Cerita Pendek (Tentang Rasa Sakit)

 Tentang Rasa Sakit

Seorang gadis berambut pendek dengan tubuh mungil keluar dari mobil avanza hitam, kakinya melangkah memasuki perkarangan SMA Nusa Bangsa. Langkahnya terhenti, melihat ke arah kiri yaitu tempat parkiran para siswa-siswi. Matanya menangkap sebuah motor ninja biru yang terparkir di sana, bibirnya mengukir senyum saat melihat motor itu.

"Dia udah datang," batin gadis itu.

Gadis itu bernama Putri Triwulan Sari dan biasa dia dipanggil Wulan oleh teman-temannya. Wulan siswa kelas dua belas, ia menepati kelas dua belas IPA 1. Tidak heran Wulan selalu ambis dalam belajar, ia saja menduduki kelas yang isinya terkenal dengan anak-anak pintar.

Wulan melangkah menuju kelasnya, kelas Wulan hanya berjarak tiga puluh langkah dari gerbang utama SMA Nusa Bangsa. Wulan memasuki kelasnya, terlihat sepi hanya ada dua orang yaitu Shiera dan Tirta. Dua insan itu sedang mengobrol tanpa menyapa Wulan yang baru saja memasuki kelasnya, Wulan merasa jengah melihat pemandangan itu entah sudah berapa kali dia melihat dua insan itu seakrab itu.

"Baru juga masuk udah lihat pemandangan yang nggak enak ajah," batin Wulan.

Tirta adalah cowok yang Wulan sukai sudah hampir tiga tahun ia menyukai Tirta, begitu juga Tirta yang menyukai Wulan. Kedua insan itu salin menyukai, namun Tirta tidak ingin berpacaran dengan Wulan. Tirta dan Wulan menjalani hubungan tanpa status, sejujur Wulan muak dengan hubungan itu tapi dia tidak bisa berbuat apapun kecuali menerimanya. Tirta selalu meminta Wulan untuk menjaga jarak dengan dirinya ketika bertemu, supaya orang-orang tidak mencurigai kalau mereka saling menyukai dan itulah sebabnya Wulan tidak pernah mendekati Tirta bahkan setiap ketemu mereka selalu menjadi orang asing.

Hari semakin larut dalam waktunya, semua siswa sudah berkumpul. Ruang kelas dua belas IPA 1 sudah memulai pelajaran sedari tadi, Wulan sangat antusias dengan belajarnya sungguh ia sangat suka pelajaran biologi di hari ini. Di tengah-tengah keseriusannya Wulan merasa terganggu dengan kebisingan dibelakangnya, ia memutarkan lehernya dan melihat Tirta sedang bercanda bersama para wanita dibelakang sana.

"Hm mau sampai kapan dia begitu," batin Wulan.

Waktu makan siang sudah tiba, Wulan memutuskan untuk makan bakso di kantin. Saat memasuki kantin mata Wulan terfokus pada dua insan dipojok kantin, Tirta sedang menyuapi Silvia. Semua hal itu terjadi tepat dihadapan Wulan, ia marah namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.

"Ya udahlah yang penting di hati dia cuma ada aku bukan orang lain," batin Wulan.

Selesai makan Wulan langsung menuju kelasnya dan melanjutkan pelajaran seperti biasanya. Wulan kebingungan dengan materi matematika peminatan, sungguh materi trigonometri sangat susah baginya ditambah orang-orang dibelakangnya terus berisik entah apa yang mereka omongin sedari tadi.

Jam pulang sekolah sedang berlangsung, para siswa-siswi sedang berdesak-desakan di depan gerbang untuk pulang tapi Wulan masih sibuk mencatat materi trigonometri yang ada di depan tulis. Tangannya terus menari-nari di kertas putih bermotif kotak-kotak itu, ia terus menuliskan angkat-angkat di kertas itu walaupun ia tidak paham dengan materinya.

"Udah tak usah catat lan," kata Tirta mengambil pena Wulan.

"Tir, sini penanya gue mau nyatat," kata Wulan berusaha megambil pena itu namun tidak bisa karena kelincahan Tirta lebih daripadanya.

