Cerita Bersambung (Semua Karena Waktu #3)

Sumber gambar: https://pin.it/5bOIfox

Bella pun berjalan pulang ke rumahnya, sesekali melihat jalanan kota melalui jendela mobilnya sembari menikmati perjalanan pulangnya itu.

 

Mobil Bella memasuki perkarangan gerbang rumahnya, lalu berhenti di depan pintu utama rumahnya. Bella turun dari mobilnya lalu berjalan memasuki rumahnya. Bella terus berjalan, langkah demi langkah dijalani Bella hingga Bella memasuki kamarnya. Bella merebahkan tubuhnya di kasurnya, melihat langit-langit kamarnya yang polos putih itu.


"Ceklek," suara pintu terbuka.


Bella melihat ke arah pintunya, sosok cowok tinggi dengan kulit putih serta rambut badai memasuki kamarnya. Cowok itu terus melangkahkan kakinya hingga sampai dihadapan Bella, cowok mengeryitkan dahinya saat mengetahui pipi Bella memar kemudian ia memegang pipi Bella dan bertanya, "Bella, pipi lo kenapa dek?." Bella yang mendapatkan perlakuan itupun langsung menepis tangan itu, sementara cowok atau abangnya itu hanya diam sungguh ia sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti itu dari Bella.

 

Dewa Bagas Dhiansyah adalah abang Bella, mereka tidak akrab apa lagi akur, ia biasa disapa Bagas oleh keluarga, kerabat dan juga teman-temannya. Dari dulu memang tidak menyukai abangnya entah apa kesalahan abangnya itu ia pun tidak tau, intinya ia sangat tidak suka pada sosok lagi yang berjabatan sebagai abangnya.

 

"Dek-dek, gue bukan adek lo. Gue nggak sudih jadi adek lo," ucap Bella.

 

"Terserah deh, intinya pipi lo kenapa?" tanya Bagas.

 

"Bukan urusan loh," jawab Bella singkat.

 

Bagas berjalan keluar dari kamar Bella, Bella yang melihat itu hanya menaikkan bahunya dan tidak perduli lagi. Ia membuka sepatu yang ia kenakan, kemudian meletakkannya di bawah kasurnya itu. Pintu yang semula tertutup kini terbuka lagi dan menampilkan Bagas dengan baskom kecil ditangannya lengkap dengan air hangat dan handuk kecil.

 

Bagas meletakkan baskom kecil itu di nakas sebelah kasur bella, lalu ia memeras handuk kecil itu kemudian mengompres pipi Bella. Bella sangat tidak suka dengan perlakuan itu, ia menepis tangannya kemudian ia berkata dengan nada keras, "Apa-apaan sih lo, nggak usah sok perhatian ke gue lagian gue bisa sendiri kok." Bella menepis tangan itu, mengambil handuk kecil dan mengompres pipi memarnya itu sendiri.

 

"Lo ngapain ke sini?" tanya Bella pada Bagas yang duduk disampingnya itu.

 

"Gue mau lihat lo dulu sebelum gue pergi," katanya sambil melihat adiknya dengan tatapan tulus.

 

"Emangnya lo mau kemana?" tanya Bella.

 

"Gue mau ke Amerika," balas Bagas  singkat.

 

"Lo ke sana sama siapa?" tanya Bella.

 

"Sama mami dan papi," jawab Bagas singkat namun dihadiahi pelototan dari Bella.

 

"Lo gilak ya, dari gue kecil sampai sekarang lo selalu ambil mami sama papi dari gue," teriak Bella.

 

"Lo maunya apa sih," lanjut Bella teriak.

 

"Maafin gue dek, gue juga nggak pengen kek gini," ucap Bagas pelan.

 

"Lo ke Amerika pasti buat berobatkan? Kenapa lo nggak mati ajah sih biar gue bahagia sama mami dan papi," bentak Bella pada cowok itu.

 

"Iya gue mau berobat ke sana, biar gue sembuh terus mandiri dan nggak ngambil mami sama papi lagi dari lo," jelas Bagas pada Bella.

 

"Dari dulu juga lo ngomong gitu ke gue, tapi nggak ada buktinya. Lo terus ajah sakit-sakitan," kata Bella ketus.

