Cerita Pendek (Pembalasan)
Pembalasan
Pagi hari telah menyambar Kota Bali dengan keindahan yang tak terkatakan oleh lisan, pantai-pantai menampakan pesona keindahannya dengan warna jingga yang begitu memikat mata hingga mata itu seakan-akan tidak ingin berkedip.
Sejak dari tadi pagi begitu banyak anak-anak yang berlalu lalang di jalanan Kota Bali, untuk pergi ke sekolah mereka sebelum terlambat. Di SMA Nusa Jaya yaitu salah satu SMA terbaik di Bali mulai di penuhi dengan seluruh siswa-siswi yang terus berdatangan sejak tadi, para siswa-siswi itu terus memadati SMA tersebut.
Ketika pembelajaran di mulai para siswa-siswi pun mengikutinya dengan saksama walaupun bosan dengan materi yang dijelaskan guru namun mereka tetap terus mengikutinya dengan rasa ngantuk yang terus mengiring mereka, tak terasa dua jam pelajaran pertama telah selesai dilalui saat ini seluruh siswa-siswi SMA Nusa Jaya pun mengerumuni kantin.
Kantin SMA Nusa Jaya begitu ramai dipenuhi siswa-siswi yang kelaparan, di meja pojok kantin terlihat ada enam orang yang sedang asik berbicara sambil bercanda tawa satu sama lainnya. Keenaminsan itu terlihat begitu akrab, seakan-akan mereka keluarga sedarah.
Keenam insan itu adalah Farah si tomboy, Tristan si bodoh amat, Alvaro si kutu buku,Thina si penakut, Vino si paling ganteng di antara mereka dan Shella si paling cantik. Vino dan Shella berpacaran semenjak SMP dan langgeng hingga sekarang.
"Eh guys bentar lagi ni kan weekend gimana kalau kita pergi liburan," ucap Farah si gadis tomboy.
"Wah boleh banget tuh sekalian kita refreshing," lanjut Tristan sambil memasukan satu buah bakso ke mulutnya.
"Kalau gue sih ikut lo pada ajah sih," kata Alvaro sambil membaca buku rumus kimia yang ada di hadapannya.
"Kuy lah liburan," ucap Tristan.
"Gaslah, emang kita mau liburan ke mana bro?" tanya Shella.
"Nah bener tuh kata ayang gue, lo pada ngajak liburan tapi nggak ngasih tau mau liburan ke mana," kata Vino.
"Gimana kalau kita liburan ke Villa ajah, gue baru dapat info ni ada Villa yang murah dan murah lagi," ucap Farah.
"Gaslah udah murah terus bagus, apalagi coba yang kurang cok," ucap Tristan.
"Atur ajah lo pada gue mah ikut ajah," kata Alvaro sambil membenarkan posisi kacamatanya yang miring.
"Tapi lo semua setujukan kalau weekend ini kita liburan?" tanya Farah.
"Setuju dong," ucap semuanya serentak.
"Ok mantap, kalau gitu gue atur semuanya ya," ucap Farah sambil menaikkan satu kakinya ke kursi.
Hari-hari berlalu weekend pun tinggal satu hari lagi, hari ini adalah hari jumat dan hari terakhir seluruh siswa-siswi akan bersekolah termasuk seluruh siswa-siswi SMA Nusa Jaya karena setelah ini mereka akan libur weekend untuk melepas lelah setelah berhari-hari belajar.
Saat ini ada enam siswa SMA Nusa Jaya sedang berbincang-bincang di bawah pohon tertua SMA Nusa Jaya.
"Okeh jadi kita akan pergi ke Villa Permata Indah Bali, itu tuh Villa yang katanya keren banget terus tempatnya indah banget," ucap Farah.
"Okeh deh kalau gitu, besok itukan weekend jadi kita mau berangkat jam berapa?" tanya Shella.
"Saran gue sih dari enam tiga puluh sampai jam tujuh pagi itu kita ngumpul terus jam tujuh lebih dikit kita otw villanya," ucap Alvaro.
"Gue setujuh tuh, besok kita berangkat pakai mobil Lamborghini gue ajah ya?" tanya Vino sambil memberikan saran.
"Okeh boleh tuh," kata Tristan.
"Tapi besok kita ngumpul dimana?" tanya Thina.
"Ngumpul di rumah Tristan ajah, besok pagi-pagi gue bawa mobil ke rumah dia soalnya rumah dia yang paling ujung biar cepat juga besok berangkatnya," ucap Vino panjang lebar.
