Prosa (Tentang Penghianatan)

 Tentang Penghianatan

 

Kaki ini melangkah gontai, sungguh aku sangat lemah saat ini. Langkah demi langkah ku raih, menuju jalan setapak diujung sana itu. Daksaku hampir saja tumbang tapi masih bisa kutopang, sungguh masih bisa kutopang untuk saat ini. Aku sampai diujung jalan itu, ku duduk di pinggir jalan setapak itu. Netra ini melihat ke kanan, ke kiri, ke depan dan ke belakang. Aku terus mencari keberadaanmu di jalan setapak ini berharap kehadiranmu di sini tapi dirimu tak hadir di sini. Harapku menemukan ragamu di sini, jangankan ragamu bayangmu pun tak kutemukan di sini.

Bulir bening, mengalir dari netraku, menelusuri pipiku. Isak tangis terdengar di jalan setapak itu, tak cukup keras isaknya namun mampu didengar oleh telinga-telinga yang ada di sana. Sesekali tangan ini mengusap bulir itu, menghempasnya pergi dari pipiku,  namun bulir itu terus keluar dari netraku. Kepalaku terus mengeleng, memberi isyarat bahwa aku tak percaya akan fakta ini. Beberapa waktu silam jalan setapak ini membuat diriku tertawa riang tapi sekarang jalan setapak ini membuatku menangis histeris, sungguh tak kusangka ini akan terjadi.

Teruntuk kamu, orang yang pernah kupanggil bapak negara. Aku kecewa padamu, kesetiaanku dibalas dengan penghianatan oleh mu. Tak hilang dari bayangku, tentang waktu itu. Genggaman tangan ini dirimu lepaskan dan dihempaskan olehmu, dirimu raih tangannya dan menggenggamnya sekuat mungkin. Sungguh aku melihat itu semua, iya semuanya kulihat.

Dirimu menjadikannya ratu, penganti diriku. Memperlakukannya layaknya berlian, membelanya layaknya ia yang paling benar. Memanjakannya layaknya seorang anak bungsu, menyayanginya dengan tulus hati. Sungguh aku iri tapi yasudahlah, cukup melihat itu semua dan menerimanya.

Tak pernah diri ini berpikir, jika kamu mantan bapak negaraku akan mengkhianati diriku. Apa kesetiaan yang kuberikan tak cukup bagimu? Apa diriku tak secantik ratu barumu? Sungguh aku tak tau mengapa dirimu menghianati diriku. Dirimu pergi meninggalkanku tanpa sebuah alasan yang kuat, menghampirinya yang menunggumu disana itu dan pergi meninggalkanku di sana sendirian.

Teruntuk kamu, ibu negara pengantiku. Tak bisa diriku berbohong, parasmu sungguh cantik sekali bahkan sangat cantik tapi tak secantik sifatmu. Tanpa rasa bersalah, dirimu merebut dia dari tanganku, membawanya pergi jauh dariku, membuatnya melupakanku. Apa salahku? Jawablah pertanyaanku. Aku tak pernah merebut milikmu tapi dirimu merebut milikku, sungguh dirimu jahat bagaikan seorang penyihir aliran hitam. Aku tak pernah menyakitimu tapi dirimu menyakitiku dengan brutal, sungguh ini tak adil bagiku. Apa adil seorang perempuan menyakiti perempuan lain tanpa alasan yang jelas? Apa adil seorang perempuan merebut seorang lelaki dari perempuan lain? Bukankah itu telihat menjijikan?

Teruntuk kalian, iya kalian berdua, semoga kalian selalu bahagia, tawa riang selalu mengiringi kalian. Benar diri ini murka terhadap kalian, tapi sudahlah, semua sudah terjadi. Tentang sakitnya diriku, biarlah itu menjadi urusan ku, akam kuobati itu dengan sendirinya.

Aku membangunkan daksaku yang lemah ini, berjalan meninggalkan pinggir setapak itu. Andai ini semua bisa hilang seperti jalan setapak diujung sana itu yang semakin hilang dari pengelihatanku saat ini, namun tidak. Pergi meninggal tempat dengan sejuta kenangan dibalik tawa riang dahulu, mencari tempat baru, itu yang akan kulakukan. Membuat kisah baru dan melupakan yang lalu, itu takdirku sekarang. 

Komentar

  1. Kak Sulan.
    Kok sedih terus ceritanya? Jangan sedih dong.. Ini bukan kisah nyata kan?

    BalasHapus
  2. Bukankah lebih baik membiarkan yang tidak pantas untuk pergi? Itu artinya dia menunjukkan sifat aslinya di depanmu, maka dia tidak berhak untuk kamu pertahankan, untuk kamu sesalkan apalagi. Suatu saat, akan ada seseorang yang beruntung mendapatkanmu.

    BalasHapus

Posting Komentar