Cerita Bersambung (Semua Karena Waktu #4)
Bella berjalan, melewati jalanan kota yang begitu panas di siang hari ini. Bella terus mengemudi, hingga sampai di komplek perumahannya dan ia pun memasuki perkarangan rumahnya. Bella memasukan mobil yang baru saja ia gunakan ke dalam garasi, usai semua itu Bella berjalan memasuki rumahnya.
Bella berjalan menuju dapur, mencari Bi ayu dan Bi Ina. Bella melihat ke arah dapur, terlihat dua wanita paruh baya itu sedang sibuk membuat kue untuk arisan maminya nanti malam. Bella mendatangi dua wanita paruh baya itu ia pun berucap, "Bi buatin mie goreng dua bungkus terus pakai telor ya." Usai mengucapkan hal itu Bella pun mencomot kue lapis legit yang dibuat oleh kedua wanita paruh baya itu.
"Maaf non, kita lagi sibuk jadi nggak bisa buatin mie goreng untuk non," ucap Bu Ayu sambil menunduk.
"Bukan urusan saya dong, kalian disini dibayar buat kerja juga jadi nurut ajah sama perkataan saya," kata Bella ketus.
"Lo makan ajah makanan yang ada di meja makan sana," kata Bagas yang baru saja memasuki dapur.
"Gue nggak mau," kata Bella ketus.
"Tinggal makan doang apa susahnya sih, Bel," ucap Bagas yang mulai kesal dengan Bella.
"Dan lo tinggal mati doang apa susahnya coba," sindir Bella pada Bagas.
"Serah lo, gue capek sama lo," ucap Bagas meninggalkan Bella.
"Kalian kenapa diam ajah? Masakin saya mie gorengnya cepat," teriak Bella pada dua wanita paruh baya itu.
Bi Ina dan Bi Ayu pun hanya menurut saja, sungguh pekerjaan mereka menjadi dua kali lipat sekarang. Kedua wanita paruh baya itu memang sangat kesal dengan sikap Bella yang seenaknya tapi mereka tidak bisa berbuat apapun selain menuruti perintahnya daripada dipecat. Sembari menunggu mienya siap, Bella menonton film di ruang TV.
"Ini mienya non," ucap Bi Ayu yang tiba-tiba datang, sontak hal itu membuat Bella kaget.
"Lain kali kalau datang itu kasih aba-aba dong, Bi," kata Bella sedikit ketus.
"Oh ya bawain saya air dingin ya," lanjut Bella memberikan perintah pada wanita paruh baya itu.
"Baik non," ucap Bi Ayu lalu pergi ke dapur untuk mengambil air dingin.
"Lumayan enak mienya," gumam Bella pada dirinya.
Beberapa menit Bella memakan mie goreng itu, air dingin yang dimintanya pun datang. Bella langsung menyeruput air dingin itu, karena merasa cukup pedas saat ini dan setelah itu ia pun melanjutkan acara makannya yang nikmat.
"Bella, kamu tadi kemana sayang?" tanya Rani mami Bella yang tiba-tiba datang dan duduk di dekat Bella.
"Cari makan," jawab Bella singkat.
"Terus kenapa makan lagi?" tanya Rani heran, sebab Bella bukan tipikal orang yang cepat lapar dan suka makan kecuali cemilan.
"Belum kenyang," jawab Bella singkat.
"Kok bisa?" tanya Rani.
"Bella nggak lagi interview loh, kok ditanya terus," ucap Bella sedikit kesal.
"Bella tadi pengen makan kwetiau terus Bella pergi ke restoran biasa tempat kita makan, pas Bella lagi makan tiba-tiba pelayan di sana numpahin oren jus ke baju Bella jadinya Bella nggak mood makan lagi terus Bella pulang," jelas Bella.
"Jadi noda di baju kamu itu karena tumpahan jus, kirain mami trend terbaru," ucap Rani datar.
"Kamu nggak bikin
masalahkan, Bel?" tanya Rani.
"Nggak," jawab Bella santai.
"Ya cuma permaluin pelayannya sama suruh manajer disana pecat pelayan itu," lanjut Bella santai sambil memasukkan mie goreng ke dalam mulutnya.
"Bella," ucap Rani kaget.
"Kamu keterlaluan ya bel, noda di baju kamu itu nggak banyak tapi kamu gituin pelayan itu," lanjut Rani sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya nggakpapa dong, mami," kata Bella santai.
"Kamu keterlaluan nak," kata Rani.
"Coba bayangkan kalau pelayan itu kamu, gimana coba," lanjut Rani.
"Ya nggak mungkinlah, secara kita kaya banget," ucap Bella sambil tersenyum sinis ke arah Rani.
"Kalau mami mau nasihatin Bella, kapan-kapan ajah ya sekarang Bella mau ke kamar dulu," ucap bella meninggalkan maminya, ia pun berjalan menaiki tangga.
"Bi, beresin piring yang di ruang TV ya," teriak Bella memberi perintah pada pembantu di rumah itu sambil terus berjalan menaiki tangga.
