Malam Anugrah

 

Matahari mulai menampakkan diri dari ufuk timur, remang-remang dari cahayanya menghiasi Kota Bandung pagi hari ini. Setiap insan di Kota Bandung pun terbangun dari tidur malamnya, menandakan siap melaksanakan aktifitas harinya selama beberapa jam mendatang. 

Di tengah terang benderangnya cahaya pagi hari membuat para pelajar semangat menjalani harinya, menuju akhir pekan tentu saja pelajar sangat bersemangat untuk bersekolah. Namun, hal itu sedikit berbeda dengan Alveta Den Wulan atau yang disapa Wulan sebab dirinya memiliki banyak sekali tugas di akhir pekan ini. Salah satunya Wulan harus menghandle malam anugrah karena dirinya menjabat sebagai ketua pelaksananya. 

Malam anugrah adalah sebuah acara yang dilaksanakan oleh SMA Pelita Bangsa dan pada malam itu juga akan diberikan piala anugrah kepada para pelajar yang berhak mendapatkannya. 

Wulan berjalan begitu cepat menuju meja absen SMA Pelita Bangsa, sesampainya di sana ia mencari mix untuk memberikan pengumuman terhadap seluruh pelajar SMA Pelita Bangsa. Wulan pun menemukan mix di atas buku absen, ia mengambil mix lalu mengetesnya. 

"Kepada seluruh siswa siswi SMA Pelita Bangsa, dimohon segera berkumpul di lapangan dalam waktu dua menit dari sekarang," ucap Wulan tegas.

Waktu menunjukkan kurang dari dua menit, seluruh pelajar pun telah berkumpul di lapangan, terlihat begitu riuh lapangan itu. Sesaat kemudian Wulan berjalan menuju mimbar di depan lapangan, ia menaiki mimbar itu dengan mix ditangannya

“Kepada seluruhnya diharapkan segera tenang dalam hitungan ketiga,” ucap Wulan tegas. 

“satu, dua tiga,” lanjut Wulan tegas yang diikuti ketenangan seluruh pelajar. 

“Assalamualaikum warahmatullahi dan selamat siang semuanya," salam Wulan. 

"Walaikumssalam warahmatullahi wabarakatuh dan selamat siang juga," jawab semua pelajar di lapangan.

"Karena dalam waktu dekat kita akan mengadakan acara malam anugrah, sebelumnya kami para pelaksana sudah melakukan kordinasi kepada para peninggi di sekolah ini mengenai tema yang akan diangkat dalam malam anugrah. Jadi, tema malam anugrah kita adalah bangga terhadap sejarah Indonesia dan budaya Nusantara," ucap Wulan panjang lebar. 

"Silakan kalian siapkan atau kalian modifikasi hal-hal yang akan kalian tampilkan dalam malam anugrah nanti, " kata Wulan. 

"Malam anugrah akan dilaksanakan tujuh hari dari sekarang," ucap Wulan tegas. 

"Baiklah semuanya bubar jalan," ucap Wulan yang diikuti dengan bubarnya seluruh pelajar di lapangan. 

Malam anugrah memang akan diadakan dalam waktu tujuh hari kedepan, terlihat begitu singkat dan dadakan namun sebenarnya malam anugrah ini tidaklah singkat karena satu bulan sebelumnya telah diberitahukan pihak sekolah jadi para pelajar hanya tinggal memodifikasinya agar sesuai dengan tema. 

Usai dari mimbar di lapangan Wulan langsung menuju ke meja piket lalu meletakan mix yang baru saja ia gunakan. Wulan berjalan menyusuri koridor kelas dua belas menuju keruang osis. Wulan memasuki ruang osis, dari pintu masuk hingga bagian belakang ruangan itu penuh dengan insan-insan yang sibuk dengan kerjaan mereka. Mereka semua menyiapkan stand anak osis untuk acara malam anugrah, terlihat mereka sedang membuat berbagai karya untuk di jual di malam itu bahkan ada yang memodifikasi karya agar sesuai sama tema. Osis tetaplah pelajar yang tidak mengetahui segalanya, jadinya mereka tetap gelagapan seperti siswa lain yang memodifikasi hal-hal yang akan mereka tampilkan dalam acara malam anugrah. 

