Cerita Bersambung (Semua Karena Waktu #1)
Semua Karena Waktu
Waktu terus berjalan, sebelumnya Kota Bandung gelap gulita namun sekarang sudah terang benderang. Pagi hari yang cukup cerah di hari senin, semua orang sibuk menjalani aktivitasnya seperti semula setelah weekend berlalu. Para pekerja, pelajar, kuli serabutan, dan mahasiswa memenuhi jalanan kota saat ini.
Ketika para pelajar yang lain sedang berlalu-lalang di luar rumah menuju ke sekolah karena sebentar lagi bell sekolah akan berbunyi, namun Christal Abella Dhiansyah masih tertidur di pulau kapuknya yaitu kasur kesayangannya. Ia biasa dipanggil Bella, sedari tadi gadis itu sudah dibangunkan namun tidak juga membuka matanya.
Gadis berambut panjang nan lembut serta kulit seputih susu itu masih senantiasa terlelap dalam tidurnya, serasa dunia ini milik pribadi dan ia tidak harus bangun tidur untuk menjalankan aktivitasntya. Seakan-akan dunia mimpinya lebih membahagiakan dibandingkan realitanya.
"Tringggggg," suara alarm yang tiba –tiba bunyi.
Sebuah tangan menggapai jam beker yang terus berbunyi sedari tadi, mematikan jam beker itu kemudian membangunkan badannya dari kasur empuknya. Menguap, mengusap mata dan merenggang tubuh itulah yang dilakukannya. Matanya melihat ke arah jam beker ditangannya sambil terus menguap, tiba-tiba matanya membulat sempurna saat melihat jarum di jam beker hampir menuju kearah jam tujuh.
"Bibiiiiii," teriak seseorang itu.
"Iya non, ini alat mandi non udah saya siapin dari tadi non," ucap Bu Ina yaitu pembantu di rumah gadis itu.
"Alat sekolah non Bella sudah saya siapkan non," kata Bu Ayu yaitu pembantu juga di rumah itu
"Kalian kenapa nggak bangunin gue?," tanya Bella sedikit berteriak.
"Kenapa nggak jawab? Gue suruh papi pecat kalian ya," ucap gadis itu mengancam.
"Maaf non kita udah bangunin non dari tadi tapi non ajah yang nggak bangun-bangun," ujar Bu Ayu memberi penjelasan pada majikan muda yang ada dihadapannya itu.
"Kalau gue nggak bangun, ya bangunin terus dong sampai gue bangun bukannya dibiarin gue molor terus kek gitu. Dasar tolol," bentak Bella pada dua pembantunya itu, dua wanita paruh baya yang mendengar bentakan majikan mudanya hanya bisa diam saja.
"Yaudah gue mau mandi, Bi Ina siapin alat mandi gue yang cepat dan Bi Ayu bawa turun semua alat sekolah gue," perintah Bella pada dua orang wanita paruh baya yang menunduk dihadapannya itu.
"Baik non," jawab serentak kedua wanita paruh baya itu.
Kedua wanita itu melaksanakan perintah Bella dengan gesit, wanti-wanti takut majikan muda mereka marah lagi. Bella mandi lebih cepat pagi ini sebab jika ia mandi seperti biasa tentu saja ia akan semakin terlambat ke sekolahnya nanti.
Usai dengan mandi cantiknya, Bella pun keluar dari kamar mandi dengan setelan anak SMA. Bella menuju meja riasnya, sedikit merias wajahnya agar tampak lebih segar dari semula. Memoleskan bedak tipis diwajahnya, memakai liptin natural ke bibir tipisnya dan juga memberikan sedikit lentikkan di bulu matanya serta sedikit warna hitam di alisnya agar terlihat lebih berwarna hitam.
Bella menuruni keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga satu persatu namun pasti. Melihat ke arah lantai satu sekaligus lantai utamanya, mami dan papinya sedang sibuk
Bella menuruni keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga satu persatu namun pasti. Melihat ke arah lantai satu sekaligus lantai utamanya, mami dan papinya sedang sibuk berbicara di meja makan. Ia terus melangkah, hingga tanpa sadar langkahnya sampai di meja makan.
"Morning mami and papi Bella tersayang," teriak Bella dan langsung duduk di meja makan itu.
