Prosa (Kepada Tuan Putra Ku)
Kepada Tuan Putra Ku
Hai, satu kata
yang terucap kala pertama kali kita bersua. Tak pernah ku bayangkan, aku
menjadi tuan putri mu dan kamu menjadi tuan putra ku seperti sekarang.
Paras mu begitu menawan, memikat netra sekaligus aksara ku. Rasanya netra ini
ingin terus menyidik paras mu itu, sungguh itu candu bagi ku.
Senyum mu seperti madu, sungguh itu teranat manis. Seringai mu itu, melelehkan
ku bagaikan es batu yang mencair di bawah teriknya matahari.
Suara barito mu sungguh nyaring di telinga ku, setiap suara itu memasuki
gendang telinga ku maka hati ku pun bergetar hebat saat itu juga.
Kedipan netra mu sungguh membuat ku mabuk kepayang, aku salah tingkah hingga
semu merah tercipta di pipi ku, aku sangat malu sekali.
Ketulusan cinta yang diri mu berikan pada ku, sungguh begitu tulus tak terlihat
sedikit kecacatan disana, sungguh ketulusan mu tanpa pamrih.
Bersua dengan mu sepertinya menjadi hobi baru ku, walau hanya sesaat namun
sungguh selalu ku tunggu itu setiap saatnya.
Gelak tawa dari pita suara mu itu sungguh mampu meneduhkan luka lama ku,
menyembuhkan sekaligus menghilangkannya tanpa sedikit bekas pun di saja.
Diri mu sungguh tak ternilai bagi ku, sungguh begitu berharga dan istimewa bagi
ku hingga memiliki ruang tertentu di aksara ku ini yang hanya diisi oleh diri
mu bukan insan lainnya.
Puan-puan berdatangan pada mu, memikat dan menggoda mu namun dengan lantang
diri mu menolak mereka yang datang pada mu. Sungguh kesetiaan mu begitu murni
padaku, semurni mata air dari kaki gunung itu.
Diri mu sungguh makhluk terindah yang ku temui, bersua dan menjadi tuan putri
mu adalah anugrah terindah bagi ku. Mendampingi dalam setiap jalan itu sebuah
keinginan ku, mengarungi setiap terpaan hidup bersama mu.
Terima kasih ku sampaikan pada mu tambatan hati ku, sungguh tak ada kata yang
bisa dikeluarkan oleh lisan ku selain terima kasih. Ku meminta izin pada mu,
menyelipkan nama dan tautan kita di dalam setiap doa ku agar kelak kita bisa
bersama sepanjang hayat nanti.
Teruntuk Tuan Putra dan Tuan Putri, bilah jatuh ke jurang cinta, peganglah dinding tebing dengan kuat. Jatuh cinta tidak selamanya menyuguhkan keindahan alam, kadang-kadang akan rusak juga karena keserakahan.
BalasHapusgelembung-gelembung asmara seraya bernyanyi, memeluk untaian janji yang tak pasti bila belum ada ikatan yang sah. Tidak ada salahnya menikmati proses itu, semoga cinta suci itu jatuh di tambatan hati yang tepat menurut yang esa.
BalasHapusSelamat Tuan Putri, sang Tuan Putra telah engkau raih. Semailah hati dengan kisah kasih abadi dalam satu ikatan suci bukan sekedar isapan janji manis.
BalasHapus