Osis menyiapkan dua stand, yang pertama stand untuk jualan dan yang kedua stand untuk pameran. Wulan berjalan menuju ke tempat persiapan stand pameran, terlihat mereka semua gelagapan tidak tau apa yang harus di modifikasi.

"Serius deh ini gue harus gimana?" tanya Angel yang kebingungan di depan lukisannya. 

"Ya modifikasi ajah," jawab Winda. 

"Mau modifikasi gimana, ini lukisan Jimin," ucap Angel frustasi. 

"Gini ajah, karya lo yang itu lo bawa pulang terus lo buat baru lagi lukisan pahlawan," ucap Wulan.

"Lo bener deh Lan soalnya nggak bisa di modifikasi ni karya," jawab Angel pelan. 

"Oh ya win, tolong lo print gambar jenis-jenis batik terus lo kasih ke gue nanti gue bikin supaya bisa jadi pajangan," ucap Wulan yang langsung dipatuhi oleh Winda.

Wulan membersihkan bingkai foto ukuran besar yang berada di samping Angel, ia mengelapnya hingga benar-benar kinclong.

"Ni gambar batiknya lan," ucap Winda menyodorkan berlembar-lembar kertas dengan berbagai jenis motif batik. 

"Okeh makasih ya," ucap Wulan sambil mengambil semua kertas itu. 

Wulan menggunting gambar itu satu persatu kemudian ia menempel gambar itu satu persatu ke karton hitam yang telah ia siapkan sebelumnya, setelah itu ia hias dan masukkan ke dalam bingkai ukuran besar yang ia bersihkan tadi.

"Kenapa harus batik sih Lan?" tanya Winda. 

"Karena batik itu salah satu budaya nusantara yang sudah mendunia bahkan susah di akui oleh unesco dan sempat  diakui oleh negara lain. Jadi, kita harus bangga sama budaya nusantara yang satu ini dan harus dilestarikan dan juga dikenalkan ke masyarakat luas supaya nggak punah," jelas Wulan yang diangguki oleh Winda. 

*** 

Tanpa terasa persiapan malam anugrah sudah berjalan beberapa hari dan malam ini acaranya.  Siang hari ini Wulan memperhatikan gladi bersih yang dilaksanakan di panggung yang berada di lapangan SMA Pelita Bangsa, Wulan meneliti satu persatu hal-hal yang di tampilkan mereka lalu Wulan memberikan koreksi jika ada yang tidak sesuai. 

Selesai dengan memantau gladi bersih, Wulan pun berkeliling ke setiap stand yang telah di bangun. Wulan memperhatikan satu persatu, supaya tidak ada stand yang menampilkan hal-hal di luar tema. Selesai dengan semua itu Wulan kembali ke standnya yaitu stand pameran, Wulan membantu teman-temannya menyusun semua barang-barangnya yang akan di pamerkan mulai dari lukisan-lukisan pahlawan yang telah dibuat Angel selama satu minggu penuh lalu pajangan batik hingga wayang kulit. 

Wulan memperhatikan sekelilingnya dengan saksama, semuanya terlihat begitu baik tanpa ada satupun yang melenceng dari tema yang disampaikan. Ada stand jualan yang menjual kue ringan motif batik, ada yang menjual gantungan wayang, ada yang menjual minuman dengan gelas gambar tarian tradisional Indonesia dan masih banyak lagi. Berikutnya ada stand pameran yang memamerkan pahlawan Indonesia, ada yang membuat patung tokoh-tokoh pahlawan Indonesia, ada yang memajangkan angklung, bahkan ada yang memajangkan berbagai buku-buku yang menceritakan sejarah Indonesia. 

Ketika malam hari tiba acaranya pun berjalan dengan lancar, dari pembukaan hingga penutup semuanya berjalan dengan lancar. Mereka semua telah berhasil menyampaikan maksud malam anugrah kepada khalayak yaitu harus bangga terhadap Indonesia baik sejarah maupun budayanya. 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam Puluh Dua Hari Bersama Orang-Orang Hebat

Prosa (Tentang Kehilangan Yang Abadi)

Prosa (Rasa Ini Habis Bukan Mati)