"Okeh kalau gitu kita setujuh, iya kan?" tanya Shella lagi.
"Yoi," ucap semuanya serentak.
Waktu terus berlalu suasana terang benderang di siang hari berganti menjadi gelap gulita di malam kemudian berganti lagi menjadi terang di pagi harinya, ini adalah hari weekend dimana keenam sahabat itu akan pergi liburan untuk sekedar melepas lelah setelah berhari-hari lamanya belajar.
"Okeh udah ngumpul semuakan?" tanya Farah.
"Udah ni," kata Tristan.
"Langsung berangkat ajah yuk udah jam tujuh lewat delapan ni," kata Vino.
"Ayok berangkat," ucap Tristan.
Mereka pun berangkat dari rumah cahrles menuju Villa Permata Indah Bali, saat diperjalanan entah mengapa Thina merasa ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi kepada mereka semua. Sungguh ia harap firasatnya ini salah besar.
"Semoga ini cuma firasat buruk gue aja," batin Thina.
Sekitar satu jam setengah perjalanan mereka habiskan, kini mereka semua sudah sampai di Villa Permata Indah Bali. Saat turun dari mobil mereka tidak langsung ke Villa melainkan bermain-main di pantai Permata. Ada yang main pasir, selfie, foto-foto, dan lainnya. Saat hari menjelang siang mereka pun langsung mencari makan di tempat makan terdekat, mereka membeli makanan di sana kemudian setelah makan mereka bersantai-santai di goa yang berada di dekat pantai sambil bercanda tawa dengan riuhnya. Hari pun semakin sore, mereka pun berjalan menuju ke mobil mengambil barang-barang yang telah mereka bawa sebelumnya setelah itu mereka langsung menuju ke Villa.
"Warning, siapapun yang masuk ke villa ini tidak akan keluar dalam kondisi hidup maka pikirkanlah dahulu sebelum masuk ke dalamnya," ucap Thina sambil membaca papan yang berada di depan Villa itu.
"Kita pulang ajah yuk, gue punya firasat buruk," lanjut Thina dengan perasaan yang semakin buruk dan panik.
"Alah yang begituan lo percaya, yaudah ayok masuk palingan itu orang iseng yang nulis," ucap Farah.
"Tapi ini adah bercak merah dan baunya amis kek darah," kata Tristan sambil menyentuh bercak merah di papan itu dan menciumnnya.
"Alah udah, ayok masuk gue udah capek ni," ucap Alvaro.
"Bener tuh," kata Vino dan Shella.
Mereka semua pun masuk ke dalam Villa itu, Thina pun ikut masuk ke dalam Villa meskipun ada perasaan tidak enak di dalam hatinya. Saat hari menjelang gelap mereka pun memesan makanan menggunakan Shoppe food dan hanya dalam waktu sebentar makanannya pun telah sampai, mereka pun makan bersama-sama setelah selesai makan mereka mengecek kondisi villa yang asthetik itu lalu Vino membuka lemari yang ada di ruang tengah villa itu. Vino menemuka satu kotak lalu Vino membuka kotak itu.
"Kotak apaan ni," ucap Vino yang dilihat sama yang lainnya karena suara Vino cukup keras hingga mengema diruangan itu.
"Coba buka," ucap Shella lembut.
Saat Vino membuka kotak tersebut di dalamnya terdapat kertas ukuran besar dengan piring bulat berwarna putih kekuningan didalamnya.
"Piring sama kertas?" tanya Tristan seperti kebingungan.
"Ada tulisan di kertas itu coba lo baca deh, Vin," ucap Alvaro pada Vino.
"Permainan yang menyenangkan, letakan kertas dan piring diatasnya lalu pegang piring itu maka akan terjadi sesuatu yang membahagiakan kalian," ucap Vino sambil membaca itu.
"Yaudah ayok kita coba, gue penasaran ni," ucap Shella.
"tapi perasaan gue nggak enak," kata Thina sedikit takut.
"Alah itu cuma perasaan lo ajah kali," ucap Farah.
Mereka pun bermain bersama-sama sambil mengikuti instruksi yang ada di kertas itu, tiba-tiba ada cahaya yang keluar dari piring itu yang sangat silau sehingga mereka semua menutup matanya dan tiba-tiba cahaya itu hilang lalu muncul seseorang berjubah hitam di tengah-tengah mereka sambil melayang.
"Halo selamat semua kalian masuk ke dalam permainan ini," ucap sosok misterius itu.