 

"Gue heran sama mami dengan papi, kalau mereka pengen ngurus loh seharusnya gue nggak ada di dunia ini biar bisa fokus ngurus lo. Apa jangan-jangan gue cuma cadangan doang kalau lo mati nanti," kata Bella ketus dengan senyum smirk ke arah abangnya.

 

"Bella," teriak Bagas.

 

"Lo keterlaluan, Bel. Mami sama papi tuh sayang banget sama lo tapi pemikiran lo sendiri yang buruk tentang mereka," lanjut Bagas dengan nada tinggi.

 

"Alah kebanyakan bacot lo, semua ini juga karena lo coba ajah lo mati dari dulu pasti nggak kek gini," balas Bella pada Bagas dengan nada tinggi.

 

"Mati, mati dan mati terus yang lo ucapin. Gue kalau bisa milih juga gue nggak mau sakit-sakitan kek gini, tiap bulan gue bolak-balik rumah sakit buat check up terus terapi. Gue sakit, hati gue sakit karena ucapan lo dan fisik gue juga sakit karena penyakit mematikan yang gue punya ini," teriak Bagas dengan matanya yang berkaca-kaca, hampir saja bulir bening itu jatuh namun masih bisa ditahan olehnya.

 

"Hahahaha," gelak Bella.

 

"Mematikan lo bilang? Nggak penyakit kanker leukimia lo itu nggak mematikan bangsat, kalau mematikan udah seharusnya dari dulu lo mati," balas Bella dengan senyum di wajahnya.

 

"Terserah lo, asal lo tau gue sayang banget sama lo dan gue peduli sama lo tapi lo nggak. Ya nggakpapa kok gue juga nggak berharap balasan dari lo. Intinya gue sayang banget sama lo sampai kapanpun bahkan ketika gue mati sekalipun," ucap Bagas pelan, bulir beningnya mengalir sambil menatap adik kesayangannya dihadapannya sungguh ia ingin memeluk tubuh mungil adiknya namun tidak bisa karena itu pasti akan membuat adiknya semakin marah padanya.

 

Bagas berjalan keluar dari kamar bella sambil mengusap air matanya, ia sangat sedih atas perlakuan adiknya namun ia tidak bisa berbuat apa-apa selain memakluminya. Bella yang melihat kepergian abangnya hanya bodoh amat, tanpa memikirkan apa yang dirasakan abangnya Bella pun lanjut mengompresi pipinya setelah itu ia tidur siang.

 

Beberapa jam setelah tidur siang, Bella bangun lalu ia ganti baju dan Bella pun baru sadar kalau ia tidur siang menggunakan baju sekolah. Usai menganti baju Bella turun ke lantai satu rumahnya, menuju meja makan dan melihat-lihat makanan di meja itu.

 

"Lauknya ini ajah, gue nggak mau makan deh," gumam Bella pada dirinya.

 

"Gue makan di luar ajah," batin Bella.

 

Bella masuk ke kamarnya, menganti pakaiannya lalu mengambil tas kecil dan berjalan menuruni tangga rumahnya. Bella melangkah menuju pintu utama rumahnya, berjalan menuju garasi lalu mengambil mobil dan bergegas keluar dari perkarangan rumahnya untuk mencari makan.

 

"Gue pengen makan kwetiau deh," gumam Bella pada dirinya.

 

Sumber gambar : https://pin.it/3wHaPDB

Bella melajukan mobilnya menuju restoran tempat jual kwetiau terenak yang ia ketahui, tak lama dalam perjalanan akhirnya sampai juga di restoran itu. Bella memarkirkan mobilnya, kemudian ia keluar dari mobilnya kemudian memasuki restoran itu dan Bella duduk di bagian pojok dari restoran itu.

 

"Selamat datang kak, mau pesan apa kak?" tanya pelayanan restoran pada Bella dan menyodorkannya menu pada Bella.

 

"Kwetiau sama oren jusnya satu ya," ucap Bella datar.

 

Bella memainkan handphonenya sambil menunggu pesanannya datang, ia pun berselfie sebentar lalu membuat story di Instagramnya. pelayan restoran yang tadi datang kembali untuk mengantar kwetiau, Bella sudah terlanjut lapar jadi ia makan duluan padahal minumannya belum sampai.

 

"Ini minumannya mbak, maaf telat," ucap pelayanan itu sambil meletakkan minuman ke meja Bella.