"Tir, pulang yok," ajak Shiera.

"Ayuk," jawab Tirta, ia langsung mengembalikan penanya dan pergi meninggalkan Wulan sendirian di kelas.

Wulan menatap dua sejoli itu dari jendela kelasnya, mereka berjalan beriringan sambil bercanda tawa hingga keduanya hilang dibelokkan parkir. Beberapa saat kemudian dua sejoli itu keluar dari belokan parkiran membawa motor mereka dan keluar gerbang sekolah secara berdampingan, itu semua tidak terlepas dari netra Wulan dan Wulan hanya tersenyum melihat itu semua.

***

Wulan pergi ke pusat perbelanjaan bersama sahabatnya yaitu Winda, Wulan akan membeli kado untuk Tirta. Ulang tahun Tirta tinggal beberapa hari lagi, ia berniat memberikan kado pada Tirta untuk pertama kalinya setelah tiga tahun ia mengenal Tirta. Wulan bersama Winda berjalan beriringan menuju toko jam, mereka memilih jam yang cocok untuk Tirta.

"Wi, sepertinya yang ini cocok buat Tirta," ucap Wulan pada Winda sambil menunjukan sebuah jam sport dengan warna hitam.

Winda yang melihat jam itu pun mengambilnya dan memperhatikannya dengan teliti kemudian ia berkata, "Iy Lan ini cocok buat Tirta."

Setelah memastikan pilihannya kini Wulan pun membayar jam itu, Wulan berjalan keluar dari toko jam itu kemudian ia membeli dompet cowok dan casing handphone untuk kado Tirta. Usai dari berbelanja keduanya memutuskan untuk makan, mereka makan bakso yang letaknya tak jauh dari pusat perbelanjaan itu. Wulan dan Winda memakan bakso itu sambil bercerita, tak jarang mereka tertawa akibat lelucon yang dibuat.

"Lan, itu Tirta sama Silvia lagi makan berduaan," ujar Winda sambil menunjuk dua orang yang sedang makan mie goreng diujung sana.

Wulan melihat itu semua tanpa ada yang terlewatkan, dua insan itu sedang bercandaan tawa sambil makan berduaan lalu Wulan berkata, " mereka cuma makan ajah." Usai mengatakan hal itu Wulan melanjutkan makannya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa padahal hatinya sangat panas. Winda sebagai sahabat Wulan sangat tau apa yang dirasakan sahabatnya itu namun ia hanya bisa menyuruh Wulan sabar untuk saat ini.

Hari ini hari ulang tahun Tirta, Wulan sudah mengucapkan selamat ulang tahun pada Tirta tadi malam tepatnya ketika pergantian hari. Hari ini Wulan ke sekolah membawa kado untuk Tirta, ia sudah memberitahu Tirta untuk tidak pulang terlebih dahulu karena ia ingin memberikan sesuatu pada cowok itu. Wulan mengikuti pelajaran dengan semangat, ia terus saja membayangkan cowok itu bahagia ketika menerima kadonya apalagi beberapa hari lalu cowok itu mengatakan ia sangat membutuhkan dompet untuk menyimpan uang.

Waktu terus berlalu, kini saatnya pulang sekolah. Wulan sengaja tidak bergerak dari kursinya sedari tadi, padangan Wulan terahlikan pada Tirta yang berjalan keluar kelas. Wulan berpikir Tirta ada urusan dan akan kembali lagi ke kelas untuk menemuinya, ia terus menunggu di kelasnya hingga sekolah semakin sepi setiap saatnya.

"Tirta kok belum balik ya," batin Wulan.

Setengah jam berlalu, Wulan masih menunggu di sekolahnya. Sekolah semakin sepi, yang tersisa hanya anak-anak eskul pramuka. Wulan menunggu di depan kelas, melihat ke arah kanan dan kiri namun tidak ada tanda-tanda kedatangan Tirta. Beberapa menit berlalu, handphone ditangan bulan bergetar. Wulan membuka handphonenya, ia membulatkan matanya kaget melihat pesan di handphonenya. Tirta sudah sampai dirumahnya sedari tadi dan Tirta tidak bisa menerima kado yang di bawah Wulan dengan alasan ia tidak pernah mendapatkan kado dari seorang cewek manapun, tanpa berpikir panjang Wulan langsung meninggalkan sekolah berjalan menuju rumahnya.