"Permainan?" tanya Thina.
"Iya, kalian pasti akan sangat bahagia sekali dengan permainan ini sehingga kalian tidak akan pernah keluar dari villa ini," ucap sosok misterius itu dengan senyum smirk.
"Kenapa?" tanya Farah.
"Karena papan peringatan di depan Villa itu benar dan fakta," jawab sosok misterius itu.
"Kalian akan bermain dengan mereka yang tak kasat mata dan mereka akan sangat senang sekali bermain dengan kalian, perlu kalian ketahui bahwa mereka tak terkalahkan," ucap sosok itu.
"Hantu?" tanya Alvaro.
"Iya benar sekali," kata sosok itu.
"Apa diantara kita ada hantu?," tanya Shella dengan senyum sinis.
"Hantu? Diantara kita? Oh jelas ada, ada banyak sekali bahkan diantara kalian berenam juga ada hantu," ucap sosok itu sambil tertawa.
"Let's play to the game sayang, semoga kalian bahagia," lanjut sosok itu kemudian menghilang secara tiba-tiba.
"Gue takut," ucap Thina dengan mata yang berkaca-kaca.
"Udah deh ayok tidur, palingan itu hantu gabut doang nakut-nakutin kita aja," ucap Vino santai.
"Keren ya jaman sekarang, hantu ajah bisa gabut loh apa lagi manusia," ucap Tristan.
Mereka pun segera tidur, yang laki-laki tidur di bawah sementara yang perempuan tidur di atas kasur. Di saat jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam tiba-tiba ada sesuatu yang aneh sehingga Farah terbangun dari tidurnya.
"Aaaaaaaaaa," teriak Farah ketika melihat bercak darah yang melumuri selimut dan sprei tidurnya.
Mereka semua yang mendengar teriakan Farah pun terbangun lalu mereka melihat bercak darah itu pun kaget dan mereka menyadari bahwa ada yang kurang di antar mereka, Tristan menghilang lalu ada tetesan yang jatuh dari atas mereka pun melihat ke atas dan mereka kaget melihat Tristan tergantung di atas dengan lumuran darah yang keluar dari perutnya akibat tusukan pisau perutnya bahkan pisau itu masih berada di perutnya.
Mereka yang melihat itu hanya bisa kaget sementara Farah dan Thina sudah menangis tapi tidak dengan Shella yang hanya diam datar, mereka pun segera berlari menuju pintu utama Villa namun pintu itu terkunci dan kunci Villa itu tidak berguna sama sekali di situasi genting itu.
Mereka pun berpencar mencari jalan keluar masing-masing, Shella dan Farah mencari alat untuk membuka pintu lalu Vino pergi ke pintu belakang villa sendiri sementara itu Alvaro dan Thina mencoba membuka jendela.
Shella dan Farah sedang berada di sebuah ruangan seperti gudang tua yang berada di dekat dapur, Shella menemukan linggis dan Farah yang melihat itu pun senang lalu menarik tangan Shella keluar ruangan itu tapi Shella tidak mau melainkan ia tersenyum sinis sambil melihat ke arah Farah. Shella mendekati Farah lalu ia tertawa bahagia yang membuat Farah bingung tiba-tiba Shella menancapkan linggis itu ke perut Farah lalu darah segar keluar dari perut Farah Shella yang melihat itu pun senang, Shella keluar dari ruangan itu dengan tersenyum bahagia bahkan baju Shella yang tadinya putih kini menjadi batik bermotif darah akibat darah Farah yang terpercik ke arahnya tadi. Shella berjalan menuju ke arah Vino yang berada di pintu belakang, Vino yang melihat baju Shella berlumuran darah pun paham apa yang barusan terjadi.
"Dia sudah pergi," ucap Shella pada Vino sambil tersenyum.
"Bagus sayang," kata Vino pada Shella.
Shella dan Vino berjalan ke tempat Thina dan Alvaro, mereka mendekati kedua makhluk yang masih hidup itu dengan senyum sinis dari bibir mereka. Alvaro dan Thina merasa ada yang aneh dengan kedua sahabatnya itu, merasa tidak ada yang beres keduanya berusaha lari namun Shella dan Alvaro tetap mengejar mereka hingga mereka terpojok di sudut Villa.
Shella menuju ke arah Thina, di belai rambut Thina yang cantik itu lalu ia mengangkat linggis yang sedari tadi di tangannya lalu ia menusuk linggis itu ke perut Thina hingga Thina tak bernyawa lagi. Darah segar keluar dari perutnya, Shella yang melihat itu pun tersenyum lalu ia pegang darah itu kemudian menjilatinya dengan senyum sinis.
