Cerita Bersambung (Semua Karena Waktu #2)

Bella sedang duduk dikelasnya, semakin siang ia semakin ngantuk ditambah pelajaran yang dijelaskan oleh guru fisika di depannya itu begitu membosankan. Jarak antara mobil A dan B, atau apalah itu yang dibahas sungguh dirinya tidak peduli.

 

"Dasar, Pak Botak kalau jelasin selalu bikin ngantuk," Batin Bella.

 

Bella tertidur, ia sungguh ngantuk daripada mendengarkan penjelasan fisika yang begitu membosankan lebih baik ia tidur saja setidaknya bisa menghilangkan rasa kantuknya. Di tengah-tengah nyenyaknya tidur Bella, tiba-tiba ia dilempar penghapus oleh Pak Bayu atau yang disebut Pak Botak oleh Bella.

 

"Aduh," kata Bella terkejut sekaligus meringis sakit dikepalanya akibat lemparan penghapus Pak Bayu.

 

"Kamu tidur di jam pelajaran saya?" tanya guru dihadapannya dengan nada tinggi.

 

"Saya nyuci pak, iya-iyalah tidur pak lagian udah kelihatan ngapain nanya sih pak," jawab Bella ketus.

 

"Kamu kurang ajar ya sama saya," bentak Pak Bayu.

 

"Karena kurang ajar makanya saya disekolahin disini buat diajar, eh yang ngajar kayak bapak malah bikin saya ngantuk jadinya ketiduran," balas Bella masih ketus.

 

"Kamu sekarang keluar, tidak usah masuk lagi di setiap jam pelajaran saya," bentak Pak Bayu.

 

"Bagus dong pak, lagian saya malas masuk fisika," ucap Bella sambil beranjak keluar dari kelasnya.

 

"Kurang ajar kamu Bella," teriak Pak Bayu yang diabaikan oleh Bella.

 

Bella keluar kelasnya, ia ingin pergi ke kantin karena ia cukup lapar saat ini. Spaghetti yang baru saja ia makan tadi sepertinya sudah tercerna dengan baik, makanya ia merasakan lapar saat ini. Bella berjalan dengan akuh di koridor kelas sepuluh dan sebelah, secara dia kakak kelas mereka jadi pasti ia akuh.

 

Memasuki kantin, melihat-lihat kearah meja yang rata-rata kosong dan sebagiannya diisi dengan anak-anak yang baru selesai olahraga. Ia melihat kearah kirinya, tiba-tiba ia melihat Raja pacarnya, makan berduaan dengan wanita lain dan wanita itu musuh bebuyutan yaitu si songong Dara.



Emosi Bella cukup memuncak saat ini, ia berjalan kearah dua sejoli yang saling suap-suapan itu. Ia mengambil jus oren yang ada di meja itu dan ia menyiramkannya ke arah Dara hingga seluruh bajunya basah.

 

"Eh jalang, lo ngapain sama cowok gue?" tanya Bella.

 

"Cowok lo? Yakin? Dia cowok gue cok," balas Dara sambil senyum smirk.

 

"Bangsat, dia itu cowok gue," ucap Bella sambil menyiram wajah wanita itu dengan air putih yang entah milik siapa dimeja itu.

 

"Kurang ajar lo," ucap Dara sambil mengusap air di mukanya.

 

"Plakkk," suara tamparan di pipi Bella dari Raja.

 

"Kamu kok tampar aku sih sayang?" tanya Bella pada Raja.

 

"Sayang? Mulai sekarang kita putus, gue udah jadian sama Dara," kata cowok itu sambil membantu Dara membersihkan wajahnya.

 

"Lo denger sendirikan? Makanya jadi cewek itu yang cantik kek gue bukannya jelek kek lo," ucap Dara pelan namun terkesan menusuk hingga ke jantung.

 

"Plakkk," suara tamparan di pipi Dara dari Bella.

 

"Lo bilang lo cantik? Modelan sampah kek lo gini di pasar malam banyak kali," ucap Bella teriak.

 

"Berani ya lo nyentuh cewek gue, sekali lagi lo sentuh dia hidup lo dalam bahaya," kata Raja menekankan kata Bahaya.

