Prosa (Amin Kita Sama Tapi Kita Berbeda)

 Amin Kita Sama Tapi Kita Berbeda

Sumber gambar : Sulanti

Sejak kapan tilikan itu hadir di antara kita, sungguh aku tidak tau. Menjalin sebuah gayutan dengan mu, itulah yang terjadi kala tilikan itu datang menghampiri kita berdua.

Mula-mula semua terasa seimbang seperti tanpa minus pertikaian sedikit pun diantara kita, sungguh kita sangat bahagia dalam keriangan sesaat itu andai itu bukan untuk sesaat melainkan untuk selamanya.

Waktu menginsafkan kita, ada pertikaian besar diantara kita, bagaikan minyak dan air yang takkan bersatu sampai kapan pun.

Pertikaian itu sungguh hebat, memisahkan kita bukan hanya untuk sesaat namun untuk selamanya, iya selamanya.  

Aksara ini menjerit, merasakan kesusahan yang begitu menyiksa dikala perpisahan itu datang. Ingin melawan agar kita tetap bersama namun tidak.

Aku selalu mengenggam tangan ku setiap menghadap sang pencipta sementara diri mu selalu menengadahkan tangan mu setiap menghadap sang maha kuasa.

Kita sama di amin namun kita berbeda di iman, gayutan yang kita jalani ini sungguh terlarang bahkan sangat terlarang.

Sebuah kata mengungkapkan cinta itu menyatukan tapi kata itu bukan untuk kita karena cinta itu memisahkan kita, aku ya aku dan kamu ya kamu.

Kalung salib di leher ku tidak akan pernah berdampingan dengan tasbih di tangan mu itu, sampai kapan pun itu.

Aduan kita bukan hanya siratan tapi juga tuhan, sang maha esa itu. Kadas adalah ending dari gayutan yang kita jalani ini.

Ingin rasanya melawan pertikaian itu, menerobosnya dengan brutal agar kita bersatu untuk selamanya namun tidak.

Aku mencintai tuhan ku dan kamu mencintai tuhan mu, kita tak akan berkhianat padanya sungguh tidak akan pernah berkhianat.

Membunuh, menghancurkan, membasmi dan menghilangkan cinta kita adalah jawabannya. Sungguh rasanya sakit, sangat sakit.

Antara lonceng yang berdentang dan azan yang berkumandang, sungguh tembok itu begitu tinggi bahkan jika kita memiliki sayap sekalipun tetap tak akan menggapai ujung tembok itu.

Pisah? Itulah jawaban semuanya. Carilah puan lainnya untuk mendampingi mu dan aku akan mencari tuan lain untuk berada di samping ku.

 


Komentar

  1. "Bagimu agamamu dan bagiku agamaku..." (Q.S Al Kafirun : 6)
    Dalam islam pun sudah diatur agar kita menjalankan agama dan keyakinan kita masing-masing, namun jangan lupa untuk tetap bertoleransi dan menjaga hubungan baik kepada sesama manusia, hal ini tidak boleh disalahartikan juga untuk menikah beda agama, ini sangat dilarang dalam Islam.

    Semangat menulis ya kak Sulanti...

    BalasHapus
  2. Kalau kata netizen, hubungan LDR paling jauh nih...

    BalasHapus
  3. Waaah..problem percintaan yang sulit untuk dipecahkan kak..

    Semangat menulisnya kak Sulan. Dibuat lebih panjang, lebih mengajak pembaca merasakan, pasti lebih keren

    BalasHapus
  4. Wkwk. Setuju sama pendapat Kak Tasya, ini mh LDR terjauh. Semoga cepat bertemu yg dekat dan mudah didekap.

    BalasHapus

Posting Komentar