Sementara Alvaro sedang bertarung dengan Vino, Alvaro terus melempar barang-barang yang ada disekitarnya namun hal itu tetap saja tidak ada gunanya. Vino mengeluarkan pistol dari sakunya kemudian ia mengarahkan pistol itu ke arah Alvaro kemudian ia menembak Vino hingga tubuhnya tak dikenali lagi.
Villa itu telah dipenuhi mayat di mana-mana, kini Shella dan Vino berada di ruang tengah villa itu. Shella memeluk Vino dengan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tenang sayang, semuanya sudah selesai," ucap Vino sambil membalas pelukan Shella.
"Game over," ucap Shella dipelukan Vino.
Sebenarnya Vino dan Shella sudah meninggal sejak dua tahun lalu mereka hanya dibangkitkan kembali oleh kedua orang tua mereka dengan tujuan untuk membalas dendam atas kematian mereka. Dahulu kala Shella adalah seorang anak yang pintar dan juga seorang indigo, Shella selalu mendapatkan juara kelas hal itu membuat Alvaro iri sehingga Alvaro pernah berusaha menyingkirkan Shella dengan cara menembak Shella namun gagal karena Shella berhasil di selamatkan oleh Vino dan sekarang Alvaro mati tertembak oleh Vino.
Farah dulunya sangat membenci Shella selalu menganggap apa yang Shella katakan itu bohong, ia tak percaya pada Shella sedikit pun bahkan Ia pernah menusuk pisau di tangan Shella waktu itu Shella berteriak kesakitan tapi Farah tidak percaya dia malah menusuknya lagi tapi Shella masih selamat waktu itu dan sekarang Farah mati akibat tusukan linggis dari tangan Shella sendiri.
Dua tahun yang lalu Tristan mencintai Shella namun Shella telah punya pacar yaitu Vino dan Thina mencintai Vino tapi Vino sudah punya pacar yaitu Shella. Thina dan Alvaro berkerjasama untuk memisahkan keduanya, namun akibat keegoisan Thina ia malah bertindak sendiri yaitu ia menusuk perut Shella menggunakan pisau dan Alvaro mencekek leher Vino supaya Vino pingsan tapi karena panik mereka berdua meninggalkan kedua orang itu di dalam sebuah rumah kosong yang digunakan untuk menyekap Shella dan Vino. Mereka tidak tahu kalau sebenarnya perbuatan mereka menyebabkan Shella dan Vino meninggal dunia, hal itulah yang menyebabkan Tristan tergantung di seperti orang tercekek dan itu semua ulah dari Alvaro kemudian Thina tertusuk linggis dari Shella.
Waktu itu mayat Shella dan Vino ditemukan oleh warga dalam keadaan sudah membusuk. Orang tua Shella dan Vino tidak menerimanya hingga akhirnya mereka melaksanakan ritual pembangkitan untuk membawa kembali roh Shella dan Vino demi melakukan pembalasan dendam dan setelah pembalasan dendam mereka akan pergi lagi ke alam bakar.
Alvaro, Farah, Tristan dan Thina tertipu, mereka mengira Shella dan Vino masih hidup nyatanya keduanya sudah tiada sejak lama dan mereka berdua selalu merencanakan pembunuhan buat mereka berempat. Dimulai dari Vino dan Shella berteman baik dengan mereka hingga akhirnya membunuh mereka secara sadis di dalam Villa itu.
Saat ini Shella dan Vino sedang berada di depan Villa, matahari pagi yang terlihat begitu indah membuah keduanya tersenyum bahagia dengan lumuran darah ditubuh mereka.
"I love you Vino," ucap Shella.
"I love you to Shella," lanjut Vino.
Mereka berdua
berpelukan dan tiba-tiba tubuh mereka perlahan menghilang di bawah oleh angin,
karena pembalasan dendam telah selesai artinya tugas mereka juga sudah selesai
maka mereka harus segera kembali ke alam bakar.
Sumpaa greget banget aku bacanya sampee. Aku tu suka kesel sama orang yang terlalu denial gitu sampe ga menghargai kondisi. Kalo aku jadi Tristan sama si Thisna udah balek akuu. Wkwkwkwk
BalasHapusBalas dendamnya selesai endiingnya i love u.. Sukaa dengan alur ceritanya
BalasHapus