 

Dara mendengar ucapan Raja pun tersenyum smirk, seakan-akan memberi ejekan pada Bella yang ada dihadapannya. Dara seperti menunjukkan bahwa dialah pemenang dan Bella hanyalah pecundang. Bella yang melihat itu pun semakin emosi, ia ingin mengeluarkan kata-kata kotor dari mulutnya untuk perempuan sial di hadapannya itu namun belum terucap tiba-tiba Raja menarik Dara pergi dari kantin sambil menatap sinis ke arah Bella.

 

"Dasar bangsat," gumam Bella.

 

Tanpa disadarinya, sedari tadi Bella dilihat sana seluruh penghuni kantin. Bukannya merasa malu, justru ia semakin marah. Bella sangat benci, mereka sungguh ikut campur dengan urusan Bella padahal mereka bisa menjalankan aktivitas mereka masing-masing tanpa melihat perkelahian ia dan juga dua orang sialan tadi.

 

"Apa lo lihat-lihat," teriak Bella. Sontak orang-orang yang mendengar ucapan Bella langsung melanjutkan aktivitas mereka, seakan-akan mereka tidak melihat apa-apa. Mereka memang takut pada Bella, karena gadis itu sungguh bar-bar apalagi dalam hal membully bahkan pernah ada siswa yang sampai pindah sekolah hanya karena dibully olehnya.

 

Bella berjalan keluar kantin dengan pipi memar akibat tamparan Raja, ia berjalan melewati lapangan menuju ke kelasnya. Sesampainya dikelas, Bella langsung masuk dan menuju tempat duduknya. Tina teman sebangku Bella pun kaget melihat wajah wanita itu memar.

 

"Lo kenapa, Bell?" tanya Tina.

 

"Nggak usah banyak bacot lo," ucap Bella.

 

Bella mengemas semua barang-barangnya, memasukkan semua itu ke dalam tas. Tina yang melihat tindakan Bella pun bingung, apakah gadis itu ingin pulang tapi sekarang inikan belum jam pulang sekolah.

 

"Lo ikut gue ke meja piket ya, gue mau izin pulang cepat," ucap Bella sambil menarik tangan Tina.

 

"Tapi kenapa lo mau pulang cepat?" tanya Bella.

 

"Nggak usah banyak nanya lo, ikut gue ajah," kata Bella.



Bella berjalan menuju meja piket, ia terus saja menarik tangan Tina tanpa mempedulikan Tina yang merasakan sakit akibat tarikannya yang begitu kencang. Sesampainya dimeja piket Bella langsung mengambil surat izin tanpa meminta izin pada guru yang ada dimeja piket itu, ia mengisinya satu persatu tapi di bagian alasan pulang cepat Bella menulis karena sakit perut dan Tina yang membaca itupun mengeryitkan dahinya. Tina menggelengkan kepalanya, setaunya wanita di sebelahnya itu  tidak sakit perut melainkan pipinya yang memar yang entah kenapa Tina pun tidak tau. sepertinya gadis itu baru saja berbohong untukpulang cepat. 

 

Usai mengisi surat izin itu, Bella memberikannya pada guru piket untuk menandatanganinya. Selesai guru piket menandatanganinya, Bella berjalan pergi dari meja piket meninggalkan Tina sungguh Bella tidak tau berterima kasih pada Tina padahal ia yang menarik Tina ke meja piket dan ia juga yang meninggalkan Tina sendirian di meja piket.

 

Bella berjalan menuju gerbang utama SMA Harapan Indonesia sambil mengeluarkan handphonenya dari saku roknya. Bella membuka handphonenya mencari nama supirnya, setelah menemukan nama supirnya ia pun menelponnya. Berdering namun tidak di angkat, Bella terus menelpon hingga berkali-kali dan akhirnya di angkat oleh Mang Ujang supirnya.

 

"Mang Ujang kemana ajah sih," bentak Bella.

 

"Maaf non, tadi Mang Ujang lagi di WC jadi nggak kedengaran telponnya," ujar Mang Ujang diseberang sana.

 

"Yaudah, jemput sekarang ya," kata Bella ketus.

 

"Tapi ini belum jam pulang sekolah non," ucap Mang Ujang datar.

 

"Nggak usah banyak nanya, tinggal nurut ajah apa susahnya sih," bentak Bella.

 

"Iya non Mang Ujang jemput sekarang," ucap Mang Ujang lembut.

 

"Cepat ya, Bella tunggu di halte dekat sekolah," kata Bella sedikit ketus.

 

"Iya," jawab Mang Ujang.