Bella memasuki kamarnya, ia bingung ingin berbuat apa akhirnya ia memutuskan untuk maraton drakor saja. Bella mengambil macbook dari atas meja belajarnya lalu beranjak menuju kasurnya kemudian ia membuka netflik.
"Ceklek," suara pintu kamar Bella terbuka.
Bella menatap sosok laki-laki paruh baya di depan pintunya itu, ia melihat sosok itu sambil terus terdiam tanpa mengucap sepatah kata pun berharap sosok di pintu itu segera berucap mengapa ia membuka pintu kamar Bella.
"Bella kamu ke gudang ya ambilin papi koper kecil warna hitam soalnya papi mau packing buat berangkat ke Amerika," kata Radit papi Bella.
"Nggak mau," jawab Bella singkat.
"Ayolah, bantu papi," ucap Radit memohon.
"Iya deh," jawab Bella ketus.
Bella menuruni kasurnya, lalu ia berjalan melewati pria paruh baya itu. Bella berjalan menuruni tangga, lalu berjalan menuju ke gudang rumahnya yang terdapat di bagian belakang rumahnya yaitu di dekat tempat jemuran baju. Bella membuka ruangan itu, tapi tidak terbuka dan bodohnya Bella baru menyadari jika ruangan itu masih terkunci dan ia lupa mengambil kuncinya.
"Mang Ujang," teriak Bella.
Sosok yang dipanggil itu pun segera berlari dari teras rumah besar itu menuju ke sumber suara. Begitu gesit geraknya, takut yang punya suara marah jika ia terlambat.
"Iya non, kenapa manggil?" tanya Mang Ujang.
"Ambilin kunci gudang sama mami," perintah Bella.
"Baik non," ucap Mang Ujang sambil berjalan mencari nyonya rumah itu yaitu Bu Rani.
"Cepetan ya, Mang," teriak Bella agar di dengar oleh Mang Ujang.
Cukup lama Bella berdiri di depan pintu gudang itu, sedari tadi ia hanya mondar-mandir saja di tempat itu. Sekian lama menunggu, akhirnya sosok yang di tunggu pun datang dengan kunci di tangan.
"Lama banget sih," kata Bella ketus.
"Bukain pintunya," perintah Bella yang dilaksanakan oleh yang Mang Ujang. Selesai membuka pintu gudang Mang Ujang pun di suruh pergi oleh Bella.
Bella memasuki gudang itu, mencari koper yang di maksud oleh papinya. Ia terus membongkar barang-barang disana namun ia tidak menemukan koper yang di cari, ia terus mencari koper itu diantara tumpukan-tumpukan barang lama itu.
"Mana sih," ucap Bella mulai kesal.
"Eh itu apa, kok gue nggak pernah tau ya," ucap Bella yang terfokus pada sebuah peti kuno yang berdebu.
Bella mendekati peti tersebut, ukiran peti tersebut mengalihkan dirinya dari koper yang ia cari. Ukiran kuno yang begitu indah membuatnya dirinya tertarik untuk mendekati peti tersebut, Bella mengusap peti yang berdebu itu lalu ia membukanya. Bella mengeryitkan dahinya, heran terhadap sebuah benda di peti itu. Sebuah benda terbungkus rapi di sebuah kain putih, bahkan kain itu terlihat masih bersih hanya saja sudah berdebu.
Bella membuka benda itu, terlihat sebuah cermin dengan ukiran indah, sepertinya ini cermin anti piker Bella. Bella mengusap cermin itu, ia pun berkata, "Cantik banget, gue pajang di kamar ajah deh." Bella masih terfokus pada cermin itu, ia terus mengusapnya dan menatap dirinya yang terlihat begitu cantik di pantulan cermin itu. Tiba-tiba cermin itu menjadi blur, Bella kaget lalu melempar cermin itu ke sembarang arah namun anehnya cermin itu tidak pecah melainkan masih utuh.
"Apa ni cermin sakti, tadi gue lemparnya kuat banget loh tapi kenapa nggak pecah," batin Bella menghampiri cermin itu.
Bella menyentuh cermin itu, ia mengusap cermin itu namun sepertinya ada orang lain di balik cermin itu. Bella menyentuh kaca cermin itu, tangannya menembus cermin itu. Nggak ini nggak mungkin pasti hanya mimpi begitulah isi pikiran Bella pada waktu itu. Merasa ada sesuatu yang aneh di ruangan itu, Bella pun berniat keluar dari ruangan itu namun naasnya semua terlambat mungkin saja ini karma dari perbuatan Bella selama ini. Seisi ruangan itu menjadi hitam, keringat dingin kini sangat mendominasi tubuh Bella. Bella ingin berteriak meminta tolong namun mulutnya seakan-akan di bungkam agar tidak dapat bersuara dan kakinya menjadi kaku dalam sesaat. Ada sesuatu yang begitu dahsyat dari cermin itu, Bella di tarik memasuki cermin itu hingga semuanya menjadi gelap gulita.


Penasaran kelanjutannnya.. Mba
BalasHapus