," ucap pria asing itu yang bisa membaca raut wajah Bella yang kebingungan.

“Kamu mau tau, kamu sekarang berada dimana?” tanya pria asing dan Bella pun mengangguk saat mendengar pertanyaan itu.

"Kamu masih di Bandung di tempat kelahiran mu hanya saja di waktu yang berbeda, sebelumnya kamu di tahun 2022 maka sekarang kamu ada di tahun 1989," jelas pria asing itu.

Bella benar-benar pusing, gimana pria serba hitam ini bisa tahun Bandung itu kota kelahirannya dan kenapa bella ada di tahun 1989 sungguh semuanya tidak masuk logika. Bella melihat-lihat ke sekeliling berharap ini hanya prank dan ia akan melambaikan tangan pada kamera yang artinya ia menyerah dan semuannya akan segera selesai, namun naasnya tidak ada satupun kamera yang Bella temui.

"Nggak mungkin," ucap Bella berusaha santai, secara logika itu tidak akan mungkin bukan ia berasa di tahun 1989.

"Mari ikut saya," ucap pria asing itu menarik tangan Bella untuk mengikuti dirinya.

Pria asing itu menarik tangan Bella secara perlahan, melangkah menuju tempat di ujung hutan itu. Lima belas menit mereka berjalan kini Bella seperti mendengar samar-samar suara kendaraan, sepertinya mereka akan segera keluar dari hutan itu. Benar dugaan Bella, mereka telah keluar dari hutan itu kini mereka berada di pinggir hutan itu namun Bella mengeryitkan dahinya ketika membaca plang di depan hutan terlarang itu yang bertuliskan hutan terlarang.

"Jadi dari tadi gue di tempat begituan," batin Bella dan ia sedikit merasa merinding semoga saja pria asing yang sedari tadi bersamannya itu bukan makhluk gaib.

Bella melihat sekelilingnya, ia merasa ada keanehan orang-orang banyak menggunakan mobil kijang lalu menggunakan sepeda dan pakaian yang di pakai pun terlihat sangat kuno. Ia menatap pria asing itu, berharap segera diberi jawaban dari kebingungannya.

"Okeh positif thinking mungkin ajah gue nggak lagi di Bandung, ini pasti kota lain," batin Bella.

"Sudah melihatnya bukan, semua terlihat asing dan sangat berbeda dari di dimensi mu. Sudah saya bilang kalau anda saat ini berada di tahun 1989 dan inilah kota Bandung pada masa itu," jelas pria asing itu pada Bella.

Bella menggelengkan kepalanya, menandakan ia tidak terima penjelasan pria asing itu. Bagaimana mungkin gue bisa ada di masalalu, bahkan di tahun gue belum lahir pikir Bella saat itu. Pria asing itu memberikan sebuah map pada Bella, yang entah darimana datangnya ia pun tidak tau. Bella mengulurkan tangannya menerima map itu dan ia masih kebingungan apa maksud pria asing itu memberinya map itu.

"Map itu berisi data diri mu selama di sini, kamu akan melaksanakan hari-hari mu di sini seperti di dimensi mu hanya saja disini kamu dituntut untuk berubah," ucap pria asing itu panjang lebar.

 "Perlu kamu ketahui, cermin yang kamu sentuh itu bukan sembarang cermin. Cermin itu adalah cermin pembalik segala hal," ucap pria asing itu memberi penjelasan pada Bella, ia merasa Bella perlu tau hal ini oleh sebab itu ia memberi tahu Bella soal hal ini.

"Anggap saja sekarang kamu lagi di dalam cermin dan untuk keluar dari cermin ini kamu akan berbuat hal sebaliknya dari dirimu di dimensi mu, jika sebelumnya kamu jahat maka kamu harus menjadi baik disini," jelas pria asing itu.

"Jika aku gagal?" tanya Bella pelan.

"Kamu akan tinggal disini untuk selamanya," ucap pria asing itu santai namun Bella yang mendengar hal itu bukannya santai malah melotot.

"Gue nggak mau berada disini selamanya," ucap Bella mengelengkan kepalanya.

"Itu bukan urusan saya, intinya waktu kamu untuk berubah hanya sepuluh hari dan di hari kesepuluh silakan kamu harus balik kesini saya akan membawa kamu ke gubuk tua tadi untuk menemui cermin itu jika cermin itu bereaksi ketika ketemu kamu maka kamu akan kembali ke dimensi mu namun jika tidak maka kamu tidak akan pernah balik ke dimensi mu," jelas pria asing itu, Bella yang mendengar itupun menganggukkan kepalanya.

"Di dalam amplop itu ada uang satu juta, silakan pakai buat kehidupan mu selama disini jika kurang silakan anda cari sendiri," ucap pria itu santai.

"Oh ya hari pertama anda mau dimulai dari besok dan saya ucapkan selamat berjuang," lanjut pria asing itu.

Bella hanya berdiam diri, sepertinya dia depresi. Gimana coba gue nggak depresi orang gue terjebak di masalalu malah uang yang gue punya cuma satu juta doang, pikir Bella. Bella yang sedang menatap jalanan pun segera melihat kesamping berniat untuk bernegoiasi dengan pria asing itu namun saat ia melihat kesampingnya ternyata pria asing itu sudah hilang, Bella mencari pria asing itu namun ia hilang bagai ditelan bumi.

Hari sudah sore, Bella harus segera mencari tempat tinggal. Bella berjalan menyusuri jalanan itu, berharap bertemu orang baik. Bella terus melangkahkan kakinya, bingung ia harus ke mana lalu tiba-tiba ia melihat sebuah kertas di depan rumah bertuliskan tersedia kost putri. Bella langsung saja mendatangi  rumah itu sepertinya ia memilih untuk ngekos selama sepuluh hari kedepan.

Saat ini Bella sudah berada di kamar kostnya, ia melihat kelender yang tersedia di kamar itu berharap jika ia tidak berada di tahun 1989 namun harapannya pupus ternyata kelender itu bertuliskan tahun 1989. Usai makan malam Bella merasa cukup capek, Bella pun memutuskan untuk segera beristirahat.

Komentar

  1. Cerita jenis ini apa ya namanya? Pernah baca karya serupa, tapi lupa jenisnya, sebuah cerita yang kembali di masa lalu

    BalasHapus
  2. Wahh kerenn, petualangan bella di dimensi dan waktu yang berbeda. Nggak sabar menunggu kelanjutannya kak.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)