"Morning sayang," kata Rina mami Bella.
"Kamu lama banget, mami sama papi udah lapar ni," lanjut Rina.
"Sorry mami, salahi tuh pembantu-pembantu kesayangan mami si Bi Ina sama Bi Ayu. Gara-gara mereka Bella bangun lambat," kata Bella sambil memainkan handphonenya.
"Kamu nggak boleh gitu, jangan nyalahin mereka. Kamu juga salah tidurnya kemalaman," ucap Radit papi Bella dengan niat memberikan nasihat pada putri semata wayangnya itu.
"Apaan sih, Pi. Mereka tuh yang salah buka Bella," ucap Bella ketus.
"Udah-udah mending kita makan, mami udah lapar ni," ucap Rani meleraikan perdebatan antara anak dan papinya itu.
"Wait mami ku sayang," teriak Bella menahan tangan maminya untuk menyentuh nasi goreng yang ada dihadapannya.
"Sebelum makan, Bella foto dulu ya," ujarnya sambil mengeluarkan handphonenya dengan logo apel dibelakangnya. Ia memfoto makanan itu hingga merasa puas dengan hasilnya.
"Eh tunggu dulu dong papi," kata Bella saat papinya ingin minum susu.
"Kita foto keluarga dulu yuk," lanjut Bella.
"Foto keluarga apaan sih, abang kamu si Bagas ajah nggak ada," ucap Rani.
"Apaan sih, mi. Dia bukan keluarga, Bella nggak suka sama dia. Gara-gara dia mami sama papi selalu mengabaikan Bella," kata Bella ngegas. Mami dan papi Bella pun hanya menghela napas saja, entah sampai kapan putri kesayangan mereka akan seperti itu.
"Yaudah, ayok kita foto keluarga," ajak Bella pada kedua orangtuanya.
Ketiga insan itu foto keluarga, dengan senyum merekah di wajah dan tidak lupa juga dengan senyum pepsodent yang terpancar manis. Beberapa tangkapan pun dilakukan, demi mendapatkan hasil yang pas dan juga sesuai.
"Okeh, cakep," kata Bella.
"Okeh Bella post dulu deh di WA, captionnya breakfast with my family," ucap Bella sambil terus memainkan jarinya ke di layar handphonenya itu.
"Okeh Bella berangkat dulu ya," ujar Bella yang diikuti dengan masuknya seteguk susu ke dalam tenggorokannya.
"Bye mami, papi," ucap Bella meninggalkan meja makannya.
"Bella sarapan dulu sayang," kata Mami.
"Bella udah telat, Bella sarapan di sekolah ajah, mami," ucap Bella sedikit berteriak agar maminya dengar karena posisinya sudah cukup jauh dari meja makan.
"Bi Ayu, bawa alat sekolah gue ke mobil sekarang juga," teriak Bella memberikan perintah pada orang yang ia anggap bawahannya itu.
"Iya non," kata Bu Ayu sedikit berteriak sambil melaksanakan perintah Bella.
Bella berjalan menuju pintu utama rumahnya, didepan rumahnya sudah ada mobil yang siap lengkap dengan supir yang menunggunya di kursi kemudi. Bella berjalan menuju mobilnya, melihat ke arah supirnya yang masih fokus menelpon.
"Mang Ujang, kalau majikannya datang itu disambut terus dibuka pintunya dong bukannya malah keasikan telpon," teriak Bella pada supirnya.
Mang Ujang kaget hingga handphone nokia senter jadulnya terjatuh, ia mencari-cari handphonenya di bagian bawah mobil itu. Setelah mendapatkan handphonenya, ia pun langsung keluar dari mobil itu dan menundukkan kepalanya.
"Maaf non, tadi istri saya telpon. Anak saya lagi sakit," ujar supirnya pelan.
"Yang sakitkan anak Mang Ujang terus apa hubugannya dengan kerjaan situ. Mang Ujang taukan kalau saya nggak suka buka pintu mobil karena banyak debunya itu," kata Bella ketus.
"Iya, non maaf non," ucap lelaki paruh baya itu dengan posisi masih menundukkan kepalanya.
"Bukain dong pintunya, Mang ujang," teriak Bella.
"Iya non, ini saya bukain," ucapnya sambil membukakan pintu mobil.