Sesampainya di rumah, Wulan mengelus paper bag yang berisi kado untuk Tirta. Wulan memperhatikan kado itu, matanya sudah berkaca-kaca sedari tadi. Hadiah yang ia siapkan di tolak secara mentah-mentah, ia benar-benar bingung saat ini. Tanpa disadari sebuah bulir bening mengalir di pipinya, sesegera mungkin ia mengusap bulir itu lalu tersenyum semanis mungkin seolah-olah tidak terjadi apapun.

"Hm, kadonya gue kasih ke orang lain ajah," gumam Wulan.

"Daripada di simpan terus bikin gue sakit hati, mending gue kasih orang," ujar Wulan pada dirinya dan Wulan pun membuka kado itu agar besok ia bisa memberikannya pada temannya yang lain.

***

Selama beberapa hari berlalu, semenjak kejadian Tirta menolak kado dari Wulan semenjak itu juga hubungannya dengan Tirta tidak baik. Wulan malas bertemu Tirta, jujur tindakan Tirta membuat Wulan trauma karena rasa sakitnya begitu luar biasa.03:11

Saat belum usai rasa sakit yang Wulan rasakan, tiba-tiba baru saja Wulan mendengarkan kalau Tirta ingin jalan bersama Aina teman sekelas Wulan. Wulan tidak banyak bereaksi, ia memilih untuk meninggalkan kelasnya menuju gerbang dan yang ia inginkan sekarang ini hanyalah pulang.

Ketika malam tiba, Wulan memutuskan untuk nongki di cafe yang tidak jauh dari rumahnya. Wulan nongki bersama dengan Winda dan beberapa temannya yang lain, Wulan ingin sekedar refreshing serta menenangkan hatinya dengan harapan rasa sakitnya sedikit berkurang. Wulan bercanda tawa dengan temannya kemudian bermain kartu uno dan juga bercerita.

Wulan sibuk dengan permainan uno dihadapannya, mencari-cari taktik agar dirinya segera menang. Seketika fokus Wulan buyar, saat melihat Tirta datang ke cafe itu berdua dengan Aina. Tirta tidak menyadari keberadaan cafe itu karena sangat ramai, Wulan bersama teman-temannya juga duduk di pojok cafe jadi tidak begitu kelihatan. Wulan masih terus bermain uno, namun pandangannya terus memanah kearah Tirta dan juga Aina. Wulan melihat dengan tatapan yang sangat tajam Tirta memegang tangan Aina dan mengelus-elusnya seakan-akan tangan Aina begitu candu bagi Tirta.

"Sabar, gue harus sabar," batin Wulan.

Teman-teman Wulan yang mengetahui apa yang Wulan rasakan, mereka langsung membawa Wulan pergi dari cafe itu. Mengajak Wulan untuk segera pulang sambil menikmati udara malam yang begitu dingin, berharap hati Wulan pun jadi segera dingin.

Setelah semalam hari Wulan terasa panas, hari ini ia merasa sedikit membaik. Hari ini guru-guru rapat, jadinya jam kosong hampir di semua kelas. Wulan memilih tetap di dalam kelas, ia sungguh malas hari ini walaupun hanya sekedar keluar dari kelasnya.03:11

Wulan hanya berdiam diri di kelas sambil membaca novel yang ada dihadapannya namun matanya tidak fokus pada novel itu, ia terus melihat Tirta yang terus mengajak anak cewek di kelasnya untuk foto berduaan. Ia melihat itu hanya tersenyum, sesungguhnya ia ingin berfoto berdua dengan cowok itu namun cowok itu tidak pernah mengajaknya untuk foto berdua. Dahulu Wulan pernah mengajak Tirta untuk foto berdua tapi Tirta menolaknya secara terang-terangan, semenjak itu ia tidak pernah mengajak cowok itu untuk foto berdua lagi dengan dirinya.

