Prosa (Maaf. Aku Gagal)

 Maaf, Aku Gagal


Terduduk dibawah gelapnya halimun malam, menatap kosong ke arah depan. Tak tau apa yang ditatap, hanya sebuah pemandangan yang begitu suram di sana itu. Benakku berputar-putar, sungguh kepalaku sangat pusing saat ini. Tercipta sebuah kilas balik dari benakku ini, tentang diriku dan dirinya, tepatnya tentang sebuah perjalanan singkat mengenai dua sejoli dimasa silam.

Dahulu aku berpikir aku bisa melupakan tentang kita tapi aku salah. Sebelumnya ku pikir aku bisa tanpa dirimu, nyatanya tidak. Waktu dulu ku pikir rasa ini bisa ku buang seperti sampah, tidak rasa ini tak ku buang sampai hari ini. Tempo hari kurasa aku bisa menghilangkan semuanya dengan begitu mudah, fakta begitu susah.

Netra ini memandang dirimu di sana, sungguh sepertinya hal yang kuanggap susah ternyata begitu mudah bagimu. Aku masih menangisi dirimu di sini sementara kamu sudah bersenang-senang di sana, begitu menyedihkannya diriku. Sepertinya dirimu tak lagi mengingatku, walau hanya sedikit, ditambah saat ini ada puan lain yang menggantikan posisi ku disampingmu. Sungguh aku iri padamu, aku ingin ada di posisi itu tapi sulit bagiku.

Aku akan melupakanmu, aku akan membuang rasa ini, aku bisa tanpa dirimu, dan aku bisa menghilangkan semuanya. Setiap hari bahkan setiap saat aku mengucapkan hal itu, bahkan pikiran ini selalu memikirkan hal itu. Oh Tuhan mengapa semuanya begitu mudah diucapkan dengan lidah ini dan begitu mudah dipikirkan oleh kepala ini tapi begitu susah dinyatakan? Lihatlah aku yang menderita seperti orang sekarat, aku seperti seorang pencundang saja. Oh tidak bukan seperti, melainkan aku memang seorang pecundang.

Maaf, kuucapkan padamu, meskipun dirimu tak mendengar satu kata ini tapi tetap ingin ku sampaikan padamu kata maaf itu. Maaf untuk apa? Maaf karena diri ini tak mampu menepati janji ku dahulu. Janji apa? Semuanya sebelum kita berpisah yaitu melupakanmu, membuang rasa ini, dan lainnya.

Bukan tak mencoba, sungguh diri ini selalu mencobanya tapi hasilnya selalu gagal. Semakin diri ini mencoba maka semakin gagal. Mencoba apa? Banyak yang ku coba bahkan tak terhitung tapi hasilnya satu yaitu gagal. Kini ku pasrahkan semua pada waktu, hingga waktu melunturkan setiap hal tentang dirimu dari diriku lalu kata gagal itu menjadi kata berhasil. Semoga saja itu terwujud, sungguh aku berharap itu terwujud.

Komentar

  1. Jangan pernah mencoba untuk melupakan, tetapi dijalani tanpa harus melupakan apa-apa. Waktu tidak akan pernah bisa melenyapkan masa yang lalu, ia hanya bisa memaksa kita untuk membiasakan diri.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Wkwk, jadi berasa baca masa laluku.
    Memang deh ya, semakin berusaha melupakan malah semakin tenggelam dalam lautan kenangan. *Uhukk

    BalasHapus

Posting Komentar