Bella memasuki mobil itu, lalu duduk disana sambil menunggu Bi Ayu membawakan alat sekolahnya. Tak lama setelah ia mendudukkan bokongnya itu, Bu Ayu pun datang memberikan alat sekolah pada majikan mudanya itu. Bella meraih tas ranselnya, botol minum dan juga tempat bekalnya.
"Lama banget sih, dasar lelet," ucap Bella ketus.
"Maaf, non," ucap Bu Ayu sambil menundukkan kepalanya.
"Maaf maaf, udah sana pergi," ucap Bella mengusir Bu Ayu.
"Kita jalan Mang Ujang, buru-buru ya soalnya udah hampir telat," kata Bella pada Mang Ujang.
"Iya non," ucap Mang Ujang sambil menghidupkan mobilnya dan berjalan menuju sekolahnya.
Perjalanan menuju sekolah tidak cukup lama, namun jalanan yang macet membuat Bella lebih lama sampai ke sekolahnya.
"Cepatan dong jalannya, Mang," ujar Bella.
"Iya non, sabar ya," ucap Mang Ujang lembut.
Setelah cukup lama di perjalanan, akhirnya Bella pun sampai ke sekolahnya. Beruntung ia sampai ke sekolahnya tepat saat Bella berbunyi. Saat ini Bella sedang mengikuti upacara, ia berada di barisan tengah dengan keringat yang terus bercucuran dipipi putihnya ini.
"Duh lama banget sih amanatnya," batin Bella.
"Bisa hitam ni kulit gue," lanjut batinnya.
Selesai upacara Bella memasuki kelasnya dan duduk di kursinya, ia melihat anak-anak sekelilingnya sibuk mencatat. Bella terlihat berpikir sejenak, ia berpikir apakah hari ini ada PR dan ia lupa mengerjakannya lagi tapi Bella memang tidak pernah mengerjakannya secara murni karena ia selalu mencontek sama si culun di kelasnya.
"Hari ini ada PR ya, Tin?" tanya Bella kepada Tina teman sebangkunya.
"Iya ada PR matematika," jawab Tina.
"Mampus, gue belum buat. Bisa-bisa tuh wanita cerewet suruh gue hormat bendera selama jam pelajarannya lagi nanti," ucap Bella sambil menampol jidatnya.
Bella beranjak dari kursinya, menuju ke arah meja depan sambil membawa buku petak-petaknya itu. Ia melemparkan bukunya ke arah Naura, kutu buku di kelasnya. Setelah melemparkan buku itu, Bella pun berkata, " Eh cupu, buatin PR gue dong. Cepetan ya sebelum ibu cerewet kesayangan lo itu masuk." Naura yang mendengar itu pun hanya menurut saja, karena jika tidak menurut bisa-bisa ia dikunci di WC sekolah seperti satu bulan yang lalu.
Pada saat istirahat, Bella memakan bekalnya di dalam kelas bersama kedua temannya Yaitu Tina dan Angel. Ia terus menyuapi mulutnya dengan spaghetti yang ia bawa, setelah bekalnya habis Bella berniat ingin memakan somay tapi ia malas mengantri dan tiba-tiba ia melihat Naura membawa somay.
Bella berjalan menuju ke arah Naura, ia mengambil somay dari tangan Naura dan berkata, "Buat gue ajah ya, soalnya gue belum kenyang." Bella menyendok somay ditangannya dan memakannya dengan nikmat di depan Naura.
"Bella, itu punya Naura," ujar Nindy sedikit berteriak.
"Eh pendek lo nggak usah ikut campur, Nauranya ajah nggak marah terus ngapain lo sewot begitu," kata Bella ketus.
"Makasih ya somaynya, culun," lanjut Bella sambil berjalan meninggalkan dua insan itu Naura sebenarnya tidak ikhlas somaynya di ambil Bella karena ia sangat lapar dan uang yang ia punya sudah habis untuk membeli somay yang baru saja yang di makan Bella tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain tersenyum daripada ia dibully oleh Bella.




Baca kelakuannya Bella, hawanya pengin kirim tim KLIP anti bullying biar insyaf.
BalasHapusAnyway, pembawaan ceritanya sudah bagus, Kak. Sudah berhasil membawa perasaan saya. Lanjutkan.