 

"Aaaaa," teriak Bella tiba-tiba saja pelayan itu menumpahkan minuman itu ke bajunya akibat tersenggol anak kecil yang berlari-larian disekitar tempat Bella makan.

 

"Maaf mbak, maaf," ucap pelayan itu.

 

"Kurang ajar ya lo, baju gue jadi kotor ni," ucap Bella yang masih sibuk sama bajunya yang kotor.

 

"Saya bersihin ya mbak," ucap pelayan itu.

 

"Nggak usah, gue mau komplen ke manajer restoran ini biar lo di pecat," ucap Bella dengan nada ketus.

 

"Mbak jangan mbak, saya ganti ajah ya bajunya mbak," ucap pelayan itu pada Bella.

 

"Lo bilang mau ganti? Gaji lo setahun kerja disini ajah nggak bisa ganti baju gue, ni baju limited edition cuma ada seratus di dunia dan harganya mahal banget,"teriak Bella yang di lihat semua pengunjung restoran itu.

 

Seorang pria yang mendengar keributan di pojok di restoran itu, ia pun langsung bergegas menuju pusat keributan itu. Ia melihat seorang gadis muda sedang memarahi karyawannya, ia pun segera mendekat ke arah mereka lalu bertanya, " maaf mbak ini ada apa ya?."

 

"Pelayan ini udah kotorin baju gue," kata Bella.

 

"Saya selaku manajer dari restoran ini mohon maaf, kami akan bertanggung jawab kok mbak," ucap pria tadi dengan ramah.

 

"Sebagai bentuk pertangungjawabannya gue minta pecat pelayan ini sekarang juga," kata Bella tegas. Pelayan yang mendengar penuturan Bella pun melotot kaget.

 

"Jangan mbak, saya baru seminggu kerja disini mbak," ucap pelayan itu memohon.

 

"Saya butuh kerjaan ini mbak buat biayain keluarga saya mbak," lanjut pelayan itu.

 

"Itukan keluarga lo nggak ada urusannya sama gue," ucap Bella ketus.

 

"Pokoknya sebagai bentuk pertanggungjawabannya dari restoran ini gue mau dia dipecat hari ini juga," ucap Bella kepada manajer restoran itu dan diangguki oleh manajer restoran itu.

 

Bella mengambil gelas oren jus yang terkena bajunya tadi, masih terdapat sedikit air disana ia pun menyiram air itu pada pelayanan yang ada dihadapannya dan berkata, "Kita impas, baju lo dan baju gue juga basah." Pelayan itu hanya bisa diam sambil tertunduk dan menangis, perlakuan Bella sudah membuat ia malu di depan umum dan juga kehilangan pekerjaannya.

 

"Next time kalau gue kesini dan pelayanan ini masih ada di sini, gue jamin ni restoran nggak bakal ramai kek sekarang ini," ucap Bella mengancam.

 

Bella pergi dari tempatnya, menuju ke kasir membayar makanan dan minuman yang ia pesan. Setelah itu Bella keluar dari restoran menuju ke mobilnya dan bergegas pergi dari restoran itu menuju jalanan kota yang tidak terlalu ramai karena memang masih siang, biasanya jalanan kota ramai di sore hari.

 

Bella memberhentikan mobilnya di lampu merah, Bella menunggu lampu berubah menjadi hijau namun hal itu cukup lama. Seorang anak kecil dengan ukulele di tangannya pun datang ke jendela mobil Bella, lalu bernyanyi lagu Tulus yaitu hati-hati di jalan.

 

"Berisik, suara lo nggak bagus banget sih. Ambil ni duit terus pergi sekarang," ucap Bella sambil menyodorkan uang dua puluh ribu yang diambil oleh pengamen itu.

 

"Kak permen kapasnya kak," ucap seorang anak yang baru saja datang setelah kepergian pengamen tadi.

 

"Nggak," jawab Bella singkat.

 

"Beli satu ajah kak, buat saya makan kak," ucap anak penjual permen kapas itu.

 

"Nggak, mau lo makan atau nggak itu bukan urusan gue. Udah pergi sana," ucap Bella mengusir penjual permen kapas itu.

 

usai kepergian penjual permen kapas itu, lampu pun berubah menjadi hijau. bella menjalankan mobilnya melaju di jalanan kota, ia terus memutar stir mobilnya untuk menuju ke tempat tujuannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)