 

Bella berjalan keluar gerbang, menunjukkan surat izinnya pada pak satpam. Mengerti jika Bella sudah mendapatkan izin untuk keluar sekolah, gerbang pun dibuka untuk Bella. Bella berjalan menuju halte, tidak jauh hanya sekitar lima menit dari sekolahnya. Langkah kaki Bella terus-menerus maju, hingga sampai di Halte.

 

Sumber gambar : https://pin.it/4POH6aJ 


Bella menunggu supirnya menjemput, tapi ini sudah dua puluh menit Bella menunggu namun supirnya belum juga datang biasanya hanya lima belas menit saja. Bella terus menelpon supirnya namun nomornya tidak aktif, amarah Bella seakan-akan sudah di pucaknya saat ini seperti gunung merapi yang akan meletup dan mengeluarkan lahar panasnya.

 

"Cu, bagi sedekahnya," ucap seseorang nenek yang baru saja datang sambil memegang tangan Bella.

 

Bella langsung menepis tangan nenek itu kemudian menjauh dari sih nenek tua itu, Bella kemudian berucap, "Apaan sih nek, pegang-pegang tangan nenek kotor tau,"

 

"Maafin nenek, cu. Tapi tangan nenek bersih kok, cuma hitam saja makanya terlihat kotor," ucap si nenek pelan.

 

"Ya dirawat dong tangannya, nek," ucap Bella ketus.

 

"Nenek nggak punya uang, bahkan buat makan ajah nenek susah," ucap nenek pelan.

 

"Yah bukan urusan saya nek," kata Bella ketus.

 

"Cu, kasih sumbangan ya buat nenek. Nenek belum makan dari pagi," ucap nenek memohon.

 

"Nggak nek, mending uang saya buat beli skincare biar saya makin cantik," kata Bella sedikit keras.

 

"Cucu, udah cantik kok," ucap nenek memuji.

 

"Alah, omong kosong doang. Nenek bilang gitu supaya uangnya dikasih ke nenekkan?" tanya Bella.

 

"Tidak, cu. Kalau tidak mau mengasih juga tidak apa," ucap nenek.

 

"Ya sudah nenek pergi sana jauh-jauh," ucap Bella mengusir sih nenek.

 

"Iya, cu," ucap nenek sambil berjalan meninggalkan tempat itu dengan terpingkal-pingkal.

 

"Udah sana buruan pergi, malah nenek bau lagi," teriak Bella sambil mendorong nenek itu hampir saja terjatuh namun berhasil di tolong oleh supirnya.

 

"Nenek nggakpapa?" tanya Mang Ujang.

 

"Nggakpapa kok," jawab nenek lembut.

 

"Maafin majikan saya ya nek," ucap Mang Ujang sambil mencium tangan nenek itu.

 

"Tidak apa, biasa anak muda," kata nenek sambil tersenyum manis.

 

"Ini saya ada sedikit rezeki buat nenek," ucap Mang Ujang sambil mengeluarkan tiga lembar uang merah dari dompetnya dan memberikannya kepada si nenek.

 

"Makasih ya," kata si nenek bahagia sambil tersenyum manis.

 

"Sama-sama nek," balas Mang Ujang.

 

"Kalau gitu nenek pergi dulu ya," ucap nenek sambil berjalan secara perlahan-lahan meninggalkan tempat itu.

 

Bella yang melihat kejadian itu pun memutarkan bola matanya, merasa jengah dengan kejadian dihadapannya itu. Ia pun memanggil Mang Ujang, "Mang Ujang, ayok pulang ngapain sih ngurus nenek-nenek peyot kayak gitu."

 

"Nggak boleh gitu non, nenek itu orang tua jadi harus kita hormati," kata Mang Ujang.

 

"Iya orang tua, tapi bukan orang tua saya jadi ngapain saya menghormati dia," ucap Bella ketus.

 

"Lagian ini semua salah Mang Ujang, lambat banget jemput saya jadinya saya harus ketemu sama nenek peyot yang bau dan kotor itu," ucap Bella dengan nada sedikit tinggi.

 

"Iya, maaf non tadi bannya bocor jadi harus saya ganti dulu," jelas Mang Ujang pada Bella.

 

"Yaudah kita pulang yuk non," ucap Mang Ujang lembut.

Komentar

  1. Kalau sy ketemu bela beneran pengun ku cubit.Bener² ngeselin. Ceritanya menarik kak

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)