Hari semakin siang, semua siswa-siswi SMA Nusa Bangsa dipulangkan lebih cepat karena guru-guru ada acara selesai rapat tadi. Wulan, memutuskan untuk pulang ke rumah Winda mengerjakan pr yang tadi diberikan oleh guru biologi. Perjalanan menuju rumah Winda cukup jauh, selama perjalanan menuju rumah Winda merek melewati tempat makan bakso. Mata Wulan yang sedari tadi menatap jalanan tiba-tiba melihat Tirta makan berduaan bersama Silvia di tempat itu, sontak Wulan langsung mengalihkan pandangannya.

***

Wulan terbangun disaat hari sudah gelap, usai dari rumah Winda tadi Wulan mendapatkan pesan yang menyakitkan baginya oleh sebab itu ia memutuskan untuk segera tidur agar pikirannya menjadi tenang. Wulan bangun dari tidurnya, ia tidak ada niat sedikitpun untuk menumpaskan rasa lapar diperutnya. Pesan tadi sore benar-benar membuatnya pusing, semua pikirannya terahlikan pada pesan itu.

"Kenapa gampang banget lo ngomong semua itu sama gue," gumam Wulan.

"Hampir tiga tahun gue bertahan sama lo, Tir," ujar Wulan.

Tadi sore Tirta mengirim pesan padanya, Tirta memberitahu kalau dirinya tidak suka lagi pada Wulan. Pantas saja Tirta bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa ataupun sekedar membujuk Wulan setelah menolak kado dari Wulan. Wulan terus saja menangis sedari tadi, ia merasa semua perjuangannya sia-sia selama ini. Andai bisa mengulang waktu, Wulan pasti akan memilih untuk tidak bertemu dengan Tirta.

Hatinya semakin tidak karuan saat ini, Wulan pun memutuskan untuk segera berdoa agar hatinya tenang. Di saat ia berdoa, ia mengucapkan segala keluh kesahnya kepada Yang Maha Kuasa berharap segala keluh dihatinya sedikit berkurang, usai berdoa Wulan segera makan dan melanjutkan tidurnya.

***

Wulan pergi ke sekolah seperti biasanya seakan-akan dirinya baik-baik saja, namun sesungguhnya hatinya begitu hancur. Wulan berjalan menuju kelasnya, baru saja ia memasuki pintu kelas ia sudah mendapatkan pemandangan yang tidak enak. Wulan melihat Tirta menyuapi Silvia dengan somay ditangannya, itu memang bukan pemandangan baru bagi Wulan namun ia masih saja merasa cemburu sebab saat ini masih menyukai Tirta.

Wulan teringat di saat dulu ia selalu memberitahu Tirta jika dirinya cemburu namun Tirta masih saja membuat Wulan cemburu bahkan Tirta semakin gencar membuat Wulan cemburu.

Di hari-hari ini Wulan selalu menahan rasa di dirinya, berusaha untuk terus mengurangi perasaanya pada Tirta. Segala hal dilakukannya agar ia segera bisa move on dari Tirta, sedikit aneh sih move on tanpa jadian.

Beberapa bulan berlalu Wulan pun bisa melupakan Tirta, bukan hanya melupakan ia juga sudah tidak begitu menyukai cowok itu. Di dalam waktu yang singkat itu Wulan bisa mengendalikan setiap rasa dalam dirinya agar semakin tidak bergejolak pada Tirta, Wulan sudah menjalani hidupnya dengan tenang meskipun rasa sakit yang ia rasakan masih ada di hatinya namun ia berusaha mengobati itu semua agar segera kembali seperti dahulu tanpa luka.

Sesekali Wulan mendapat gangguan dari Tirta, seperti chat dan telpon. Wulan mengabaikan semua itu, terkecuali hal-hal penting saja. Saat ini Wulan tidak ingin menjalani hubungan yang berhubungan dengan hati, ia hanya ingin fokus pada masa depannya dahulu

-TAMAT-

Komentar

  1. Sepertinya wulan bertepuk sebelah tangan ya kak, tirta bukan laki laki yang pantas untuknya.. cerita yang cukup menghibur kak.. tahnk you

    BalasHapus
  2. Sesuai sama judulnya ya "Rasa sakitnya nyelekit" :))

    BalasHapus

Posting Komentar